Peran Intelektual Hamba Tuhan Bagi Peningkatan Spiritual Jemaat
Pengertian Intelektualitas
Intelektualitas atau intelektual dalam kamus bahasa indonesia yang berarti kecerdasan dan totalitas pengertian terutama yang menyangkut pemikiran dan pemahaman. Adapun pengertian intelektual menurut beberapa para ahli, diantaranya: Intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul (Gunarsa, 1991). Pengertian intelektual menurut Cattel (dalam Clark, 1983) adalah kombinasi sifat-sifat manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks, semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan kemampuan memperoleh kemampuan baru.
Sejarah berdirinya Gereja Protestan Maluku
Gereja Protestan Maluku adalah gereja yang berasal dari “indische kerk” atau gereja Protestan Indonesia. Indische kerk adalah gereja yang dibangun oleh VOC sejak tahun 1602-1800. Pada masa itu semua biaya pelayanan yang dibutuhkan gereja menyangkut pembangunan, penerbitan bacaan serta pembiayaan gaji para pendeta dan “penghibur orang sakit” di bayar oleh VOC. Semua itu dilakukan VOC karena ia adalah penguasa Kristen sehingga gereja hindia Belanda di sebut “gereja negara”. Mengikuti gereja induknya di Belanda, maka gereja yang dibentuk oleh VOC di Maluku bercorak calvinisme. Saat itu gereja di Maluku belum mandiri lepas dari pemerintah VOC. Selama hampir dua setengah abad, Gereja di Maluku mengalami proses perkembangan dengan pembagian sebagai berikut:
1. 1605, 27 Februari: GPM berawal dari ibadah
perdana Gereja Protestan Calvinis dari orang-orang Belanda, pegawai VOC,
di Ambon.
2. 1621: Terbentuklah Majelis Jemaat Indische Kerk
pertama di Indonesia dengan berkedudukan di Batavia (Jakarta),
3. 1622: Majelis Jemaat Indische Kerk dibentuk pula
di Banda, yang berdampak, aktivitas penginjilan di wilayah Maluku pun mulai
kian marak dan intens dilakukan, khususnya melalui peran Pendeta Adriaan
Hulsebos, yang telah berupaya membuat pelayanan ke Ambon, namun kapalnya
tenggelam di Teluk Ambon, beliau pun meninggal, dan misinya dilanjutkan
oleh Pendeta Rosskot (yang selanjutnya pula berperan dalam menyelenggarakan
Pendidikan Teologi pertama di Ambon, Maluku, maupun
Indonesia).
4. 1799: Setelah VOC dibubarkan, maka ada sejumlah
jemaat di Indonesia yang terlantar, termasuk beberapa jemaat di Ambon.
5. 1815-1833: Joseph Kam diutus ke Maluku oleh NZG
(Nederlands Zending Genootschap).
6. 1871: Joseph Kam mendata jemaat-jemaat di Ambon
7. 1930: Gereja terus berkembang di masa
pemerintahan Hindia Belanda yang dilayani oleh Gereja Protestan di Indonesia
(GPI) dan Nederlandse Zendeling Genotschaap (NZG) dan daerah pelayanannya telah
meliputi hampir seluruh Maluku.
8. 1935 6 September: GPM berdiri sebagai gereja
yang mandiri dalam bidang konfesi, liturgi, dan
keuangan
9. 1950: RMS membakar Kota Ambon dan wilayah Pulau Seram yang mengakibatkan banyaknya gedung gereja
ikut terbakar.
10. Pada tanggal 25 Mei 1950, GPM menjadi
anggota PGI.
11. 1999-2003: Kerusuhan antara warga Islam dan Kristen yang terprovokasi, sehingga mengakibatkan ratusan gereja dan mesjid terbakar dan ribuan orang meninggal.
Jemaat Gereja Protestan Maluku
Tradisi masyarakat
Maluku masih lekat dengan kebiasaan menyimpan benda-benda keramat peninggalan
nenek-moyang mereka. Kebiasaan lama itu merupakan khusus bagi para pendeta
bangsa Belanda. Namun, pendekatan para rohaniawan bangsa Eropa justru dengan
menerapkan pola-pola pengajaran yang keras. Menurut Thomas van den End
“pendeta-pendeta kurang menyadari tentang pengaruh tak langsung dari pemikiran
kepercayaan-kepercayaan suku-suku terhadap Kekristenan. Pendekatan para pendeta
sama sekali tidak efektif, terbukti bahwa pola-pola kebiasaan lama warga
Kristen setempat tetap bertahan bahkan dilakukan secara terang-terangan tatkala
pengawasan para pendeta Belanda sudah mulai mengendur.
Sakramen-sakramen sudah
tidak dilayankan lagi selama puluhan tahun. Persediaan kitab-kitab Suci dan
tulisan-tulisan Kristen lainnya sering kali sudah lama habis juga, dibeberapa
jemaat, guru-guru pun tidak mempunyai Alkitab. Orang-orang menawarkan puluhan
ribu rupiah untuk memperoleh sebuah Perjanjian Baru. Dalam perjalanannya beberapa
kali Kam terpaksa memotong-motong Alkitab yang dibawanya untuk dibagi-bagikan
di antara para guru. Guru-guru sendiri pun sering tidak memahami lagi bahasa
khotbah-khotbah tersebut.
Keadaan yang paling baik, walaupun di situ ada sekolah-sekolah di mana murid-murid terpaksa memakai kayu putih sebagai ganti kertas. Yang paling jelek suasananya ialah di Maluku Tenggara, di beberapa pulau orang hanya ingat bahwa nenek moyang mereka pernah menjadi orang Kristen. Di Seram masih ada orang-orang Kristen yang bertakhayul dan sangat merajalela. Dimana-mana juga sampai di kota Ambon, jemaat-jemaat belum akilbalig. Jemaat-jemaat yang berdiri sendiri dan yang mempunyai majelis hanya ada di Ambon, Ternate dan Banda. Tanpa menunda banyak waktu, Joseph Kam segera membaptiskan 3.000 anak-anak Ambon. Sebelum kedatangan Kam, baptisan mereka sempat tertunda-tunda akibat terbatasnya pelayanan pendeta selama 20 tahun. Sepanjang periode tahun 1815-1816, Kam telah berkhotbah, mengajar, membina guru-guru dan melayani sakramen-sakramen di gereja-gereja sekitar wilayah Ambon. Kam sebagai hamba Tuhan juga melayani 70 jemaat di daerah pedalaman (mengungjungi gereja setahun sekali). Bahkan, beliau telah beberapa kali mengadakan perjalanan pelayanan ke Ternate, Minahasa dan sangai. Pelayanan beliau telah merambah pulau-pulau kecil di selatan sempai ke Pulau Timor. Pada waktu itu, tidak seorang pun pendeta yang melayani di sana. Kelangkaan tenaga pelayanan rohani menyebabkan Joseph Kam telah menyerukan gerakan pengutusan lebih banyak pendeta. Sehingga, seruan telah diresponi oleh pihak berwenang dengan pengutusan delapan orang pendeta.
Peran Intelektualitas Hamba Tuhan Terhadap Gereja
Protestan Maluku Bagi Peningkatan Spiritual Jemaat
Bagaimana peran
intelektualitas yang dimiliki seorang hamba Tuhan, apakah yang dibuat oleh
hamba Tuhan untuk memperbaiki keadaan yang sudah terjadi dikalangan jemaat
Maluku? Kam seorang hamba Tuhan yang diutus dari Belanda pergi bekunjung ke
mana-mana, ia melayani baptisan kepada semua orang yang memohonnya, enam ribu
lebih hanya dalam perjalanan tahun 1918. Kam mengajar dan menegur
jemaat-jemaat, mengajak dan memberi perhatian kepada guru-guru. Kam membuka
sekolah pendidikan guru, dengan maksud memperoleh guru yang lebih baik untuk
melayani sekolah dan jemaat di Maluku. Tanpa menunda banyak waktu, Joseph Kam
segera membaptiskan 3.000 anak-anak Ambon. Sebelum kedatangan Kam, baptisan
mereka sempat tertunda-tunda akibat terbatasnya pelayanan pendeta selama 20
tahun. Sepanjang periode tahun 1815-1816, Kam telah berkhotbah, mengajar,
membina guru-guru dan melayani sakramen-sakramen di gereja-gereja sekitar
wilayah Ambon. Kam sebagai hamba Tuhan juga melayani 70 jemaat di daerah
pedalaman (mengungjungi gereja setahun sekali). Bahkan, beliau telah beberapa
kali mengadakan perjalanan pelayanan ke Ternate, Minahasa dan sangai. Pelayanan
beliau telah merambah pulau-pulau kecil di selatan sempai ke Pulau Timor. Pada
waktu itu, tidak seorang pun pendeta yang melayani di sana.
Kelangkaan tenaga pelayanan rohani menyebabkan Joseph Kam telah menyerukan gerakan pengutusan lebih banyak pendeta. Sehingga, seruan telah diresponi oleh pihak berwenang dengan pengutusan delapan orang pendeta. Setelah kematian Joseph Kam pada tahun 1833, penerus pelayanan beliau kebanyakan adalah para lulusan dari perguruan tinggi sekuler, yang tidak cukup kuat dipengaruhi oleh pietisme, selain bahwa mereka bukanlah utusan NZG. Pelayanan mereka tidak cukup efektif untuk mendewasakan Gereja Maluku. Beruntunglah bahwa pada tahun 1835 seorang guru Belanda bernama Roskott diutus untuk melayani ke Ambon, beliau mendirikan sekolah Pendidikan Guru (SPG) demi meningkatkan kerohanian dan kecakapan professional guru. Pelayanan Roskott berjalan dengan baik sepanjang beliau bekerja di Ambon (1835-1873). Seorang lulusan SPG adalah W. Hehanusa, beliau telah ditahbiskan sebagai pendeta Indonesia pertama dilingkungan Gereja Protestan. Roskott juga berupaya meningkatkan mutu hidup gerejawi di Maluku, dengan menyediakan buku-buku dan bahan-bahan bacaan Kristen yang memadai. Oleh karena itu kedua orang ini di kemudian hari dianggap telah meletakkan dasar terhadap suatu kehidupan gerejawi yang lebih mantap, bagi jemaat-jemaat Kristen yang tersebar di wilayah kepulauan Maluku.
Sekitar tahun 1800, keadaan gereja di Indonesia memprihatinkan. Jumlah anggota-anggotanya selama dua abad hampir tidak bertambah. Pendeta-pendeta tinggal empat orang saja. Belum ada pendeta bangsa Indonesia berwenang penuh. Kebanyakan orang Kristen selama sepuluh tahun lebih tidak dilayani oleh seorang pendeta dan tidak mempunyai Kitab Suci dalam bahasa yang dapat dipahaminya. Kebanyakan jemaat tidak mempunyai majelis yang dapat memimpin mereka. Pada zaman itu agama Kristen hilang dari beberapa daerah, tampaknya seakan-akan agama itu akan hilang dari seluruh Indonesia. Satu abad kemudian gambarannya lain sama sekali. Di banyak daerah di Indonesia pekabaran Injil sedang dilakukan dengan giat oleh ratusan orang dan pertama kali dalam sejarah, tenaga-tenaga Indonesia mulai dididik pula. Di mana-mana diusahakan terjemahan Alkitab dan terjemahan tulisan-tulisan lain ke dalam pelbagai bahasa daerah. Dalam abad ke-19 dan pada awal abad ke-20 diletakkanlah dasar gereja-gereja Indonesia yang ada sekarang. Jadi, juga bagi Indonesia abad ke-19 itu betul-betul menjadi "abad pekabaran Injil". Peran intelektualitas hamba Tuhan bisa dilihat dari kedatangan Kam seorang hamba Tuhan yang diutus dari Belanda. Kam mengajar dan menegur jemaat-jemaat, mengajak dan memberi perhatian kepada guru-guru. Kam membuka sekolah pendidikan guru, dengan maksud memperoleh guru yang lebih baik untuk melayani sekolah dan jemaat di Maluku. Tanpa menunda banyak waktu, Joseph Kam segera membaptiskan 3.000 anak-anak Ambon. Sebelum kedatangan Kam, baptisan mereka sempat tertunda-tunda akibat terbatasnya pelayanan pendeta selama 20 tahun. Sepanjang periode tahun 1815-1816, Kam telah berkhotbah, mengajar, membina guru-guru dan melayani sakramen-sakramen di gereja-gereja sekitar wilayah Ambon. Kam sebagai hamba Tuhan juga melayani 70 jemaat di daerah pedalaman dan kemudian setelah kematian Joseph Kam Pelayanan dialihkan kepada seorang guru Belanda bernama Roskott diutus untuk melayani ke Ambon, beliau mendirikan sekolah Pendidikan Guru (SPG) demi meningkatkan kerohanian dan kecakapan professional guru. Pelayanan Roskott berjalan dengan baik sepanjang beliau bekerja di Ambon (1835-1873). Seorang lulusan SPG adalah W. Hehanusa, beliau telah ditahbiskan sebagai pendeta Indonesia pertama dilingkungan Gereja Protestan. Roskott juga berupaya meningkatkan mutu hidup gerejawi di Maluku, dengan menyediakan buku-buku dan bahan-bahan bacaan Kristen yang memadai. Oleh karena itu kedua orang ini di kemudian hari dianggap telah meletakkan dasar terhadap suatu kehidupan gerejawi yang lebih baik dari keadaan spiritual yang terjadi sebelumnya bagi jemaat-jemaat Kristen yang tersebar di wilayah kepulauan Maluku.
Kesimpulan
Keadaan masyarakat
Maluku masih lekat dengan kebiasaan menyimpan benda-benda keramat peninggalan
nenek-moyang mereka. Sakramen-sakramen sudah tidak dilayankan selama puluhan
tahun. Persediaan kitab-kitab Suci dan tulisan-tulisan Kristen lainnya sering
kali sudah lama habis, dibeberapa jemaat, guru-guru pun tidak mempunyai
Alkitab. Oleh sebab itu [8]sejarah berdirinya Gereja Protestan Maluku
terkait erat dengan campur tangan VOC dalam urusan gereja di seluruh nusantara
yang kemudian dilembagakan dalam Indische Kerk pada tahun
1621. Ketika VOC bubar pada tahun 1799, kondisi jemaat di Ambon terlantar,
sampai akhirnya Nederlandse Zending Genootschap (NZG)
mengutus Joseph Kam ke Maluku pada tahun 1821. Kerja
keras Joseph Kam dalam mendata dan membina jemaat-jemaat di Ambon
kemudian berbuah pada semakin luasnya pekerjaan gereja di hampir seluruh
wilayah kepulauan. Joseph Kam kemudian mendapat julukan Rasul
Maluku. Kondisi ini berlangsung sampai tahun 1930-an ketika
akhirnya Gereja Protestan Maluku menjadi gereja mandiri pada tanggal
6 September 1935 dan kemudian setelah kematian Joseph Kam pada tahun 1833,
penerus pelayanan beliau dilanjutkan seorang guru Belanda bernama Roskott yang
diutus untuk melayani ke Ambon, beliau mendirikan sekolah Pendidikan Guru (SPG)
demi meningkatkan kerohanian dan kecakapan profesional guru. Pelayanan Roskott
berjalan dengan baik sepanjang beliau bekerja di Ambon (1835-1873). Roskott
juga berupaya meningkatkan mutu hidup gerejawi di Maluku, dengan menyediakan
buku-buku dan bahan-bahan bacaan Kristen yang memadai. Oleh karena itu kedua
orang ini di kemudian hari dianggap telah meletakkan dasar terhadap suatu
kehidupan gerejawi yang lebih mantap, bagi jemaat-jemaat Kristen yang tersebar
di wilayah kepulauan Maluku.
Daftar Pustaka
Dr. Jonathan E.
Culvur, Sejarah Gereja Indonesia (Bandung: Biji Sesawi, 2014)
Dr. Th. Van den
End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010)
Berkhof, Dr. H. & Dr. l. H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)

Posting Komentar untuk "Peran Intelektual Hamba Tuhan Bagi Peningkatan Spiritual Jemaat "