Sejarah Dan Perkembangan Psikologi Dan Konseling Menurut Kristen
Sejarah
Singkat Kekristenan Dalam Psikologi
Psikologi
berdiri pada tahun 1800-an. Penyelidikan yang lebih jauh mengungkapkan begitu
banyak refleksi, tulisan dan konseling diterbitkan selama berabad-abad
sebelumnya. Psikologi yang pertama berkembang adalah di dunia Barat yang
dikembangkan oleh filsuf-terapis Yunani seperti Plato, Aristotels dan Epicurus.
Mereka berusaha mendiskrpsikan natur manusia dengan mencakup penyakit-penyakit
mendasar dan pemulihan dalam pengalaman pribadi dengan pencerahan pemikiran terlebih
dahulu. Setelah berlalunya zaman Perjanjian Baru, maka Alkitab maupun
intelektuan Yunani memberi sumbangsih kepada teori psikologi Kristen selama
empat belas abad. Meskipun perhatian utama tertuju pada iman, dan kehidupan
bapak-bapak gereja menulis dengan wawasan yang sangat dalam sehingga bisa
menembus kedalam jiwadan bisa juga memulihkan penyakit jiwa sesorang.
Selain
mendalami Alkitab yang adalah firman Tuhan, para bapak-bapak gereja juga bisa
menulis dengan berbagai karyanya seperti mengenai dosa, cinta, anugerah,
ingatan, pencerahan jiwa, kebijaksanaan, kehendak, pengalaman tentang waktu,
menyajikan pencerahandan sasaran psikologi untuk diteliti lebih lanjut. Setelah
abad pertengahan filsafat Kristen menyatakan natur tentang manusia. Di dalam
Alkitab mereka banyak menemukan tentang norma-norma Allah kepada manusia dan
rancangannya dalam mengembangkan kehidupan dalam keselamatan yang diperoleh
dengan iman kepada Kristus yang telah mati dan bangkit kembali. Dengan itu
Kristen bisa memberi sumbangsih yang cerah tentang psikologi dalam area akal
budi manusia, penginderaan, memori, perhatian, gairah, emosi, kehendak,
ketidaksadaran, dan pengalaman mengenai waktu. Dan keKristenan juga bisa
mengembangkan hipotesis mengenai moral, perkembangan spiritual dan karater,
peran Allah dalam kehidupan manusia. Modernisme adalah pandangan dunia atau
kerangka dunia Barat dalam reaksi terhadap konflik agama mendominasi Kristen
Eropa sejak reformasi yang muncul pada tahun 1600 dan berkembang pada tahun
1800-an. Asumsi modernosme adalah:
1.
Wahyu kusus dan tradisi tidak lagi
dianggap sebagai taraf tertinggi,
2. Pengetahuan manusia harus didasarkan
pada fondasi yang lebih meyakinkan dengan sadar dan dalam akal budi manusia,
3.
Tujuan pengetahuan manusia adalah
pemahaman universal yang diperoleh dari alat-alat obyektif,
4. Ilmu-ilmu dijadikan sebagai model pemahaman manusia dengan kekuatan akal budi dan obsevasi sehingga menghasilkan pemahaman yang universal.
Psikolgi
modern dapat membuktikan bahwa dalam alat-alat penginderaan manusia hubungan
antara otak, mental, memori, emosi, dan motif-motif yang tidak disadari,
kondisioning perilaku, intelegensi, kepribadia, dan masalah-masalah mental
dengan memberikan cara sekuler dalam menangani masalah tersebut. Krisis
intelektual kekritenan saat ini adalah seperti pertama kepercayaan yang dapat
membedakan tradisi yang satu dengan tradisi yang lainnya meliputi kepercayaan
dalam pandangan dunia. Kedua standar suatu tradisi merupakan kriteria yang
digunakan untuk menilai sehat tidaknya kepercayaan dan praktiknya, dan juga
kebijaksanaannya. Ketiga praktik-praktik yaitu tradisi yang khasyang harus
menjadi alat untuk memperoleh informasi yang valid menurut Alkitabiah.
Pandangan
Level Eksplanasi
Psikologi
merupakan ilmu tentang kehidupan mnetal dan perilaku. Realitas adalah kesatuan
yang berlapis menurut cara pandang fenomena untuk membangun jembatan antar
berbagai perspektif yang berbeda-beda. Dengan level eksplanasi religius dan
ilmiah saling melengkapi sehingga tidak memiliki pertentangan. Dalam pandangan
hubungan komplementer antar berbagai level ekspalanasi melepaskan kita dari
argument yang tidak berguna dalam pandangan manusia secara ilmiah dan
subjektif. Dengan menyadari pandangan-pandangan tersembunyi dari berbagai ilmu
psikologi kita akan termotivasi untuk memiliki pandangan yang baru untuk
mengetahui kesalahan-kesalahan yang absolut. Iman yang terkait ilmu psikologi
bukan hanya dengan memberi dorongan pada penyelidikan ilmiah dan membuat kita peka
terhadap nilai emplisit melainkan mengaitkan iman kita dengan ilmu psikologi.
Pemahaman kita merupakan wadah kebenaran yang rapuh. Dengan itu harus ada
kesejajaran diri untuk merasakan anugerah ilahi secara keKristenan dengan
ungkapan psikologi dalam penghargaan positif. Realisasi ini yaitu sikapdari
dalam dan perilaku luar dengan demikian iman adalah sumber dari tindakan. Iman
juga sekaligus kensekuensi dari aksi. Konsep sosial dari psikologi adalah
mengenai kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaaan dengan ide religius
mengenai kekuatan transenden yang baiak dan yang jahat.
Walaupun kekuatan situasi dapat menyingkirkan disposisi individual, psikologi sosial tidakk memandang manusia, ketika menghadapi situasi yang sama orang berbeda mungkin beraksi yang berbeda, bergantung pada kepribadian mereka dan budayanya. Kita harus bertanggung jawab secara moral dan harus dapat dipercaya. Kekuatan utama dalam pendekatan antusiasmenya terhadap sains yang baik. Adakalanya integrase membimbing kita dalam melakukan dan memakai penelitian psikologi sekuler dengan penghargaan tanpa revisi. Ada pengakuan bahwa keyakinan membimbing persepsi kita dan menanamkan asumsi dan nilai-nilai tertentu dalam pengajaran dan praktik kita. Komitmen seseorang yang sengaja untuk meiliki pedoman keyakinan kristiani yang membedakan merasuk dan membentuk pekerjaan kita dalam psikologi dan pendekatan integritas. Setiap pemahaman akan individu merupakan suatu konsep reduksi yang tidak dapat di observasi dengan jelas dank has terhadap unsur-unsur perilaku dan mental. Psikologi Kristen menggunakan posisi para pendukung untuk bergerak melampaui postmodernisme dan menuju ilmu sosial yang mencakup norma-norma Kristen mengenai cara proses sosial. Psikologi Kristen pandangan level eksplanasi terlampau optimis mengenai sains yang rndah hati untuk merefleksi pengakuan pengetahuan ilmiah bahwa psikologi tidak pernah menjelaskan secaa tuntas tujuan dan makna eksistensis manusia. Level eksplanasi mengenai psikologi bukan terutama mengenai proses mental dan perilaku sebagaimana yang dimengerti oleh ilmu sosial. Model ini merupakan pemahaman Kristen mengenai sains dan cita-citanya yang jauh lebih dimensi dari pada karya non-ilmiah yang jauh terus-terang. Psikologi Kristen dan penganjur dari semua perspektif yang lain dan digabungkan bersama para ilmuan yang jujur dan rendah hati bekerja melalui normatif mereka sendiri.
Pandangan
Integrasi
Untuk
memahami Kristen dan psikologi pendekatan integrative juga memiliki dasar
pijikannya yakni psikologi sebagai ilmu dan Pratik yang professional yang tidak
pernah lolos dari pertanyaan-pertanyaan, bahwa ilmu psikologi maupun praktis
disukai oleh psikologi ketika ia menunutut keiulmiahan atau penerapan dalam
Pratik psikologinya. Karena itu kaum integrasionis harus percaya bahwa Kristen
menggali jawaban terhadap Tuhan sebagai fondasi untuk melibatkan diri dengan
ilmu psikologi maupun menyususn struktur yang praktik. Integrasi antara
keKristenan dan psikologi adalah lingkup hidup kita, tempat bertahtanya Kristus
dalam segenap eksistensi bagi wahyu istimewa-Nya, yakni firman Tuhan yang
benar. Tempat ini merupaka tempat yang pantas bagi otoritas-Nya untuk
menentukan keyakinan dasar dan ntegr kita terhadap semua realitas dan secara
khusus terhada subjektif penyelidikan akademik. Konsep integrasi mencoba untuk
memahami menjelaskan dan menyelesaikan sebagaian dari ketegangan ini.
Sains bukan hanya mengumpulkan fakta-fakta melainkan juga mengumpulkan susunan kompleks dari pengalaman-pengalaman manusia. Meskipun demikian semua jenis kepercayaan dan filosofi maupun teologis membingkai keterlibatan dengan sains, terutama ilmu kemanusiaan. Untuk memperoleh deskripsi yang lebih baik mengenai konsep perilaku yang kasar dari manusia dan memulai mempelajari sesuatu yang bermakna kita harus menggunakan konsep metafisika dan etis. Integritas tidak harus membuat kita bersitegang dengan semua aspek psikologi sekuler. Integritas merupakan proses berulang untuk mengembangkan pemahaman namun selalu menuntut kesetiaan kita yang paling mendasar terhadap pengajaran yang benar dan wayu istimewa dari Alkitab. Integritas adalah tugas tertinggi dari manusia Kristen, yaitu individu yang Tuhan pimpin sebagai murid yang akademis atas psikologi dengan ajaran yang benar dan bimbingan yang menata keyakinan dan kesetiaan yang terdalam.
Pandangan
Psikologi Kristen
Pelajaran
yang harus dipelajari dan disadari oleh historis adalah bahwa konsep mengenai
kesejahteraan psikis manusia menjadi bahan perdebatan utama. Hal ini bukanlah
menyangkut tentang pertanyaan yang dapat memuaskan setiap orang terlepas dari
komitmen metafisika, moral dan religius. Psikolog dengan pandangan positif
mungkin belajar tentang sejarah pemikiran perihal yang menjadi minat mereka,
bahwa konsep tentang kebajikan adalah hal yang bersifat relative bagi
metafisika dan bahwa pertengkaran antar penganut metafisika jarang bisa
didamaikan oleh daya Tarik oleh data empiris semata. Manusia tidak bisa
menghindar dari pembelajaran sejarah dan kebudayaan, sebab pengetahuan akademis
bersifat superfisial. Bagi psikologi positif beranggapan bahwa psikologi harus
merupakan sebah bangunan tubuh pemikiran dan informasi yang tunggal yang
diterima setara oleh setiap orang yang rasional, tanpa peduli komitmen
metafisikan mereka. Sebagai pemikir psikologi Kristen harus dapat mengerti
psikologi yang akurat menggambarkan natur psikologi manusia sebagaimana yang
dipahami oleh sejarah keKristenan.
Khotbah adalah sebuah etika yang istimewa yang lebih dekat sebagai psikologi daripada yang kita pikirkan sebagai etika modern. Dalam interpretasi penelitian psikologi Kristen semua dalam bentuk empiris yang bergantung pada panddangan dunia, terlibat dalam dua tugas yang berhubungan. Pertama, psikologi Kristen menggunakan metode yang terancang baik ilmiah dibidang sosial untuk menguji hipotesis mengenai manusia dalam pandangan teologis. Psikologi Kristen perlu menambahkan demonstrasi konseptual validitas tradisi metafisika dan agama. Kedua, harus menggunakan metode komparatif untuk mempertahankan tradisi melawan kritik. Ketiga, prosedur komparatif membantu untuk mengungkapkan kesamaan diantara berbagai perspektif yang mermanfaat untuk menemukan penyebab dari persoalan yang menjadi keprihatian bersama. Ada lima prosedur untuk keperluan ini: pertama, analisis rasional langsung, kedua prosedur penanda korelasional, ketiga skema penerjemahan empiris, keempat analisis rasionalitas komparatif, kelima prosedur kontrol. Psikologi yang mapan bisa menghasilkan penemuan-penemuan yang berarti dan memunculkan pemahaman baru. Pandangan psikologi Kristen merupakan pendekatan bijak untuk memahami hubungan antar psikologi dan keKristenan dan pandangan itu menolong kita untuk memahami strategi epistemologi untuk mengerjakan psikologi. Psikologi Kristen tidaklah sepenuhnya menyadari bahwa pencerahan melampaui sekedar mempersilakan pandangan Kristen berada dalam situasi persaingan antar psikologi. Tradisi Kristen yang bersejarah dan konsep mengenai manusia tidakalah hanya memiliki status epistemology suatu tradisi bentuk kehidupan yang saling bersaing antar tradisi pesaing dan pluralistic lainnya. Kesulitan khusus yang dihadapi sains adalah tentang Janis pengetahuan dan bahasa yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena spiritual dan non-fisik, serta etika. Bagi orang Kristen kesulitan metodologis yang muncul adalah bahwa menerima sains yang baru yang berarti bahwa teologi mempelajari tentang Tuhan dan jiwa manusia yaitu: kesadaran, pengalaman, emosi, pikiran karater dan moralitas yang tidak berada dibawah sains kecuali fenomena yang bersifat fisik.
Pandangan
Psikologi Transformasional
Model
psikologi transformasional adalah sebuah usaha untuk menemukan maupun merancang
kembali cara berpikir tradisional kita tentang psikologi dalam hubungannya
dengan keKristenan, sebagaimana juga untuk memikirkan kembali natur dasar sains
itu sendiri. Bertujuan untuk pendekatan pembentukan spiritual psikologi dan
keKristenan yang mengambil transformasi spiritual-emosional yang diciptakan psikologi
sebagai dasar pemahaman dan pemeliharaan: proses, metodologi, dan praktis
psikologi.
Dasar-dasar
psikologi transformasional:
1.
Orang melakukan psikologi dalam
sejarah dan tradisi,
2.
Orang melakukan psikologi kembali di
dalam Roh,
3.
Orang melakuakn psikologi yang
berakar pada realitas melalui iman,
4.
Orang melakukan psikologi sebagai
studi,
5. Orang melakukan psikologi sebagai sains yang bersifat deskriptif pada dasarnya.
Melakukan psikologi dalam sejarah dan tradisi, untuk mengindikasikan bahwa pada kenyataannya semua pada penyelidikan ilmiah dilakukan dalam konteks historis khusus dari orang-orang yang telah melakuakn sains sebelum bertindak. Penyelidikan ilmiah masa kini bukanlah sebuah aktivitas yang terputus dari konsekuens massa lalu yang memberikan pengertian yang cerah. Melakuakan psikologi dalam tradisi harus menjadi nomor dua dari tugas yang utama. Maksudnya adalah psikologi transformative menyimpan hak untuk menahan penilaian untuk menerima setiap ajaran tradisi sebagai kebenaran ketika dirinya terlibat dalam karya metodologi psikologi secara langsung. Karena tradisi bersifat menolong. Metode transformasi ini merupakan upaya untuk menemukan ddan mempraktikan pendekatan terhada sains ddan pemahaman akan individu yang didorong bukan teori ddan tradisi melainkan proses psikologi. Psikologi berangkat dari realitas iman. Karena iman merupakan realiatas kebenaran yang paling mendasar secara ontologis. Realitas Kristen seperti ini menjadi akar model psikologi formasional yang merupakan prioritas tinggi ddalam memahami realitas kebenaran iman dalam karya psikologi manusia. Realitas epistemik dan nilai ontologis Kristen dalam psikologi transformasional manusia.
Pandangan
Konseling Alkitabiah
Iman Kristen adalah psikologi. Pemahaman yang komprehensif merupakan hal yang intriksi dalam pemikiran Kristen. Pelayanan Kristen adalah psikoterapi. Percakapan yang bertujuan bersifat konstruktif sangatlah dibutuhkan dalam mempraktikan keKristenan. Hal ini tidak berarti bahwa psikologi dan psikoterapi Kristen hanya terdapat dalam Alkitab yang adalah firmanTuhan. Bidang psikologi tidaklah hanya menceritakan sifat psikologi itu sendiri, namun dia memiliki berbagai macam bahan literatur lainnya. Psikoterapi bukanlah keahlian teknis yang netral. Praktik ddan strategi konseling didesain untuk memfasilitasi perubahan, keyakinan, perilaku, perasaan dan sikap, nilai dan hubunga. Ia menormalisasi percakapan ddan menghilangkan sisi mistik yang hanya dimengerti orang tertentu. Psikoterapi adalah percakapan yang bertujuan untuk menolong seseorangagar bisa berubah dalam keyakinan dan tidakannya. Iman Kristen mendapat sudut pandang yang sangat berbeda daripada psikologi literal lainnya. Psikologi Kristen bertujuan unutk mendapatkan kasih yang berasal dari hati nurani yang paling dalam yang murni dan iman yang tulus. Iman Kristen mengajarkan teori psikodinamika dengan banyak pelintiran, dinamikanya tidaklah meredakan kekuatan intrapsikis, sosiofisiologis.
Memperoleh
Pemahaman Melalui Lima Pandangan
Yang
pertama, Kerendahan Hati, keKristenan mendahulukan pencaria
akan hikmat Tuhan. Karena Tuhan mengetahui segala sesuatu, ia mengetahui segala
kebenaran dan Dia adalah sember segala hikmat, sehingga manusia tersebut yang
telah menerima hikmat-Nya, pengetahuannya akan bersifat absolut dan
komprehensif. Kebenaran Allah terlalu besar bahkan tak terukurkan dan pikiran
kita sangat kecil bahkan dirusak oleh dosa. Jadi, ketika orang Kristen akan
mencari dan menerima hikmat Allah dan kita harus mengakui bahwa Ia adalah
semprnadan komprehensif dan mutlak. Kita dapat bertumbuh semakin dekat pada
pemahaman kesempurnaan Allah, dan memperoleh komprehensif yang mutlak juga. Yang
kedua, Perspektif Majemuk, bentang pandangan yang kita mitati
sedemikian besarnya hingga kita sebagai makhluk yang terbatas dan berdosa yang
membutuhkan perspektif yang berbeda-beda untuk memperoleh gambaran yang banyak
dan sebaik mungkin. Kesemuaan ini kita harus mewaspadai komitmen yang eksklusif
terhadap semua perspektif yang menolak seluruh sumbangsihdan model-model
lainnya. Iman Kristen dan psikologi dan konseling dalam budaya masa kini
sungguh teramat kompleks. Setiap pandangan pasti memberikan sudut pandangan
yang berbeda dan valid mengenai iman dengan psikologi, dan terhadap pemahaman
Allah yang absolut.
Yang ketiga, Dialog, dialog adalah percakapan dan hal yang paling utama yang mempengaruhi perkembangan dalam pemahaman manusia. Dalam dialog yang sesungguhnya, rekan percakapan angkat bicara mendengarkan seksama satu sama lain dan menilai dirinya lagi, mereka memformulasikan mata rantai dalam percakapan kemanusiaan yang sedang berlangsung yang membangun sejarah manusia. Manusia berpikir bahwa semua ucapan dalam beberapa hal merupakan respon terhadap semua pembicara sebelumnya dalam kehidupan seseorang, setiap ucapan merupakan mata rantai rangkaian komunikasi. Yang keempat, Tradisi Komunal, eksplorasi komunal yang telah membentuk orang-orang, menolak kita untuk mengerti dan mengefaluasi argument atau tradisi yang lebih akurat. Pemahaman perlu dikembangkan dalam komunitas, akademisi, ilmuan, dan konselordilatih untuk melakukan pendekatan dengan cara tertentu. Yang kelima, Kemampuan Kritis, pandangan senti mental terhadap dialog menghindari penyataan dan konflik dalam mempertahankan ilusi. Manusia harus bisa menyelidiki pikiran, sikap, dan nilai-nilai sehingga mendapatkan analogis dan penyataan yang berlebihan. Sehingga menyesuaikan pikiran, hati, dan kehidupan dengan Kristus dan penyesusian diri itu semakin besar dan saling mencari kebenarannya.
Posting Komentar untuk "Sejarah Dan Perkembangan Psikologi Dan Konseling Menurut Kristen"