Sejarah Singkat Perkembangan Gerakan Kharismatik Dan Teologinya
Dari permulaan sejarah Gereja, telah muncul gerakan-gerakan yang
mendesak gereja untuk memberikan penekanan lebih pada aspek pengalaman
emosional dalam kehidupan iman. Bahkan sejak abad ke-2, Gerakan Montanus muncul
dan menyatakan bahwa suasana gereja terlalu suam-suam kuku. Namun sinode
Antiokhia memvonis ajaran yang mengklaim pewahyuan langsung oleh Roh Kudus ini
sesat.
Pada abad ke-18 ditandai dengan berkembangnya Gerakan Methodisme
yang terbesar di seluruh dunia. Pendirinya, John Wesley, sangat menginginkan
bukti ilahi bagi keselamatan pribadinya. "Yang paling penting dalam hidup
orang percaya adalah memperoleh bukti melalui pengalaman iman yang terjadi
melalui campur tangan Roh Kudus secara langsung." Menurutnya, kepastian
yang diberikan melalui pengalaman emosional yang luar biasa, yang dianugerahkan
oleh Roh Kudus, merupakan sumber kuasa yang sebenarnya bagi kehidupan orang
Kristen. Pengalaman khusus ini di kemudian hari disebut sebagai berkat kedua (second
blessing).
Pada abad ke-19 lahir Gerakan Kekudusan (Holiness Movement)
yang menyebar ke seluruh dunia. Gerakan ini secara umum menyatakan perlunya
pengalaman yang lebih mendalam setelah seseorang bertobat dan mengakui imannya.
Pengalaman ini dilukiskan oleh Charles Finney sebagai "suatu perasaan
seperti gelombang listrik yang berjalan melalui Anda, bagaikan gelombang kasih
yang memecah." Bahkan R. A. Torrey memberikan tujuh langkah yang
memastikan seseorang memperoleh berkat kedua, dengan menekankan perlunya tekad
yang sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Pola pikir ini serupa dengan
Arminianisme di mana manusialah yang berperan dalam menentukan
keselamatannya. Hal ini berlawanan dengan ajaran Reformasi yakni sola
gratia, yaitu Keselamatan yang didapat dari anugerah Allah.
Pada akhirnya, Gerakan Karismatik yang tidak jauh berbeda dengan
gerakan-gerakan yang disebutkan di atas, muncul sekitar tahun 1960. Gerakan
tersebut pada awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi gerakan tersendiri yang
terpisah dari gerakan arus utama saat itu. Dengan berjalannya waktu dan dengan
timbulnya suatu semangat baru – seperti jemaat yang bergairah karena melihat
kesaksian-kesaksian, nubuat, dan kesembuhan – menyebabkan gerakan ini semakin
terasa keterpisahannya. Tujuan Gerakan Karismatik adalah pemulihan kembali
karunia-karunia Roh Kudus di dalam gereja, terutama glossolalia,
nubuat, dan penyembuhan.
Seorang tokoh Karismatik, Andrew Murray, mengatakan bahwa kita
memperoleh lebih banyak di dalam karya Roh Kudus daripada di dalam karya
Kristus. Orang Karismatik menilai karya Kristus "hanya" pengampunan,
"hanya" salib, "hanya" anugerah, dan berbeda dengan
pembicaraan mengenai Roh Kudus tentang kemenangan, kesempurnaan, kehidupan
tanpa dosa, dan pemuliaan. Hal ini merupakan suatu kesalahan. Dr. Hans Maris
menekankan secara berulang-ulang dalam bukunya ini bahwa kita tidak boleh
menganggap karya Roh Kudus lebih luas, indah, dan tinggi daripada karya
Kristus. Karena pemikiran semacam ini mengakibatkan dua jenis kehidupan
Kristen: pertama, yang di dalamnya Roh Kudus hanya berkarya saja; dan kedua,
yang di dalamnya Roh Kudus dicurahkan sebagai Pribadi yang mendiami hati orang
tersebut.
Kehidupan yang kedua ini
adalah persekutuan dengan Kristus. Kita ingat bahwa Reformasi memulihkan ajaran
Alkitab dengan menyatakan bahwa keselamatan disajikan secara sempurna dalam
karya Kristus saja. Apakah sola gratia dan sola
fide – oleh anugerah saja dan hanya iman saja – hanya berlaku
bagi orang-orang yang baru dalam iman dan tidak berlaku bagi yang sudah dewasa
dalam iman? Benarkah Roh Kudus membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi?
Paulus menuliskan bahwa dia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain
Yesus Kristus yang disalibkan (1Kor. 2:1-2) justru kepada jemaat yang mengalami
dorongan untuk mendapat pengalaman-pengalaman yang lebih tinggi.
Ketika kita mengagung-agungkan pengalaman rohani yang membuat kita
seakan-akan memiliki suatu tingkat rohani yang lebih tinggi, maka dengan mudah
kita memusatkan perhatian pada pribadi kita dan pengalaman kita. "Saya
begitu menderita, yang ada hanyalah keputusasaan. Yesus datang dalam kehidupan
saya dan saya menerima Dia sebagai Juruselamat. Sejak saat itu saya selalu
bersukacita sampai selama-lamanya" merupakan pola yang sering menjadi isi
lagu rohani pop (gospel song). Seharusnya ketika Roh Kudus mengajar kita
beriman, bukan pribadi kita lagi yang jadi pusat perhatian. Tujuan utama hidup
kita seharusnya adalah Kristus bukan lagi diri sendiri (Gal. 2:20).

Posting Komentar untuk "Sejarah Singkat Perkembangan Gerakan Kharismatik Dan Teologinya"