Teologi Perjanjian Baru dan Sumber-Sumbernya
Pengertian
Teologi Perjanjian Baru
Teologi Perjanjian Baru badalah sebuah kajian ilmu yang mengkaji penyataan Allah melalui Alkitab khususnya Perjanjian Baru. Teologi Perjanjian baru merupakan sebuah interpretasi yang rasional mengenai iman Kristen yang bersumber dari penyataan khusus Allah (Alkitab – Perjanjian Baru)[1].
Sumber Teologi Perjanjian Baru
Berdasarkan
pengertian teologi Perjanjian Baru di atas, maka jelas bahwa sumber dari
kajiannya adalah penyataan Allah (Alkitab) secara khusus Perjanjian Baru. Jadi
sumber teologi Perjanjian Baru adalah Alkitab Perjanjian Baru itu sendiri.
Sedangkan Alkitab Perjanjian Baru merupakan :
a. Wahyu
yang diinspirasikan oleh Allah kepada para penulis Alkitab (2 Timotius 3:16; 2
Petrus 1:21). Dari kedua nats tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengarang
Alkitab itu tunggal yaitu Allah sendiri.
2. Alkitab
bukan berisi Firman Allah, melainkan Alkitab adalah Firman Allah.
3. Dalam 2
Ptr. 1:21 jelas dikatakan bahwa Alkitab ditulis oleh tangan-tangan manusia
biasa, tetapi sumber tertinggi Alkitab adalah Allah sendiri. Para penulis
digerakkan (didorong) oleh inisiatif Roh Kudus, mereka tidak sanggup menolak
gerakan Allah untuk berkata-kata dan menuliskan Firman-Nya (Yer 20:9; Amos
3:8). Roh Kudus adalah pembimbing supranatural untuk para penulis ketika mereka
menuliskan kebenaran ilahi. Allah menggunakan manusia sejauh mana Ia mau untuk
melakukan kehendakNya[2].
b. Didasari
oleh kitab Perjanjian Lama (kelanjutan dari teologi Perjanjian Lama) Perjanjian
Baru tidak dapat dipahami tanpa Perjanjian Lama begitupun sebaliknya. Sehingga
dapat dikatakan bahwa Perjanjian Lama menggariskan arah tujuan Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru memiliki latar belakang historis Perjanjian Lama dan nubuatan
dalan Perjanjian Lama digenapkan dalam Perjanjian Baru (Mis. Lukas 4:16-21;
Yohanes 15:25).
Otoritas Tulisan Kitab Perjanjian Baru
Dalam 2
Tim. 3:16 dan 2Ptr. 1:21 terdapat istilah “diilhamkan” yang dalam bahasa Yunani
menggunakan istilah theopneustos. Kata ini terdiri dari kata Theos(Allah)
dan dan kata kerja pneoo (menghembus), yang artinya Allah
menghembuskan (keluar). Dalam NIV disebutkan “All Scripture is God
breathed and is useful for teaching”. God breathed diartikan
sebagai “penghembusan” (peniupan nafas) Ilahi kepada seorang manusia melalui
Roh Kudus, yang mengakibatkan orang tersebut berbicara, atau menulis dengan
kualitas, penglihatan, ketepatan dan otoritas yang tidak mungkin ada dalam
kalimat atau tulisan orang lain. Sebagaimana kita pasti menghembuskan nafas
pada saat kita berbicara, demikian pula Allah “menafaskan” FirmanNya. Firman
itu berasal dari alam pikiran Allah dan disampaikan dari mulut Allah oleh Roh
Allah.
Tanda
pengesahan yang terakhir terhadap tulisan-tulisan yang terdapat dalam
kitab-kitab Perjanjian Baru yaitu pengakuan atau penerimaan oleh umat Alah yang
ada pada saat itu. Firman-Nya diberikan melalui nabi-nabi atau para rasul-Nya,
namun kebenarannya juga dapat di akui oleh umat-Nya, bahwa tulisan-tulisan
tersebut memang mengandung firman Allah. Juga di dalam 1 Korintus
2:13, di ayat ini Paulus menjelaskan bahwa mereka sedang menyatakan wahyu Allah
yang diajarkan oleh Roh Allah sendiri. Jika diperhatikan dalam surat 2 Petrus
3:16, disini bisa dilihat pengakuan Petrus terhadap tulisan-tulisan Paulus
bahwa benar-benar wahyu dari Allah[5].
Alkitab
sendiri memberikan indikasi bahwa hakikat Allah dan firman-Nya tidak dapat
dipisahkan (Yesaya 55:11). Oleh karena Allah berotoritas maka firman-Nya yang
ada di dalam-Nya juga berotoritas. Dengan kata lain, Alkitab mengungkapkan
wahyu atau penyataan dari Allah. Dengan demikian Alkitab sangatlah penting
dalam hubungan antara manusia dan Allah, sehingga tanpa Alkitab Allah tidak
berbicara.
Gereja
Yesus Kristus yang sejati mengunakan kitab-kitab yang diilhamkan secara ilahi.
Mereka menggunakan kanon Protestan yang terdiri dari 66 kitab (39 kitab
Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian baru). Kitab-kitab ini diakui oleh
gereja sebagai kitab yang benar-benar diilhakan oleh Allah kepada para
penulisnya. Tetapi Apokripa mengikut sertakan sebagai tulisan agama yang tidak
dapat dipastikan sumbernya, dan kitab-kitab tersebut bukan kanon gereja Yesus
Sejati. Isi dari kitab-kitab tersebut tidak murni dan sesat, walaupun dapat
digunakan unutk mendapat informasi historis[8]. Otoritas dan Kekudusan
Alkitab, mengacu pada pribadi Allah sendiri, bukan berdasarkan otoritas maupun
kekudusan dari gereja atau bahkan nabi atau rasul-Nya. Keraguan atas otoritas
Alkitab merupakan cerminan dari keraguan atas otoritas Allah. Pada penulisannya
Alkitab tidak terdapat kesalahan. Penulisan ulang, penyalinan maupun
penterjemahan dilaksanakan dalam pemeliharaan Allah sehingga juga tidak terdapat
kesalahan yang mempengaruhi tujuan keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Oleh
karena itu dapat disimpulkan bahwa pengarang Alkitab itu tunggal yaitu Allah
sendiri. Alkitab bukan berisi Firman Allah, melainkan Alkitab adalah Firman
Allah. Jadi otoritas Alkitab adalah otoritas dari Allah sendiri.
[1] Charles
C. Ryrie, Teologi Dasar 1 (Yogyakarta: ANDI Offset, 2008) 15
[2]Eddy
Purmanto, Firman kebenaran, (STT Injil Philadelphia bibliologi, 2006) halaman
26-27
[3] Willli
Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru, Pendekatan Kritis Terhadap
Masalah-Masalahnya, (Jakarta, BPK, 2010), halaman xxii.
[4]Daniel
Lucas Lukito, Pengantar Teologi Kristen 1 (Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 2002),
halaman 79-82
[5]Doktrin-Doktrin Alkitabiah Mendasar (Jakarta, Gereja Yesus Sejati) Departemen Literature Gereja Yesus Sejati. Halaman 16-17

Posting Komentar untuk "Teologi Perjanjian Baru dan Sumber-Sumbernya"