Pentingnya Pembentukan Karakter Anak
Usia
dini umumnya hanya kita dapat jumpai pada Taman Kanak-kanak yang merupakan usia
efektif yang dapat dikembangkan dengan berbagai potensi dan kemampuan serta
kepribadian yang dimiliki oleh anak tersebut. Cara untuk melakukan pengembangan
pendidikan karakter harus disertai dengan kesiapan mental, sosial dan
emosional. Oleh karena itu cara pelaksanaannya harus dilakukan dengan cara yang
menarik, bervariasi dan menyenangkan bagi anak tersebut.
Penerapan pendidikan karakter pada anak usia dini dapat dituangkan dalam program harian, yaitu tentang kepribadian anak, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sehingga anak mampu mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya dan masa dewasanya. Taman Kanak-kanak merupakan pendidikan bagi anak usia dini yang berada pada jalur formal yang tentunya harus mampu mempertahankan citra dan kwalitas pembelajaran sehingga masyarakat dapat tetap mengakui mutu dan proses belajar mengajar yag dilaksanakan.
Menurut Maxwell, karakter jauh lebih baik dari sekedar perkataan. Lebih dari itu, karakter merupakan sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesuksesan. Menurut Wyne, karakter menandai bagaimana cara atau pun teknis untuk memfoukuskan penerapan nilai kebaikan ke dalam tindakan atau pun tingkah laku. Menurut Kamisa, pengertian karakter adalah sifat – sifat kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain. Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian. Menurut Doni Kusuma, karakter merupakan ciri, gaya, sifat, atau pun katakeristik diri seseorang yang berasal dari bentukan atau pun tempaan yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya. Karakter menurut KBBI adalah Tabiat; Sifat-Sifat Kejiwan; Akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.
Sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Suatu konsep dasar yang diterapkan ke dalam pemikiran seseorang untuk menjadikan akhlak jasmani rohani maupun budi pekerti agar lebih berarti dari sebelumnya sehingga dapat mengurangi krisis moral yang menimpa negeri ini. Menurut para ahli pengertian pendidikan karakter haruslah diterapakan ke dalam pikiran seseorang sejak usia dini, remaja bahkan dewasa, sehingga dapat membentuk karakter seseorang menjadi lebih bernilai dan bermoral.
Istilah
karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein yang berarti mengukir.
Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau
permukaan besi yang keras. Dari sini kemudian berkembang pengertian karakter
yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku. Doni Koesoema A
(2007:80) memahami bahwa karakter adalah sama dengan
kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik yang
bersifat khas dari seseorang yang bersumber dari hasil bentukan-bentukan yang
diterima dari lingkungan. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, pengertian karakter
adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas,
sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
Jadi bisa
disimpulkan bahwa karakter itu erat kaitannya dengan personality. Seseorang
bisa dikatakan berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya,
lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia internasional pada umunya dengan
mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran,
emosi dan motivasinya (perasaannya). Karakter itu lebih bersifat spontanitas
maksudnya dalam bersikap atau melakukan perbuatan telah menyatu dalam diri
manusia sehingga ketika muncul tidak perlu difikirkan lagi.
Pendidikan
karakter ini membahas kepada empat hal yaitu olah hati, olah pikir, olah rasa
dan olah raga. Olah hati yang dimaksud adalah berkata, bersikap, dan
berperilaku jujur. Olah pikir artinya cerdas yang selalu merasa membutuhkan
pengetahuan. Olah rasa artinya memilki cita-cita. Sedang olah raga artinya
enjaga kesehatan di tengah-tengah menggapai cita-cita tersebut.
Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Puskur, 2010). Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia, warga masyarakat dan warga negara yang baik.
Pendidikan
karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek
pengetahuan (kognitif), sikap dan perasaan (afektif), dan tindakan (aksi).
Tanpa ketiga aspek ini maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan
pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan maka
seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal
dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena seseorang akan lebih
mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan hidup termasuk tantangan
untuk berhasil secara akademis.
Pendidikan
karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan
di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu, seimbang, dan sesuai dengan standar
kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu
secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya dalam
mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam
perilaku sehari-hari.
Pengertian
karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia,
moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Terkait
dengan kecerdasan ganda, bahwa kecerdasan meliputi empat pilar saling terkait
satu sama lain, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan
emosional, dan kecerdasan sosial.
Kecerdasan sosial sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dengan pengertian cerdas pada umunya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan istilah IQ. Sementara kecerdasan yang lainnya belum atau tidak memiliki ukuran matematis sebagaimana kecerdasan intelektual. Kecerdasan di luar kecerdasan intelektual inilah yang lebih dekat dengan pengertian karakter pada umumnya. Dr. Martin Luther King tokoh spiritual kulit hitam di Amerika Serikat menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas secara komprehensif, menyeluruh dan berkarakter kuat.
Sebuah
buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success
(Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian
tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di
sekolah. Faktor-faktor yang menyebabkan kurang berhasil di bidang akademik
bukan hanya terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada masalah karakter, yaitu
rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemapuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata
80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan
otak (IQ).
Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan dalam belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan bila tidak cepat ditangani maka akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh para remaja misalnya tawuran, narkoba, miras dan sebagainya.
Lembaga
pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya untuk membentuk
karakter, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam lingkungan
keluarga. Apabila seorang anak memperoleh pendidikan karakter yang baik dalam
keluarga, maka anak tersebut selanjutnya akan berkarakter baik pula. Namun
banyak orang tua yang hanya mementingkan aspek kecerdasan otak daripada
pendidikan karakter.
Peran
lembaga pendidikan diibaratkan sebagai mesin untuk mencetak sumber daya manusia
yang berkarakter. Lembaga pendidikan menjadi bengkel bagi perbaikan moralitas
bangsa yang terkikis oleh dampak negatif modernisasi. Pendidikan dituntut
berperan aktif sebagai agen perubahan.
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu media yang efektif untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu pengembangan peserta didik sesuai kebutuhan, potensi, bakat dan minat. Selain itu dengan kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab, sosial, serta potensi peserta didik.
Darmuin, Konsep Dasar Pendidikan
Karakter Taman Kanak-kanak, Semarang: Pustaka Zaman, 2013.
Elmubarok, Zaim, Membumikan Pendidikan
Nilai, Bandung: CV Alfabeta, 2008.
Harapan, Agung, Kamus Cerdas Bahasa
Indonesia Terbaru,Surabaya: CV Agung Harapan, 2003.
Sunarti, Euis, Menggali Kekuatan
Cerita, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2005.
Ulwan, Nasih, Pendidikan Anak
dalam Islam, Terjemahan Jamaludin Miri, Cet. III, Jakarta: Pustaka
Amani, 2007.
Seto Mulyadi, Seto, Character Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter, Cet. I,Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008.

Posting Komentar untuk "Pentingnya Pembentukan Karakter Anak"