Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehidupan Setelah Kematian

Pendahuluan

Pertanyaan tentang kehidupan setelah kematian terus melanda kehidupan manusia. Banyak pertanyaan mengenai bagaimana kondisi seseorang setelah kematian atau bagaimana keadaan hidup setelah kematian? telah sering ditanyakan oleh keluarga yang sedang mengalami dukacita karena ditinggal oleh anggota keluarganya ataupun tidak. Oleh sebab itu, di dalam makalah ini penulis ingin mengupas tentang pemahaman kehidupan setelah kematian dari sudut pandang teologi kristen. Menurut penulis memiliki pemahaman kehidupan setelah kematian yang baik dapat membantu penulis untuk melakukan pastoral terhadap jemaat yang sedang berdukacita atau jemaat yang sedang mencari kebenaran.

Akan tetapi selain dapat digunakan dalam dunia pastoral pemahaman mengenai kehidupan setelah kematian juga berguna dalam berapologetika di kalangan pemahaman kebudayaan dan agama tentang kehidupan setelah kematian. Seperti yang dipahami oleh agama sepupu dan tradisi Jawa bahwa manusia setelah mengalami kematian manusia masih dapat melakukan aktivitas di dalam dunia baka. Hal serupa juga dipahami oleh budaya Tionghoa bahwa manusia setelah kematian masih hidup dan membutuhkan materi untuk hidup di alam baka. Maka tidak jarang ada masyarakat Tionghoa yang membakar ornamen uang kertas, rumah-rumahan, emas kertas, dll. Dengan keyakinan benda palsu yang dibakar itu akan berwujud nyata dalam dunia baka dan dapat digunakan oleh anggota keluarganya yang telah meninggal. Hal serupa juga terjadi di dalam masyarakat Jawa apabila ada anggota keluarga yang meninggal akan dibawakan benda kesayangannya supaya dibawa dalam dunia baka dan disediakan makanan supaya dapat dinikmati. Dari sini penulis menilai pentingnya pemahaman kehidupan setelah kematian dengan baik supaya sebagai orang kristen dapat memberikan penjelasan yang tepat mengenai kehidupan di masa yang akan datang setelah kematian.

 

A.    Pandangan Umum Tentang Kehidupan Setelah Kematian

Kehidupan masa depan setelah kematian memang menjadi misteri bagi manusia yang ada di bumi ini, selain tidak banyak dibahas di dalam Alkitab masalah kehidupan setelah kematian juga minim akan saksi yang dapat memberitahu kepada manusia yang ada di bumi. Oleh sebab itu, masalah kehidupan setelah kematian memunculkan banyak pandangan mengenai kehidupan setelah kematian ini. Pandangan yang umum dipegang oleh kebanyakan orang adalah manusia setelah mengalami kematian rohnya terpisah dengan tubuhnya. Tubuh mati total dan harus dikuburkan sedangkan roh tidak mati melainkan berpindah untuk sementara ke dunia baka bersama dengan roh yang lainnya. Bahkan di dalam pemahaman orang jawa roh orang yang meninggal akan melayang-layang di dalam rumah selama 40 hari. Hal serupa sama seperti pemahaman orang Yunani yang dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf Yunani seperti Plato dan Pythagoras yang menekankan perpindahan roh atau jiwa, dan keberadaan jiwa yang abadi dan tidak dapat mati bahkan keberadaannya lebih awal dari tubuh.[1]

 

B.     Pandangan Kehidupan Setelah Kematian di Awal Kekristenan

Dikotomi tubuh ini juga diterima oleh ajaran Roma Katolik. Mereka juga meyakini bahwa setelah kematian manusia itu mengalami perpisahan antara tubuh dan roh/jiwanya. Bagi ajaran Katolik Roma manusia setelah mengalami kematian tubuhnya masuk ke dalam dunia orang mati yaitu kubur sedangkan jiwanya atau rohnya masuk ke sebuah tempat yang disebut purgatori. Purgatori ini adalah sebuah tempat pemurnian dan persiapan jiwa orang percaya yang menantikan akan masuk surga sampai pada waktu penghakiman terakhir.[2] Jauh kebelakang dari pemahaman purgatori ini para bapak gereja kristen Yunani, seperti Clement dari Alexandria dan Agustinus dari Hippo memiliki pemahan yang berbeda tentang kehidupan setelah kematian. Bagi mereka setelah manusia mengalami kematian jiwa manusia akan masuk ke sebuah tempat yang dinamakan api penyucian, dimana setiap orang percaya disucikan sampai dibangkitkan oleh Kristus, supaya manusia layak untuk masuk surga.[3]Akan tetapi pandangan seperti ini telah lama ditinggalkan oleh banyak orang.

Dalam perkembangan jaman pemahaman yang telah dipaparkan di atas telah disangkal oleh para reformator. Hingga saat ini di kalangan orang Kristen biasanya kehidupan setelah kematian dimengerti sebagai kelanjutan dari kehidupan di dunia, di mana tubuh dan roh terpisah. Tubuh ke dalam kubur sedangkan roh langsung bersama-sama dengan Bapa di surga. Pandangan John Calvin jiwa orang-orang benar yang sudah mati akan hidup dan menikmati istirahat yang tenang, tetapi kebahagiaan yang sempurna akan dialaminya saat kebangkitan.[4] Hal serupa juga diungkapkan oleh R. C. Sproul bahwa kematian adalah awal hidup yang penuh keberuntungan.[5]Dengan berpijak ayat Firman Tuhan dari Filipi 1: 19-24 dan 2 Kor. 4:17-5:5 Sproul meyakini setelah kematian langsung terdapat kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan keadaan di dunia, yaitu hidup bersama dengan Bapa. Di bagian alkitab yang lain seperti di dalam 1 Kor. 5:5 tubuh dapat binasa tetapi roh dapat diselamatkan. Dalam arti ada kemungkinan ada keterpisahan antara tubuh dan roh saat kematian (Kis. 7:59; Fil. 1:23; Ibr. 12:23; Why. 6:9; 20:4).  

Di dalam kitab Filipi 1:23 Paulus menggunakan kata avnalu,w untuk menjelaskan kerinduan Paulus bersama-sama dengan Yesus. Kata yang sama juga digunakan di dalam 2Tim. 4:6 untuk menjelaskan kematian fisik. Sedangkan kata avnalu,w secara literal berarti terpisah atau menghilang dari tempatnya. Hal ini mengindikasikan memang saat kematian ada sesuatu yang terpisah dari tubuh manusia. Frasa bersama dengan Allah Paulus mengindikasikan bahwa setelah kematian rohnya akan langsung bersama dengan Allah. Kisah tentang Lazarus dan orang kaya menunjukkan bahwa ketika orang percaya meninggal orang itu akan masuk kepada suasana yang bahagia, sedangkan orang yang tidak percaya masuk pada suasana yang tidak menyenangkan. Secara tubuh jasmani tubuh orang kristen akan kembali ke bumi tetapi roh akan masuk pada suasana kebahagiaan.[6]

 

C.    Tanggapan Penulis Mengenai Kehidupan Setelah Kematian

Penulis menilai Sproul dan pandangan kekritenan pada mulanya terlalu cepat untuk menarik kehidupan setelah kematian kepada kehidupan bersama dengan Bapa di surga. Memang benar setelah kematian kasih setia Allah masih memegang orang percaya untuk melewati masa kematian itu sampai penggenapannya kita bertemu dengan Allah, dan walaupun mengalami kematian relasi dengan Allah itu tetap terjaga. Akan tetapi penulis beranggapan bahwa manusia setelah kematian tidak serta merta langsung berada bersama dengan Bapa di surga (secara tempat) dalam rupa roh yang menanti penggenapan kebangkitan tubuh. Penulis merasa suatu kejanggalan apabila roh manusia yang terpisah itu langsung hidup bersama Bapa. Jika halnya demikian selain roh akan memiliki pengalaman yang berbeda tanpa tubuh, keterpisahan roh dan langsung ke surga akan membuat sebuah pertanyaan apakah manusia tidak melewati penghakiman Allah dan bagaimana mungkin roh itu sampai kepada Bapa tanpa ada pengangkatan dari Kristus ketika datang ke dua kalinya? Selain dari pada itu konsep pemisahan roh dengan tubuh lebih cenderung mengadopsi pandangan filsafat Yunani kuno seperti ajaran Platonis-Aristotelis tentang kekekalan jiwa dan konsep dikotomi tubuh bahwa manusia terdiri dari tubuh dan roh, sehingga kematian manusia akan meninggalkan roh yang melayang tanpa tubuh.[7]

Sedangkan menurut Karl Barth pandangan seperti ini adalah pandangan yang keliru dan menipu, karena ketika manusia meninggal manusia meninggal secara untuh antara tubuh dan jiwa.[8] Di sisi lain perdebatan mengenai keterpisahan roh dari tubuh ini juga ditanggapi oleh G. Van Der Leeuw yang mengatakan bahwa menurut Alkitab, manusia mati secara total dengan tubuh dan jiwanya, sehingga ketika pada akhirnya manusia menerima sesuatu yang sepenuhnya baru dari kebangkitan dan bukan sesuatu yang sama kelanjutan dari yang alamiah saat ini.[9] Penulis lebih condong dengan pandangan para tokoh di atas karena di dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru meyakini bahwa kehidupan setelah kematian itu berada di dalam dunia orang mati yang biasa disebut seol atau hades. Dua kata ini di dalam perkembangannya dimengerti sebagai tempat orang mati atau kubur (Maz. 141:7; 9:18) dimana setiap orang yang masuk ke dalamnya menantikan pembebasan atau kebangkitan.[10]Pembebasan dan kebangkitan itu penulis mengerti sebagai penantian akan hari Tuhan dimana Tuhan Yesus datang dan membangkitkan mereka yang telah lebih dahulu masuk dalam dunia orang mati atau kubur.

Berangkat dari surat Yakobus 2:26 yang mengatakan bahwa tubuh tanpa roh adalah mati mengindikasikan bahwa tubuh dan roh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Roh tanpa tubuh tidak akan mengalami pengalaman yang mengandung sebuah kesadaran penuh secara alamiah sedangkan tubuh tanpa roh tidak dapat hidup dan melakukan aktivitas. Bahkan jika kita kritisi pandangan kekristenan yang umum dipegang yang berangkat dari 1 Kor. 5:5 di sana jika kita baca secara lengkap bahwa binasa tubuhnya dan rohnya diselamatkan pada hari tuhan. Frasa pada hari Tuhan tidak dapat dilupakan atau dipisahkan begitu saja karena frasa itu menunjukkan waktu kapan roh manusia itu akan diselamatkan, yaitu pada hari tuhan. Hari Tuhan sering kali kita mengerti sebagai hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, dapat penulis simpulkan bahwa keselamatan roh itu bersamaan dengan kebangkitan tubuh. Roh dan tubuh memang hal yang berbeda tetapi mereka adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.  Anthony Hoekema sejalan dengan pemikiran Bavinck, dan G. C. Berkouwer menolak pandangan tentang kekekalan jiwa yang telah dipegang dan dipahami selama ini. Di dalam buku yang berjudul Alkitab dan Akhir JamanAnthony Hoekema mengambil 4 kesimpulan bahwa;[11]

1. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah kekekalan jiwa melainkan menggunakan kata kekekalan yang dikenakan pada Allah, keberadaan manusia secara utuh pada waktu kebangkitan dan dalam kondisi tidak dapat binasa.

2.  Alkitab tidak mengajarkan tentang keabadian jiwa yang didasarkan pada sifat ketidakbinasaan jiwa itu sendiri.

3.   Alkitab tidak mengajarkan kelangsungan kehidupan setelah kematian namun mengajarkan hidup dalam perseketuan dengan Allah sebagai berkat yang utama.

4.    Dan berita utama Alkitab tentang masa depan manusia adalah kebangkitan tubuh.

 

Namun, penulis tidak berarti menerima pandangan Martin Luther yang mengatakan bahwa manusia setelah kematian mengalami yang namanya peristirahatan. Bagi Luther keadaan manusia setelah kematian adalah keadaan tidur.[12]Bagi penulis keadaan tidur jika dimengerti adalah masih ada sebuah kesadaran dari manusia setelah kematian dan masih ada aktivitas karena tidur juga merupakan tanda adanya kehidupan. Akan tetapi menurut penulis keadaan manusia setelah kematian adalah sepenuhnya “tiada”. Tiada dalam arti roh dan tubuh manusia mengalami kematian dan menantikan pembangkitan dari Tuhan Yesus Kristus ketika hendak menerima pengadilan dan penggenapan hidup kekal bersama dengan Allah. Pembangkitan orang percaya diyakini bukan berasal dari yang alamiah tetapi dengan kualitas yang berbeda dengan alamiah tanpa menghilangkan identitas atau kepribadian orang tersebut. Kematian tidak sama sekali berarti menghilangkan eksistensi manusia sepenuhnya. Karena pembangkitan Allah tidak lagi berawal dari penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) melainkan suatu penciptaan dari ciptaan (creatio ex creatione).[13] 


Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis memberikan kesimpulan bahwa setelah manusia mengalami kematian manusia masuk dalam fase peristirahatan yang total. Peristirahatan dalam arti manusia secara tubuh dan roh mengalami pemberhentian dari segala aktivitas tanpa adanya keterpisahan roh dari tubuh dan mengalami pengalaman yang berbeda. Sehingga mereka yang telah meninggal sekarang dalam keadaan “tenang”. Tenang dalam arti secara tubuh dan roh mati tetapi tangan kasih setia Allah masih memegang setiap orang percaya sampai nanti Tuhan Yesus datang dan mengangkatnya.

 

Daftar Pustaka

Becker, Dieter. Pedoman Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika; Doktrin akhir jaman. Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997. 

Dainton, Martin B. Apa yang Terjadi Setelah Kita Mati? Memahami misteri alam baka dalam terang kuasa Injil Yesus Kristus. Jakarta: Yayasan Bina Kasih, 2009.

Hoekema, Anthony A. Alkitab dab Akhir Jaman. Surabaya: Momentum, 2012.

Sproul, R.C. Hal Maut di manakah sengatmu?; Kematian dan Kehidupan Setelah Kematian. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Summers, Ray. Kehidupan di Balik Kubur. Bandung: Yayasan Baptis Indonesia, 1994.

Posting Komentar untuk "Kehidupan Setelah Kematian"