Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Pemikiran Perubahan Sosial dalam Modernitas


Konsep Fundamental Dalam Studi Perubahan Sosial

Konsep fundamental yang merupakan standar studi perubahan, seperti perubahan sosial itu sendiri, proses sosial, perkembangan sosial, lingkaran historis dan sebagainya. Auguste Comte yang membagi teori ini menjadi dua bagian: Statika sosial, dan dinamika sosial. Statika sosial mempelajari anatomi masyarakat yang terdiri dari bagian-bagian dan susunannya seperti mempelajari anatomi tubuh manusia yang terdiri dari beberapa organ, kerangka dan jaringannya, sedangkan dinamika sosial memusatkan perhatian pada psikologi, yakni pada proses yang berlangsung dalam masyarakat seperti berfungsinya tubuh, dan menciptakan hasil akhir berupa perkembangan masyarakat yang dianalogikan dengan perubahan organik. Perubahan sosial dapat dipikirkan sebagai perubahan yang dapat terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Jika berbicara tentang perubahan, setiap orang pasti membayangkan sesuatu yang telah terjadi dalam jangka waktu tertentu yang telah mengalami perbedaan dari keadaan yang diamati sebelum atau sesudah jangka waktu tersebut. Menurut Hawley, perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari sistem sosial sebagai suatu kesatuan. Jadi menurut pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep perubahan sosial mencakup tiga gagasan: perbedaan, waktu yang telah berbeda, dan keadaan sistem sosial yang sama.

Perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem sosial. Konsep perubahan sosial meliputi “atom” terkecil dinamika sosial, perubahan keadaan sistem sosial atau perubahan aspeknya. Konsep proses sosial menunjukkan: perubahan-perubahan mengacu pada sistem sosial yang sama, saling berhubungan sebab-akibat, perubahan saling mengikuti satu sama lain menurut waktu. Memahami masalah perubahan sosial sangat memerlukan tipologi proses sosial yang didasarkan atas empat kriteria: bentuk proses sosial yang terjadi, jangka waktu berlangsungnya proses sosial, kesadaran masyarakat atas proses sosial. Berdasarkan pemikiran eksrernal, proses sosial akan terlihat bentuknya. Proses yang mengarah (purposive) biasanya tidak dapat diubah dan sering bersifat komulatif dan akan meningkat atau disebut dengan “linear”. Lawan proses linear adalah proses yang berjalan melalui priode khusus.

Hasil dari proses sosial adalah keadaan dan struktural sosial yang sama sekali baru. Proses sosial menciptakan dan menghasilkan perubahan sosial dan istilah morphogenesis dapat diterapkan terhadap semua jenis perubahan sosial. Proses morphogensis ini  ditemukan di semua prestasi, teknologi, kultur, dan struktur kehidupan manusia. Proses yang tidak menghasilkan perubahan dikenal dengan “reproduksi sederhana” yaitu tetap mempertahankan kondisi masyarakat yang sudah ada serta menjaga kelangsungan hidup masyarakat dalam bentuk yang tidak pernah berubah. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam semua perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah kesadaran mengenai perubahan itu sendiri oleh pihak yang terlibat. Proses sosial terjadi di tiga tingkat realitas sosial: makromezo dan mikro. Proses makro terjadi di tingkat paling luas yakni di tingkat masyarakat global, bangsa, dan kelompok etnik. Proses mezomencakup kelompok besar, kelompok besar, komunitas, asosiasi, partai politik, angkatan bersenjata, dan biokrasi. Proses mikro terjadi dalam kehidupan sehari-hari individu, dalam kelompok kecil seperti keluarga, sekolah, lingkungan, tempat kerja dan pertemuan.

Perkembangan Konsep Kemajuan

Konsep kemajuan membuktikan kebenaran dirinya sendiri. Konsep ini berasal dari  masa dulu dan sejak lahir sangat besar pengaruhnya dan konsep kemajuan memenuhi sebagian kebutuhan universal manusia. Konsep kemjuan hanya bermakna bila digabungkan dengan konsep transformasi. Ada berbagai pendapat mengenai bentuk proses kemajuan yang terjadi, kemajuan terjadi secara lancar dan selaras dan kemajuan secara bertahap, meningkat melalui perubahan secara perlahan menuju kondisi sosial yang semakin baik. Pendorong proses sosial untuk mengalami kemajuan yang pertama adalah kekuatan pendorong (agen pendorong). Menurut pemikiran kuno, kekuatan pendorong kemajuan terdapat dapat kekuasaan supranatural. Dewa, Tuhan diyakini menjaga arah kemajuan sosial atau proses sejarah.

Kemajuan sosial berkuasa atas pemikiran sosial hampir 3000 tahun dan konsep kemajuan itu sendiri menurun pengaruhnya pada abad ke- 20 yang merupakan peritiwa Perang Dunia. Hal inilah yang membuat keyakinan terhadap konsep ini mulai hilang. Setelah ketidakpercayaan ini terjadi, muncullah pandangan-pandangan kepada konsep kemajuan yang dipercepat oleh meningkatnya harapan, berkembangnya optimisme, aspirasi dan janji-janji tentang kemajuan itu sendiri. Perkembangan historis dan intelektual telah mengakibatkan konsep kemajuan digantikan oleh konsep krisis sebagai latar depan abad ke-20. Tetapi, konsep kemajuan masih penting bagi pikiran manusia, masih dasar untuk meredakan ketegangan dan ketidakpastian yang ada.

Hilangnya konsep kemajuan berkaitan dengan kritikan terhadap jenis aliran pembangunan tradisional. Tetapi tidak mungkin konsep kemajuan ini hilang begitu saja, karena banyak juga orang yang tetap menggunakannya. Makna dari kemajuan bukan kuantitas dari apa yang sebenarnya terjadi, tetapi potensi untuk menjadi. Kemajuan berkaitan erat dengan kekuatan agen yang progresif yang menjadi syarat kemajuan. Progresivitas agen kemajuan ditentukan dalam kenyataan bahwa agen itu tidak hanya memicu kemajuan tetapi juga memajukan didrinya sendiri. Inilah peran utama dari agen kemajuan.

 Dimensi Waktu Dari Masyarakat: Waktu Sebagai Dimensi Kehidupan Sosial

Semua fenomena sosial terjadi pada saat tertentu dalam waktu. Bila dilihat lebih dekat pada setiap peristiwa sosial, akan terlihat bahwa fenomenaa sosial tidak hanya berkaitan eksternal dengan fenomena lain tetapi juga secara internal dapat dirinci kedalam komponen-komponen yang saling terkait waktunya. Setiap fenomena atau peristiwa mempunyai jangka waktu, berakhir pada waktu tertentu.  Aliran waktu yang tidak dapat berubah membuktikan adanya perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Perbedaannya bukan merupakan sejarah universal, perbedaan itu hanya muncul di saat tertentu dalam perkembangan masyarakat manusia. Proses sosial telah berada di masa lalu, tetapi belum di masa yang akan datang.

Asal Tradisi Sejarah

Masalah tradisi tidak akan muncul bila berbagai keadaan masyarakat dalam urutan proses terputus, dalam arti bila rentetan proses itu berakhir sama sekali sebelum proses yang baru dimulai. Berbicara mengenai tradisi, hubungan antara masa lalu dan masa kini haruslah lebih dekat. Tradisi mencakup kelangsungan masa lalu di masa kini daripada menunjukkan fakta bahwa masa kini berasal dari masa lalu. Menurut arti yang lebih lengkap, tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada sampai sekarang. Tradisi hanya berarti warisan, apa yang benar-benar tersisa dari masa lalu. Yang penting dalam memahami tradisi adalah sikap atau orientasi pikiran tentang benda material atau gagasan yang berasal dari masa lalu yang diadopsi orang pada masa sekarang. Tradisi lahir melalui dua cara. Cara pertama, muncul dari bawah melalui mekanisme kemunculan secara spontan dan tidak diharapkan serta melibatkan rakyat banyak. Cara kedua muncul dari atas mealalui mekanisme paksaan. Sesuatu yang dianggap sebagai tradisi dipilih dan dijadikan perhatian umum atau dipaksakan individu yang berpengaruh dan berkuasa. Terbentuknya tradisi terus mengalami berbagai perubahan, yaitu perubahan kuantatif yang terlihat dalam jumlah pengikut atau pendukungnya, perubahan kadar tradisi. Perubahan tradisi juga disebabkan banyaknya tradisi dan bentrokan anatara tradisi yang satu dengan lainnya. Bentrokan itu dapat terjadi karena tradisi masyarakat yang berbeda di dalam masyarakat tertentu dan yang paling sering terjadi adalan bentrokan tradisi kesukuan masyarakat pribumi.

 Modernitas dan Post-Modern

Ada dua cara menetapkan modernitas: historis atau analisis. Konsep historis modernitas berpusat pada tempat dan waktu tertentu. Kondisi modren jelas berpengaruh paada kepribadian manusia. Pengaruh modernitas terhadap manusia tercermin dari urbanisme, industrialisme, mobilitas, dan komunikasi massa. Syarat perkembangan modernitas adalah kecenderungan kepribadian. Untuk efektifnya fungsi sebuah masyarakat modern, warganya perlu mempunyai kualitas sikap, nilai kebiasaan, dan kecenderungan tertentu. Abad ke-19 disebut era keberhasilan modernitas, tetapi tidak lama kemudian modernitas menimbulkan efek ambivalen. Akibat positif dan negatif modernitas menimbulkan berbagai pandangan teoritis tentang masa depan masyarakat manusia. Pandangan itu bersumber dari iklim optimis dan progresivitas sosiologi klasik dan mengikuti kerangka teoritis evolusionisme. Pandangan ini menyatakan kebanyakan keadaan masa kini adalah menguntungkan, dan akan berlanjut di masa depan dan modernitas akan mengaalami perubahan ke arah yang sama, lebih sempurna. 

Globalisasi Masyarakat dan Manusia

Globalisasi adalah masalah kehidupan modern yang tidak terhindarkan. Globalisasi menimbulkan bahaya dan haaraapan. Proses globalisasi yang meliputi semua aspek kehidupan modern (ekonomi, politik dan kultural) tercermin dalam kesadaran sosial Historis yang menonjol di era modern adalah perubahan menuju globalisasi. Ada tiga analisis teoritis tentang globalisasi yang tergolong klasik: teori imperialism, teori ketergantungan, dan teori sistem dunia. Ketiganya memusatkan perhatian pada bidang ekonomi dan bertujuan menjelaskan mekanisme penindasan dan ketidakadilan.  

Evolusionisme Klasik

Rumusan klasik evolusionisme sosiologis: Teori Evolusi menganggap bahwa keseluruhan sejarah manusia memiliki bentuk, pola, logika atau makna unik yang melandasi banyak kejadian yang tampaknya serampangan dan tak berkaitan. Rekontruksi memberikan pemahaman tentang sejarah masa lalu dan membuka jalan untuk memprediksi masa depan. ·   

Tokoh-Tokoh Evolusi Sosiologi

1.  August Comte dengan konsep evolusi idealis Comte bertolak dari tiga tahap perkembangan manusi: Teologis, Metafisik dan Positif. Spencer berpendapat bahwa sejarah manusia dimulai dari tahap masyarakat sederhana ( Saling terisolir, aktifitas seluruh anggotanya serupa, tanpa organisasi politik ), melalui tahap masyarakat kompleks ( ada pembagian kerja antara individu dan pembagian fungsi dalam masyarakat mulai muncul, hirarki organisasi politik sangat penting ), kemudian memasuki tahap masyarakat lebih kompleks ( memiliki wilayah bersama, mempunyai konstitusi dan sistem hukum permanen), hingga tahap peradapan ( kesatuan sosial paling komplek, negara-negara, federasi beberapa negara). 

Neoevolusionisme

Gagasan dari Neo-evolusionisme hampir sama dengan teori modernisasi. Neo-evolusionisme menggunakan analisis konteks histori dalam membedah masyarakat tradisional dan modern, teori ini menyatakan masyarakat modern lambat laun akan terjadi dari tahap tradisional melalui proses diferensiasi sosial. Misalnya, dalam masyarakat tradisional fungsi politik, ekonomi, dan pendidikan dijalankan dibawah satu institusi saja, sedangkan di dalam masyarakat modern antara struktur sosial dan organisasi harus dipisahkan untuk menjalankan fungsi politik, ekonomi, dan pendidikan. Secara singkatnya, masyarakat merubah struktur masyarakat sederhana menjadi lebih kompleks dengan adanya diferensiasi kerja. Disebut neo-evolusionisme dikarena teori ini menentang pandangan teori evolusionisme yang menyatakan bahwa masyarakat tradisional akan berkembang dengan satu arah (unilinear) menuju masyarakat modern.

Para ahli neo-evolusionisme beranggapan banyak jalur yang dapat ditempuh untuk menuju masyarakat modern seperti jalan kapitalis melalui demokrasi plural yang terjadi di Amerika Serikat. Pada tahun 1950an dan 1960an, teori-teori para fungsionalis seperti modernisasi dan neo-evolusionisme sangat dominan, namun gerakan anti-imperialisme yang terjadi di Afrika, Asia, dan Amerika Latin mengangkat teori neo-Marxis untuk menentang dominasi Fungsionalis orthodox. Seperti yang telah diuji dan ditunjukkan sejauh ini teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya dan menganggap evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adl kunci keberhasilan penipuan ini. Karena itu perlu mengulas ciri-ciri khusus indoktrinasi dan propaganda ini. Jika mencermati media-media Barat akan sering menjumpai berita-berita yang membahas teori evolusi. 

Teori Lingkaran Sejarah

Teori ini mencerminkan pandangan alternatif mengenai sejarah. Teori ini berakar dari analogi yang berasal dari common sense. Proses dikatakan melingkar jika keadaan system berurutan, setelah melangkaui jangka tertentu, terulang kembali sama seperti keadaan sebelumnya (contoh: terbit dan tenggelamnya matahari). Pemikiran mengenai proses melingkar telah ada dalam presepsi manusia tentang dunia, jauh sebelum memasuki teori yang sistematis. Menurut Vico, mekanisme penyebab terulangnya lingkaran sejarah adalah faktor psikologis. 

Posting Komentar untuk "Sejarah Pemikiran Perubahan Sosial dalam Modernitas"