Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Firman Allah
PENDAHULUAN
Salah satu tema penting di dalam Perjanjian Baru (PB) adalah tema Firman (Logos). Tema ini juga menjadi salah satu tema yang cukup sering dikhotbahkan. Namun, semakin sering dikhotbahkan tidak menjamin pemahaman yang semakin jelas. Bahkan ada yang semakin bingung. Sejak zaman apologetik agama Kristen awal sampai zaman para pakar teolog abad ke20 istilah Logos dipakai untuk menemukan Kristus dalam agama-agama dan filsafat-fislafat uamt manusia.
Justin Martyr menegaskan bahwa meskipun Plato dan filsuf Yunani lainnya tidak mengenal Yesus, mereka hidup sesuai kata logon- “sesuai dengan Logos”, dan karena itu, dapat dikatakan bahwa mereka adlaah “Kristen”. Karl Rahner, pakar teolog Katolik Roma, juga mengemukakan gagasan Kristus inkognito yang diakui oleh penganut agama lain yang tulus, tatkala mereka mengakui karunia apapun yang merek terima dari alam, sebab menerima karunia berarti menerima Kristusmesikpun tanpa disadari. Orang-orang macam ini dia sebut “orang Kristen anonim” – istilah yang menjadi bahwan perdebatan misiologi seru sampai sekarang.2 Ada dua hal yang menjadi masalah di sini yang relevan dengan penelitian kita. Pertama, kadang-kadang dikatakan bahwa kata logos yang dipakai Yohanes merupakan penggunaan sinkretistik secara sengaja dari kosakata filsafat Yunani, dan bahwa ini merupakan gambaran dari apa yang dikatakan sebagai sinkretisme yang inheren dalam agama Kristen awal. Yohanes (dan lebih jelas lagi, Paulus, dalam Kolose) menolak kecenderungan sinkretistik melalui upaya sengaja membaurkan kosakata yang berlaku ke dalam teolog yang benar-benar kristiani (berdasar PL dan berpusat pada Yesus). Kedua, pembicaraan mengenai logos sebagai Kristus non-inkarnasi dengan mudah bisa menjadi abstrak dan terpisah dari kekhususan yang unik dari penjelmaan itu sendiri. Yesus yang historis menjadi “asa Kristus”, kematian Yesus yang menebus dan yang terjadi satu kali untuk semua dan selamanya menjadi “pola salib”, dsb.
Konsep-konsep yang kedengarannya begitu mengesankan dengan mudah masuk ke dalam kuah sinkretistik dan degnan manis menghindari “skandal keunikan”. Namun, jelaslah bahwa meskipun proses ini menggunakan logos Yohanes sebagai label, secara mendasasr ini tidak sesuai dengan maksud Yohanes yang dinyatakan dalam Prolognya: Yohanes gamblang dan kukuh membawa kita ke klimaks: logos itu telah menjadi manusia. Appaun yang bisa kita lkukan dengan konsep Logos, manusia Yesus tidak bisa disinkretisasikan atau abstrakkan. Kata Firman (Logos) dalam prolog (pendahuluan) Yohanes telah menjadi fokus dari banyak penelitian ilmiah. Tema ini memunculkan banyak literatur maupun debat lebih dari kata atau tema lainnya yang muncul dalam Alkitab Firman (Logos) ini merupakan elemen yang khas dan memiliki tempatnya sendiri dalam PB, bahkan dalam Injil Yohanes sendiri.3 Di dalam Prolog Yohanes, hanya ayat 1 dan 14 yang menyebutkan Firman (Logos) secara spesifik. Namun, baru pada ayat 17 nama Yesus Kristus digunakan untuk pertama kalinya, dan dengan demikian mengidentifikasi Firman (Logos) yang menjadi sarx (manusia) dengan figur historis yang memiliki nama tersebut. Jadi seperti apakah atau siapakah sesungguhnya yang dimaksud dengan Firman (Logos)? Dan apa hubungannya dengan Yesus?
INJIL YOHANES “Logos adalah Allah”
Penting untuk diperhatikan bahwa di dalam PB, hanya empat kali kata Firman (Logos) digunakan untuk mengacu kepada diri Yesus sendiri, dan semuanya terdapat dalam tulisan Yohanes. Itu pun, hanya ditemukan di dalam Prolog Yohanes. Kata yang sama memiliki makna yang berbeda pada pasal-pasal berikutnya. Selain dalam Prolog, dua kali kemunculan lain adalah pada surat Yohanes (1Yoh 1:1) dan Wahyu 19:13. Selanjutnya, pembaca tidak boleh kehilangan fokus dari Prolog Yohanes tersebut, di mana subyek dari keseluruhan ayat adalah Firman (Logos). Apakah tujuan Yohanes menuliskan Injilnya? Ada tiga tahap yang jelas diberikan: (1) Yohanes memilih dan mencatat “tanda-tanda” tertentu (2) Agar para pembacanya boleh percaya kepada Yesus, dan (3) Agar dengan percaya mereka boleh menerima hidup melalui Dia. Jadi kesaksian memimpin kepada iman, dan iman kepada hidup. Sesungguhnya Yohanes melihat Injilnya sebagai kesaksian tentang Kristus. Kesaksian Yohanes membuktikan keAllahan-Nya. Perkataan-Nya menafsirkan karya-Nya, dan karya-Nya mendramatisasi perkataan-Nya.4 Ada tiga pernyataan mendasar dan penting yang diberikan oleh Yohanes pada ayat pembukaan (ayat 1) untuk menjelaskan tentang siapa Firman (Logos) itu sesungguhnya.
Pertama, Yohanes menyatakan keberadaan atau eksistensi Firman yang telah ada sejak kekekalan. Yohanes 1:1 menyatakan keberadaan Logos pra-eksistensi, dan bahwa Ia juga disebut sebagai Allah. Pada ayat 1, penting untuk diperhatikan bahwa subyek dari ayatayat dalam Prolog adalah Logos. Jadi, Logoslah yang sedang digambarkan. Kata “εν αρχη” (pada mulanya) mengacu kepada identitas Logos sekaligus memperlihatkan keberadaan-Nya yang kekal (bnd. Kej.1:1). Dalam kitab Kejadian, penciptaan dunia terjadi bersamaan dengan atau menandai “mulanya”. Sedangkan dalam Yohanes, keberadaan Firman berada sebelum “mulanya”.5 Karena itu, kita perlu mengingat bahwa kata “mulanya” pada Kejadian memiliki makna yang berbeda dengan Prolog Yohanes. Di dalam Prolog Yohanes, kata “mulanya” tidak bermakna penciptaan, tetapi kekekalan sebelum ada segala ciptaan (ay. 3).6 Dengan perkataan lain, dalam kalimat “Pada mulanya adalah Firman”, Yohanes menyatakan secara tidak langsung keberadaan Firman yang sudah bereksistensi sebelum dunia diciptakan. Pada bagian tersebut ditegaskan bahwa “Firman ada atau sudah bereksistensi”, walau tidak ada penjelasan tentang bagaimana Firman tersebut berada. Jadi, yang penting bukanlah asalmuasal Firman, tetapi apa yang dilakukan oleh Firman. Kedua, Yohanes menegaskan hubungan Logos dengan Allah. Ayat 1b melanjutkan: “... dan Firman itu bersama-sama dengan Allah (και ο λογος ην προς τον θεον). Kata “προς” berarti “bersama-sama dengan” berasal dari kata (face to face) yang dalam pikiran Yunani berarti satu kesatuan.
Menunjuk bahwa Firman itu bukan saja ada terus menerus di masa lampau yang tidak terbatas atau kekal. Kata ini juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah. Artinya, keseluruhan wahyu Allah itu ialah bahwa Firman yang adalah Kristus itu kekal adanya, karena Ialah Allah itu sendiri. Dalam Injil, kata “pros” jauh lebih banyak digunakan dalam kaitannya dengan relasi antar pribadi dibandingkan dengan makna lainnya. Dalam Injil Yohanes, hal yang sama hampir selalu digunakan.8 Dengan kata lain, kata “pros” tersebut memberikan gambaran tentang kedekatan Logos dengan Allah dan persekutuan yang harmonis antara Logos dan Allah. Ketiga, Yohanes menegaskan bahwa Logos itu sendiri adalah Allah. Ayat 1c: “... dan Firman itu adalah Allah” (και θεος ην ο λογος ). Dalam kalimat tersebut, kata “Theos” tidak memiliki kata sandang atau artikel (“the God” tetapi hanya “God”). Kata sandang ditemukan untuk kata “Logos” (ho Logos). Karena itu, para ahli memberikan makna yang berbeda-beda terhadap frasa tersebut. Sebagai contoh, ada yang memahami bahwa kata Allah tanpa kata sandang (God) menunjukkan Allah yang lebih kecil (lesser God) dibandingkan Allah dengan kata sandang (the God).
Namun pandangan tersebut telah ditolak dengan tegas oleh BeasleyMurray, yang berpendapat bahwa di sini kata itu tidak bisa dimengerti sebagai “suatu ilah”, seolah-olah Logos adalah ilah yang kurang penting dibandingkan dengan Allah yang Mahakuasa.9 Demikian juga, penulis menolak pandangan bahwa kata tersebut menunjukkan bahwa Logos hanya melaksanakan fungsi ilahi, tetapi tanpa keberadaan yang ilahi. Jadi bagaimana kita memahami absennya kata sandang pada kata Allah tersebut di atas? C.K. Barrett dengan tepat mengamati bahwa ketidakhadiran kata sandang mengindikasikan bahwa Logos adalah Allah, tetapi bukan satu-satunya pribadi yang demikian.10 Sekiranya Yohanes menulis kata “Allah” dengan kata sandang, itu berarti bahwa “the Logos” identik dengan “the God”. Implikasinya adalah bahwa tidak ada pribadi Allah lain di luar pribadi Yesus.11
“Kristus, Firman yang Menjadi Manusia”
Melalui penjelasan-penjelasan dari ayat 1 tersebut maka jelas bahwa Firman (Logos) itu adalah pribadi Allah sendiri. Lalu apa kaitannya dengan Yesus? Sedangkan Yesus sendiri baru disebutkan pada ayat 17? Untuk dapat memahami hal ini maka kita perlu memahami makna “inkarnasi” yang terdapat pada ayat 14. Pada ayat 14, narasi tentang Logos pada prolog tiba pada klimaks. Ini tidak berarti bahwa tiga belas ayat sebelumnya belum mengacu pada suatu pribadi. Pada ayat ini Yohanes melakukannya secara langsung.12 Jadi, Logos akhirnya mencapai keberadaan manusia. Menurut Chris Marantika dalam bukunya “Kristologi”, yang dimaksud dengan inkarnasi dalam Yohanes 1:14 adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang mengambil bentuk kemanusiaan, atau dengan kata lain Anak Allah menjelma dan menjadi daging.13 Kata “kai” pada ayat 14 mengindikasikan kepada Logos suatu tahap dalam perjalanan sejarah. Kata “kai” ini benar-benar menandai suatu kemajuan yang memberi konfirmasi. Maksudnya, Yohanes ingin menegaskan bahwa sungguh benar, Logos telah menjadi manusia (daging – sarx). Pada ayat 1, Yohanes memperkenalkan Logos sebagai “Theos” Allah dan di dalam Dia segala sesuatu diciptakan (ay.3).
Sedangkan pada ayat 14, Yohanes menyatakan bahwa Logos menjadi daging. Dengan demikian, keberadaan kekal Logos pada ayat pembuka dikontraskan dengan keberadaan Logos yang fana pada bagian akhir Prolog. Pada konstruksi prolog ini, sebelumnya Yohanes juga telah mengantisipasi kedatangan istimewa dari Logos satu kali dalam dunia (ayat 9), namun kini dalam ayat 14 ini Yohanes menulis secara eksplisit realitasnya yang sepenuh. Ada dua hal mendasar dan penting ketika meneliti ayat ini. Pertama, pengajaran tentang Logos yang sudah ada sebelum penciptaan. Pada ayat 1, kita telah bergerak melampaui atau menolak setiap pemikiran atau pendapat bahwa Logos diciptakan, bahkan sekalipun dianggap sebagai makhluk ciptaan pertama. Kedua, kita diajar bahwa Logos benar-benar menjadi manusia, tidak sekedar “masuk”, “muncul” ataupun “mengenakan” pada diri-Nya unsur daging. Jadi, penting untuk diamati bahwa Injil Yohanes menegaskan bahwa Yesus sekaligus Logos yang kekal telah ada sebelum penciptaan (ay.1) dan Dia juga Anak yang berinkarnasi (ay.14).
Firman ditegaskan menjadi daging, maksudnya manusia sejati. Tetapi perhatikanlah, dengan mengatakan peristiwa inkarnasi tersebut, penulis Injil tidak memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk salah paham terhadap ayat ini dengan mengkontradiksikan pernyataannya yang sudah ditegaskan sebelumnya pada ayat permulaan bahwa Logos tersebut adalah Allah. Karena itu, Yohanes segera dan secara berhati-hati memilih. Terminologi untuk menunjukkan bahwa Logos tidak sekedar menjadi manusia. Ada dua kata penting yang digunakan, yaitu kata “skenoo” (diam, berkemah) dan “doxa” (kemuliaan) dimana keduanya seringkali digunakan untuk menggambarkan kehadiran Allah dalam Perjanjian Lama seperti yang dikatakan oleh Murray bahwa, “kata “skenoo” mengingatkan pembaca kepada penyataan kemuliaan Allah dalam kitab Keluaran”14 Sedangkan Carson berpendapat bahwa kata “doxa” digunakan “untuk menunjukkan secara jelas manifestasi pengungkapan diri Allah secara kasat mata dalam suatu Theofani (Kel.33:22; Ul.5:22).15 Jadi, walaupun Logos menjadi manusia, namun penulis Injil ingin menegaskan bahwa mereka telah menyaksikan kemuliaan Allah melalui kemanusiaan Yesus.
Dengan demikian , kita bisa menemukan bahwa Yohanes 1:14 memberikan suatu ekspresi Logos yang sangat kaya. Kita bisa menemukan setidaknya tiga pernyataan penting tentang Logos, yaitu: Pertama, Logos menjadi manusia. Kedua, Logos berdiam atau berkemah di tengah kita. Dan ketiga, umat manusia menyaksikan kemuliaan Logos, yaitu kemuliaan Anak Tunggal Allah, penuh kasih karunia dan kebenaran. Jadi, pernyataan Allah yang tertinggi terletak di dalam diri Kristus yang menjadi titik dan pusat segala sesuatu. Memahami hal ini sama artinya mengakui Kristus sebagai “bagian” dari segala apa yang ada dalam diri Allah. Memahami dan memandang Kristus sama dengan memandang Allah karena Kristus adalah puncak penyataan Allah. Kesimpulan dari semua penjelasan ini adalah pengakuan Injil Yohanes bahwa Kristus adalah Allah.
Bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah, itulah juga yang dimaksudkan Yohanes, bila ia menyebut-Nya “Firman” (Yunaninya “Logos”) yang telah menjadi manusia (Yoh.1:14), artinya Firman yang telah menjadi manusia dalam manusia Yesus orang Nazaret itu. Itulah sebabnya Yesus ini adalah lebih daripada nabi” (Mat.11:9) dan sekalipun ia disebut “Elia yang akan datang” (Mat.11:14), toh ia lebih rendah daripada Yesus Kristus (Yoh.1:27). Sebab seorang nabi, juga Yohanes Pembaptis, menyampaikan kepada manusia firman yang diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi Yesus Kristus adalah Firman Allah, Firman yang utuh: dalam pribadi serta pekerjaan Yesus, segala sesuatu yang perlu kita ketahui, telah difirmankan Allah kepada kita: segala sesuatu yang Allah hendak katakan kepada kita, telah. disimpulkan dalam nama Yesus Kristus. Firman itu telah ada pada mulanya; Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah (Yoh.1:1). Sebab itu Ia tidak disebut “nabi Isa”, melainkan Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah juga Tomas telah mengaku Dia: ya Tuhanku dan Allahku! (Yoh.20:28).16 Logos adalah Allah yang telah ada sejak semula; Logos adalah Pencipta dan sumber segala sesuatu, Logos adalah pribadi yang ilahi; Logos adalah Allah yang berinkarnasi menjadi Manusia dan tinggal di dunia; Logos adalah kemuliaan Allah; Logos adalah Penyataan Allah yang tertinggi; Logos adalah bagian Tri Tunggal yang disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan yang terakhir; Logos adalah Allah dan Manusia sejati.

Posting Komentar untuk "Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Firman Allah"