Sepuluh Kesalahan Mendasar Dalam Berlogika
Kesalahan logika (logical fallacy) bukanlah kesalahan dalam fakta seperti misalnya “Pangeran Diponegoro wafat tahun 1950”, tetapi merupakan bentuk kesimpulan yang dicapai atas dasar logika atau penalaran yang tidak sehat, misalnya “Dadang lahir di bawah bintang Scorpio, maka hidupnya akan penuh penderitaan”. Kesalahan logis dapat terjadi pada siapapun juga betapa tinggi intelegensi seseorang ataupun betapa lengkapnya informasi yang dimilikinya, meskipun semakin orang tahu bagaimana berpenalaran tertib, semakin kuranglah kemungkinannya terjerumus ke dalam kesalahan logis. Berikut ini beberapa kesalahan logika, yang diadopsi dan diadaptasi dari W. Poespoprodjo dan EK. T. Gilarso dalam buku Logika Ilmu Menalar, dengan beberapa penyesuaian untuk melengkapi.
Kesalahan logika ini merpakan akibat dari induksi yang salah
karena berdasar pada sampling hal-hal khusus yang tidak cukup, atau karena
tidak memakai batasan (seperti: banyak, sering, kadang-kadang, jarang, hampir
selalu, di dalam keadaan tertentu, beberapa, kebanyakan, sebagian besar,
sejumlah kecil, dan lain sebagainya). Sebagai contoh, perhatikan pernyataan
berikut: “semua pegawai negeri malas”. Berhubung pegawai negeri banyak, dan di
antara mereka memang juga ada yang pemalas, maka ada orang yang mempunyai kesan
bahwa “pegawai negeri malas”. Tetapi, apabila diteliti lebih seksama, maka
pernyataan tersebut belum pasti kebenarannya, karena ternyata, terdapat juga
pegawai negeri yang tidak malas.
Kesalahan
logika non sequitur adalah istilah bahasa Latin yang berarti “ia tidak mengikut
(it does not follow)” yang diartikan dengan “belum tentu”, merupakan kesalahan
yang terjadi karena premis yang salah dipakai. Non sequitur nerupakan loncatan
sembarangan dari suatu premis ke kesimpulan yang tidak ada kaitannya dengan
premis tadi. Hubungan premis dan kesimpulan hanya semu, hubungan yang
sesungguhnya tidak ada. Perhatikan dua contoh Kesalahan logika non sequitur
berikut: (1) Dia orang yang pandai, maka perilakunya pasti aneh. (2) Santi suka
mengganggu anak lelaki. Ia agaknya suka sekali pacaran.
Analogi adalah suatu perbandingan yang dipakai untuk mencoba membuat suatu idea dapat dipercaya atau guna membuat suatu konsep yang sulit menjadi jelas. Penggunaan analogi yang baik dan benar akan sangat berguna. Ilmu berkembang berkat pemakaian analogi secara baik dan benar. Namun demikian, ada juga orang memakai analogi palsu dalam penalaran atau argumentasinya. Analogi palsu adalah suatu bentuk perbandingan yang mencoba membuat idea atau gagasan terlihat benar dengan cara membandingkan dengan idea atau gagasan lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hubungan dengan idea atau gagasan yang pertama tadi. Misalnya apabila seorang menyamakan “kepala negara” dengan “kepala manusia” yang dipotong maka akan matilah manusia tersebut; begitu pula apabila kepala negara dibunuh, maka negara itu akan hancur. Jelaslah contoh ini menunjukkan analogi palsu. Perhatikan dua contoh analogi palsu berikut ini: (1) Membuat isteri bahagia adalah seperti membuat anjing kesayangan bahagia. Belai kepalanya sesering mungkin, dan beri makanan yang baik sebanyak mungkin. (2) Hidup ini laksana orang mampir ke warung; begitu kebutuhannya tercukupi, ia pergi meninggalkannya; Begitu kebutuhannya tercukupi, ia pergi meninggalkannya.
Penalaran melingkar (circular logical) adalah kesalahan logika karena si penalar menempatkan kesimpulannya ke dalam premisnya, dan kemudian memakai premis tersebut untuk membuktikan kesimpulannya. Jadi kesimpulan dan premisnya sama (begging the question). Perhatikan dua contoh penalaran melingkar (sirkular) berikut: (1) Pendidikan patut diinginkan karena orang terdidik patut diingini. (2) Kehidupan abadi pasti ada karena kenyataan tidak dapat matinya jiwa manusia menjamin hal itu.
Pada saat menggunakan suatu premis yang cacat dalam menarik suatu kesimpulan deduktif, besar kemungkinan kesimpulannya juga cacat. Pengcgunaan premis yang cacat sanga sering terjadi, karena itu sebelum mengambil kesempulan perlu untuk meneliti premis-premis yang diajukan. Misalnya, ada premis seperti ini, “Matius pasti seorang Kristen yang baik”. Premis mayor kesimpulan tersebut mungkin seperti ini, “Barangsiapa secara terautr pergi ibadah ke gereja adalah Kristen yang baik”. Tetapi premis tersebut tidak dapat dijadikan sandaran karena banyak orang yang secara teratur pergi ibadah ke gereja tidak berperilaku baik sebagai seorang Kristen diluar gereja. Perhatikan dua contoh deduksi cacat berikut: (1) Lukas tumbuh dalam keluarga tanpa seorang ayah. Ia akan jadi masalah disekolahnya. (2) Markus adalah putera seorang guru besar yang sangat pandai. Studi Lukas di universitas tentu juga akan cemerlang.
Pikiran simplisitis disebut juga penalaran polarisasi adalah kesalahan logika karena si penalar terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang begitu rumit disederhanakan menjadi dua kutub yang berlawanan atau dirumuskan hanya ke dalam dua segi, yaitu hitam-putih, atau dirumuskan sebagai hanya dua pilihan ini atau itu. Perhatikan contoh kesalahan logika yang disebut pikiran simplisitis berikut: (1) Anda memilih di dalam setiap pemilihan umum atau anda warga negara yang buruk. (2) Dalam perjuangan untuk kemenagan politik hanya ada dua pilihan: anda itu kawan atau lawan. (3) Kehidupan bangsa tidak berbeda dengan kehidupan keluarga; apabila anda berhasil mengatur kehidupan keluarga, maka akan berhasil pula mengatur kehidupan bangsa.
Kesalahan
logika ini terjadi karena tidak memperhatikan masalah yang sesungguhnya dan
menyerang orangnya atau pribadinya. Contohnya, seorang anggota gereja yang
berusaha menunjukkan bahwa pendeta yang tidak disukainya itu pendeta yang jelek
cara berkhotbahnya. Maka ia menyerang caranya guru tersebut berpakaian,
menyerang kehidupan sosialnya, menyerang gaya tubuhnya, menyerang gaya
bicaranya dan lain-lain segi pendeta tersebut yang sebenarnya tidak mempunyai
hubungan dengan kemampuan berkhotbahnya.
Godaan untuk menyerang pribadi orang memang seringkali kuat, khususnya pada
keadaan emosional meningkat. Tetapi seorang penalar yang tertib akan
mengndalikan diri dan tetap hanya membidik pada masalahnya serta melancarkan
penalaran sehat.
Sasaran kesalahan logika argumen ad populum adalah kelompok, bukan masalahnya. Argumen ad populum sering terdapat pada ceramah atau pidato yang diarahkan pada orang atau kelompok yang kurang maju daya kritiknya, karena orang atau kelompok seperti itu tidak cukup informasi sehingga lebih mudah diarahkan untuk membeci kelompok lainnya.
Otoritas terkadang diperlukan untuk memberi bobot pada penalaran. Pengutip pendapat atau pandangan seorang ahli (ekspert) parlu diberi perhatian dan sangat dibenarkan. Misalnya ketika seseorang akan beragumentasi tentang keberadaan Allah, sepantasnya digunakan argumentasi kosmolgikal dari Thomas Aquinas. Tetapi kesalahan logika dari otoritas palsu adalah karena dipakainya otoritas orang-orang ternama untuk suatu hal yang bukan bidangnya. Misalnya, Enstein dipakai otoritasnya dalam menulis tentang nutrisi anak balita.
Kesalahan
logika ini adalah penyimpulan yang salah karena salah interpretasi terhadap
hubungan sebab akibat (kausalitas). Kesalahan logika ini sering ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari. Penyebabnya adalah karena kesalahan dalam
mengindetifikasi yang benar-benar menjadi sebab sesuatu. Perlu diperhatikan
bahwa sesuatu yang mendahului sesuatu yang lain tidak harus atau tidak tentu
menjadi penyebab dari sesuatu yang terjadi kemudian. Misalnya, “Budi sakit
setalah ia membuang surat berantai ke tempat sampah”. Menyimpulkan bahwa budi
sakit setelah ia membuang suara berantai ke tempat sampah adalah hal yang tidak
pasti, karena bisa saja budi sudah ada gejala-gejala sakit sebelumnya.
Terkadang terjadi
suatu peristiwa yang terjadi bersamaan (konsidensi) dianggap sebagai sebab dari
sesuatu. Didalam ilmu logika kesalahan logika ini disebut “cum hoc ergo propter
hoc (bersama itu maka karenanya)” atau kesalahan logika konsidendi. Pada saat
suatu peristiwa terjadi bersamaan, ada dugaan bahwa yang satu adalah sebab dari
yang lain meskipun keduanya benar-benar tidak ada hubungan apapun. Misalnya,
“pada saat botol itu ditanam, pak Titus meninggal”. Jadi, kesimpulan sebagain
orang bahwa kematian pak Titus disebabkan penanaman botol tersebut.

Posting Komentar untuk "Sepuluh Kesalahan Mendasar Dalam Berlogika"