Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ilmu Pengetahuan dan Pentingnya Penafsiran Alkitab

       

           Manusia adalah makhluk yang rasional, itu yang membuat manusia tidak pernah berhenti menggali sesuatu yang belum dapat mereka pahami sampai mereka dapat memahami dan mengerti maksud yang sebenarnya. Rasa ingin tahu manusia itu yang mendasari munculnya penafsiran-penafsiran dan penerjemahan-penerjemahan. Banyak orang yang mengambil suatu persepsi secara pribadi untuk menafsirkan atau menerjemahkan sesuatu. Sebenarnya banyak sekali obyek yang berusaha ditafsirkan atau diterjemahkan oleh manusia, salah satunya yaitu menafsirkan tentang Alkitab. Istilah menafsirkan dalam bahasa modernnya yaitu kata Hermeneutika yang berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti ‘menafsirkan’, dan kata benda hermeneia secara harafiah dapat diartikan sebagai ‘penafsiran’ atau interpretasi. 

        Tidak sedikit orang yang tidak percaya bahwa Alkitab adalah wahyu dari Allah. Tetapi tidak sedikit pula orang yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah atau wahyu Allah. Pedebatan antara dua kubu ini masih ada sampai sekarang. Seringkali kita juga bertemu dengan seorang yang berkata dengan kita, “Saudara tidak perlu menafsirkan Alkitab; bacalah saja, dan laksanakan apa yang dikatakannya.” Biasanya, ucapan seperti itu mencerminkan sanggahan orang awam terhadap cendikiawan yang profesional, pendeta, pengajar atau guru sekolah Minggu, yang dengan cara penafsirannya, sepertinya membuat Alkitab seolah-olah di luar jangkauan pengertian orang-orang yang biasa. Hal itu bagi penulis adalah benar, seperti yang dikatakan rasul Yohanes, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan dari nubuat kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini. 

        Dasar untuk menafsirkan dan menerjemahkan ini sangat penting karena berkaitan dengan tujuan penafsiran yang menjadi hasil akhirnya. Tidak sembarangan orang dapat menafsirkan Alkitab, ada syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penafsir, yaitu: Seorang yang sudah lahir baru, seorang yang memiliki sikap dan motivasi yang benar, rindu akan Firman Allah, memiliki hati seorang murid, memiiki Iman, membaca Alkitab dengan tekun dan teliti, bertekad menjalankan Firman Tuhan, dan selalu memohon penerangan Roh Kudus.

        Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Kita berpikir melalui bahasa, kita berbicara dan menulis dengan bahasa. Kita mengerti dan membuat interpretasi dengan bahasa. Setiap kata tidak pernah tidak bermakna, ungkapan Wilhelm Dilthey.  Hermeneutik adalah cara baru untuk ‘bergaul’ dengan bahasa. Bahasa menjelmakan kebudayaan manusia. Henri Bergson menyatakan bahwa bila seseorang memahami bahasa sesuatu Negara, dapat dipastikan ia tidak akan mungkin benci terhadap Negara itu. Sebab, jika kita mampu memahami suatu bahasa, kita memahami segala sesuatu. Pemahaman tentang bahasa juga merupakan salah satu dasar penafsiran dan penerjemahan yang sangat penting, tanpa pemahaman bahasa yang baik pasti akan menimbulkan penafsiran yang keliru. 

        Alkitab yang sebagai wahyu Allah yang diinspirasikan kepada manusia melalui Roh Kudus dan dituliskan dalam bahasa manusia sangat tidak mudah untuk dimengerti. Mengingat bahwa tanpa Roh Kudus kita tidak akan dapat menafsirkan Alkitab dengan benar. Karena itu memerlukan penafsiran sehingga dapat dimengerti apa isi dan maksud daripada tulisan Alkitab. Karena Alkitab merupakan sumber utama umat Tuhan mengenal Allah, dan Alkitab perlu dipelajari dengan penafsiran. Namun, fakta menunjukkan bahwa gereja tidak selalu sepaham dalam penafsiran Alkitab. Penafsiran yang tidak sama menghasilkan teologi dan denominasi yang tidak sama atau sebaliknya, teologi dan denominasi yang berbeda memegang penafsiran yang berbeda. Tidak mengherankan, baik sarjana maupun kaum awam sama-sama sering memperdebatkan berbagai persoalan mengenai pra-anggapan, prinsip dan metode.

        Tanpa penafsiran yang jelas dan akurat, manusia tidak berkesempatan mendengar Firman Allah. Mereka tidak dapat mengenal Allah, juga tidak dapat mengenal identitas dirinya sebagai ciptaan Allah, dan mengetahui keadaan sesungguhnya. Gereja tidak mungkin menjadi kuat tanpa memahami Alkitab dengan sungguh-sungguh. Itu sebabnya setiap rohaniwan, bahkan setiap anak Tuhan, perlu menguasai hermeneutik, demi memahami ajaran Alkitab. Karena setiap pengikut Kristus membutuhkan makanan rohani yang menumbuhkan kehidupan rohaninya. Hal itu sama seperti kesehatan tubuh jasmani manusia bergantung pada makanan yang diterimanya. Mereka yang sudah menjadi pengikut Tuhan, sama seperti orang non-Kristen, harus memilih dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ada perbedaan antara orang Kristen dan non-Kristen, yaitu orang Kristen boleh bertindak atas petunjuk Tuhan yang diberikan melalui Firman-Nya. Firman Allah menjadi pelita dan terang dalam perjalanan mereka.

        Dalam upaya melawan berbagai godaan dan dosa, orang Kristen sangat membutuhkan Firman Allah sebagai senjatanya. Sabda Allah memberi umat Tuhan kasih, harapan dan kekuatan bahkan dalam keadaan yang paling sulit. Firman Allah adalah senjata rohani umat Kristen. Alkitab juga merupakan dasar atau teologi agama Kristen, tetapi tidak setiap denominasi memiliki teologi yang persis sama. Diantaranya berkaitan dengan pemikiran yang  berbeda, respon dan kebutuhan umat, pengalaman unik para teolog yang bersangkutan atau penafsiran yang berbeda. 

        Dari faktor-faktor itulah, penafsiran merupakan faktor yang paling menentukan. Selain itu penafsiran juga berperan penting dalam pelayanan berkhotbah. Walaupun pengkhotbah itu pandai berbicara, tanpa penafsiran yang baik, bukan tidak mungkin dia hanya menyampaikan pandangan pribadinya. Pelayanan berkhotbah sangat penting karena itu menentukan kemajuan umat Tuhan dalam hal kerohanian, moral, dan pelayanan. Dengan pelayanan berkhotbah yang efektif, diharapkan akhirnya jemaat Tuhan dapat bertumbuh menjadi bait Allah yang kudus. 

        Alkitab, Kitab Suci orang Kristen, tidak mudah dimengerti. Melihat banyaknya penulis dan jarak waktu yang panjang membuat pembaca tidak mengerti apa hubungannya Alkitab dengan zaman sekarang yang sangat berbeda baik waktu maupun tempat. Berbagai macam sastra dan bentuk tulisan dan bahasa kuno sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini. Semua itu merangkum kepada sebuah komunikasi dari penulis sampai kepada penerimanya. Itu membutuhkan penafsiran dan penerjemahan, semua komunikasi membutuhkan penafsiran. Alasan yang lebih penting untuk kebutuhan menafsirkan terletak dalam sifat Firman Tuhan itu sendiri. Menurut sejarah, gereja telah memahami sifat dasar Firman Tuhan sama seperti gereja memahami oknum Kristus – pada sesama Alkitabiah mempunyai sifat manusiawi dan ilahi. Sebagaimana dinyatakan oleh Profesor George Ladd, “Alkitab adalah Firman Allah yang diberikan di dalam bahasa manusia dalam sejarah.” Sifat rangkap itulah yang menuntut kita untuk melakukan penafsiran terhadap Alkitab. Oleh karena Alkitab adalah Firman Allah, maka ia selalu relevan. Alkitab berbicara kepada seluruh umat manusia, dalam segala zaman, dan dalam segala kebudayaan. Akan tetapi, karena Allah memilih untuk mengucapkan Firman-Nya melalui bahasa manusia dalam sejarah, maka setiap bagian dalam Alkitab juga memiliki keistimewaan historis. Setiap dokumen dibatasi oleh bahasa, waktu, dan kebudayaan di mana dokumen itu pada mulanya ditulis. Karena itu, penafsiran dibutuhkan karena ketegangan yang ada diantara relevansi kekalnya dengan keistimewaan historisnya. 

    Selain itu, pentingnya hermeneutika yang lain adalah bahwa Alkitab sebagai karya ilahi-insani, artinya bahwa dituntut keseriussan untuk memahami maksud Allah dan sebagai karya insani Allah yang berbicara kepada manusia dengan bahasa manusia dan dalam konteks historis tertentu. Setiap orang tidak dapat melepaskan diri menafsirkan, alasannya Alkitab tidaak mencatat segala sesuatu yang ingin kita ketahui dan Alkitab dapat dipahami dalam berbagai cara bahkan dalam keadaan kontradiksi. Bagi penulis sendiri, penafsiran memang sangat penting, supaya kita dapat mengerti maksud dan tujan penulis teks yang sebenarnya menurut konteks aslinya dan merelevansikannya dalam kehidupan kita sekarang bahkan masa yang akan datang. 

    Para penafsir dan penerjemah tidak menafsirkan dan menerjemahkan tanpa alasan maupun tujuan. Menurut Chan Lee La, tujuan hermeneutik secara umum adalah sebagai cara untuk memahami, sebagai cara untuk memahami suatu pemahaman, dan sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman. Beberapa tujuan yang lain adalah: Untuk memahami Alkitab PL yang ditulis dalam bahasa Ibrani dan PB dalam bahasa Yunani. Memahami budaya PL yang ditulis dalam budaya Israel Kuno, Mesapotamia, Mesir, dll, dan PB dalam budaya Yunani – Romawi. Untuk mengungkapkan historis, yang sebagian kitab PL dan semua kitab PB harus dipahami dalam konteks pergumulan historis yang panjang. Dari Babel- Persia- Yunani- Romawi. Pemahaman secara geografis, pengenalan tentang situasi khusus Palestina sangat membantu dalam penafsiran.

        Tujuan dari penafsiran tidak terletak pada keunikan sebuah penafsiran, karena bias saja salah. Penafsiran yang baik adalah penafsiran yang mampu mengungkapkan dengan jelas makna yang sesungguhnya dari sebuah teks. Penafsiran yang benar melalui proses dan dengan aturan-aturan yang jelas, selanjutnya diuji apakah tafsiran tersebut sesuai dengan konteksnya. Memang setiap penafsir memiliki tujuan-tujuan yang berbeda. Gordon D. Fee berpendapat bahwa tujuan penafsiran yang baik adalah sederhana, yaitu menemukan pengertian yang jelas dari teks itu. Dan factor paling penting yang dapat kita sediakan untuk tugas itu ialah pikiran sehat yang sudah diterangi Tuhan. Patokan untuk penafsiran yang baik ialah bahwa penafsiran itu membuat teks tersebut dapat dimengerti dengan baik. Oleh karena itu, penafsiran yang tepat akan melegakan pikiran dan sekaligus menempelak atau mendorong hati. Akan tetapi jikalau penafsiran hanya bertujuan memberikan pengertian yang jelas, lalu mengapa harus menafsir? Mengapa tidak hanya membaca? Bukankah pengertian yang jelas itu dating dengan membaca saja? Dalam satu arti memang benar. Tetapi dalam arti yang lebih tepat, alasan sedemikian itu bersifat naïf dan tidak realistis karena dua factor, yaitu sifat pembaca dan sifat Firman Tuhan. 

    Penulis mendeskripsikan tujuan penting mengapa kita harus menafsirkan dan menerjemahkan Alkitab, yaitu untuk mendapatkan arti dan maksud yang sesungguhnya dari teks tersebut. Tujuan-tujuan itulah yang membuat para penafsir lebih berhati-hati karena yang ditafsirkan adalah Alkitab, Firman Allah yang tidak memiliki kesalahan karena Firman Tuhan adalah kebenaran.


Fee, Gordon D., dan Stuart, Douglas. Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat, Malang: Gandum Mas. 1989.

Rumahlatu, Jerry. Hermeneutika Sepanjang Masa. CV. Cipta Varia Sarana. 2011.

Stott, John R.W. Memahami Isi Alkitab. Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab. 1993.

Sumaryono, E. Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Susanto, Hasan. Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Malang: Literatur SAAT, 2007.

Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1992.

Posting Komentar untuk "Ilmu Pengetahuan dan Pentingnya Penafsiran Alkitab"