Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Psikologi Dalam Paradigma Iman Kristen

Psikologi Sebagai Ilmu

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas kata psyche dan logos. Logos berarti ilmu dan

secara bebas psyche dapat diterjemahkan sebagi jiwa. Oleh karena itu psikologi artinya ilmu yang

mempelajari hal-hal yang terjadi pada individu yang bernafas. Sebagai ilmu psikologi perlu memiliki

empat dasar empiris. Dasar empiris berarti hal-hal yang dipelajari ‘jiwa’, sebagai yang ada dalam

ketiadaan.

 

Tujuan Psikologi

Menggambarkan fenomena yang terjadi. Menjelaskan penyebab fenomena tersebut terjadi.

Memprediksikan bagaimana individu akan bertindak berdasarkan fenomena yang telah dan sedang

terjadi. Melakukan kontrol terhadap individu. Aliran-aliran besar dalam pendekatan psikologi terbagi

atas: psikoanalisa, behavioristik, humanistik atau eksistensial, kognitif dan lintas budaya.

 

Kekristenan Sebagai Agama

Konsep Kekristen sebagai aspek spritual akan ditekankan dalam konteks sosiologi yang lebih

menekankan objektifitas, sehingga mendapatkan proporsi yang seimbang dengan psikologi yang juga

bersifat objektif.Kisah lahir dan berkembangnya Agama Kristen lebih dahulu dibandingkan dengan

lahir dan berkembangnya Ilmu Psikologi. Kekristenan dimulai ketika Yesus dilahirkan di Betlehem.

Secara sosiologi, hubungan antara agama dan masyarakat bersifat timbal balik. Agama berperan

penting dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi kehidupan masyarakat juga sangat berpotensi

memengaruhi agama. Psikologi dan Kekristenan dapat membantu kita untuk dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai manusia, berdasarkan konstruk-konstruk buatan manusia serta perjalanan histori manusia dalam hubungannya dengan Allah.

 

Pentingnya Memahami Psikologi

Pemahaman yang berimbang terhadap psikologi dan iman Kristen akan membuat seorang psikolog

tidak kehilangan jati dirinya sebagai umat Kristen serta tidak membuat seorang umat Kristen menolak ajaran-ajaran psikologis karena dianggap menyesatkan. Psikologi dalam iman Kristen dipahami sebagai dua disiplin yang saling memperkaya, bukan menjatuhkan sehingga pemahaman terhadap integritas yang tepat antar keduanya menjadi penting.

 

Model Berpikir Psikologi dan Berpikir Iman Kristen

Model berfikir dalam psikologi adalah hipotetik, empiris, statistik, fluktuatif dan kultural spesifik.

Iman Kristen tidak seperti psikologi, membutuhkan banyak pengalaman pribadi sebelum seseorang

dapat dengan yakin untuk memeluk dan mengamalkan ajarannya. Iman menuntut pengalaman pribadi (perjumpaan dengan Tuhan secara langsung) yang memampukan seseorang untuk tetap yakin dan percaya dengan keberadaan Tuhan. Kekristenan berbicara mengenai hubungan manusia (dunia) dengan Tuhan (God-centered), sedangkan psikologi berbicara mengenai segala sesuatu tentang manusia (self-centered).

 

Perbedaan Psikologi dan Iman Kristen

Psikologi dan iman Kristen memiliki perbedaan. Psikologi lebih bersifat self-oriented atau human

oriented sedangkan iman Kristen (teologi) lebih bersifat God-oriented. Psikologi juga merupakan ilmu

yang bersifat dinamis, terus mengalami perubahan dari masa ke masa sedang teologi Kristen berbasis

pada Alkitab yang sekali dibuat dan tidak pernah mengalami perubahan. Ilmu psikologi memandang

manusia dalam perspektif horizontal, sedangkan iman Kristen memandang manusia dalam perpsektif

vertikal dan horizontal.

 

Model-Model Integrasi

Ada beberapa pandangan yang berusaha untuk memberikan model integrasi antara psikologi dengan

iman Kristen, yaitu: Iman Kristen Vs. Psikologi: Psikologi merupakan persengkongkolan antara

zaman baru iblis dan pesaing kekristenan. Model ini membuat semua psokoterapi menjadi

bertentangan dengan tujuan Allah. Psikologi Vs. Iman Kristen: Psikologi dianggap mampu

memberikan solusi terhadap permasalahan manusia. Model psikologi ini rentan terjebak dalam

konstruk teori diri. Iman Kristen dan Psikologi: Iman Kristen dan Psikologi dianggap sebagai dua hal

yang terpisah dan sejajar dalam menemukan kebeneran. Penerapan model ini menimbulkan

ambiguitas pada kalangan psikologi yang beragama Kristen.

 

Johnson memaparkan lima model integrasi yang lebih spesifik mengenai iman Kristen dan psikologi

dalam bukunya: The Levels - of - Explanation Model: Menurut model ini, realita memiliki

tingkatannya masing-masing yang tersusun mulai dari fisika, kimia, biologi, psikologi, sosial dan

teologi. The Integration model: Model integrasi yang mengupayakan titik temu area yang tumpeng

tindih antara teologi dengan psikologi. The Christian Psychology Model: Model ini berfokus pada

psikologi dengan iman Kristen. Semua temuan psikologi diinterprestasikan dalam sudut pandangan

Alkitab, sehingga temuan psikologi tidak lagi bersifat murni melainkan langsung diterapkan

relevensinya dalam ajaran-ajaran Alkitab. Transformational Psychology Model: Fokus dari

pendekatan ini bukan menghubungkan psikologi dengan iman, melainkan mengupayakan terjadinya

transformasi terhadap psikologi sebagai tindakan tunggal dari iman dan kasih. The Biblical Counseling

Model: Model ini mengintegrasikan psikologi dan iman Kristen dengan cara yang lebih ekstrim. Ada

upaya untuk menyajikan pendekatan konseling dan melahirkan pemikiran-pemikiran psikologi yang

bersumber dari Alkitab dan berfokus pada dosa sebagai masalah utama manusia.

 

Mengintegrasikan Model Integrasi

Integrasi psikologi dan iman Kristen ialah menerima kedua natur dari ilmu ini secara keseluruhan,

tanpa menghilangkan bagian-bagian yang tidak dapat disatukan. Psikologi memandang manusia secara

utuh sedangkan iman Kristen memandang manusia dalam relasi Penciptaannya. Teologi dibutuhkan

untuk memberikan pengarahan pada psikologi dalam memberikan solusi atas masalah klien. Ketika

iman Kristen dan psikologi dipadukan, maka upaya masing-masing ilmu untuk membantu manusia

memecahkan masalah yang dihadapinya akan semakin utuh.

 

Asumsi Dasar Teori Psikoanalisa

Konsep dasar dari psikoloanalisa ialah mengenai insting. Insting merupakan suatu dorongan internal,

energi psikis, yang menggerakkan seseorang untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya. Insting

diklasifikasikan dalam dua kelompok: pertama. insting seksual atau eros yang bertujuan untuk

mencapai kesengan yang konstruktif dan kedua, agresif. Dalam konsep psikoanalitis, akar dari segala

macam permasalahan kejiwaan ialah kecemasan akibat konflik atau proporsionalitas yang tidak

berimbang antara masing-masing strukturkeperibadian.

 

Ketika menghadapi kecemasan, individu akan melakukan suatu mekanisme pertahanan untuk

melindungi dirinya. Ada berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri, diantaranya, yaitu: represi,

denial, regresi, fiksasi, introyeksi, proyeksi, rasionalisasi, sublimasi, displacement dan reaction

formation. Dapat disimpulkan bahwa manusia hidup karena ada pergerakan dari insting-insting yang

berada di wilayah id-nya.

 

Pandangan tentang Manusia Menurut Psikoanalisa

Menurut teori ini manusia merupakan korban dari masa lalunya. Manusia pun tidak dapat melakukan

pemberontakan selain menerima apapin perlakuan yang diberikan oleh lingkungan terhadapnya.

Dengan demikian, pendekatan terhadap manusia memurut teori ini ialah bahwa faktor lingkungan

menjadi sangat vital, satu-satunya hal yang bentuk dan menentukan kepribadian manusia serta seluruh

masa hidup dewasanya. Artinya, gagal atau berhasilnya seseorang di masa hidupnya ditentukan dari

perawatan orang tua-nya dan kondisi lingkungan masa kecilnya.

 

Perbandingan dengan Iman Kristen

Dalam kekristenan tujuan hidup manusia bukan sekedar menghilangkan kecemasan, tetapi memuliakan

Tuhan. Manusia dalam Kekristenan bersifat kompleks, tidak semata-mata digerakkan oleh insting,

namun memiliki kapasitas untuk memperoleh kesengan terlepas dari insting-insting biologis, terutama

seksual. Perbedaan mendasar dari pikoanalisa dan iman Kristen terletak pada konsep deterministic

yang digunakan

 

Mengintegrasikan Psikoanalisa dan Iman Kristen

Pandangan psikoanalisa yang menganggap faktor lingkungan memberikan pengaruh terhadap

kehidupan seorang anak bukan sesuatu yang salah dalam perspektif Kristen. Inilah sebabnya Allah

mengajarkan bagaimana orang tua seharusnya menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak (Ul.

11:19). Dengan iman kita percaya bahwa sekalipun diserahkan pada lingkungan, kehidupan seorang

anak kecil tetap sudah direncanakan oleh Allah (Maz. 139:13).

 

Dalam upaya terapeutik, Freud menekankan pada resolusi di masa lalu untuk mencapai hidup yang

berkualitas dan terbebas dari gangguan psikologis yang dialami oleh masa kini. Dengan pendekatan

iman Kristen, resolusi bukan hanya berakhir pada penerimaan akan pengalaman tidak menyenangkan

di masa lalu. Teori psikoanalisa Kristen sebenarnya termanifestasi dan terekspresi dalam segaal insting

konstruk  dan struktur superego manusia. Kekristenan tidak dapat diklasifikasikan sebagai mekanisme

pertahanan diri, karena tidak pernah mendistorsi realita, akan tetapi salah satu natur kekristenan sama

dengan mekanisme pertahanan diri, yakni memberikan kelegaan bagi mereka yang cemas dan

menderita karena konflik yang dialaminya.

Asumsi Dasar Teori Humanistik

Faktor yang paling menentukan tingkah laku seseorang bukanlah berasal dari lingkungan namun justru pemahan atas dirinya sendiri (self-insight). Roger mempercayai bahwa manusia trmotivasi oleh kecenderungan untuk mengaktualisasikan, meningkan, serta mempertahankan dirinya sendiri (actualization tendency). Dalam perkembangan sejak kecil, setiap individu sudah mulai mengembangkan konsep diri (self-concept). Konsep diri terbentuk dari apa yang disadari melalui setiap pengalaman yang terjadi terhadap diri.

Pandangan Tentang Manusia Menurut Teori Humanistik

Pandangan humanistik lebih menghargai manusia sebagai makhluk yang terus berkembang dan beraktualisasi menggapai makna hidup tanpa diikat oleh masa lalu. Manusia memiliki kontrol untuk bergerak aktif menentukan masa depannya.

Perbandingan Iman Kristen

Pendekatan humanistik, manusia dipercaya memiliki suatu aspek di dalam dirinya yang mampu mengarahkannya kepada hal yang positif dalam dirinya. Sedangkan  perspektif Kristen, manusia juga dipandang memiliki kapasitas untuk mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk.

Mengintegrasikan Humanistik dan Iman Kristen

Manusia mampu melakukan segala sesuatu dalam hidup ini atas campur tangan  dan kehendak Tuhan (Ams. 16:9).

Asumsi Dasar Teori Pembelajaran Sosial

Seluruh prilaku yang diperoleh manusia sebagai bagian dari proses pembelajarannya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, dari lingkungan. Proses belajar dari lingkungan berarti meniru apa yang dilakukan oelh orang lain di lingkungannya.

Perbandingan Iman Kristen

Dalam pandangan tentang manusia sebagai makhluk pembelajaran, bahkan sejak kisah Adam dan Hawa pun konsep reward dan punishment sudah diterapkan. Kristus hadir dalam wujud manusia dengan salah satu tujuan agar manusia dapat meniru atau belajar melalui kehidupannya. Sebagai orang percaya model yang paling sempurna ialah kehidupan Yesus sendiri.

Spritualitas yang berkualitas menjadikan kekristenan sebagai sarana perubahan, sedangkan religiositas tanpa spritualitas menjadikan kekristenan sebagai simtom neurotik. Pentinganya agama sebagai sarana perubahan dlam hiudp seseorang terutama di Indonesia. Agama dalam praktik professional psikologi menunjukkan bahwa agama memiliki peranan penting sebagai agen perubahan bagi diri individu. Secara spesifik Kristen hadir untuk memberikan jaminan akan keselamatan, memberikan pengharapan, serta memberikan makna hidup yang sangat penting untuk menunjang kehidupan yang positif dalam diri klien. Enam cara yang dapat dilakukan sebagai upaya penerapan unsur agam dalam praktik professional:

1. Mempertimbangkan orientasi religious serta pengalaman religious klien saat mengumpul data riwayat klien.

2. Menghormati dan mendukung agama klien jika agamanya membantu untuk menghadp masalah atau tidka memengaruhi kesehatan mentalnya.

3. Membina relasi dengan ahli agama (konselor pastoral, penginjil, dan sejenisnya).

4. Berdoa bersama-sama dengan klien.

5. Aktif melakukan penelitian.

6. Libatkan spiritualitas dalam psikoterapi.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapakan prinsip-prinsip iman Kristen dalam praktik psikologi:

1. Menyadari profesi sebagai psikolog

2. Menyadari identitas sebagai Kristen

3. Memahami kecemasan sesuai dengan konteksnya

4. Membedakan iman Kristen yang sejati dan yang patologis

Seorang psikolog Kristen bukan hanya mampi menunjukkan kepribadian ekstrover, intriver, optimis, pesimis atau apapun itu yang dimilikinya, tetapi juga mampu menunjukkan kepribadian yang serupa dengan Kristus (Christ like Personality).

Psikologi Dan Iman Kristen

Ilmu psikologi merupakan ilmu yang dapat membantu manusia dalam pengenalan akan siapa dirinya. Psikologi bukanlah ilmua yang menyesatkan. Psikologi dalam iman Kristen memperkaya, bukan menjatuhkan sehingga pemahaman terhadap integritas yang tepat antar keduanya menjadi penting. Seorang psikolog kristes harus tetap mempertahankan jati diri yang ia memiliki sebagai Kristen. Model berpikir psikolog dan iman Kristen sangatlah berbeda. Namun perbedaan yang ada bukan menjadi alasan untuk membuat keduanya berpisah atau saling menjatuhkan. Sebagai Kristen yang beriman berusaha untuk memahami. 

Posting Komentar untuk "Psikologi Dalam Paradigma Iman Kristen "