Relasi Antara Iman Dan Logika Dari Perspektif Kristen
Istilah “epistemologi” tidak diketemukan di dalam kamus bahasa Inggris biasa, karena istilah ini merupakan istilah filsafat. Epistemologi adalah teori mengenai pengetahuan tentang bagaimana kita berpengetahuan. Ilmu ini bukan ilmu pengetahuan (sains) itu sendiri, tetapi ilmu pengetahuan tentang pengetahuan. Ilmu ini membahas tentang sumber, sifat, batasan, kemungkinan, keakuratan dan kredibilitas pengetahuan itu. Mungkinkah manusia mempunyai pengetahuan? Sampai berapa jauh kemungkinan itu? Andaikata tidak ada batasnya, mengapa tidak ada batasnya? Bagaimana dapat mencari cara yang benar, sehingga pengetahuan itu diterima, dipelajari,dimiliki dengan tepat dan tidak berbeda dari seharusnya, sehingga antara subyek yang ingin tahu dan obyek yang diketahui, tidak terdapat kesenjangan lagi? Ilmu seperti ini disebut sebagai epistemologi. Epistemologi adalah salah satu bidang dari lima bidang utama di dalam filsafat.
Kita dapat mengerti karena kita beriman, bukan karena kita mengerti maka kita beriman! Kita dapat mengerti karena kita memiliki iman. Alangkah hebatnya bila seseorang dapat percaya kepada Tuhan, tetapi alangkah bahagianya bila ia dapat mengerti mengapa ia percaya. Hanya percaya tanpa mengerti mengapa percaya, akan mengakibatkan orang sedemikian tidak memiliki pegangan, dan tidak mempunyai hak untuk menyatakan imannya kepada orang lain. Tetapi dengan mengerti apa yang menyebabkan kita percaya, kita dapat dengan tegas dan teguh untuk membagi-bagikan iman kepada orang lain.
Mengalami anugerah Tuhan adalah satu aspek penting. Tetapi mengerti anugerah yang dialaminya merupakan aspek penting lainnya. Banyak orang mau menerima anugerah, tetapi tidak berusaha mengerti anugerah yang diterimanya. Alangkah indahnya bila keseimbangan ini dapat kita capai. Biarlah ada satu gerakan besar di dalam Kekristenan, yang menyadarkan setiap orang Kristen bukan hanya mau mempunyai pengalaman menerima anugerah Tuhan, tetapi juga mempunyai pengertian tentang anugerah yang diterima itu, sehingga kita berdiri teguh dan memiliki pegangan untuk membagi-bagikan iman kepercayaan kita kepada orang lain. Mereka perlu diberi pengertian tentang kepercayaan kita dan sekaligus pengertian tentang kesalahan mereka yang tidak mau percaya seperti kita di dalam Yesus Kristus.
Iman adalah pengembalian rasio kepada Kebenaran. Iman bukan sekedar mau percaya tanpa mengetahui apa yang ia percaya. Iman bukan sekedar pengertian di dalam otak tanpa kelanjutan apa pun. Tetapi iman harus sampai pada menerima, mengakui apa yang ia mengerti. Banyak anak-anak sekolah yang pelajaran agamanya mencapai nilai sembilan bahkan sepuluh, tetapi pada hakekatnya mereka hanya mengetahui dan belum percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan. Iman bukan persetujuan rasionil, iman juga bukan sekedar ucapan mulut saja. Iman adalah penaklukkan rasio ke bawah kebenaran.
Iman membawa rasio kembali kepada kebenaran. Oleh karena itu, orang yang beriman rasionya tidak menjadi negatif dan terikat. Orang yang beriman rasionya akan kembali kepada Kebenaran yang mencipta rasio itu. Dengan definisi ini, kita harus belajar sungguh-sungguh, kemudian berdiri dan memberikan jawaban kepada setiap orang yang mempertanyakan tentang iman kita (1 Petrus 3:15). Seorang Kristen yang bertanggung jawab adalah dia yang setiap saat berdiri memberi jawaban dengan tegas, karena rasionya sudah tunduk kepada kebenaran dan mengerti kebenaran yang lebih besar daripada rasio itu sendiri. Kebenaran lebih besar dan lebih agung daripada rasionya, maka rasio yang sudah tunduk itu, kini berfungsi dengan baik.
Pada hakekatnya, Kekristenan jauh lebih besar daripada apa yang kita ketahui. Ada orang Kristen yang imannya sedemikian kecil dan pengetahuannya sedemikian sempit, sehingga ia hanya mengetahui sedikit sekali dan hanya bagian tertentu saja. Lalu ia menganggap jika orang lain mengetahui yang tidak sama dengan yang dia ketahui, orang lain itu dianggap bukan Kristen. Padahal Kekristenan pasti lebih besar daripada semua konsep kita yang telah kita mengerti. Bahkan sampai disorga pun kita akan memuji Tuhan, karena Kristus jauh lebih besar daripada apa yang kita ketahui. Iman yang sudah kembali kepada kebenaran itu akan menikmati semakin hari semakin dalam, tidak henti-hentinya sampai ia kembali ke sorga.
Iman adalah pengembalian, yaitu sebagai pengarah, tetapi iman sekaligus juga sebagai penerobosan yang bersifat dinamis. Iman adalah penaklukan rasio kepada kebenaran, pengembalian rasio yang dicipta kepada Kebenaran yang mencipta. Berarti iman adalah penerobosan dari yang terbatas menuju kepada yang tidak terbatas. Di situlah seseorang menikmati hal-hal di luar rasio.
Iman adalah penglihatan terhadap segala sesuatu yang belum dilihat. Iman adalah dasar darisegala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kitalihat (Ibrani 11:1). Jika seseorang memiliki dasar yang kuat di dalam apa yangia harapkan, dan mempunyai bukti yang kuat atas apa yang tidak kita lihat, iasungguh-sungguh orang beriman. Tetapi semua harus sungguh-sungguh memilikikredibilitas yang cukup. Jika tidak itu tetap merupakan takhyul. Dalam aspekini, kita perlu membedakan antara iman Kristen yang benar dengan iman Kristenyang tidak benar.
Jadi, iman adalah pengembalian rasio kepada Kebenaran. Iman bukan sekedar mau percaya tanpa mengetahui apa yang ia percaya. Iman bukan sekedar pengertian di dalam otak tanpa kelanjutan apa pun. Tetapi iman harus sampai pada menerima, mengakui apa yang ia mengerti. Banyak anak-anak sekolah yang pelajaran agamanya mencapai nilai sembilan bahkan sepuluh, tetapi pada hakekatnya mereka hanya mengetahui dan belum percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan. Iman bukan persetujuan rasionil, iman juga bukan sekedar ucapan mulut saja. Iman adalah penaklukkan rasio ke bawah kebenaran.
Iman membawa rasio kembali kepada kebenaran. Oleh karena itu, orang yang beriman rasionya tidak menjadi negatif dan terikat. Orang yang beriman rasionya akan kembali kepada Kebenaran yang mencipta rasio itu. Dengan definisi ini, kita harus belajar sungguh-sungguh, kemudian berdiri dan memberikan jawaban kepada setiap orang yang mempertanyakan tentang iman kita (1 Petrus 3:15). Seorang Kristen yang bertanggung jawab adalah dia yang setiap saat berdiri memberi jawaban dengan tegas, karena rasionya sudah tunduk kepada kebenaran dan mengerti kebenaran yang lebih besar daripada rasio itu sendiri. Kebenaran lebih besar dan lebih agung daripada rasionya, maka rasio yang sudah tunduk itu, kini berfungsi dengan baik.
Kita tidak berasumsi bahwa semua orang akan dapat berdiri dan memberikan semua jawaban tantangan terhadap iman Kristen, tetapi di antara orang Kristen harus ada orang yang berdiri untuk menjawab tantangan-tantangan semacam itu. Di atas telah diungkapkan bahwa banyak filsuf-filsuf yang pernah sekolah teologi yang akhirnya sangat menentang Tuhan. Mengapa? Karena Kekristenan tidak memiliki orang-orang yang siap memberikan jawaban kepada pemikir-pemikir yang tajam seperti mereka. Pemikir-pemikir yang tajam mengalami banyak kesulitan berkenaan dengan iman, dan dengan rasio mereka berusaha mencari jawaban. Tetapi sayang, Kekristenan belum bersedia dan belum siap memberikan jawaban. Hal ini membawa kita kepada pertanyaan, sebenarnya berapa besar Kekristenan itu?
Pada hakekatnya, Kekristenan jauh lebih besar daripada apa yang kita ketahui. Ada orang Kristen yang imannya sedemikian kecil dan pengetahuannya sedemikian sempit,sehingga ia hanya mengetahui sedikit sekali dan hanya bagian tertentu saja. Lalu ia menganggap jika orang lain mengetahui yang tidak sama dengan yang dia ketahui, orang lain itu dianggap bukan Kristen. Padahal Kekristenan pasti lebih besar daripada semua konsep kita yang telah kita mengerti. Bahkan sampai disorga pun kita akan memuji Tuhan, karena Kristus jauh lebih besar daripada apa yang kita ketahui. Iman yang sudah kembali kepada kebenaran itu akan menikmati semakin hari semakin dalam, tidak henti-hentinya sampai ia kembali ke sorga. Iman adalah pengembalian, yaitu sebagai pengarah, tetapi iman sekaligus juga sebagai penerobosan yang bersifat dinamis. Iman adalah penaklukan rasio kepada kebenaran, pengembalian rasio yang dicipta kepada Kebenaran yang mencipta. Berarti iman adalah penerobosan dari yang terbatas menuju kepada yang tidak terbatas. Di situlah seseorang menikmati hal-hal di luar rasio.

Posting Komentar untuk "Relasi Antara Iman Dan Logika Dari Perspektif Kristen"