Norma Susila dan Adat-Istiadat
1. Dapatkah Norma-Norma Susila Itu Diambil Dari
Adat-Istiadat: kata adat berasal dari kata Arab “ada” artinya kebiasaan, cara
yang lazim, kelakuan yang telah biasa. Adat-istiadat adalah kumpulan peraturan
dan norma-norma hidup yang berlaku dalam persekutuan suku tertentu. Jadi apakah
Norma-Norma Susila Itu Diambil Dari Adat-Istiadat. Tidak. Karena adat itu
menurut adat-istiadat kuno (ditetapkan oleh manusia-kepala suku, pemimpin),
adat bukan sumber pengetahuan.
2. Mungkinkah Sumber Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan
Yang Jahat Itu Terletak Dalam Semacam “Hukum Kodrat Dan Hukum Susila Kodrati”
(Lex Naturalis Et Ethica Naturalis): hukum kodrat ini pertama kali berasal dari
filsafat Yunani dalam agama-agam suku, adat-istiadat. Menurut thomas aquino
pada abad pertengahan “kodrat yang dimiliki manusia yang berasal dari atas telah
hilang karena dosa, tapi dia tetap memiliki kodrat alam”. Jadi, jika manusia
mencari sumber pengetahuan diluar penyataan Allah yaitu Alkitab firman Allah,
maka dia mencari murka untuk dirinya sendiri. Karena tidak mungkin manusia bisa
mengubah dirinya dan terlebih orang lain.
3. Mungkinkah Pengetahuan Tentang Norma-Norma Itu Diambil Dari Suatu
Ajaran Tentang Tata-Tertib Alam Kejadian (Schopfungsordnungen): menurut Karl
Barth, dunia telah jatuh kedalam dosa dan kegelapan dan tidak mungkin manusia
bisa menciptakan norma-norma yang benar menurut standar Allah. Menurut Emil
Brunner bahwa untuk memelihara peraturan diperlukan keadilan insani yang
relatif, keadilan ini bukanlah keadilan yang ada didalam Kristus tetapi,
keadilan menurut standar manusia dann diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Untuk mengerti kehendak Dia, maka manusia membutuhkan Dia yang telah berdia
ditengah-tengah kita “Firman menjadi Daging” (Yoh. 1:14).
4. Satu-Satunya Sumber Pengetahuan Tentang Yang Baik Dan Yang Jahat
Terletak Dalam Penyataan Allah: mencari yang baik berarti mencari Tuhan.
Manusia adalah gambar dan rupa Allah, jika dia hanya mau menjadi gambar dan
rupa Allah dan tidka menjadi sama dengan Allah, maka dia memiliki hubungan yang
erat dengan Tuhan dan memiliki kasih, sehingga dia melakukan kehendak Tuhan,
sama seperti Yesus, yang menjadi makananNya adalah kehendak BapaNya (Yoh.
4:34).
5. Mungkinkah Suatu Etika Umum?: jika Alakitab adalah satu-satunya standar dan acuan dalam etika Kristen, maka pertanyaannya apakah standar tersebut dapat diterima oleh etika umum?. KeKristenan harus memiliki pengaruh yang kuat dan luas sehingga dunia ini main lama makin bersatu bukan makin kacau. Membawa orang lain lebih mengenal kasih Kristus.

Posting Komentar untuk "Norma Susila dan Adat-Istiadat"