Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Mesias

Asal dan Etimologi Mesias

        Mesias (berasal dari bahasa Ibrani mashiah) berarti "yang diurapi". Di dalam bahasa Yunani, kata mesias diterjemahkan dengan kata kristos, dan dari situlah dikenal sebutan Kristus yang menjadi salah satu gelar Yesus. Sebutan mesias berakar dari pengertian Yahudi mengenai seorang tokoh pada masa depan yang akan datang sebagai wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi. Konsep mesianik ini dikenal juga di dalam agama-agama yang berakar dari Abraham, yakni kekristenan dan Islam. Di dalam kekristenan, Yesus Kristus dipercaya sebagai mesias yang telah dinanti-nantikan untuk membawa keselamatan dari Allah kepada manusia. Sedangkan di dalam Islam, konsep mesianik terdapat di dalam pemahaman Islam mengenai Isa/Yesus yang akan datang pada hari penghakiman untuk mengalahkan dajjal Pemahaman ini tidak terdapat di dalam Quran, melainkan bersumber dari Hadis. 

Ibrani māshīaḥ & mĕshīḥā Aramaik, secara harfiah, diurapi Mesias adalah kata Ibrani. Itu berarti "yang diurapi." Hal ini setara dengan N.T. kata"Kristus" yang juga berarti "yang diurapi". Yesus sebagai Mesias, telah diurapi oleh Tuhan (Mat 3:16) untuk melaksanakan pelayanan tiga kali lipat dari nabi, imam dan raja. Sebagai Mesias, dia telah disampaikan orang Kristen dari ikatan dosa dan hidup yang kekal kepada kepadanya. Dalam pengertian itu, Mesias berarti penyelamat, karena ia sudah membebaskan kita. Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian lama dalam keturunan perempuan (Kejadian 3:15). Mesias (Masyiakh) = Dia Yang Diurapi” Yesus adalah Sang Mesias satu-satunya yang dinanti-nantikan dari Yudaisme, yang menjadi inti pati dari kepercayaan Kristen pada tahap paling awal. Mesias adalah seorang anak Daud yang dinanti-nantikan dan dimohonkan dalam Doa. ketika Yesus bertanya kepada murid-muridnya tentang pribadi-Nya Petrus membuat pengakuan  Engkau adalah Mesias (Mark 8:27-29; Mat 16:13-16; Luk 9:18-20).

     Menurut tulisan Guthrie  “Ada empat sumber utama untuk agama Yahudi pada zaman itu, iaitu Perjanjian Lama, tulisan-tulisan Apokrifa dan Pseudepigrafa, Naskah-naskah Laut Mati (Qumran) dan tulisan-tulisan para rabi. Dalam Perjanjian Lama, terutama kitab nabi-nabi, banyak disebutkan tentang masa kemesiasan yang akan datang yang menawarkan masa depan yang cerah bagi umat Allah (bnd. Yes. 26-29; 40 dst; Yeh.40-48; Dan. 12; Yoel 2:28 -3:21), tetapi hanya sedikit dikatakan tentang Mesias. Gelar itu tidak dipakai untuk penyelamat yang akan datang. Bahkan, tokoh yang akan membuka zaman yang akan datang adalah Allah sendiri. Tetapi, walaupun istilah “Mesias” itu tidak muncul secara tersendiri, ada bermacam-macam penggunaannya dalam rangkaian kata seperti Mesias Tuhan (iaitu yang diurapi Tuhan).  Dapat dikatakan bahawa PL mempersiapkan jalan bagi Mesias dan banyak bahagian dalam PL mengenai Mesias itu dikutip dalam Perjanjian Baru.

     Selama masa antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, arti istilah itu mengalami beberapa perubahan, dan erti teknis dari orang yang diurapi Tuhan menjadi menonjol (bnd.Mazmur Salomo 17-18). Pengharapan akan kedatangan Mesias mempunyai bentuk yang berbeza-beza, tetapi yang paling menonjol ialah gagasan mengenai Raja keturunan Daud, yang akan mendirikan kerajaan di dunia bagi umat Israel dan akan menghancurkan musuh-musuh Israel.Mesias akan merupakan tokoh politik, tetapi dengan kecenderungan ke arah agama. Konsep itu merupakan gabungan yang aneh dari pengharapan bersifat nasional dan pengharapan rohani. Umumnya diduga bahawa dalam Naskah-naskah Laut Mati disebutkan adanya dua orang Mesias, seorang dari Harun dan seorang lagi dari Israel (1 Qs. 9:11). Kerana persekutuan di Qumran itu merupakan suatu masyarakat imam, tidaklah menghairankan bila didapati bahawa Mesias dari Harun lebih penting daripada Mesias berbanding Mesias dari Israel. Mesias diterjemahkan dari bahasa Ibrani Mashiah yang berarti “diurapi” istilah ini dikenakan kepada seseorang yang diutus oleh Allah untuk melakukan suatu tugas tertentu.

Penggunaan Istilah Mashiah:
1. digunakan untuk seorang raja sebagai orang yang diurapi oleh Yahweh (1 sam 16:3), kemudian digunakan untuk raja-raja keturunan Daud (1raj 1;34,19; 2 Raj 2:11) kepada raja Cyrus raja Persia, sebagai orang yang diurapi Allah (Yes 45:1).
2. dikenakan kepada seorang Imam (Kel 29:7, 40:13) untuk melaksanakan tugas keimamatannya
3. dikenakan kepada seorang nabi karena ia diurapi (1 Raj 19:16; Yes 61:1) untuk memberitakan firman kepada orang Israel

Mesias dalam Injil Matius 
Dalam injil Matius terdapat enam belas kali pemakaian gelar Mesias. Menurut Nolan Matius memakai gelar mesias kepada Yesus untuk menunjuk Yesus sebagai penggenap janjia Allah melalui para nabi dalam Perjanjian Lama. Dalam Injil Matius penulis memang menghubungkan istilah “Mesias” dihubungkan dengan nama atau gelar-gelar lain yaitu: Mesias dihubungkan dengan nama Yesus. Ada dua rumusan yang matius pakai yaitu: Yesus Kristus (mat 1:1,8)è menunjuk nama diri. Yesus yang dsebut Kristus (Mat 1:16; 27:17,22) à merupakan identifikasi kepada Yesus sebagai orang yang diurapi. Mesias dihubungkan dengan gelar anak Allah (Mat 16:16;26:63) Perihal pertanyaan pilatus tentang siapakah Yesus ‘... Apakah engkau Mesias Anak Allah..? (Mat 26:63). Mesias dihubungkan dengan gelar anak Daud (Mat 22: 42) menunjuk bahwa kedatangan Mesias dari keturunan Daud. Tujuan Matius dengan memakai gelar Mesias atau menggandengkannya dengan gelar yang lain matius ingin menyatakan kepada pembaca bahwa Yesus adalah penggenap janji Allah melalui para nabi dalam Perjanjian Lama.

Mesias dalam Injil Markus
Markus adalah model seorang murid yang menderita model ini dipengaruhi atau lebih dijiwai oleh model Mesias yang ditampilkan oleh Markus yaitu Mesias yang menderita. Dalam Injil Markus Yesus menyembunyikan identitas kemesiasan-Nya. Mengapa Yesus menyembunyikan identitas kemesiasannya? Menurut Conzelmann Yesus menekankan kesediaan untuk menderita, sebab pengenalan akan kemesiasan Yesus itu bisa diperoleh hanya melalui penderitaan atau hanya melalui jalan salib kemesiasan Yesus dinyatakan. 

Mesias dalam Injil Lukas
Lukas memakai gelar Mesias hanya tiga kali yaitu dalam hubungannya dengan pengakuan Petrus   (Luk 9:20)hubungan antara Mesias dengan Daud (Luk 20:41). Dan pertanyaan imam besar ketika Yesus diadili (Luk 22:67). Dalam pengakuan Petrus menurut Lukas ‘Yesus adalah Mesias dari Allah” Pandangan Lukas mengenai gelar Mesias ditampilkan dalam dua cara yaitu: Kebangkitan dan penggenapan: Kebangkitan dan penggenapan adalah dua istilah kunci dalam mengenakan gelar Mesias kepada Yesus. Khotbah Petrus pada hari pentakosta  (Kis 2) dihubungkan dengan Mzm 16:10) yang dikutip dalam ayat 27 kutipan ini dianggap menunjuk kepada Mesias karena kenyataannya tidak dapat dikenakan kepada Dau sendiri sebab ternyata Daud mati dan dikuburkan (Ayat 29) sedangkan Yesus mati tetapi bangkit kembali. Penderitaan dan Kematian: Dalam pemberitaannya mengenai Yesus sebagai Mesias ia kadang-kadang menambahkan ungkapan yang menyatakan bahwa penderitaan dankematian Yesus adalah sesuatu yang perlu dan sesuai dengan yang dinubuatkan dalam kitab suci.
Mesias dalam bahasa Yunani Christos artinya Yang diurapi. Menghubungkan nama Yesus dengan Kristus yang dalam konotasi Yahudi berarti “Raja Mesias, Keturunan Daud” hanya dapat dipahami oleh orang-orang Yahudi.

Mesias dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama sering dianggap penuh dengan sebutan kemesiasan “Mesias”. Namun ini berlawanan dengan kenyataan. Sesungguhnya istilah mesias sama sekali tidak terdapat dalam perjanjian Lama. Penggunaan mesianik yang menonjol dalam Perjanjian Lama disebut anak Allah yang diurapi dan yang memerintah atas nama Allah dan atas seluruh dunia (Dan 9:6) penggunaan yang mula-mula dari Mesias dalam konteks mesianis adalah dalam nyanyian Hana (1 Sam 2:10).  Sebagian besar tokoh nubuat mesianis Perjanjian Lama yang menonjol yang mewarnai Yudaisme yang terkemudian adalah Yesaya 9 dan 11. Meskipun ia tidak menyebut Mesias tetapi Ia adalah seorang Raja dalam garis keturunan Daudyang secara supranatural, akan menghajar bumi dengan perkataanNya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik (Yes 11:4). Ia akan membersihkan dunia yang berdosa, mengumpulkan orang israel yang setia, dan memerintah untuk selama-lamanya dari takhta Daud atas satu dunia yang telah berubah. Inilah doa dari antara umat itu untuk membebaskan Israel dari musush-musuhnya, untuk membawa masuk Kerajaan Allah dan memerintah Kerajaan itu sebagai Raja Allah yang diurapi.

Benarkah Yesus dari Nazarey adalah Mesias?
Abagmale adalah seorang penipu yang tersohor namun bagaimana melampaui aksi Abagmale sebagai penipu paling tersohor? Yah, jika Yesus Kristus bukanlah Mesias, seperti klaimNya, maka Dia tidak punya pesaing. Kita tidak membicarakan ribuan orang yang berhasil ditipu oleh Abagmale. Jika Yesus Kristus adalah penipu, maka aksiNya telah berhasil menipu miliaran orang dan mengubah sejarah selama 2.000 tahun terakhir ini. Jadi, apakah Yesus adalah Mesias palsu, yang berhasil menipu para ahli agama terkemuka? Apa mungkin dia dibesarkan oleh orang tuanya atau mentor – yang tidak diungkapkan -, untuk menjadi raja Israel, yang telah lama dijanjikan dan dicari? 

Pada kenyataannya, jika Yesus seorang penipu, Dia bukanlah orang pertama dalam sejarah Israel yang berbohong bahwa dia adalah Mesias. Selama ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus dan sesudahnya, banyak orang mengklaim dirinya Mesias, yang belakangan terbukti bahwa semua itu hanyalah kebohongan atau orang gila biasa. Nubuat Yahudi kuno telah sangat jelas memprediksi pemerintahan seorang raja di masa depan, yang akan memberi kedamaian bagi Israel dan menjadi Penyelamatnya. Harapan ini menyelimuti negeri dan menumbuhkan harapan serta aspirasi orang Yahudi. Dalam suasana seperti Israel, seseorang yang kualifikasinya kurang, bisakah didorong untuk atau dicetak sesuai dengan (kriteria) Mesias?               

Isu Teologis
Mesias idaman bangsa Yahudi adalah seorang pemimpin yang kuat yang akan menumbangkan pemerintah Romawi. Pada puncak popularitasnya ketika Yesus menyatakan kuasa IlahiNya dengan melipatgandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang, menimbulkan satu gerakan spontan dimana orang banyak berusaha memaksa Yesus untuk menjadi Raja mereka (Yoh 6:15), dengan harapan membebaskan mereka dari perbudakan pemerintah Roma. Namun ketika beberapa hari kemudian yesus diserahkan kepada orang banyak oleh Pilatus, dipukuli, diikat dan berdarah, Ia sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang pemenang atas musuh-musuh Israel. Berbaliknya mereka untuk menghukum Yesus dan kesiapan mereka untuk melihat Dia disalibkan (Mrk 15:13) dan ini bertentangan dengan latar belakang pengharapan mesianis Yahudi.   

Kesimpulan
Yesus tidak membuat klaim secara terbuka sebagai Mesias, namun ia tidak menolak kemesiasan yang diterapkan kepadaNya; dan dihadapan Sanhedrin ketika dituduh secara langsung atas tuntutan kemesiasan, Ia membenarkan, tetapi memberikan defenisinya sendiri kepada istilah itu. Yesus adalah Mesias tetapi bukan seperti yang diharapkan oleh obangsa Yahudi, ia menghindari sebutan itu karena berkaitan dengan nasionalisme bangsa Yahudi, namun ada saatnya Ia menerima sebutan itu, namun sepanjang pelayanan-Nya Ia merahasiakannya. Yesus baru dikenal sebagai Mesias setelah kebangkitan-Nya. Yesus mengetahui diri-Nya sebagai Mesias tetapi bukan mesias yang diharapkan secara umum. Misi-Nya adalah membawa kerajaan Allah tetapi bukan seperrti yang diinginkan manusia. Danh Ia dikenal sebagai Raja Israel (Mat 2:2; Luk 1:32; Yoh 1:50). 
Dalam Injil Yesus tidak pernah menyatakan bahwa Ia adalah Mesias markus dan penulis Injil lainnya menulis berdasarkan sudutpandang mereka tentang Yesus, bukan dari apa yang dikatakan yesus mengenai diri-Nya. Mereka percaya, Ialah Mesias karena mereka hidup setelah peristiwa kebangkitan. Ketika mereka menulis, mereka ingin memperlihatkan bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan Allah itu. Yesus tidak memakai kata Mesias mengenai diri-Nya sendiri karena Ia mengetahui para pendengar-Nya akan mengartikannya sebagai raja duniawi yang akan mendirikan suatu negara yang baru.

Posting Komentar untuk "Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Mesias"