Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tinjauan Historis dan Teologis Terhadap Gnostisisme


Antara Pengetahuan (Gnosis) VS Pengurbanan Yesus 

Agnostisisme adalah istilah yang diciptakan oleh Thomas Henry Huxley (1825-1895) yang pegertian dasarnya bukan “I do not know” tetapi “One Cannont Know” (tentang eksistensi Allah). Menurut Huxly agama adalah antithesis terhadap kaum Gnostik. Selanjutnya seseorang harus mengakui sejauh manapun pikiran dari rasio namun pada akhirnya suatu titik akan dijumpai dimana manusia tidak akan mengetahui apa-apa. Huxley sendiri mempertanyakan keabsahan dari setiap kepercayaan yang tidak dapat didukung oleh bukti faktual dan tidak dapat diverifikasi. Pada dasarnya teori ini adalah suatu penilaian universal yang tentunya memerlukan pengetahuan yang universal pula untuk menguji apakah pernyataan itu benar.[1]

Awal mula Gnostik terutama dikenal melalui tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang telah berusaha melawan mereka, terutama Irenaeus yang menyebut injil Yudas dalam tulisannya sekitar tahun 180 M.[2] Istilah Gnostisisme berasal dari kata Yunani gnosis yang artinya “pengetahuan”. Kaum ini merupakan “mereka yang berpengetahuan”. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang membawa kepada keselamatan. Beberapa ide dan paham dalam Gnostik adalah berasal dari astrologi dan gaib (sihir).[3] Pengetahuan ini bersifat rahasia atau tertutup (esetoris). Bagi kaum ini, keselamatan didapatkan bukan karena kepercayaan kepada Yesus Kristus yang mati, bangkit dan akan datang kembali. Juga bukan karena melakukan perbuatan baik, melainkan dengan cara mengetahui kebenaran, yaitu kebenaran mengenai Allah yang benar dan kesejatian hidup manusia. Menurut Gnostik dunia kebendaan ini (fisik) bukan merupakan rumah atau tempat tinggal manusia.[4]

Paham fiksi yang diajarkan oleh Gnostik adalah ide bahwa dalam manusia ada percikan api (pneuma yaitu roh) ilahi yang berasal dari dunia ilahi yang dijatuhkan kedalam dunia ini yang dicirikan kepada kepercayaan kepada nasib, kelahiran dan kematian. Percikan api ilahi ini harus dipulihkan kembali oleh mitra ilahi. Dari ide ini beberapa paham dan kepercayaan yang diajarkan oleh gnostisime adalah sebagai berikut:[5]

1.   Kepercayaan bahwa ada satu Allah yang transenden yang baik dan tak dapat dihampiri oleh siapapun karena dia berada jauh dan dalam dunia roh. Tetapi mereka juga percaya bahwa ada satu Allah yang lebih rendah, jahat dan tidak kompeten. Allah yang dimaksud adalah Dia yang menciptakan (dalam kitab Kejadian) dunia ini dan segala isinya.

2.   Kepercayaan bahwa dalam dunia yang diciptakan dan termasuk juga dalam diri manusia ada campuran kejahatan dan kebaikan yang tidak dapat bertemu dan dipersatukan sesungguhnya. Adanya kontras gelap dengan terang, jiwa (roh) dengan materi (daging atau fisik), pengetahuan dan kebodohan dan lain sebagainya.

3.   Kepercayaan kepada doktrin keselamatan bahwa yang diselamatkan hanyalah jiwa dan roh, tetapi badan atau tubuh (kemuliaan), tidak. Sehingga tidak percaya kepada kebangkitan tubuh. Karena bagi mereka, kebangkitan Yesus bukan kebangkitan tubuh (kemuliaan) tetapi hanya kebangkitan roh, jiwa dan roh Yesus diselamatkan dari kehidupan dunia (fisik) yang jahat ini.

4.   Kepecayaan kepada doktrin eskatologi bahwa akhir dari sejarah adalah ketika seseorang mengerti bahwa tujuan akhir dari keberadaannya adalah penebusan jiwa dan pemulihan penciptaan, dimana ada kesempurnaan dan kebaikan ilahi. Untuk memasuki itu seseorang harus mengutamakan kehidupan spiritualnya dan berusaha memisahkan diri sebisa mungkin dari dunia fisik, daging dan materi ini.

5.    Suka mengkultuskan tokoh-tokoh Alkitab yang menurut mereka adalah tokoh Gnostik yang patut dicontoh dan diteladani, seperti Kain, Set dan Yudas Iskariot dan sebagainya.

Mengenai penyaliban Yesus dalam teks Pustaka Nag Hammadi ini terdapat pertentangan dengan Alkitab, ini akan terlihat dalam karya “Ceramah Kedua Seth Agung (The Second Treatise of the Great Seth)”.[6] Berikut pewahyuan Yesus kepada murid-murid Gnostik:


Mereka berfikir, bahwa kematian Saya telah terjadi tetapi mereka keliru dan buta tentang kejadian itu, karena mereka memaku orang mereka pada salib sampai dia mati menurut mereka. Mereka menaruh mahkota duri di atas kepalanya, Saya dari atas tertawa melihat kesalahan dan kebodohan mereka.

Jadi, selain beberapa poin kepercayaan diatas dalam kepercayaan Gnostik, Yesus tidak dipukul dan dihinakan hingga mati pada kayu salib tetapi ada orang lain yang tidak diketahui yang menggantikanNya untuk menanggung penyaliban itu.

Bagi Erenaeus penganut paham Gnostik adalah kelompok Kainit (atau Sethian, kaum Set), karena bagi kelompok ini, orang jahat dalam Alkitab dijadikan sebagai pahlawan. Mereka melakukan ini karena mereka sangat percaya bahwa Allah yang menciptakan dunia ini sangat berbeda dengan Allah yang sesungguhnya. Selain mengagungkan Kain, penganut Gnostik juga mengagungkan Esau dan orang-orang yang ada di Sodom. Injil Yudas memiliki pandangan yang sama dengan Gnostik ini. Hal inilah alasan mendasar bagi para bapa-bapa gereja menolak injil Yudas, injil Petrus dan injil Gnostik lainnya untuk masuk dalam Kanon Perjanjian Baru.[7]

Paham dan ajaran gnostisisme pada abad 20-21 ini masih ada. Ajaran ini terus diperkenalkan dalam literatur-literatur buku bestseller kelas internasional seperti yang Nampak dalam buku Jonathan Black yang berjudul “Sejarah Dunia yang Disembunyikan”, berikut merupakan contoh kutipan langsung dari bukunya: 

Kependetaan Yesus hanya bertahan sampai 3 tahun, dari baptisan hingga Jumat Agung pada 3 April tahun 3 M. Ketika di tempat tengkorak, Golgotha, Dewa Matahari dipaku di kayu salib materi. Kemudian, pada transfiguration, Dewa Matahari mulai mengubah materi itu, hingga membuatnya spiritual. Kematian adalah kejadian yang sesungguhnya, tetapi pada alam materi hanya pada ranah spiritual. [8]


[1] Daniel Lukas Lukito, Pengantar Teologia Kristen 1 (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002) 152-153.

[2] Adolph Harnack, Histori of Dogma, Volume One (New York: Rusel and Rusel, 1985) 222-286.

[3] Kurt Rudolph, Gnosis: The Nature and Historys Gnosticism (Harper & Row Publisher 1987) 54.

[4] J. D. Douglas (peny.), Ensiklopedia Alitab Masa Kini, Jilid 1 A-L, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992) 343-344

[5] Rodolphe Kasser, Marvin Meyer dan Gregor Wurst (eds.), The Gospel of Judas: Injil Yudas, Tambahan Komentar Oleh Bart D. Ehrman, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006) 41-77.

[6] Tobias Churton, The Gnostics (London: George Wiedenfeld & Nicolson Limited, 1990) 27-28.

[7] Craig Evans, Merekayasa Yesus: Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern (Yogyakarta: ANDI Offset, 2008) 304-305.

[8] Jonathan Black, Sejarah Dunia Yang Disembunyikan (Jakarta: PT Pustaka Alvabet, 2017) 297-298.

Posting Komentar untuk "Tinjauan Historis dan Teologis Terhadap Gnostisisme"