Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Allah Sejati
Perkataan dewa atau zat yang disembah oleh manusia dalam bahasa Arab disebut ilah. Beberapa teori mencoba menganalisis etimologi dari kata "Allah". Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh (الله) berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ʾilāh (dewa) sehingga berarti "Sang Dewa". Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Aram Alāhā. Cendekiawan muslim kadang-kadang menerjemahkan Allah menjadi "God" dalam bahasa Inggris. Namun, sebagian yang lain mengatakan bahwa Allah tidak untuk diterjemahkan, dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jamak dan gender (berbeda dengan Godyang memiliki bentuk jamak Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa Inggris). Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan Al-Qur'an. Kata Allah ini lebih banyak dikenal sebagai sebutan tuhan oleh penganut agama Islam. Kata ini sendiri di kalangan para penutur bahasa Arab, adalah kata yang umum untuk menyebut tuhan. Terlepas dari agama mereka, termasuk penganut Yahudi dan Kristen Arab. Konsekuensinya, kata ini digunakan dalam terjemahan kitab suci agama Kristen dan Yahudi yang berbahasa Arab, sebagaimana pula terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dan Turki.
Sejarah sebutan Allah
Kata Allah sudah digunakan dalam bahasa Arab untuk merujuk kepada zat sang Maha Pencipta. Jauh sebelumnya di Mesopotamia di mana rumpun Semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El atau Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon Babilonia namun bagi sebagian besar keturunan Sem (nama rumpun Semitik berasal) nama itu dimengerti sebagai Tuhan Yang Mahaesa Pencipta Langit dan Bumi. Dalam batu bersurat Prasasti Terengganu pada tahun 1326 M atau 1386 M yaitu peninggalan tertua umat Islam di tanah Melayu yang dipercaya sebagai awal masuknya agama Islam di tanah Melayu, kata Allah disebut sebagai Dewata Mulia Raya. Hal itu ditengarai bahwa kata "Dewata Mulia Raya" lebih bisa diterima di kalangan masyarakat Melayu waktu itu sebagai kata yang mengacu kepada zat yang Mahakuasa pencipta langit dan bumi.
Allah dalam Islam
Allah adalah satu-satunya Tuhan (tanpa sekutu), Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluk, Maha Kuasa, Maha Penyayang, Maha Pemurah dan Tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub, Musa, Dawud, Sulaiman, Isa, dan Muhammad. Menurut F.E. Peters, Alquran menyatakan: "...dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka." Dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." — Al-'Ankabut 29:46
Maka Muslim mempercayai dan sejarawan menyetujui, bahwa Muhammad dan pengikutnya menyembah Tuhan yang sama dengan yang disembah Yahudi. Allah-nya Al-Qur'an adalah Tuhan Sang Pencipta yang ada dalam kisah Ibrahim. Peters mengatakan bahwa Al-Qur'an menggambarkan Allah lebih berkuasa dan jauh dibandingkan dengan Yahweh, dan juga merupakan Tuhan universal, tidak seperti Yahweh yang lebih dekat dengan bangsa Israel."
Nama-nama Allah
Berdasarkan keterangan Allaahu ismun li dzaatil wajibul wujuud artinya Allah itu adalah sebuah nama kepada yang pasti ada keberadaannya (eksistensi). Jadi jelaslah Allah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib untuk dilayani dengan sebenar-benarnya, karena berdasarkan keterangan: Allaahu ismun li dzaati ma'budi bi haqq artinya: Allaah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib dilayani (ma'budi) dengan sebenar-benarnya pelayanan (ibadah). Dalam tradisi Islam disebutkan ada 99 nama untuk Allah (Asma'ul Husna), diambil dari nama-nama yang digunakan Al-Qur'an untuk merujuk kepada Allah. Di antara nama-nama tersebut adalah : ·Al Malikul Mulk (Raja segala Raja, Maha Raja). ·Al Hayy (Maha Hidup). ·Al Muhyii (Maha Memberi Kehidupan)
Allah dalam Kristen
Dalam banyak agama, Allah yang Mahatinggi diberi gelar dan sebutan Bapa. Dalam berbagai bentuk politeisme, tuhan yang tertinggi dipahami sebagai "bapa dari semua tuhan dan manusia". Dalam agama Israel dan Yudaisme modern, YHWH disebut Bapa karena Ia adalah Pencipta, Pemberi hukum, dan Pelindung. Demikian pula di dalam Kekristenan, Allah disebut Bapa dengan alasan yang sama, tetapi terutama sekali karena misteri dari hubungan Bapa-Anak yang diungkapkan oleh Yesus Kristus. Pada umumnya, nama Bapa yang diberikan kepada Tuhan menunjukkan bahwa Ia adalah asal usul dari segala sesuatu yang tunduk kepada-Nya. Dialah Kewibawaan yang tertinggi dan yang Mahakuasa, Patriarkh, dan Pelindung.
Katekismus Singkat Westminster mendefinisikan Allah sebagai roh, yang tidak terbatas, kekal, dan tidak berubah, dalam pengetahuan-Nya, dalam kebijaksanaan-Nya, dalam kekuasaan-Nya, dalam kekudusan-Nya, dalam keadilan-Nya, dalam kebaikan-Nya, dan dalam kebenaran-Nya. Dalam konsep terdapat 5 eksistensi mutlak Allah: Allah itu kekal, tidak berawal dan tidak berakhir (Keluaran 3:14, Ibrani 7:3, Wahyu 1:8, Wahyu 22:13). Allah itu esa (Ulangan 6:4, Yesaya 45:5,21, ;1 Timotius 1:17). Allah itu tidak berubah-ubah (Maleakhi 3:6, Yakobus 1:17). Allah itu tidak ada persamaannya (Mazmur 86:8, Yesaya 40:25, II Samuel 7:22). Allah itu mahakuasa, khalik (pencipta) langit dan bumi serta segala isinya yang kelihatan maupun tidak (Kejadian 1:1-31).
Tiga kodrat Allah dalam iman Kristiani
Menurut iman kristiani, Allah sebagai oknum/pribadi memiliki dalam diri-Nya 3 (tiga); kodrat kuasa-Nya atau kodrat Ketuhanan-Nya, yaitu: Mencipta: Kuasa Mencipta ini dalam Perjanjian Baru disebut oleh Yesus dengan predikat BAPA(Matius 11:25, lukas 10:21). Berfirman: Kuasa berfirman (dan bertindak) ini dalam Perjanjian baru disebut oleh Yesus dengan predikat ANAK (Yohanes 1:14, Yohanes 1:18, Matius 16:16). Roh Allah: Roh Allah yang berkuasa memelihara, mengayomi, membimbing dan menolong ini dalam Perjanjian Baru oleh Yesus disebut dengan Roh Kudus (Yohanes 14:16-17, Yohanes 14:26, 15:26).
Penggunaan kata Allah
Umat Kristen menggunakan kata Tuhan untuk menerjemahkan "YHWH" yaitu nama pribadi Allah dalam Perjanjian Lama dan Alkitab Ibrani, sedangkan semua terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu dan Indonesia sejak abad ke-17 menggunakan kata "Allah" sebagai terjemahan bahasa Ibrani "El" atau "Elohim" dan bahasa Yunani "Theos". Jadi, Allah dalam Kekristenan sedikit berbeda dengan Allah dalam pengertian ajaran Islam. Secara pengucapan juga ada perbedaan dengan Allah dalam tradisi Islam yang diucapkan dengan logat bahasa Arab. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Ilāh, sedangkan kata "Allah" didapat dari penyingkatan dari kata sandang al- dan ʾilāh' (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh'), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari bahasa Aram Alāhā. Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta, sejak abad-abad pertama Masehi.
Pandang Tokoh Kristen bahwa Yesus adalah Allah
Menurut William Childs Robinson di dalam Pejanjian Lama kata Tuhan dipakai bagi Allah dengan pengertian penguasa Yang Maha Tinggi. Dia berkata: “Sebagaimana diterapkan kepada Allah dalam Perjanjian lama, Tuhan mengandung pengertian penggunaan secara aktif kuasaNya atas dunia dan manusia, sebagai Pencipta dan Penguasa, Pemberi hidup dan mati. Jadi Tuhan adalah suatu istilah yang menyatakan bukan sifat metafisik dari keilahian melainkan kuasa tertinggi dari Yang Maha Tinggi” Dikala Yesus lahir dikatakan bahwa kemuliaan Tuhan bersinar meliputi gembala-gembala (Luk 2:9). Waktu Yesus mengajar Ia membaca dari buku Yesaya mengatakan bahwa “Roh Tuhan ada padaKu.” Yang dimaksud dengan Tuhan dalam kedua ayat di atas ialah Allah Bapa. istilah yang sama digunakan juga bagi Yesus Kristus. bagi orang Kristen yang mula-mula Yesus adalah Tuhan dan juga Allah adanya.
Menurut teolog Sir William Ramsay Yesus sudah menyatakan diriya sebagai satu-satunya jalan kepada Allah, bahwa kesaksian Alkitab dan para rasul itu dapat dipercaya penuh, dan bahwa ada cukup banyak bukti hingga bisa percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat. Ketika Yesus mengusir roh-roh jahat dari orang-orang itu pada satu sisi membuktikan bahwa mereka tunduk atau takhluk kepada kuasa Kerajaan Allah (Mark 3:11) Mereka tidak bisa mempertahankan posisinya sebagai penguasa kegelapan ketika berhadapan dengan Yesus. Maka Ia keluar dengan menggocangkan-goncangkan orang itu dan dengan teriakan yang keras. Di sini identitasNya sebagai Yang Kudus dari Allah (Mrk 1:24). Keallahan Tuhan Yesus menunjukkan kemampuanNya untuk melakukan mujizat-mujizat, Ia menyembuhkan melalui “kendali jarak jauh,” hanya dengan mengatakan sebuah kata dan orang dilokasi berbeda menjadi sembuh (Matius 8:5-13). Yesus adalah Tuhan orang yang sakit dan mati, Ia menyentuh mata yang tidak bisa melihat dan telinga yang tidak bisa mendengar. Yesus melaksanakan fungsi-fungsi keilahianNya sebagai Allah.
Sebutan Allah dalam Perjanjian Lama
Kata Allah dan Tuhan atau TUHAN (di Perjanjian Lama pada umumnya) untuk menunjuk kepada pribadi Pencipta langit dan bumi (Kejadian 1:1) yang sekarang kita berada, dan juga langit dan bumi yang baru (akan datang) (Yesaya 65:17 & 66:21-22 , Wahyu 21:1-5). Contoh ayat yang membedakan antara Allah dan TUHAN: Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun. (Keluaran 3:14)
Kata “Aku adalah” ini dibukakan oleh Allah di dalam kitab Yesaya sebagai Realitas yang kekal dan absolut, - masa lalu dan masa yang depan. Inilah saksi-saksi-Ku, demikianlah firman TUHAN, ‘.. supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku [adalah] Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi” (Yesaya 43:10). Menjadi “Aku adalah (I am)” berarti secara absolut menjadi yang pertama dan yang terakhir. Tidak ada sebelum “sebelum” dan tidak ada “sesudah.” Hanya Aku adalah. Allah menyatakan hal ini secara gambang di Yesaya 44:6, Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu (=pertama) dan Akulah yang terkemudian (=terakhir); tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” Dan juga Yesaya 48:12 “Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu (=pertama), Akulah juga yang terkemudian (=terakhir)”
Semua Rasul Kristus mengutip Kristus di akhir Kitab Wahyu: Sesungguhnya Aku datang segera … Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir… Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat.” (Why 22:12-13, 16) Disini Kristuslah yang berfirman, bukan Allah Bapa. Dua pribadi tidak mungkin menjadi “Alpa dan Omega” kecuali keduanya adalah satu. Dua pribadi tidak dapat secara absolut menjadi yang “pertama dan terakhir” kecuali keduanya adalah satu. Kristus (Yang menyebut diriNya Yesus) mengklaim bagi diriNya sendiri kehormatan dan kemuliaan yang sama dnegna yang adalah milik Allah yang Mahakuasa (Why :17-18, 2:8).
Kristus bahkan mengambil bagi diriNya nama khas Allah yang mulia, “Aku adalah” Yesus berkata kepada mereka, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58) Yesus berkata kepada muridNya mendekati akhir hidupNya, “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia” [Yohanes 13:19, band Yoh 8:24]. Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat seseorang katakan mengenai diriNya sendiri.
Eksistensi Yesus Kristus
Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah.” Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia.” Ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Kisah Rasul 20:28 memberitahu kita, “… untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Kisah Rasul 20:28). Siapa yang telah membeli gereja dengan darahNya sendiri? Yesus Kristus. Kisah Rasul 20:28 mengatakan bahwa Allah telah membeli gereja dengan darahNya sendiri. Karena itu Yesus adalah Allah! Alasan paling utama Yesus haruslah Allah adalah bahwa jikalau Dia bukan Allah, kematianNya tidak cukup untuk membayar hukuman dosa dunia (1 Yohanes 2:2). Hanya Allah yang sanggup membayar hukuman yang begitu besar. Hanya Allah yang dapat menanggung dosa seisi dunia (2 Korintus 5:21), mati dan dibangkitkan – membuktikan kemenanganNya atas dosa dan kematian.
Kata-kata Yesus dalam Yohanes 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu." Reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan Yesus, "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah" (Yohanes 10:33). Orang-orang Yahudi memahami pernyataan Yesus sebagai pengakuan bahwa Dia adalah Allah. Dalam ayat-ayat berikutnya, Yesus tidak pernah mengoreksi apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan, “Saya tidak mengklaim sebagai Allah.” Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berkata bahwa Dia adalah Allah dengan mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30). Yohanes 8:58 adalah contoh lainnya. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Kembali, sebagai responnya, orang-orang Yahudi mengambil batu dan berusaha merajam Yesus (Yohanes 8:59).
Yesus Kristus, Sang Kristus, sang Firman,” “diperanakkan,” bukan diciptakan – dan bukan pada suatu waktu tertentu, melainkan secara kekal. Dua pribadi muncul sebagai satu Allah, bukan dua Allah – Sang “Anak” diperanakkan dari “Bapa,” satu ke-Allahan dalam esensi. Ini adalah misteri yang besar, seperti yang bisa diperkirakan. Tetapi inilah yang telah Allah nyatakan kepada diriNya. Istilah “Alfa dan Omega” (sebab awal dan tujuan akhir segala sesuatu), yang mengacu kepada Allah sendiri, juga dikatakan oleh Kristus tentang siapa Diri-Nya (Why 1:8, 21:6; 22:13). Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada terlebih dahulu (Yoh 8:58), dan justru karena jawaban ini, yang secara jelas menyatakan bahwa Ia adalah Allah, maka Yesus dijatuhi hukuman mati atas tuduhan menghujat Allah.
Rasul Paulus juga mengetahui kemuliaan unik Kristus. Ia dalam keadaanNya sebagai manusia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. (Rom 9:5). Akan tetapi, “walaupun dalam rupa Allah, Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba” (Flp 2:6-7). Karena itu “dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan (Kol 2:9; 1:19). Fakta bahwa Tuhan Yesus yang bangkit tidak mengatakan apapun yang menyanggah ucapan Tomas, menyatakan bahwa Ia membenarkan perkataan Tomas, dan bahkan meneguhkan kepercayaan Tomas dengan berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:29). ‘Percaya’, yang dimaksud di sini adalah percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah (Yoh 20:28), dan karena itu Ia dapat bangkit dari kematian, di mana kebangkitan-Nya merupakan kemenangan-Nya atas dosa dan maut.
Rasul Petrus juga menyebut Yesus sebagai sumber keselamatan kekal, dan dengan demikian menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, sebab hanya Allah-lah yang dapat memberikan keselamatan kekal kepada manusia (lih. Kis 4:12, 10:42-43) Rasul Paulus juga mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah: “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia [Yesus Sang Mesias] adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.” (Rom 9:5) “Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus….” (Tit 2:12-13)
Sedangkan, di banyak ayat yang lain Rasul Paulus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, yang walaupun berbeda Pribadi dengan Allah Bapa, namun satu dan setara dengan Dia: Yesus Kristus disebut sebagai Pencipta, maka Yesus adalah Allah, sebab hanya Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu: “Ia [Kristus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, … karena di dalam Dia [Kristus]-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, segala sesuatu diciptakan oleh Dia [Kristus] dan untuk Dia [Kristus]. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia [Kristus].” (Kol 1:15-17) “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia [Kristus]” (Kol 1:19). “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1Kor 8:6) “Ia [Kristus] adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…” (Ibr 1:3). Hanya Allah sajalah yang menopang segala ciptaan-Nya dengan firman-Nya.
Pekerjaan Yesus Kristus
Tuhan Yesus mengatakan, “Bapa-Ku bekerja sampai hari ini. Dan Aku juga. ” Tuhan Yesus juga mengerjakan pekerjaan Bapa. Ada tiga pekerjaan yang paling besar: Karya Penciptaan – creation. Karya penebusan – Redemption. Karya mewahyukan kebenaran – Relelation.
Allah yang sejati adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu ex nihillo, dari tidak ada menjadi ada. Ini adalah karya Allah yang terbesar yang pertama. Karya Allah yang kedua adalah karya penebusan. Ketika ciptaanNa sudah salah, ketika ciptaanNya sudah berdosa; manusia berada dalam memberontak itu bukannya marah. Tetapi ia rela mengorbankan diriNya menebus. Tuhan begitu mencintai kita, yang menghina, mengejek, menolak Dia, mengumpat dan membuang Dia. Tetapi paku menembus dagingNya dan darahNya mengalir, pada saat itu juga darahNya mengampuni semua orang. Penebusan Kristus dikerjakan sebagai pekerjaanNya yang kedua. Pekerjaan ketiga mewahyukan kebenaran. Hanya Allah sendiri yang mampu mewahyukan diriNya kepada manusia, Yesus sebagai Allah mengerjakan ketiga ini. Alkitab sudah cukup jelas memberitahukan. Ini adalah tindakan penciptaan karena Allah yang menciptakan manusia membuat manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kepadanya, lalu manusia menjadi makhluk yang hidup. Tindakan penciptaan ada pada karya Kristus. Kristus melakukan tindakan mencipta. Alkitab mengatakan tidak ada sesuatu yang dicipta tanpa melalui Dia, semua dicipta melalui Dia, melalui tindakan penciptaan Kristus. Kristus adalah Allah karena Ia menciptakan.
Tuhan Yesus menebus. Hanya Allah yang dapat menebus. Tetapi Kristus di dalam dunia, meskipun Ia banyak menyembuhkan orang, banyak merawat orang yang perlu, membuat banyak mujizat untuk menunjukkan bahwa Dia Allah, tetapi dalam penebusan Ia mengatakan kalimat yang penting. Dua kali Tuhan Yesus mengatakan: “Inilah darahNya, yang dialirkan untuk menjadi tebusan bagi orang banyak. Tuhan Yesus akan dibunuh di kayu salib untuk menebus, untuk membeli kembali manusia yang sudah dikuasai Setan.
Yesus Kristus dalam Injil Sinoptik
Yesus menerima penyembahan (Matius 2:11; 14:33; 28:9, 17; Lukas 24:52; band Yohanes 9:38). Dia tidak pernah menegur orang-orang yang menyembah Dia. Kalau Yesus bukan Allah, Dia pasti akan melarang orang-orang menyembah Dia, sama seperti malaikat dalam kitab Wahyu. Masih banyak lagi ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai keilahian Yesus. Ketika Rasul Tomas melihat Yesus yang telah bangkit dan menampakkan diri-Nya, ia berkata, “Ya, Tuhanku (Kurios/ Lord) dan Allahku(Theos/ God)” – (Yoh 20:28).
Kitab Mazmur dalam Perjanjian Lama juga menyebut Allah dengan sebutan ‘Elohim’/ God, dan ‘Adonai’/ Lord, “Terjagalah dan bangunlah membela hakku, membela perkaraku, ya Allah [Elohim]-ku dan Tuhan [Adonai]-ku!” (Mzm 35:23). “Sebab kepada-Mu, ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan [Adonai], Allahku [Elohim].” (Mzm 38:15) “Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! …. Ya TUHAN [YHWH/ Yehovah], Tuhan [Adonai] kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! (Mzm 8:1,9)
Isu-isu tentang Yesus sebagai Allah dalam Injil Sinoptik
Jika Yesus adalah Tuhan. mengapa Dia berdoa, Eli, Eli, lama sabachthani? (Mat 27:46). Eli-Eli Sabaktani. Habakuk menyatakan Allah, 'matamu terlalu murni untuk setuju dengan kejahatan, dan engkau tidak Dapatkah terlihat pada kejahatan dengan kebaikan' (Hab. 1:13). Tuhan kemudian membalik badannya ketika Yesus di kayu Salib karena dia tidak bisa melihat dosa, bahkan- atau mungkin terutama-di anaknya sendiri. Sama seperti Yesus keras menyesalkan, Allah Bapa telah memang meninggalkan-Nya. Yesus tidak mati sebagai seorang martir untuk orang benar menyebabkan atau hanya sebagai orang yang tidak bersalah keliru dituduh dan dikutuk. Juga, seperti beberapa menyarankan, apakah dia mati sebagai isyarat heroik terhadap manusia kebengisan manusia. Bapa bisa tampak positif pada kematian tersebut tanpa pamrih sebagai orang-orang. Tetapi karena Yesus mati sebagai kurban pengganti bagi dosa-dosa dunia, Bapa Surgawi yang benar harus menghakimi dia sepenuhnya menurut dosa.
Ditinggalkan Bapa-anak karena anak menanggung sendiri 'pelanggaran kita,... kesalahan kita' (Yesaya 53: 5). Yesus 'diserahkan karena pelanggaran kita' (Roma 4:25) dan 'mati untuk dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci' (1 Kor 15:3). Dia 'yang tidak mengenal dosa [menjadi] dosa atas nama kami' (2 Kor. 5:21) dan menjadi 'kutukan bagi kita' (Gal 3:13). 'Dia sendiri menanggung dosa kita dalam tubuhnya di kayu salib' (1 Pet. 2:24), 'mati untuk dosa sekali untuk semua, hanya untuk yang tidak benar' (1 Pet. 3:18), dan menjadi 'pendamaian bagi dosa kita' (1 Yohanes 4:10). Yesus Kristus tidak hanya menanggung dosa manusia tetapi benar-benar menjadi dosa, agar orang-orang yang percaya kepadaNya bisa diselamatkan dari hukuman dosa mereka. Yesus datang untuk mengajarkan pria sempurna tentang Tuhan dan menjadi contoh sempurna dari kekudusan dan kebenaran Tuhan. Tetapi, seperti yang ia sendiri menyatakan, alasan tertinggi untuk datang ke bumi adalah bukan untuk mengajar atau untuk menjadi contoh tetapi 'untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang' (Matius 20:28).
Ketika Kristus ditinggalkan oleh Bapa, perpisahan mereka adalah salah satu alam, esensi, atau zat. Kristus tidak dalam pengertian atau gelar lenyap sebagai Allah atau sebagai anggota Tritunggal. Dia tidak berhenti menjadi putra, lebih dari seorang anak yang dosa berat terhadap ayahnya manusia berhenti menjadi anaknya. Tetapi, Yesus untuk sementara berhenti untuk mengetahui keintiman persekutuan dengan Bapa-Nya, seperti seorang anak tidak taat berhenti sejenak untuk memiliki persekutuan yang intim, normal dan penuh kasih dengan ayahnya manusia. Oleh inkarnasi itu sendiri sudah ada pemisahan parsial. Karena Yesus telah berpisah dari kemuliaan ilahi-Nya dan komunikasi tatap muka dengan Bapa, menolak untuk mempertahankan mereka ilahi hak untuk kepentingannya (Filpi 2:6), dia berdoa kepada Bapa di hadapan murid-muridnya, 'memuliakan Engkau saya bersama dengan dirimu sendiri, Bapa, dengan kemuliaan yang Kumiliki sebelum dunia' (Yohanes 17:5). Di kayu salib pemisahan nya dari Bapa menjadi tak terkira lebih mendalam daripada inkarnasi merendahkan selama tiga puluh tiga tahun dari kehidupan duniawi.
Seperti telah disebutkan, misteri perpisahan itu terlalu mendalam bahkan bagi orang percaya yang paling matang untuk memahami. Tetapi Tuhan telah menyatakan kebenaran dasar itu bagi kita untuk menerima dan memahami batas kemampuan kami di bawah penerangan Roh-Nya. Dan tempat dalam Alkitab dapat kita Lihatlah realitas kematian korban Yesus dan kesedihan pemisahan nya dari Bapa-Nya lebih jelas dan penetratingly daripada dalam penderitaan-Nya di kayu Salib karena dosa. Di tengah-tengah rela menjadi tenggelam dalam dosa kita dan dosa-dosa semua manusia sepanjang masa, dia writhed dalam bukan dari luka di punggung atau duri yang masih menembus kepalanya atau kuku yang menahannya ke kayu salib tetapi dari terbandingkan menyakitkan hilangnya persekutuan dengan Bapa-Nya yang menjadi dosa bagi kita dibawa.
Markus 15:34 Eloi, Eloi lama sabakhtani merupakan salinan dari bahasa Aram, bahasa asli yang dipakai oleh Kristus. Markus, seperti biasanya, mengartikan ungkapan Aram itu bagi sidang pembacanya yang orang Romawi. Seruan karena ditinggalkan ini memberikan suatu pandangan sekilas tentang penderitaan batin Kristus di kayu salib. Siksaan terbesar yang dideritanya tidak bersifat jasmaniah, penderitaan-Nya adalah penderitaan jiwa pada saat Dia menanggung dosa dunia. Yang dimaksudkan dengan Allah meninggalkan Kristus ialah bahwa Bapa menarik diri dari persekutuan dengan Anak-Nya. Dia tidak lagi menunjukkan kasih-Nya terhadap Anak-Nya. Kini Kristus malah menjadi sasaran ketidaksenangan Allah, karena Dia adalah Pengganti semua orang berdosa. Kristus "dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (2 Kor 5:21), dan Allah yang kudus tidak tidak mungkin melihat dosa dengan sikap senang. Mazmur 22 yang berbunyi, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku” (Mrk 15:34-35; Mat 27:46-47). Teksnya sendiri dikutip sebagian dalam bahasa Ibrani dan sebagian dalam Aram: Eli, Eli, lama sabachthani?”- yang tidak umum, dan di dalam dirinya sendiri merupakan alasan yang kokok untuk menyatakan tradisi ini sebagai tradisi yang sangat kokoh untuk menyatakan tradisi ini sebagai tradisi yang sangat kuno. Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa pada akhirnya Yesus tidak menyerahkan diri, seperti selalu dilakukanNya kepada kehendak Allah yang rahasia. Lukas menunjukkan hal ini dengan mengutip kata terakhir Yesus, “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan rohKu (Luk 23:46).
Jika Yesus adalah Allah, mengapa ia tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat? Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak (Yesus) pun tidak, hanya Bapa…sendiri." (Matius 24:36) Menurut tradisi Yahudi, hari kedatangan Tuhan seperti pesta perkawinan. Dimana mempelai laki-laki akan menjemput mempelai perempuannya, setelah bapak dari mempelai laki-laki sudah menyiapkan segala sesuatu, kemudian menyuruh anaknya menjemput mempelai perempuan untuk bersatu. Ketika Yesus berkata "Anak tidak, hanya Bapa sendiri", Yesus berkata bahwa pengetahuan segala sesuatu adalah hanya dari Allah. Pengetahuan hari akhir adalah terkait dengan keilahian Yesus bukan kemanusiaan Yesus.
Daftar Pustaka
F.E. Peters, Islam, (Princeton University Press, 2003) 4
Bentley, David (September 1999). The 99 Beautiful Names for God for All the People of the Book. William Carey Library. ISBN 0-87808-299-9.
Everett F. Harisson, ed. Baker’s Dictionary of Theology (Grand Rapids, Mochigan: Baker Book House, 1960) 308.
Christ Marantika Yesus Kristus Allah, manusia sejati (Surabaya: Yakin, 1983) 12
Douglas Groothuis Jesus in an age of controversy: Yesus di zaman kontroversi (Jakarta: Verbum dei, 2008) 64
L. E. Maxwell Tersalib Bersama Kristus (Surabaya: Yakin) 197.
A. Roy Eckardt Menggali Ulang Yesus Sejarah: Kristologi Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006) 29
D. James Kennedy & Jerry Newcombe Bagaimana Jika Yesus Tidak Pernah Lahir? (Batam: Interaksara, 1999) 181
Samuel Benyamin Hakh Pemberitaan tentang Yesus: menurut Injil-injil sinoptik (Bandung: Jurnal Info Media, 2008) 157
John Piper Melihat dan menikmati Yesus Kristus(Jakarta: Momentum, 2013) 12
Elisa B. Subakti Benarkah YESUS Juruselamat Universal? (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2006) 18-19
Stephen Tong, Siapakah Kristus: Sifat dan Karya Kristus (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1992) 65
Google Scholar
"Prasasti Terengganu - Melayu Online". Diakses tanggal 14-11-2016.
Budiman, Allah dalam Alkitab https://pendalamanalkitab4muslim.wordpress.com/2011/05/25/siapakah-allah-menurut-alkitab/25/05/2011. Diambil 13.23.
Lihat: "Islam and Christianity", Encyclopedia of Christianity (2001): Arabic-speaking Christians and Jews also refer to God as Allāh. L. Gardet. "Allah". Encyclopaedia of Islam Online.

Posting Komentar untuk "Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Allah Sejati"