Khotbah Yang Bertujuan: Memperkenalkan Kristus Kepada Dunia
Seorang pengkhotbah itu harus berusaha dan bekerja supaya setiap khotbah menjadi berita firman yang terarah kepada satu tujuan yang berhubungan dengan sebuah keperluan yang ada diantara para anggota gereja itu (tentunya sesuai dengan Tuhan). Ada beberapa langkah yang akan menolong gembala sidang dalam menyiapkan khotbah yang bertujuan, yaitu:
1. Menekankan satu pokok
saja: Titik tolak sebuah pembangunan sebuah khotbah adalah mencari gagasan.
Gagasan-gagasan tersebut akan berkembang dengan baik jika di sirami dengan
Firman dan doa. Andrew Blacakwood pernah menulis, “Seorang pengkhotbah harus
mulai, meneruskan, dan menyelesaikan khotbahnya dengan doa.” Pengkhotbah
bertanggung jawab mengambil gagasan dan mulai membentuk suatu khotbah yang akan
bermanfaat bagi para pendengarnya, sehingga membangun jemaat.
2. Menulis tujuan khotbah: Sebelum
melakukan semuanya penting yang harus kita ingat yaitu berdoa. Karena dengan
berdoa berarti kita betul-betul mengandalkan Roh Kudus bukan dengan kekuatan
kita. Betapa sering kita mengisi mimbar dan mengisi waktu dengan berkhotbah,
tetapi khotbah itu tidak mempunyai arah yang jelas dan pasti kepada suatu
tertentu. Tujuan perlu ditulis dalam satu kalimat yang menjawab pertanyaan:
“Mengapa saya akan menyampaikan khotbah ini?” (Tanya pada Tuhan terlebih
dahulu). Kalimat itu menyatakan apa yang diharapkan dari para pendengar dari khotbah
itu.
3. Menarik perhatian
pendengar dengan pendahuluan: Kita seringkali lupa bagaimana kita akan
menyampaikan suatu pandahuluan dengan baik. ‘Menarik perhatian’ disini sering
disalah tafsirkan oleh para pengkhotbah. Banyak dari mereka memakai cara ini,
dengan cara manusia mereka sendiri. Didalam hati mereka timbul pernyataan, “Ah,
yang penting saya bisa menyenangkan dan disenangi oleh….!”,
sehingga dengan pernyataan itu ia melupakan maksud dan tujuan Allah dalam
pemberitaan firman Tuhan itu. Oleh sebab itu sebuah khotbah harus didahului
dengan firman Tuhan, diisi dengan firman Tuhan,dan ditutup dengan suatu firman
Tuhan pada akhirnya. Sehingga betul-betul itu namanya pemberitaan firman Tuhan.
Semuanya dari maksud Allah melalui pertolongan Roh Kudus, kita hanya sebagai
‘penyambung lidah’ Tuhan saja (bandingkan. Yer. 15:19). Pendahuluan khotbah
harus menarik perhatian (tetapi tidak berlebihan) dan merangsang minat
pendengar untuk mendengan apa yang akan disampaikan dalam tubuh ceramah itu.
Dan si pengkhotbah juga harus berusaha membangkitkan selera para hadirin untuk
santapan rohani yang telah disajikannya. Pendahuluan harus terarah kepada
sasaran seluruh khotbah. Kalau pengkhotbah tidak menarik perhatian pendengar
dengan pembukaannya (tentu dibawah bimbingan Roh Kudus), kemungkinan besar ia
tidak akan mendapat perhatian dalam ceramahnya itu. Mustahil mencapai tujuan
pemberitaan firman kecuali orang mendengarkannya. Dengan demikian kita
memerlukan hikmat dari pada Tuhan dalam hal ini. Didalam pendahuluan dan tubuh
khotbah ini diperlukan sebuah kalimat peralihan yaitu yang
mengantar pendengar dari pembukaan kepada perkembangan khotbah dengan lancar.
Kalimat transisi itu memusatkan perhatian pada pokok-pokok garis besar khotbah
dengan pemakaian sebuah kata kunci. Kata kunci itu akan menjelaskan
sifat pokok-pokok garis besar dan akan menyatukan serta menguatkan struktur
khotbah. Berikut ini ada beberapa contoh kalimat peralihan dengan masing-masing
kata kunci dicetak dengan huruf miring, yaitu:
a. “Marilah kita memperhatikan beberapa contoh Alkitabiah yang mempertunjukan bagaimana iman selalu diuji dalam kehidupan sehari-hari”.
b. “Marilah kita memeriksa tiga kebenaran yang berhubungan dengan Maria dan Yusuf dan hilangnya Yesus di Yerusalem”.
c. “Ada empat keyakinan yang dapat saudara anggap benar bila saudara menghadapi pencobaan si iblis selama minggu ini”.
d. “Didalam Roma pasal delapan, Paulus menyampaikan empat pertanyaan yang paling penting sekali kepada semua orang Kristen”.
4.
Menulis Garis Besar
Tubuh Khotbah: Kalimat peralihan dari pendahuluan kepada tubuh khotbah
mengarahkan perhatian pendengar kepada garis besar. Garis besar yang
dikembangkan dengan baik dan jelas akan menolong si pendengar mengingat isi
ceramah. Garis besar yang baik akan meliputi kalimat-kalimat yang ringkas,
sejajar, yang seimbang, yang berdiri sendiri, dan yang sezaman. Satu hal yang
perlu ditambahkan pada sifat-sifat tersebut: kesatuan tujuan. Tiap pokok dalam
garis besar adalah sebuah langkah menuju perkembangan pokok utama dalam khotbah
5.
Merencanakan Penutup
Khotbah: Sering pengkhotbah dicobai untuk melalaikan tujuan khotbahnya dalam
penutup. Penutup seharusnya ditencanakan dengan teliti. Sama seperti
pendahuluan dan tubuh, penutup khotbah harus terarah kepada sasaran khotbah. Seringkali
kita menyelesaikan sebuah khotbah tentang penyerahan orang-orang Kristen dan
langsung member undangan yang bersifat penginjilan. Memang kita harus memberi
undangan yang bersifat penginjilan, tetapi kita perlu menutup khotbah dengan
cara yang mengajak pendengar supaya menyerahkan diri kalau itu pokok utama
dalam khotbah. Undangan penginjilan itu dapat ditambahkan pada bait kedua atau
ketiga dalam nyanyian undangan.
6. Memperhatikan Gaya
Khotbah: Gaya khotbah adalah cara kita menyampaikan pemberitaan kita. Gaya
khotbah meliputi perbendaharaan kata, cara ucapan kata, susunan kata-kata, dan
pemilihan kata dan ungkapan. Gaya khotbah perlu disesuaikan dengan isi khotbah,
para hadirin, dan situasi kondisi. Sangat penting untuk seseorang pengkhotbah
supaya berusaha memusatkan seluruh khotbahnya kepada satu tujuan. Kalau
beritanya bernilai, berita itu cukup bernilai untuk disampaikan dengan sebaik
mungkin. Dengan demikian kita akan menjadi seorang pelayan Kristus yang baik,
terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran sehat yang telah kita
pelajari menurut ajaran Firman Allah (1Tim. 4:6).
Posting Komentar untuk "Khotbah Yang Bertujuan: Memperkenalkan Kristus Kepada Dunia"