Kritik Developmentalisme Dan Sejarah Perkembangan Teori Perubahan
Telah dipahami baik evolusionisme maupun materialism – historis mempunyai kesamaan asumsi fundamental tertentu. Keduanya tergolong dalam aliran developmentalisme yakni pendekatan yang beranggapan bahwa kualitas dan keteraturan proses sejarah ditentukan oleh logikanya sendiri atau oleh kekuatan dari dalam. Pemikiran yang menganggap sejarah berkembang menurut kekuatannya sendiri, bergerak menuju tujuan tertentu telah lama diragukan dan dikritik.
Berikut adalah empat kritik
utama atas paham developmentalisme yaitu :
1. Karl
R. Popper mengatakan bahwa keyakinan atas nasib sejarah adalah takhayul belaka
dan perjalanan sejarah manusia tidak dapat diramalkan oleh ilmu pengetahuan
atau metode rasional manapun.
2. Robert
Nisbet mengatakan bahwa penganut paham developmentalisme mengabaikan sumber
sejarah dan mencoba membangun skema mereka di atas sejarah. Mereka membuat
teori yang dipaksakan terhadap sejarah, bukan membuat teori sejarah. Tujuan
mereka adalah untuk melihat kelestarian perubahan, perubahan alamiah yang
terdapat di dalam masyarakat atau kultur yang tak tergantung keberadaannya pada
peristiwa acak dan catatan sejarah yang banyak sekali. Mereka mencoba membuat
deduksi dari prediksi konkret kejadian sejarah.
3. Charles
Tilly mengatakan bahwa keharusan untuk kembali ke studi sejarah konkret yang
berakar di dalam fakta.
4. Immanuel
Wallerstein mengatakan bahwa selain memikir ulang yang normal itu perlu
melupakan ilmu sosial abad 19 karena selain banyak asumsinya yang menyesatkan
dan picik, juga masih kuat memengaruhi mentalitas. Asumsi-asumsinya itu kini
menjadi perintang intelektual utama dalam menganalisis kehidupan sosial.
Kritik
berkempanjangan terhadap konsep perkembangan selama beberapa decade menyebabkan
konsep ini lambat laun mengalami erosi dan akhirnya mati sama sekali. Menjelang
abad 20 versi utamanya evolusionisme dan materialism –historis telah menjadi
sejarah pemikiran sosial.Sebagai penggantinya pandangan post-developmentalisme
mengenai perubahan sosial menjadi bagian terkemuka dari imajinasi sosiologis.
Dibutuhkan
waktu cukup panjang sampai agen perubahan itu dilukiskan sebagaikekuatan
manusia, meskipun masih diyakini bahwa tidak seluruh umat dapat menjadi agen
perubahan.Agen perubahan semata-mata ditempatkan di dalam diri “Manusia Besar”
seperti nabi, pahlawan, penemu, pencipta dll.Dalam pemikiran sosiologis, tempat
agen bergeser dari sumbangan personal ke peran sosial, terutama peran dalam
memperkenalkan dan melaksanakan perubahan. Masalah legitimasi jabatan dan
pejabatnya mencuat ke depan.
Teori
modern tentang agen perubahan :
1. Walter Buckley dan konsep morphogenesis. Gagasan sentralnya adalah morphogenesis yaitu proses yang terus mengembangkan atau mengubah struktur atau keadaan suatu sistem. Penekanan pada sisi aktif atau konstruktif fungsi sosial merupakan terobosan penting dalam teoritisnya meski masih tetap terperangkap dalam premis yang sebenarnya dia tolak yakni model organisme dan mekanisme.
2. Amitai
Etzioni dan masyarakat aktif yang kemudian dinamai teori membimbing sendiri
dimana masyarakat dilihat sebagai gerakan sosial permanen yang terlibat dalam
transformasi diri sendiri yang intensif dan terus menerus.
3. Alain
Touraine, Michel Crozier & Erhard Friedberg menjelaskan tentang masyarakat
yang menciptakan sendiri yang mendukung kritik keras terhadap paham
developmentalisme dan strukturalisme. tuduhan utamanya adalah bahwa kedua
perspektif itu mensubordinasikan konsep tindakan kolektif ke dalam hukum-hukum
yang abadi atau prasyarat realitas sejarah dan akibatnya melenyapkan peran
subjek dari perspektif sosiologi, memperlakukannya sebagai sebuah epiphenomenon
dalam arti hanya berasal dari sistem.
4. Anthony
Giddens mengatakan bahwa semua actor sosial mengetahui tentang kondisi dan
akibat dari apa yang mereka kerjakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
5. Tom
Burns mengatakan bahwa aktifitas manusia sebagian besar diorganisir dan
ditentukan oleh aturan sistem dan aturan sosial lain yang menentukan.
6. Margareth
Archer mengatakan bahwa keunikan yang membedakan sistem sosial dari sistem
organis atau mekanis adalah kemampuan sistem sosial itu untuk melaksanakan
restrukturisasi secara radikal.
Teori
agen perubahan dapat diringkas menjadi enam asumsi ontologis :
1. Masyarakat
merupakan sebuah proses dan mengalami perubahan terus-menerus.
2. Perubahan
kebanyakan berasal dari dalam bebentuk transformasi dari dirinya sendiri.
3. Motor
penggerak perubahan adalah kekuatan agen individual dan kolektif.
4. Arah,
tujuan dan kecepatan perubahan dipertentangkan dikalangan agen dan menjadi
medan konflik dan perjuangan.
5. Tindakan
terjadi dalam menghadapi struktur.
6. Pertukaran
tindakan dan struktur terjadi secara pelan-pelan dengan cara menukar fase-fase
kreativitas agen dan kemantapan struktur.
Pengembangan
teori agen perubahan makin diakui sebagai bidang utama kajian sosiologi. Ini
tak hanya diakui oleh tokoh pertamanya yang menyatakan bahwa masalah struktur
dan agen harus dilihat sebagai isu mendasar teori sosial modern, tetapi juga
oleh para pengamat objektif yang telah mengakui bahwa pengembangan teori agen
ini akan menjadi bidang kajian teoritis penting di masa yang akan datang.

Posting Komentar untuk "Kritik Developmentalisme Dan Sejarah Perkembangan Teori Perubahan"