Pengantar Penulisan Dan Penafsiran Kitab Imamat
Kitab Imamat ini sering di anggap tidak penting
dan tidak menarik hati. Bahkan semua orang Kristen tidak memikirkan Kitab
Imamat demikian.Terdapat didalamnya peraturan serta ketetapan yang tidak rapih,
yang sulit dibacaan dimengerti. Dan meskipun kitab Immat itu mungkin tidak
menggelorakan semangat kita, tetapi kita akan menapat keuntungan jika kita
membaca dan berusaha mengertinya. Memang tujuan buku tafsiran ini ialah
menolong orang-orang dalam usaha demikian, dan dalam renungan-renungan, kita
akan memakai kunci yang menyanggupkan kita untuk melihat hubungan antara Kitab
Imamat dan kehidupan kita sekarang sebagai orang Kristen. PDT. DR. R.
Mackintosh Paterson lahir pada tahun 1934 di Selandia Baru. Ia mendapat gelar
Master of Arts dari Universitas Canterbury, Chirstchurch (1956). Gelar
Bachelorof Divinity diraihnya dari Theological Hall, Knox College, Dunedin,
Selandia Baru (1959) dan gelar Master of Theology ia peroleh dari Priceton
Theological Seminari, Amerika Serikat (1960). Setelah melayani sebagai pendeta
jemaat Gereja Presbyterian Selandia Baru, ia ditetapkan sebagai dosen
Theological Hall, Knox Coolege (1965-1972). Sejak tahun 1976 hingga kini
penulis melayani di Indonesia sebagai tenaga dosen utusan Gereja Presbyterian
Selandia Baru pada STT Indonesia bagian Timur (Intim) di Unjung Pandang.
Buku-buku tafsiran lain yang ia tulis adalah: Tafsiran Kitab Yeremia (I &
II); Tafsiran Kitab Zefanya.
Judul
Kitab
Beberapa judul diberikan kepada Kitab Imamat.
Dalam Bahasa Ibrani, sesuai dengan kebiasaan kuno yang lazim dipakai di Timur
Dekat, di pakai kata pertama, yaitu “wiyiqrat; yang berarti “Dan Dia
memanggil”. Septuaginta (terjemahan dalam bahasa Yunani dibuat pada abad ketiga
SM). Dalam Alkitab bahasa Jerman kitab ini disebut “Kitab Musa yang ketiga”.
Judul itu menghubungkan judul Kitab Pentateukh yang lain, sebab Kejadian
disebut Kitab Musa yang pertama dan Ulangan Kitab Musa yang kelima. Judul dalam
bahasa Indonesia yaitu “Imamat” menunjukan pada isi Kitab ini, sama seperti
judul Levicitus tersebut.
Isi
Kitab
Ø Pasal 1: 1s/d 7:38. Bagian ini mengenai ibadah, dan terdapat peratura-peraturan singkat tentang cara mempersembahkan macam korban
Ø Pasal 8 s/d 10. Bagian ini mengenai imam-imam, dan diseluruh kitab Imamat merupakan bagian yang berisi ceriteria. Dalam pasal 8 s/d 9 penahbisan harun dan anak-anaknya.
Ø Pasal 11 s/d 15. Pada bagian ini perbedaan hal yang najis dan yang tahir Pasal 16. Meskipun istilah “Hari Raya Pendamaian” tidak terdapat dalam pasal 16 ini, tetapi pokoknya ialah upacara yang dilaksanakan pada hari itu. Pasal 17 s/d 26. Bagian ini merangkum bermacam-macam pokok, tetapi dipersatukan satu tema yang menonjol yaitu Kekudusan.
Ø Pasal 27. Bagian ini mengenai najar-najar yang diucapkan kepada Tuhan dan pemberian persembahan sukarela.
Kitab
Imamat Sebagai Satu Kitab Dalam Pentateukh
Kitab Imamat ini tidak berdiri sendiri sebagai
karya terpisah. Kitab ini terdiri dari hukum-hukum dan peraturan-peraturan,
tetapi sesungguhnya merupakan sebagian dari riwayat besar yang mulai dari
penciptaan langit dan bumi dan berakhir dengan kematian Musa. Dan kitab ini
melanjutkan riwayat dalam kitab keluaran.
Pengarang,
Waktu, serta Tujuan Kitab
Kitab ini berhubungan erat dengan kitab
pentateukh yang lain. Tetapi membicarakan tentang pengarang itu merupakan tugas
berat, banyak seluk-beluk yang tidak releven bagi orang yang mau mengerti Kitab
Imamat. Sebab itu kita membicarakan lebih lanjut disini. Terdapat dalam
dokumen-dokumen dan beberapa petunjuk serta peraturan yang diketahui
dilaksanakan sejak jaman Musa. Memperlihatkan kepada seluruh umat Israel
bagaimana cara mereka hidup sebagai umat yang kudus, yaitu sebagai umat Tuhan
masuk hubungan perjanjian dan yang dipilih serta dipanggil untuk melayani Dian.
Bagaimana Orang-Orang Yahudi Dan Kristen Purba Menerapkan Kitab Imamat, Mereka
mempersembahkan korban di bait suci sampai bait suci itu diruntuhkan. Dua kali
setiap hari seekor domba disembelihkan dan dibakar sebagai korban kebangsaan.
Ibadah (Pasal 1-10)
Dalam pasal ini Musa menerima peraturan tentang
bermacam korban, dipanggil didepan kemah suci yang baru dibangun, tetapi dia
tidak bisa masuk karena awan menutupi kemah itu dan kemuliaan Tuhan memenuhi.
Dia harus berdiri diluar dan mendengar dari dalam kemah itu Firman Tuhan
tentang ibadah dan korban yang bermakna sekali dalam kehidupan umat Israel.
1. Pasal 1 dan pasal 6:8-13 Korban Bakara
Tuhan memanggil dan berbicara kepada Musa kata-Nya “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: apa bila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau kambing domba. Jikalau persembahan kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah diambil dari burung terkukur atau burung merpati.
2. Pasal 2 dan pasal 6:14-23 Korban Sajian
Setiap persembahan berupa korban sajian yang dipersembahkan kepada TUHAN, hendaklah persembahan tersebut diambil dari tepung terbaik dan ia harus menuangkan minyak serta membubuhkan kemenyan keatasnya. Lalu korban itu dibawanya kepada anak-anak Harun, dan korban tersebut dibakar diatas mezbah sehingga korban api-apian yang baunya menyenagkan bagi TUHAN.
3. Pasal 3 dan pasal 7:11-21 Korban Keselamatan
Jikalau persembahannya merupakan korban keselamatan, harus diambil dari lembuyang baik, haruslah ia membawa yang tidak bercela dihadapan TUHAN. Lalu ia harus meletakan tangannya di atas kepala persembahannya itu di depan pintu kemah pertemuan, lalu anak-anak Harun menyiramkan darah di mezbah sekelilingnya. Inilah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun disegala tempat kediamanmu, “janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah.
4. Pasal 4 dan pasal 6:24-30 Korban Penghapus Dosa
Jika orang yang berbuat dosa itu imam yang diurapi, dia harus membawa persembahan kepada TUHAN seekor lembu jantan yang tidak bercela sebagai korban penghapus dosa. Dia harus membawa kepintu kemah pertemuan dan mempersembahkannya kepada TUHAN dan para imam mengambil sebagian dari darah lembu itu dan membawanya kedalam kemah pertemuan.
5. Pasal 5 dan pasal 7:1-10 korban penebus salah
Jikalau orang itu berdosa haruslah dibayar ganti dengan menambah seperlima dan menyerahkannya kepada imam. Haruslah ia membawa kepada imam seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba yang sudah dinilai.
6. Pasal 6:8-7:38 perintah-perintah Allah kepada para imam tentang Ritual
Inilah hukum tentang korban bakaran. Korban harus tinggi diatas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah harus dipelihara menyala di atasnya. Api yang diatas mezbah itu harus dijaga terus menyala dan jangan dibiarkan padam. Pakaian lenan bersifat kudus dan hanya dikenankan kepada imam waktu melaksanakan tugasnya di atas mezbah. Tempat orang menyembelih korban bakaran harus didepan pintu perkemahan dan darahnya harus disiramkan mezbah tersebut. Tiap-tiap sajian harus diolah dengan minyak.
7. Pasal 8 s/d 10 Para Imam
Penahbisan Harun dan anak-anaknya, pergilah ambilah pakaian yang dipakai Harun dan anak-anaknya, dan minyak ini diambil dari rempah-rempah pilihan dan di oleskan. Dan para tua-tua Israel tidak berbuat apa-apa kecuali mendengarkan kata Musa kepada Harun sebagai pemimpin umat itu. Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil pembaraannya, membunuh api kedalam dan menaruh ukupan di atas api itu. Dan mereka mempersembahkan api yang asing yang tidak diperintahkan kepada mereka.
Kekudusan Bangsa Israel (Pasal 11 S/D 15)
Dalam pasal ini berisi ajaran tentang bagaimana
cara orang-orang Israel harus hidup sebagai umat kudus yang terpilih dan
menaati kehendak Tuhan. Mereka harus bias membedakan hal najis dan tahir.
Mengajar kaum awam adalah tugas yang sangat pentig bagi para imam. Dan Harun
sebagai kepala imamlah yang palin bertanggung jawab dalam ajaran itu.
1. Karena Harun sudah ditahbiskan sebagai Imama besar, sehingga firman Tuhan ditunjukan langsung kepadanya bersama Musa. Firman yang mereka terima itu langsung mereka teruskan dan mengajarkan kepada umat Israel.
2. Apabila pada kulit badan seseorang ada bengkakatau bintil-bintil atau panau, yang mungkin menjadi penyakit kusta pada kulitnya, ia harus dibawa pada imam Harun atau salah seorang dari anak-anaknya.
3. Barang kali seseorang yang percaya bahwa besar kemungkinan orang yang sakit itu sudah sembuh kadang memberitahukan kepada imam-imam supaya pergi ketempat yang cocok untuk pemeriksaan.
Hari Raya Pendamaian (Pasal 16)
Hari yang paling penting dalam satu tahun ialah
hari Raya Pendamaian, jatuh pada tanggal 10 bulan ketujuh (September-oktober).
Pada hari itu imam besar memasuki tempat mahakudus lalu memercikan darah
dihadapan tabut perjanjian. Karena tempat Mahakudus itu ialah ruang atau tempat
tahkta Allah.Dalam memasuki tempat itu Harun mengenakkan seperangkat pakaian
lenan yang khusus, bukan kameja atau jubah yang lebih bagus biasanya
dipakainya. Suatu ciri lain dalam Hari Raya Pendamaian ialah dilepaskannya
kambing jantan yang ke-2dipadang gurun untuk membawa pergi dosa-dosa Israel.
Hukum-Hukum Kesucian (Pasal 17-26)
Tuhan sudah memisahkan mereka semua dari bangsa
lain dan menguduskan mereka, dan mereka harus memelihara kekudusan itu dengan
menaati secara tegas semua hukum-Nya. Sebab itu tujuan hukum ini mengenai
kekudusan bangsa Israel dan berisi petunjuk tentang Hari Raya Pendamaian. Hukum
kesucian ini bersifat khusus, tetapi paling nyata dan termasuk aspek kehidupan.
Nazar-Nazar Dan Persembahan Kepada Tuhan (Pasal
27)
Dalam pasal ini mengenai orang yang bernajar
menyerahkan kepada Tuhan, hewan yang tidak dipersembahkan sebagai korban. Rupa
uang untuk memenuhi najar itu dibayar berangsur-angsur, sebab memang berat. Dan
diberikan juga contoh tentang apa yang tidak boleh diserahkan kepada Allah
sebagai persembahan yang kudus.
Kesimpulan
Suatu keyakinan Kristen yang asasi terdapat dalam petunjuk tentang korban-korban yang relasi antara manusia dengan Tuhan dan antara manusia dengan manusia. Dalam pemahaman bangsa Israel berbeda dengan pemahaman bangsa-bangsa lain, berbagai bentuk kurban persembahan sebagai salah satu bentuk ibadah yang mempunyai makna yang member makan bagi Allah. Harumnya kurban bakaran akan mengundang Allah untuk memakan persembahan yang telah disediakan. Dan para Imam juga disitu harus melaksanakan tugasnya sesuai dengan hukum dan membuat segala sesuatu supaya Tuhan dihormati. Seorang pendeta sekarang ditahbiskan dengan upacara yang sangat berbeda, tanggung jawab pendeta harus mengingat sifat Allah dan tidak bias mencampur kebiasaan. Jika orang Kristenmenderita maka matanya harus tertuju kepada Allah dan kesetiaanya diperbaharui dan beriman kepada Allah. Dalam membawa nazar atau persembahan kepada Allah harus dengan sukarela. Orang Kristen sekarang sering berdoa kepada Allah kalau ia sudah terancamoleh bahaya atau krisis, dan petunjuk-petunjuk nazar ini seharusnya mengingatkan orang-orang Kristen bahwa mereka sudah diselamatkan dari bahaya, penyakit dan krisis.

Posting Komentar untuk "Pengantar Penulisan Dan Penafsiran Kitab Imamat"