Respon Terhadap Keraguan Pengilhaman Surat Korintus dan Galatia
Yang melatarbelakangi Paulus menulis surat-surat ini ialah karena adanya fakta mengenai permasalahan-permasalahan dalam jemaat ataupun persoalan-persoalan yang perlu rasul Paulus jawab. Melihat hal ini, maka timbul beberapa isu-isu yang pada dasarnya mempertanyakan apakah Alkitab diilhamkan oleh Allah atau ditulis oleh manusia biasa, karena ada sesuatu yang melatarbelakangi sehingga surat tersebut harus ditulis. Terlihat bahwa ketika ada masalah barulah surat-surat ini ditulis, bukan berasal dari pengilhaman dari Allah.
Jika surat 1 Korintus, 2 Korintus dan Galatia adalah surat yang tidak diilhami oleh Allah, maka surat-surat ini bukanlah Firman Allah yang tanpa salah. Hal ini tentu memiliki implikasi yang sangat luas. Diantaranya Alkitab tidak dapat dipercaya, Alkitab bukan Firman Allah, tidak ada yang namanya keselamatan, tidak ada yang namanya Allah dan pada ujungnya kepercayaan orang Kristen itu adalah kesia-siaan belaka, tanpa adanya suatu kepastian.
Ditinjau dari Sudut Pandang Allah dan Penulis
Paulus
menulis kepada jemaat Korintus dan Galatia yang notabene adalah jemaat milik
Allah, yang telah ditebus dengan darah Anak-Nya Yesus Kristus. Jemaat Allah
merupakan hasil dari karya penyelamatan Allah, melalui Yesus Kristus untuk
mencapai tujuan Allah, yaitu keselamatan manusia. Hal ini menunjukkan
betapa berharganya umat Allah yang telah Ia tebus dengan darah Anak-Nya yang
tak ternilai harganya. Oleh sebab itu, Allah tidak mau melihat jemaat-Nya terus
menerus berada dalam penyimpangan dari kehendak-Nya. Sebagai contoh ialah
masalah perpecahan yang terjadi di dalam jemaat 1 Korintus 1: 10 – 11.
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.
Teks ini menjelaskan, bahwa ada perpecahan dalam jemaat di Korintus, sedangkan hal ini bertentangan dengan kehendak Allah. Allah menginginkan umat-Nya bersatu seperti yang juga menjadi doa Yesus dalam Yohanes 17. Kesatuan inilah yang akan menolong umat untuk menyaksikan Kristus kepada dunia, yaitu: agar dunia mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh berasal dari Allah (Yohanes 17: 21 – 23). Kesatuan di dalam kasih ini merupakan kehendak Yesus, agar kasih Allah ini terealisasi di dalam dunia melalui orang-orang yang percaya kepada-Nya dengan hidup saling mengasihi.
Melihat keadaan umat-Nya di kota Korintus yang mengalami perpecahan, maka sudah pasti Allah tidak akan membiarkan ini terjadi berlarut-larut, sehingga Ia memakai Paulus untuk menulis surat 1 Korintus untuk menasihati mereka. Dilihat dari cara Paulus menasihati pun menunjukkan bahwa Paulus menggunakan otoritas dari Allah yang diberikan kepadanya. Hal ini terlihat dari frasa: “...demi nama Tuhan kita Yesus Kristus...” yang menunjukkan bahwa “hati Paulus merupakan hati Allah”, begitu juga ketika Paulus menulis surat 2 Korintus dan surat Galatia.
Melalui latar belakang jemaat yang ada, baik yang melatarbelakangi penulisan 1 Korintus, 2 Korintus maupun Galatia, maka Paulus melalui perintah Allah seperti yang dikatakannya dalam 1 Korintus 14 : 37 menulis surat-surat tersebut yang bertujuan untuk keselamatan umat Allah.
Ditinjau dari Sudut Pandang Pengilhaman
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Tim. 3:16 ITB)
All Scripture is God-breathed and is useful for teaching, rebuking, correcting and training in righteousness (2 Tim. 3:16 NIV)
Semua yang tertulis dalam Alkitab, diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajarkan yang benar, untuk menegur dan membetulkan yang salah, dan untuk mengajar manusia supaya hidup menurut kemauan Allah. (2 Tim. 3:16 BIS)
πᾶσα γραφὴ θεόπνευστος καὶ ὠφέλιμος πρὸς διδασκαλίαν, πρὸς ἐλεγμόν, πρὸς ἐπανόρθωσιν, πρὸς παιδείαν τὴν ἐν δικαιοσύνῃ (2 Tim. 3:16 BGT)
Teks 2 Timotius 3: 16 ini menjadi titik tolak mengenai Alkitab sebagai tulisan-tulisan yang bersumber dari Allah. Status yang dikemukakan di sini mengenai Alkitab adalah diilhamkan Allah. Setiap bagian dalam Alkitab atau setiap kitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berstatuskan diilhamkan Allah. Ungkapan ‘Segala tulisan’ πᾶσα γραφὴ (pasa grafe), lebih tepat diterjemahkan ‘Setiap tulisan’, sehingga lebih jelas menunjuk pada setiap bagian atau kitab dari Alkitab. Istilah γραφὴ (grafe) digunakan sebanyak 50 kali dalam Perjanjian Baru, dan semua penggunaan itu menunjuk kepada tulisan-tulisan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ini merupakan istilah teknis yang biasa digunakan dan dimengerti oleh Paulus dan Timotius. Dengan tidak menyertakan artikel, maka kata γραφὴ (grafe) selalu digunakan untuk bagian atau kita dari Aliktab.
Edwin A. blum berpendapat, bahwa terjemahan kata ‘yang’ lebih tepat diterjemahkan dengan kata ‘adalah’ sebelum frasa ‘diilhamkan dan bermanfaat’, karena kedua kata yang mengikuti kopula itu adalah kata sifat dan keduanya paralel sebagai predikat. Konstruksi seperti ini pernah Paulus gunakan juga dalam 1 Timotius 4: 4. Maka sehubungan dengan itu, dapat dikemukakan sebuah kemungkinan terjemahan, sebagai berikut: “Setiap tulisan adalah diilhamkan oleh Allah dan bermanfaat...”
Fungsi predikat yang diterjemahkan dengan kata ‘adalah’ tersebut menghapus anggapan bahwa hanya bagian-bagian tertentu dalam kitab-kitab Alkitab yang diilhamkan. Fungsi predikat ini menyatakan dengan jelas bahwa ‘segala tulisan’ itu diilhamkan oleh Allah, dalam pengertian semua bagian Alkitab adalah Firman Allah, dan sudah tentu tanpa salah (inerrancy). Dengan demikian, menjadi jelas bahwa tidak satupun bagian atau kitab dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang tidak diilhamkan oleh Allah, termasuk surat 1 Korinstus, 2 Korintus dan Galatia.
Ditinjau dari Sudut Pandang Keutuhan Alkitab
Menanggapi
permasalahan yang telah dibahas di atas, perlu juga untuk mengenali Alkitab itu
sendiri secara utuh. Alkitab sangat istimewa, tidak seperti karya-karya tulis
yang lainnya, ataupun kitab-kitab suci dari agama lainnya. Keistimewaan ini
dikarenakan, Alkitab merupakan hasil pengilhaman dari Roh Kudus (2 Petrus 1: 21
dan 2 Timotius 3: 16) yang menuntun manusia menulis berdasarkan latar belakang,
sifat, karakter, budaya dan lain sebagainya dari penulis masing-masing namun
tetap sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Hal ini terbukti dari banyaknya
penulis (sekitar 40) dengan latar belakang, sifat dan karakter yang berbeda
serta rentan waktu yang jauh, Alkitab merupakan satu kesatuan yang tidak
terbantahkan dalam hal tema dan pengajaran. Kesatuan yang unik ini selain
berdasarkan rentan waktu, tidak ada unsur kesepakatan atau janji dari para
penulis untuk menulis seperti sekarang ini, apalagi zaman dahulu tidak ada
internet untuk berkomunikasi antar para penulis ini.
Memahami Alkitab yang utuh artinya memahami Alkitab yang telah terkanonkan. Dalam perspektif teologi, kanon berarti diterima, disetujui, rangkaian terakhir yang menyusun Alkitab. Kanon adalah sebagaimana adanya karena inspirasi dari Roh Kudus yang bersifat objektif dan berotoritas dari Allah. Standarnya hanya satu, yaitu Inspirasi dari Allah melalui Roh Kudus, bukan pada manusia atau gereja, melainkan kepada Allah sendiri. Allah adalah Penulis Kanon-Nya yang menyatakan Pribadi-Nya, Roh Kudus melalui providensi-Nya mengawasi pengakuan kanon oleh Gereja dan orang percaya sekarang ini mengakui bahwa Allah secara berdaulat bertindak untuk mengispirasikan dan melindunginya. Jadi sangat jelas, bahwa otoritas Alkitab yang dipegang oleh orang percaya sekarang ini bukanlah otoritas dari manusia ataupun gereja, melainkan otoritas Allah sendiri.
Melalui tiga kesaksian lahiriah ini, Gereja dengan bersungguh-sungguh menyadarkan pada kesaksian batiniah oleh Roh Kudus. Kanon yang dimiliki oleh orang percaya sekarang ini sudah lengkap berbicara tentang keseluruhan Alkitab (2 Timotius 3: 16-17). Tidak ada sarana lain (Wahyu khusus) yang dipakai Allah untuk berbicara kepada gereja-Nya selain, melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yaitu Alkitab. Alkitab telah datang kepada orang Kristen sebagai pengungkapan prinsip pribadi ilahi. Tidak ada yang perlu ditambahkan atau dihapus dari Firman Allah yang sempurna (Wahyu 22: 18-19). Jadi sangatlah jelas, bahwa Alkitab yang utuh adalah Wahyu dari Allah, termasuk surat 1 Korintus, 2 Korintus dan surat Galatia.
Kesimpulan
Harus
diakui bahwa surat 1 Korintus, 2 Korintus dan Galatia ditulis karena memang ada
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam jemaat sehingga peristiwa-peristiwa
tersebut menjadi latar belakang penulisan surat-surat tersebut. Penulisan surat
1 Korintus dilatarbelakangi keadaan jemaat yang mengalami konflik khususnya
menghadapi perpecahan dalam jemaat, sehingga Paulus harus menasihati mereka.
Penulisan surat 2 Korintus dilatarbelakangi oleh desas-desus yang
mempertanyakan kerasulan rasul Paulus. Kemungkinan orang-orang ini adalah
orang-orang yang tidak mau dinasehati oleh Paulus pada suratnya yang pertama,
hal ini terlihat dari penulisan 2 Korintus yang tidak jauh beda dengan
penulisan 1 Korintus (dalam tahun yang sama dan berjarak sekitar sekitar 5
bulan saja), hal ini membuat Paulus merasa perlu menjelaskan kerasulannya dalam
2 Korintus. Surat Galatia dilatarbelakangi oleh kebingungan yang terjadi di
antara jemaat dalam menyikapi Hukum Taurat, oleh sebab itu dalam surat Galatia
ini rasul Paulus menjelaskan bagaimana seharusnya orang percaya dalam menyikapi
Hukum Taurat.
Latar belakang kepenulisan surat-surat ini bukan berarti surat-surat ini tidak diilhami oleh Allah, sebab Allah memakai Paulus untuk menulis surat-surat ini kepada umat-Nya karena Allah tidak mau umat-Nya berlarut-larut dalam penyimpangan dan kebingungan. Selain itu, 2 Timotius 3: 16 juga menjelaskan bahwa setiap tulisan adalah diilhamkan oleh Allah. Artinya semua kata dalam kalimat, semua kalimat dalam tulisan, semua tulisan dalam kitab-kitab dan semua kitab dalam Alkitab adalah pengilhaman dari Allah serta telah dikanonkan oleh gereja melalui providensi Allah melalui Roh Kudus-Nya, termasuk surat 1 Korintus, 2 Korintus dan surat Galatia.
DAFTAR PUSTAKA
Brill,
J.Wesley. Tafsiran Surat Korintus Pertama. Bandung: Kalam Hidup. 1998.
Bruggen,
Jakob Van. Siapa Yang Membuat Alkitab. Surabaya: Momentum.
2002.
Cook,
F. C. The Bible Commentary – Vol IX. Dallas Texas: Dallas
Seminary. 1980.
Crampton,
W. Gary. Verbum Dei. Surabaya: Momentum. 2008.
Enns,
Paul. The Moody Handbook Of Theology. Malang: SAAT. 2003.
Halley,
Henry H. Penuntun kedalam Perjanjian Baru. Surabaya:
YAKIN,.2010.
Horton,
Stanley M., dkk. Alkitab Penuntun. Malang: Gandum
Mas. 2003.
MacGregor,
Jarry. 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Alkitab. Yogyakarta:
ANDI. 2011.
Munthe,
A. Tema-tema Perjanjian Baru. Jakarta : BPK. Gunung Mulia.
2008.
Smith,
Carol. Bible from A to Z. Yogyakarta: Andi. 2009.
Sproul,
R. C. Mengenali Alkitab. Malang: SAAT. 2001.
Tenney,
Merrill C. Survei Perjanjian Baru. Malang: Gandum Mas. 2013.
Tindas,
Arnold Inerrancy. Tanggerang: Harvest International
Theological Seminary. 2007.
Tulluan, Ola. Introduksi
Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Persekutuan Pekabaran
Injil. 1999.
Witty,
Robert G. Alkitab fakta atau fiksi. Surabaya: YAKIN. 2003.
Wiyono, Andreas Untung & Sukardi. Manajemen Gereja – Dasar Teologi dan Implementasi Praktisnya. Bandung: Bina Media Informasi. 2010.

Posting Komentar untuk "Respon Terhadap Keraguan Pengilhaman Surat Korintus dan Galatia"