Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penjelasan Komprehensif Teologi Injil Matius dan Markus

Teologi Matius

Dalam peristiwa bagaimana Allah memimpin bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, Yosua berkata: “Dari hal inilah kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu (Yos. 3:10). Dan di dalam Mazmur juga mengatakan: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikiankah jiwaku merindukan engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, yaitu Allah yang hidup . . . hatiku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup” (Maz. 42:2-3; 84:3).

Ditinjau dari relevansi kehidupan sehari-hari sebagai orang Kristen doktrin tentang Allah yang yang hidup dalam Injil Matius cukup banyak dan cukup mengagumkan. Ketika murid-murid ditanya oleh Yesus: “Siapakah Aku ini?” Petrus menjawab-Nya “Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup”. Donald Hagher mengatakan: “It describes the true God, as opposed to the gods of the world who were not alive . . . that god is uniquely the source of all life.” Apabila kita mengatakan Allah itu hidup, berarti Allah itu aktif berkarya, Ia menciptakan dan memelihara langit dan bumi dan Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang”. Apabila Allah adalah Allah yang hidup, maka Ia mempunyai kehendak. Ia menghendaki supaya kita berpaling dan menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24). Ia juga menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Allah yang hidup adalah Allah yang mengakhiri sejarah kehidupan manusia. Sebab Dialah Allah yang hidup sampai selama-lamanya. Dialah Allah yang akan mengaruniakan hidup yang kekal bagi setiap orang yan gpercaya kepada-Nya.  

Allah Sebagai Bapa

Dalam Injil Matius menyebutkan Allah sebagai Bapa sebanyak 44 kali. Menarik untuk diperhatikan bahwa pemeliharaan Allah sebagai Bapa ditujukan kepada semua orang, termasuk anak-Nya, bahkan burung dan tanaman. (Mat. 5:43-45; 6:26-30; 15:30; 18;10,14; 19-20). Konsep Allah sebagai Bapa oleh Matius juga banyak disajikan dalam hubungannya dengan beramal, pahala dan doa, misalnya dalam “Doa Bapa Kami” (Mat. 6:1-4, 9-13, 17-18; 7:11). Kita diajarkan pada waktu kita berdoa, kita menghampiri Allah sebagai Bapa, sebagaimana setiap kali Yesus berdoa, Ia memanggil Allah adalah Bapa, kecuali satu kali ketika Ia menanggung dosa segenap umat manusia di atas kayu salib, Ia berseru dalam doa: Ya Allahku (27:46).  

Allah Maha Adil

Matius mencatat banyak sekali kisah dan ajaran mengenai penghakiman dan hukuman yang memperkenalkan kepada pembaca bangsa Yahudi bahwa Allah Maha adil dan Allah adalah Hakim Yang Agung. Pada hari penghakiman, Matius mengisahkan bahwa Anak Allah akan menjadi tokoh utama dalam proses penghakiman (25:31-46; 16:27). Namun, bila dan kapan hari penghakiman itu tiba, dikatakan bahwa Anak tidak tahu, hanya Bapa yang tahu (24:36). Istilah kegelapan dan ratap dan gertak gigi berulang kali terdapat di Matius (8:12; 13:42,50; 22:13; 24:51; 25:30). Ayat-ayat ini sudah jelas menggambarkan keadilan dan murka Allah terhadap mereka yang menolak anugerah keselamatan Allah yang dikaruniakan kepada mereka dengan cuma-cuma, terutama kepada bangsa Yahudi. 

Yesus Sebagai Mesias

Lima kali dalam pembukaannya Matius memperkenalkan Yesus sebagai Mesias (1:1, 16-18 dan 2:4). Ketika Yohanes Pembaptis dalam penjara ia mendengar tentang pekerjaan Yesus sebagai pekerjaan Mesias, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Sebagaimana dinubuatkan dalam PL. Petrus mengenal Yesus sebagai “Mesias”, Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (16:16). Bangsa Yahudi mengharapkan kedatangan Mesias dalam arti nasional, sedang Yesus datang sebagai Mesias dalam arti spiritual. Bangsa Yahudi mengharapkan kedatangan Mesisa untuk bangsa Yahudi, Yesus datang sebagai Mesias untuk semua bangsa. Yesus juga membenarkan pernyataan Kayafas bahwa Ia adalah Mesiass (26:63-64). Kayafas bertanya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias . . .?” Yesus menjawab engkau telah mengatakannya. Jadi, dariawal penulisan Injil Matius sampai pada akhirnya, kita melihat bagaimana Matius memperkenalkan pembacanya bahwa Yesus adalah Mesias.  

Mesias Sebagai Anak Daud

Pertama, Kita melihat, si anak buta yang di daerah Kapernaum dalam kesadarannya berseru minta minta tolong kepada Yesus dengan mengatakan: “Kasihanilah kami, hai anak Daud” (9:22) dan juga perempuan Kanaan yang berseru: Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempaun kerasukan setan . . . “(15:22). Lebih jelas lagi ketika Yesus dielu-elukan di Yerusalem, di mana orang banyak bersorak-sorai dengan suatu pujian: “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.” Kedua, Menjelang akhir pelayanan-Nya Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi, apakah pendapat mereka tentang Mesias. Mereka menjawab bahwa Mesias adalah Anak Daud (22:41-4b). Frasa Anak Daud sebenarnya mengandung arti bahwa Mesias seperti Daud karena Bangsa Yahudi sangat menyanjung Daud sebagai Rajayang ideal. Makanya Yesus juga disebut sebagai Great David’s greater son.

Yesus Sebagai Anak Allah

Matius mencatat Yesus sebagai Anak Allah dalam kisah dibaptis (3:17), transfigurasi (17:5), dan pada kematian-Nya (27:54). Anak Allah dan Kuasa-Nya: Matius mencatat bahwa sebagai Anak, Ia mempunyai kuasa untuk berseru kepada Allah Bapa supaya Allah mengirimkan dua belas pasukan malaikat untuk membantu Dia (26:53). Dalam masa pelayanan-Nya, Yesus dikatakan mempunyai kuasa seperti Allah. Contohnya dalam pasal 9:6, Matius menulis: Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Allah berkuasa untuk mengampuni dosa (Yesus yang adalah Anak Allah, dalam hal ini menyebutkan diri-Nya sebagai Anak Manusia). Matius mencatat kalimat ini sehubungan dengan Yesus berkata kepada seorang lumpuh: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah di ampuni” (9:2). Jadi, dalam kisah ini Yesus tidak saja menyembuhkan orang yang lumpuh itu, Ia juga mengampuni dosanya, karena Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa seseorang.

Yesus mati sebagai Anak Allah: Yesus sebagai Anak Allah, mati di kayu salib guna menanggung dosa kita. Maka ketia Ia terpaku di kayu salib, orang-orang yang lewat di san menghujat Dia sambil berkata: “Selamatkan diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu” (27:40). Demikian juga imam-imam kepala bersama ahli Taurat dan tua-tua mengolok Dia sambil berkata: “Orang lain Ia selamtakan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! . . . Baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya. Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah (27:43).

Yesus Sebagai Tuhan

Dalam Injil Matius kata Tuhan dipakai sebanyak 80 kali. Matiu pertama-tama menekankan bahwa yang dimaksud “Tuhan” ialah “Allah,” oknum pertama dalam Tritunggal. Matius menyajikan kebenaran ini melalui ucapan Yesus sendiri. Misalnya dalam kisah Yesus dicobai, Yesus dua kali memakai istilah “Tuhan” yang dimaksud ialah Allah (4:7, 10). Dalam doa Yesus, Ia pun mengatakan: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi (11:25).

Roh Kudus

Injil Matius menyebutkan Roh Kudus hanya 12 kali, diantaranya 4 kali terdapat pada pasal 12, yaitu mengenai menghujat Roh Kudus. Dalam Injilnya ini, pertama-tama Matius memberitahukan kepada kita bahwa Roh Kudus adalah Roh yang memberi hidup kepada kelahiran Yesus, Anak Allah (1:18, 20). Ketika Yesus dibaptis Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya (3:16). Dari ayat ini kita melihat adanya unsur Allah Bapa, Anak dan roh Kudus, yaitu yang kita kenal sebagai Allah Tritunggal. Kemudian juga dikatakan bahwa Roh Kudus membawa Yesus ke gurun untuk dicobai Iblis (4:1).

Membaptis dengan Roh Kudus

Kata membaptis disini adalah arti kiasan, sebab dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya (4:1-2). Maka apabila Yesus dikatakan membaptis dengan Roh Kudus, itu adalah dalam arti kiasan atau spiritual, bukan dalam arti upacara atau seremonial. Kata membaptis bisa mengacu pada pelayanan Yesus yang pada dasarnya bersifat spiritual, yaitu melalui pemberitaan, pekerjaan atau mujizat yang dilakukan Yesus dan dengan pertolongan Roh Kudus seseorang bisa bertobat dan percaya dan lahir baru. Baptisan Roh Kudus itu pada akhirnya tergenap pada hari Pentakosta. Sebab sesudah kebangkitan Kristus, Ia sendiri mengatakan: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:5). Kalimat tidak lama lagi tentunya menunjukkan pada peristiwa yang akan datang, yaitu hari Pentakosta, yang terjadi dan tercatat pada Kisah Para Rasul 2.

Menghujat Roh Kudus

Dalam masa pelayanan Yesus, ketika Ia mengusir setan, Matius mencatat: “Tetapi jika Allah mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah dekat kepadamu” (12:28). Menghujat Roh Kudus bukanlah merupakan suatu ucapan semata, melainkan merupakan suatu sikap seorang yang mengeraskan hatinya dan terus menerus menutup pintu hatinya.

Roh Kudus sebagai Penolong

Konsep ini cukup kita kenal dalam tulisan Yohanes di mana Yesus mengatakan: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu roh Kebenaran” (14:16-17a).  

Gereja

Dari kelima kelompok ajaran Tuhan Yesus yang terdapat dalam Injil Matius, satu diantaranya ialah tentang gereja, yaitu dalam pasal 18. Apalagi ditambah lagi dengan pasal 16:16-19 dan 28:19-20, maka kita mendapatkan ajaran tentang gereja yang cukup banyak dalam Injil Matius dibandingkan dengan injil-injil lainnya, oleh sebab itu Injil Matius disebut sebagai “Ecclesiastical Gospel.” Ada tiga perikop ayat-ayat yang berkenaan dengan gereja dalam Injil Matius: Pengakuan Petrus Dan Gereja. Ketika Yesus tiba di daerah kaisarea Filipi bersama dengan murid-murin-Nya Yesus bertanya kepada mereka: “Siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya lihat di pasal 16:16-19. Pertama: Yesus melihat bahwa dari murid-murid Tuhan yang hanya 12 orang itu akan terus berkembang menjadi suatu kumpulan besar orang percaya yang disebut “gereja”. Disitulah Yesus mengatakan: “Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (ayat 18). Kedua: Dari ayat 17 kita tahu bahwa pengenalan pada Yesus sebagai Mesias adalah melalui wahyu Allah (bdk. Mat 11:25). Ketiga: Ada pandangan yang melihat bahwa Petrus sebagai batu karang dan di atas batu karang Petrus itulah Kristus mendirikan gereja-Nya. Keempat: Gereja yang Tuhan dirikan itu akan menjadi gereja yang permanen dan kekal, dan alam maut tidak akan menguasainya. Sesudah Yesus mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasai-Nya, Yesus segera berbicara tentang bagaimana Ia akan mati di atas kayu salib (ayat 21) dan kita tahu di belakang kayu salib itu ada kebangkitan. Dan sesudah kebangkitan itulah murud-murid mulai pergi memberitakan berita kebangkitan Kristus dan karena pemberitaan itulah banyak orang percaya dan disitulah gereja-gereja didirikan. Maka gereja didirikan karena Yesus telah mengalahkan alam maut di atas kayu salib. Demikianlah kita mengerti bahwa gereja yang didirikan Tuhan itu adalah gereja yang kekal, dan alam maut tidak akan bisa menguasai atau mengalahkan. Kelima: “Kunci Kerajaan Allah” adalah kunci yang menghantar orang masuk ke dalam kerajaan Allah, yaitu melalui pengajaran dan penginjilan dan berita pengampunan.

Teologi Markus

Kristologi

Salah satu ciri khas dari Teologi Markus adalah apa yang disebut Kristologi yang ditindakkan (ditunjukkan dengan aksi tindakan). Injil Markus mengembangkan Kristologi melalui cara bercerita. Melalui cerita ini dia mengkisahkan tindakan tindakan Yesus. Misalnya bagaiamana Yesus mendemonstrasikan diri sebagai Allah dengan cara memberikan panggilan dengan wibawa: “Ikutlah Aku” (1:16-20). Ia juga menunjukkan kuasa Allah atas dosa dan sakit penyakit (2:1-12). Dalam injil Markus kita menemui Yesus sebagai Mesias, Anak Allah, Tuhan dan gelar gelar dalam bahasan Kristologi melalui tindakan dan aksi Yesus.  

Presentasi Mengenai Allah

Siapa Allah itu yang diperkenalkan melalui injil Markus kita dapati melalui Yesus yaitu melalui yang diucapkanNya. Melalui Yesus kita kenal Allah sebagai Raja (1:14,15), sebagai Bapa (1:11), sebagai yang maha kuasa (10:37). Allah ini adalah Dia yang mendobrak segala penghalang, sebagai mana yang dinyatakan melalui tindakan Yesus yang menyembuhkan dan mengampuni dosa. Pada puncaknya kepada kita dinyatakan Dia sebagai Allah Yang Maha Baik dengan mengutus Putra-Nya untuk memenuhi misi penyelamatkan dan menjadi tebusan melalui kematianNya.  

Kerajaan Allah

Kita sering berpikir bahwa kerajaan itu adalah sesuatu yang tidak bergerak dan tetap berada disuatu tempat. Di Injil Markus kita jumpai bahwa “Kerajaan itu adalah sebutan lain yang menunjuk kepada kehadiran pemerintahan Allah dimana Allah mengintervensi sejarah dan pengalaman hidup manusia, untuk mewujud nyatakan kuasaNya dalam mencapai maksud dan tujuanNya.” Garland juga menunjukkan empat dimensi teologi kerajaan dari injil Markus: dimensi sementara, dimensi tempat, dimensi komunal dan dimensi rohani supernatural.  

Teologi Pemuridan

Injil Markus tidak hanya meneceritakan siapa Yesus dan apa yang telah Allah lakukan melalui Dia tetapi juga apa artinya kita memberi respon terhadap kabar sukacita dengan menjadi seorang murid. Bagi Markus hal kerajaan dan pemuridan keduanya terjalin menjadi satu. Allah dalam menyatakan kuasa kerajaan adalah merupakan suatu undangan kepada ketaatan, panggilan untuk mengikut Yesus sebagai raja dalam pemerintahan-Nya. Dengan uraian-uraian yang disampaikan maka para pembaca injil Markus mulai mengerti apa saja syarat-syarat, harga yang harus dibayar dan penghargaan yang akan diterima dalam mengiring Yesus.  

Misi Dalam Injil Markus

Walaupun tidak ada pengutusan langsung untuk melaksanakan misi dunia di injil Markus, Garland berpendapat, “penyajian ceritanya tidak saja memberi bayangan terhadap misi tetapi juga memberi fondasi teologis untuk mengikut sertakan orang-orang kafir kedalam komunitas para murid.” Contoh, bukan saja saudara laki-laki dan saudara perempuan-Nya yang adalah orang Yahudi yang termasuk anggota keluarga-Nya tetapi semua orang (termasuk orang kafir) yang melaksanakan kehendak Allah (Mark 3:31-35). Yesus juga mengatakan bahwa maksud utama dari Bait Allah adalah menjadi rumah doa bagi segala bangsa (Mark 11:17). Akhirnya kematian Yesus membawa bangsa bangsa kepada iman dan pengakuan percaya. Catatan: sebenarnya ada juga perintah penginjilan langsung dalam Markus 16:15; tetapi mungkin karena bagian perikop ini diperdebatkan sebagai yang ditambahkan kemudian, jadi Garland tidak memperhitungkan ini. Dia merujuk saja ke Markus 3:31-35.  

Penebusan Dan Keselamatan

Penebusan dan keselamatan dalam injil Markus di desain sebagai “keharusan” ilahi yang sesuai dengan rencana Allah walaupun membuat orang tercengang karena tidak sesuai dengan kategori keagamaan waktu itu. Injil Markus menantang kategori keagamaan waktu itu dengan menceritakan bagaimana keselamatan dari Allah akan datang melalui penyaliban dan kebangkitan. Teologi Markus mengenai penebusan dan keselamatan dapat dirumusan dengan baik melalui kesaksian kepala pasukan tentara setelah penyaliban Yesus, dimana dia mengatakan: “Sungguh orang ini adalah Anak Allah” (Mark.15:37). Pernyataan kepala pasukan ini memahami bahwa Allah dan manusia diperdamaikan di kayu salib.  

Akhir Zaman

Eskatologi Markus ditampakkan dengan pengkalimatan ini: Waktunya telah tiba; waktunya masih akan datang. Pernyataan Yesus di Markus 1:15 dst. Waktu penggenapan itu telah tiba disini dan Kerajaan Allah hadir dalam sejarah; Anak Manusia akan mengirim para malaikatnya untuk mengumpulkan orang orang pilihan dari keempat penjuru angin, dari ujung bumi sampai ke ujung langit. (Mark.13:27).

Posting Komentar untuk "Penjelasan Komprehensif Teologi Injil Matius dan Markus "