Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Materialisme dan Keselarasan Perubahan


Materialisme-Historis

Materialisme Historis adalah pandangan sejarah dialektik dalam proses kerja dan laju perkembangan ekonomi yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Dalam pandangan ini, bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi keadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka. Keadaan sosial manusia merupakan produksinya. Hal ini berarti manusia ditentukan oleh produksi mereka, baik apa yang diproduksi maupun cara mereka berproduksi. Cara manusia berpikir ditentukan oleh cara ia bekerja. Oleh karena itu, tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan manusia, tetapi cukup melihat bagaimana cara ia bekerja.

   Kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh kedudukannya dalam kelas sosial. Keanggotaan dalam kelas sosial tertentu akan menentukan cara kita memandang dunia, apa yang kita harapkan dan kita khawatirkan. Sejarah tidak ditentukan oleh pikiran manusia, tetapi oleh cara manusia menjalankan produksinya. Oleh sebab itu, perubahan masyarakat tidak dapat terjadi dari perubahan pikiran, tetapi dari perubahan dalam cara produksi.

   Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian, yakni dasar nyata atau basis dan bangunan atas. Basis merupakan bidang produksi kehidupan material, sedangkan bangunan atas merupakan proses kehidupan sosial, politik dan spiritual. Basis ditentukan oleh dua faktor, yakni tenaga-tenaga produktif dan hubungan-hubungan produksi. Tenaga-tenaga produktif merupakan kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam. Tenaga-tenaga produktif mengandung tiga unsur, yaitu alat-alat kerja, manusia dengan kemampuannya masing-masing dan pengalaman-pengalaman dalam produksi (teknologi). Hubungan-hubungan produksi merupakan hubungan kerja sama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi, seperti buruh dan pemilik modal. Ciri khas dari basis adalah adanya pertentangan antara kelas atas dan kelas bawah. Hubungan-hubungan produksi ditentukan oleh tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif. Hal ini berarti struktur kelas masyarakat bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi ditentukan oleh tuntutan efisiensi produksi. Jadi, yang menentukan hubungan-hubungan produksi dalam sebuah masyarakat adalah tenaga-tenaga produktif.

Bangunan atas terdiri dari dua hal, yakni tatanan institusional dan tatanan kesadaran kolektif atau bangunan atas ideologis. Tatanan institusional merupakan segala macam lembaga yang menganut kehidupan bersama masyarakat di luar bidang produksi, seperti organisasi pasar, sistem pendidikan, sistem kesehatan, sistem hukum dan negara. Tatanan kesadaran kolektif merupakan segala sistem kepercayaan, norma-norma dan nilai yang memeberikan kerangka pengertian, makna dan orientasi spiritual kepada usaha manusia termasuk pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas masyarakat, nilai-nilai budaya dan seni. 

Keselarasan Sosial: Esensi Perubahan sosial

Tingkat realitas sosial merupakan pendekatan Sztompka yang dibedakan menjadi dua tingkatan, tingkat individualitas dan tingkat totalitas.  Tingkat individualitas terdiri dari manusia individual. Tingkat totalitas ssebagai kesatuan sosial abstrak, sejenis supra individu. Mencerminkan realitas social sui-generis kesatuan sosisal diterjemahkan bukan sebagai kumpulan semata dan bukan pula sebagai kesatuan metafisik melainkan sebagai struktur, dan individu sosial sebagai subjek otonom tetapi sebagai agen yang dibatasi. Ada dua bentuk keberadaan sosial secara potensial dan secara aktual. Struktur dapat dipandang sebagai potensi yang mengaktualkan dirinya (berkembang) dalam beroperasi. Agen sebagai potensi, mengaktualisasikan dirinya dalam tindakan. Dengan demikian akan diperoleh hubungan bahwa struktur muncul karena adanya agen, stuktur memiliki ciri khas dan keteraturan sendiri, struktur adalah jaringan hubungan antar agen, struktur tidak mengurangi jumlah agen. Agen tidak mengurangi lokasi struktural , agen memiliki otonomi, intergritas, dan kebebasan relatif untuk memilih dan memutuskan, agen merupakan kesatuan yang memiliki isi sendiri, dengan ciri keteraturan khusus. Ada tiga bentuk dinamika struktur. Pertama prinsip kelembaman dalam arti ada lebih banyak kemungkinan bahwa pelaksanaan fungsi struktur akan berlanjut dengan cara yang sama ketimbang berbentuk perubahan radikal, kedua prinsip momentum dalam arti bila satu fase atau tahap operasi tertentu tercapai, lebih besar kemungkinan diteruskan ke fase berikutnya daripada berhenti atau mundur.

Secara skematis bila tahap A tercapai maka secara otomatis tahap B kemungkinan menyusul. Ketiga ”prinsip rentetan” dalam arti fasefasae operasi sudah terpola dan sering tak dapat dihilangkan. Disemua jenis kehidupan sosial selalu ada rutinitas yang harus diikuti dalam rentetan yang teratur agar kehidupan sosial itu efektif. Kesemuanya ini hanyalah ilustrasi hipotesis, yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kemunculan struktural dapat dipandang sebagai perkembangan dari cara kemunculan menurut prinsipnya sendiri. Sebaliknya, tindakan bukan merupakan perwujudan berfungsinya struktur-struktur  yang terkandung di dalam momentum opersi semata. Tindakan mempunyai ukuran otonomi, mempunyai kebebasan relatif dalam hubungan sosial dinamis dimana tindakan itu terlihat. Setidaknya, sebagaian dari apa yang benar-benar dilakukan agen itu tidak sesuai dengan caa berfungsi struktur sebenarnya.

Hubungan yang lebih tinggi anatara struktur dan operasinya dijelaskan dengan konsep ”perkembangan” struktur berkembang dalam penjelasan operasi, dan mengeluarkan potensidan kecendrungan bawaan dalam pelaksanaan fungsinya. , atau berubah bila menghadapi kontradiksi; sebaliknya struktur akan beroperasi dengan lancar bila berhadapan keseragaman dan keharmonisan internal. Struktur mungkin menimbulkan stagnansi bila tersentralisasi dan tidak terdeferensiasi; sebaliknya mungkin akan berkembang bila terdesentralisasi dan prulal. Tentu saja ada variabel perantara yang ikut menentukan apakah potensi struktur itu benar-benar akan berkembang atau tidak.  

Tingkat Menengah : Agen dan Praxis

Pada sisi-sisi hubungan antara struktur dan agen, antara operasi dan tindakan inilah teka-teki keselarasan (harmoni sosial itu dapat dibaca. Dalam mempelajari keselarasan sosial beberapa ahli menekankan pada ”dualitas struktur” dan ”dualitas agen” lebih kelasnya para pakar menekankan pada ”dualitas analisis”atas realitas sosial. Keberadaan agen dan struktur bukan merupakan dua perangkat fenomena yang terpisah, tetapi mencerminkan dualitas. Sifat struktural sistem sosial adalah media dan sekaligus hasil tindakan agen di dalam struktur. Dualitas agen berarti bahwa sifat agen adalah produk struktur dan sekaligus sumber pembentukan struktur. Tingkat struktur dalam beroperasi dan agen dalam bertindak tidak dilihat sebagai dua bidang analisis yang terpisah. 

Dalam pendekatan ketiga yang diasumsikan adanya tingkat menengah dan dinyatakan sebagai satu-satunya yang mencerminkan adanya tingkat menengah dan dinyatakan sebagai satu-satunya yang mencerminkan substansi realitas sosial sesungguhnya, sebagai pabrik sosial khusus. Tidak ada agen yang tak terlibat dalam struktur dan tak ada struktur yan terpisah dari agen (individu), tidak ada tindakan individu yang yang tak berpartisipasi dalam operasi sosial, dan tidak ada agen yang hidup tanpa struktur dan struktur tanpa agen. Tetapi pada waktu bersamaan, struktur tidak lebur dalam agen dan agen pun tidak lebur dalam struktur. Hubungan keagenan dengan praxis disebut potensi peristiwa. Ini adalah pertemuan aktualisasi yang terjadi pada tingkat lain, peleburan antara perluasan struktur dan mobilisasi agen. Potensi peristiwa adalah kualitas yang baru muncul. ”potensi peristiwa” ini juga bersifat tergantung hanya merupakan sebuah kemungkinan, tak pernah merupakan suatu keharusan. Keagenan mungkin dimanesfestasikan dalam berbagai tindakan; namun mungkin pula tetap tertidur, tidak aktif.  

Lingkungan : Alam dan Kesadaran.

Ada dua jenis lingkungan, pertama, lebih intuitif, yakni lingkungan alam, kurang intuitif yakni kesadaran. Keduanya memiliki kesamaan yang mencolok. Karena manusia adalah makluk berkebutuhan jasmani, hidup dalam ruang dan waktu, memanfaatkan sumber daya alam, memengaruhi kondisi alam dan sebagainya, maka alam adalah tempat kehidupan sosial yang berlangsung. Karena itu alam adalah lingkungan utama yang diperlukan kehidupan sosial. Lingkungan alam dibagi menjadi dalam dua bentuk. Pertama kondisi alam eksternal, tempat agen dan struktur bertindak dan beroperasi. Kedua sebagai kondisi internal, yakni ciri-ciri individual yang menjadi subtratum masyarakat.

Kesadaran tidak hanya mendesakkan dirinya sendiri tetapi juga menengahi pengaruh yang didesakkan oleh lingkungan lain. Orang tidak hanya bereaksi secara pasif tetapi juga menyadari kenyataan dengan sikap mengantisipasinya secara aktif. Kesadaran tidak hanya memperantarai dampak lingkungan alam. Mekanisme serupa juga muncul ketika sejenis kondisi struktur sosial menyatu dengan sifat agen di tingkat keagenan dan praxis. Struktur sosial tidak menghambat atau memberi peluang individu secra langsung atau secara mekanik. Dengan mengakui pentingnya kesadaran dalam pelaksanaan fungsi masyarakat berarti akan mencegah absolutisasi satu sisi. Menganggap bahwa semua yang terjadi dalam masyarakat disengaja dan disadari sepenuhnya oleh anggotanya adalah anggapan kosong. Keterbatasan agen dan tindakannya ini tercapai ditingkat menengah yakni ciri-ciri peluang keagenan dan praxis yang disebabkan isolasi kesadaran terhadap lingkungan eksternal dan internalnya. 

Memasuki Waktu dan sejarah

Keterlibatan dimensi waktu belum pernah dijelaskan secara tegas dan sistematis, dimensi waktu baru dibatasi pada apa yang disebut ”waaktu internal” dibandingkan dengan ”waktu eksternal”, waktu fungsi dibandingkan dengan waktu transformasi.  Tindakan agen, beropeasinya sturktur dan peleburan keduanya secara sintesis, praxis, keagenan, belum dianggap menciptakan kondisi baru tetapi lebih dianggap menciptakan  ulang kondisi yang sama. Dengan demikian fungsi masyarakat masih statis dan belum benar-benar belum dinamis dan mencakup ”perubahan di dalam” masih mengabaikan ”perubahan di luar”. Setiap keadaan masyarakat pada waktu tertentu hanyalah fase dari rentetan sejarah, sebuah produk dari operasi masa lalu (akumulasi tradisi sejarah) dan merupakan syarat operasi di masa mendatang. Setiap komponen sosial (sebagai komponen dari praxis) adalah cerminan keseluruhan sejarah sebelumnya dan merupakan bukti sejarah masa depan. Ini dibatasi dalam aliran waktu sejarah, keselarasan sosial dilihat dari dimensi ”waktu eksternal” yang dapat disebut sebagai ”mencipta sejarah”.

Posting Komentar untuk "Sejarah Materialisme dan Keselarasan Perubahan "