Refleksi Natal: Anugerah Allah Yang Tak Ternilai
Martin
Luther mengungkapkan bahwa: “Iman adalah penerimaan terhadap penerimaan.”
Ungkapan Luther ini masuk ke wilayah yang begitu limpah dan sarat dalam
mengerti iman. Iman artinya saya menerima fakta, fakta bahwa saya telah
diterima oleh Kristus. Fakta yang sungguh terjadi, saat kita yang tidak layak
diberkati Tuhan. Tidak layak diterima oleh Tuhan, namun benar-benar telah
diterima karena Anugerah-Nya.
Menilik
perjalanan sejarah gereja terkait pengakuan iman yang oleh gereja tertentu
masih diperdengarkan, maka pikiran kita dibawa pada tiga rumusan kredo, yaitu:
Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, Pengakuan Iman Athanasius, dan Pengakuan
Iman Rasuli. Isi yang terkandung pada rumusan kredo tersebut diantaranya memuat
dasar utama kristologi. Gambaran kristologi ini merupakan fakta sejarah proses
kehidupan Yesus Kristus, Allah menjadi Manusia: …”Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari
Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria. Yang menderita sengsara di bawah
pemerintahan Pontius Pilatus. Disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam
Kerajaan Maut. Pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati. Naik
ke Sorga …”. Nah, diakui atau tidak, rumusan kredo ini merupakan
ungkapan pengakuan iman gereja/orang
Kristen sebagai Amazing Grace.
Amazing
Grace dalam rumusan kredo mengajak
kita dapat melihat secara integral,
kompleks, dan final. Amazing Grace tidak cukup hanya terukir pada kisah
NATAL atau kelahiran saja. Amazing Grace dimana iman Kristen ada
dalam diri Kristus. Tanpa Kristus tidak ada tujuan, sasaran dan intisari iman,
serta kuasa pelayanan. Kristus yang terutama, terawal, terakhir, dan yang
menyempurnakan. Dalam Kristus, Allah bekerja, mempersatukan, dan menopang
segala yang telah dijadikan-Nya.
Berpikir dan mengamati dengan penuh kasih
sumber dari keselamatan kita, yang merupakan kasih karunia Allah. Dengan kasih
karunia kita diselamatkan. Karena Allah
adalah pengasih, maka manusia berdosa diampuni, dipertobatkan, disucikan, dan
diselamatkan. Bukan karena apa di dalamnya, atau yang pernah ada di dalamnya, kita diselamatkan; tetapi karena kasih, kebaikan, kasih
sayang, belas kasihan, dan kasih karunia Allah yang tak terbatas.
Betapa dalamnya jurang dan luasnya
samudera, kasih karunia Tuhan tak
terukur! Siapa yang
bisa mengukur luasnya? Siapa yang bisa memahami kedalamannya? Seperti semua
atribut Ilahi lainnya, itu tidak
terbatas. Tuhan penuh kasih, karena Tuhan adalah kasih. Tuhan penuh dengan kebaikan; nama Tuhan adalah
kependekan dari baik. Kebaikan dan cinta yang tak
terbatas masuk ke dalam esensi Ketuhanan. Karena rahmat yang tersembunyi tetap
untuk selama-lamanya, maka manusia bukanlah
perusak; karena belas kasihan-Nya tidak gagal bahwa orang
berdosa dibawa kepada-Nya dan diampuni.
Ingat ini, kita mungkin jatuh ke dalam kesalahan dengan memusatkan
pikiran kita begitu banyak pada iman yang merupakan saluran keselamatan, sehingga melupakan kasih karunia
yang merupakan sumber dan sumber bahkan dari iman itu sendiri. Iman adalah
karya kasih karunia Allah di dalam kita. Tidak ada orang yang dapat mengatakan
bahwa Yesus adalah Kristus kecuali oleh Roh Kudus. Tidak ada seorang pun yang
datang kepada-Ku, kata Yesus, kecuali Bapa yang telah mengutus Aku gambar-Nya. Jadi
iman itu, yang datang kepada Kristus, adalah hasil dari gambar IIahi. Kasih karunia adalah penyebab keselamatan yang
pertama dan terakhir; dan iman, meskipun esensial, hanyalah bagian penting dari
mesin yang digunakan oleh anugerah. Kita diselamatkan melalui iman, tetapi
keselamatan adalah oleh kasih karunia. Ucapkan kata-kata seperti dengan
terompet penghulu malaikat. Kabar gembira bagi mereka yang tidak layak! Iman menempati posisi saluran
atau pipa saluran. Kasih karunia adalah air mancur dan sungai. Iman
adalah saluran air di mana banjir rahmat mengalir ke bawah untuk menyegarkan
anak-anak manusia yang kehausan.
Namun, sekali lagi kita perlu
ingat bahwa iman hanyalah saluran
atau saluran air, dan bukan sumber mata air. Kita tidak boleh terlalu bergantung padanya untuk
meninggikannya di atas sumber Ilahi dari semua berkat yang terletak di dalam kasih
karunia Allah. Jangan pernah membuat Kristus keluar dari iman, atau berpikir
seolah-olah itu adalah sumber independen dari keselamatan. Hidup kita ditemukan
karena memandang kepada Yesus, bukan dalam memandang iman kita
sendiri. Dengan iman segala sesuatu menjadi mungkin bagi kita; namun
kekuatannya bukan pada iman, tetapi pada Tuhan yang kepadanya iman bersandar.
Anugerah adalah mesin yang kuat, dan iman adalah rantai yang dengannya kereta
jiwa melekat pada kekuatan motif yang besar. Kebenaran Yesus Kristus yang
dipegang dan dimiliki oleh iman. Kedamaian di dalam jiwa tidak berasal dari
perenungan iman kita sendiri; tetapi itu datang kepada kita dari Dia yang
adalah damai sejahtera kita, ujung jubahnya menyentuh iman, dan kebajikan
keluar dari Dia ke dalam jiwa.
Dalam
seluruh untaian kristologi ada finalitas yang berbicara tentang peristiwa yang
terjadi dalam sejarah. Yesus harus dilahirkan, disalibkan, dibangkitkan, dan
bertahta di Sorga. Kelahiran Yesus, bersangkut paut dengan manusia yang ada dan
hidup dalam putaran waktu sejarah. Dalam kristologi, pengakuan iman rasuli
memiliki keistimewaan, Allah menjadi Manusia. Ada tempat, waktu, dan manusia
yang berkaitan dengan diri-Nya. Inilah keistimewaan kekristenan, yang tidak
menanamkan iman pada hal khayalan atau imajinasi hampa. Amazing Grace, iman
yang ditujukan pada satu Pribadi yang pernah turun menjadi manusia yang sungguh
ada dalam sejarah. Yesus Kristus adalah Tuhan! Soli Deo Gloria

Posting Komentar untuk "Refleksi Natal: Anugerah Allah Yang Tak Ternilai"