Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suara Hati dan Kesengsaraan Manusia

      

      Setelah manusia telah dikuasai oleh dosa. Kebijakan penuh dengan perbuatan buruk, mementingkan diri sendiri, kesalehannya penuh dengan kefasikan, kesusilaannya penuh dengan ketidaksusilaan. Dalam kehidupan manusia ada dua gejala yang ada dibawah kuasa dosa yaitu rasa malu dan perasaan hati dan kedua hal inilah yang sangat berkaitan dengan etika dalam tindakan manusia.

        Ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa maka timbulah rasa malu mereka kepada Tuhan (Kej. 3:7). Rasa malu adalah perasaan badani yang mengingatkan kepada manusia siap dia yang sudah bobrok dihadapan orang lain. Ketika mereka mengikuti perintah dari si Ular, maka mereka merasa tidak senag, tidak bahagia dan meresa mereka telanjang dihadapan Tuhan. rasa malu membuka topeng kesalahan manusia dihadapan Tuhan dan mengingatkan dia yang diciptakan menurut gambar Allah bahwa dia ada dalam kesengsaraannya. Rasa malu adalah kata hati tubuh manusia.

      Manusia berusaha menutupi dan menghilangkan rasa malu akan tetapi hal itu tidak bisa dikesampingkan karena sangat melekat dalam hati nurani manusia. Jika Allah melihat bahwa manusia merasa malu dihadapanNya maka mungkin Tuhan berkata “rasa malumu itu menunjukkan kepadaKu, bahwa engkau telah mengkhianati Aku”.

        Menurut rasul Paulus “turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh dan membela (Rm. 2:15)”. Secara etimologi suara hati dipakai dalam Perjanjian Baru “suneidesis” (Rm. 2:15). Dalam bahasa Latin “conscientia”, juga dalam bahasa Inggris dan Perancis memiliki arti kata yang sama. Pengertian “suneidesis” dan “conscientia” adalah setahu. Entah diketahui oleh Allah atau sesama manusia. Istilah dalam Perjanjian Lama dipakai kata “leb” artinya hati.

        Suara hati adalah suatu desakan yang terdapat dalam batin tiap-tiap manusia untuk menimbang-nimbang kelakuannya. Ia menuduh kita jika kita salah dalam bertindak dan berkata-kata. Itu adalah instansi di dalam manusia yang dapat mengadili kita. Dalam suara hati dengan tidak berlawanan, manusia berhadapan dan bersoal-jawab kepada dirinya sendiri dan ia menjadi pembuat peraturan hakim dan pembalas pada perbuatannnya sendiri (index, judex dan vindex).

        Menurut Immanuel Kant, suara hati adalah mahkamah Ilahi. Apakah suara hati adalahh suara Allah? Bukan, dan tidak sama sekali. Dalam hati manusia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa berlindung kepada Allah. Ia menjadi pembuat peraturan dan hakim pada dirinya sendiri dan sengan demikian ia berusaha menyelamatkan dirinya dari murka Allah. Menurut Spencer: suara hati hanyalah hasil dari keadaan sosial yang dapat diterangkan dengan berpangkal pada faktor-faktor lingkungan. Menurut Noordmans: suara hati adalah saksi utama dalam melawan manusia kita yang jahat. Suara hati sebagai pembuat hukum tidak dapat dipercaya karena hukum Allah telah dirusak oleh suara hati manusia sejak dari Eden dan tidak taat kepada Allah. Suara hati sebagai hakim juga tidak dapat dipercaya karena keputusannya tidak sesuai dengan keputusan Allah, dia mengikuti apa yang enak bagi daging. Suara hati sebagai pembalas tidak dapat dipercaya, sangat berbahaya, karena Tuhan adalah pemberi pembalasan yang benar.

Posting Komentar untuk "Suara Hati dan Kesengsaraan Manusia"