Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Tuhan

          Gelar Tuhan (kurios) digunakan untuk Allah atau ilah dan pemerintah-pemerintah di Mesir, Yunani, dan Romawi. Dalam budaya Romawi, gelar ini dikenakan pada kaisar. Salah seorang kaisar yang menggunakan gelar ini pada dirinya sendiri adalah kaisar Domitianus. Ia memaksa rakyatnya untuk menyembah dirinya sebagai kurios. Pemakaian gelar ini kemudian berkembang tidak hanya di Timur tetapi juga di Barat sehingga suatu gelar yang sangat popular.
            Gelar ini dikenakan kepada seseorang dengan maksud untuk menunjuk kepada kekuasaan bahkan status keilahian yang ia miliki. Dalam lingkungan di mana gelar ini berkembang, kekristenan dalam sejarah. Lalu orang-orang Kristen memakai gelar ini untuk menyapa Yesus Kristus yang diimani orang Kristen. Ada juga pakar lain yang berusaha menelusuri pengenaan gelar Yesus sebagai Kurios ini dalam dunia Yahudi melalui kekristenan di Palestina.
            Pertanyaan kunci di sini adalah apakan istilah kurios dikenakan kepada Yahweh dalam konteks kekristenan di Palestina? Bukti yang palin jelas diperoleh dari Septuaginta yang menerjemahkan nama Allah dengan kurios. Sedangkan penggunaan kata kurios untuk Tuhan hanya terdapat didalan salian naskah Septuaginta oleh orang-orang Kristen sekitar abad ke IV dan seterusnya. Sekalipun dalam penelitian belakangan ini ditemukan bahwa orang-orang Yahudi sebelum kekristenan telah menyebut Tuhan dengan: adon, atau dalam bentuk Aram: mare dan marya dan dalam bentuk Yunani: kurios.
            Dalam teks Alkitab Ibrani, tetragramator (YHWH) dipakai untu menyebut nama Allah tetapi karna nama Allah ini tidak boleh disebut dengan sia-sia, maka lama-kelamaan diganti dengan Adonai, yang diambil dari dunia sekuler yang menununjuk kepada seorang ‘tuan’ atau ‘pemilik’ (Kej. 19:2). Pertanyaan yang timbul adalah kapankah penggantian penggunaan nama Yahweh dengan Adonai terjadi? Apakah sebelum atau sesudah penerjemahan septuaginta? Orang-orang Yahudi Palestina telah menggunakan Adonai sebagai nama Alah pada abad pertama sebelu Kristus. Josephus sendiri menggunakan kata kurios untuk Adonai. Ia menggunakan kurie untuk menunjuk kepada Allah dalam salah satu doanya. Ini berarti ada kemungkinan bahwa masa trasisi penggantian itu terjadi sebelum penerjemahan septuaginta. Jika demikian halnya maka kata kurios dalam septuaginta adalah terjemahan dari kata Adonai, suatu istilah yang biasa dipakai untuk menunjuk kepada kekuasaan dan wibawa seseorang yang bersifat sekuler.
            Ketika muncul kekristenan, maka istilah ini diangkat dan dikenakan kepada Yesus. Oleh sebab itu, dalam Injil-injil Sinoptik kita bertemu dengan pengenaan istilah ini pada Yesus. Namun para penulis Injil Sinoptik memiliki ciri masing-masing dalam penggunaannya. Maka dalam bagian ini kita akan membahas penggunaannya dalam masing-masing Injil. Gelar ‘Tuhan’ dalam Injil Markus terdapat tujuh kali. Tetapi hanya satu kali langsung dikenakan kepada Yesus (Mrk. 7:28). Gelar ini keluar dari mulut perempuan Siro-Fenesia yang menyapa Yesus sebagai kurios, suatu sapaan yang bisa berarti ‘tuan’.
            Dalam Injil Markus, istilah (Tuhan) kurios digunakan dalam empat garis pemahaman, Pertama, istilah kurios menunjuk kepada Allah. Gambaran ini jelas dalam Mrk. 1:3, yang dikutip dari Yes. 40:3. Kutipan itu secara tegas menunjuk kepada Yahweh. Istilah itu kita sekali lagi dalam Mrk. 5:19 yang menunjuk kepada penyembuhan oleh kuasa Tuhan. Istilah yang sama muncul dalam Mrk. 11:9, yang merupakan kutipan dari Mzm. 118:25 dan menununjuk kepada Allah. Pola yang sama kita jumpai dalam Mrk. 11:10-11. Istilah kurios juga terdapat juga terdapat dalam Mrk. 12:11 yang diambil dari Mzm 118:22 yang menunjuk kepada Yahweh. Cara yang sama terdapat dalam Mrk. 12:29-30 yang adalah kutipan dari Ul. 6:4-5, yang memaknai istilah kurios untuk menunjuk kepada nama Allah yaitu Yahweh. Dalam Mrk. 12:36, istilah kurios ditemukan lagi dalam bentuk kutipan dari Mzm. 110, di mana Yahweh disebut sebagai Kurios dan Kurios Daud. Dalam percakapan apokaliptik kita juga bertemu dengan sitilah Kurios (Mrk. 13:20), yang menunjuk kepada Yahweh. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Markus menggunakan istilah ini untuk menunjuk kepada Yahweh sebagai satu-satunya Allah.
            Kedua, penggunaan istilah Kurios dalam pengertian sekuler atau umum yang berarti ‘tuan’ atau ‘pemilik’. Kita mulai dengan Mrk. 2:28. Dalam teks itu Yesus menyebut Anak Manusia sebagai Kurios (Tuan) atas hari Sabat. Gagasan yang sama dalam Mrk. 12:9 di mana istilah Kurios dipakai untuk menunjuk kepadapemilik kebun angur itu. Mrk. 12:36, 37, juga melukiskan gagasan yang sama. Dalam teks itu dikatakan ‘Daud sendiri menebut Dia Tuannya…’(Mrk. 12:37). Gagasan mengenai kurios sebagai tuan, terdapat juga dalam Mrk. 13:35. Di situ Yesus memakai istilah kurios untuk menunjuk kepada pemilik rumah (tuan rumah). Jadi penggunaan dalam model kedua ini lebih menunjuk kepada pengertian yang bersifat sekuler.
            Ketiga, sejumlah pasal dalam Injil Markus menggabungkan kedua gagasan ini (Kurios= Yahweh dan kurios= tuan atau pemilik). Dengan menggunakan istilah ‘tuan’ secara sekuler sebagai metafora untuk Allah. Istilah kurios dalam Mrk. 11:3, terbuka untuk cara penggunaan yang ketiga ini. Sebab kalimat: ‘kurios memerlukannya’, bisa menunjuk kepada tuan atau pemilik keledai itu. Tetapi karena tuan keledai itu sulit untuk ditelusuri maka teks itu bisa bermakna ganda. Teks itu bisa sebagai metafora teologis tetapi juga bisa sebagai metafora kristologis.
            Dalam cerita tentang kurios (tuan) kebun anggur dalam Mrk. 12:9, mudah dimengerti sebagai gambaran tentang Yahweh. Gambaran ini sangat dekat dengan Israel dalam Perjanjian Lama sebagai kebun anggur Allah (Yes. 5:1-10). Pengutusan anak yang kekasih kemudian ditangkap dan dibunuh di luar kebun anggur itu (Mrk. 12:6) menggambarkan Yesus yang ditangkap dan disalibkan. Jadi pembaca dimotivasi untuk memahami perumpamaan itu sebagai suatu allegori mengenai hubungan Israel dengan Yahweh. Dengan demikian penggunaan istilah kurios dalam bentuk metafora dengan memakai gambaran ‘tuan’ secara sekuler dapat menunjuk kepada Yahweh, Allah Israel.
            Keempat, penggunaan istilah kurios untuk Mesisas. Kutipan Mzm. 110 di dalam Mrk. 12:36 menunjuk kepada Yahweh sebagai kurios. Dalam teks itu Yahweh berfirman kepada seseorang untuk duduk disebelah kanan-Nya. Perjanjian Lama tidak secara jelas memberitahukan siapa gerangan orang itu. Tetapi teks itu menafsirkan orang itu dalam pemahaman kristologis dimana Daud sendiri menyebut Dia ‘Tuanku’ kalimat berikutnya menimbulkan pertanyaan yang tidak dijawab, ‘bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’ (Mrk. 12:37). Dari pertanyaan ini Yesus, menurut Markus, secara samar menyinggung kemesiasan-Nya tetapa Ia tidak mau secara langsung menghubungkan kemesiasan itu dengan pelayanan-Nya. Dari pemaparan ini nyata bahwa istilah kurios dalam Injil Markus dipakai dalam berbagai cara. Bisa dikenakan kepada Yahweh Allah Israel, bisa juga dikenakan kepada seseorang yang memiliki wibawa lebih tinggi (tuan) bisa juga dipakai sebagai suatu metafora untuk menunjuk kepada Allah Israel, tetapi juga dipakai sebagai suatu gelar mesianis untuk secara tidak langsung dikenakan kepada Yesus.
            Penulis Injil Matius memakai istilah kurios sebanyak dua puluh tujuh kali. Pemakaian yang sedemikian banyak itu tidak hanya sebagai istilah teknis, karena istilah itu digunakan dalam berbagai cara yang berbeda satu dengan yang lain. Misalnya dalam Matius 11:25, istilah itu digunakan untuk menyapa Allah. Tetapi istilah yang sama digunakan oleh seorang hamba untuk menyapa tuannya (Mat. 13:27), juga digunakan oleh gadis-gadis dalam perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Mat. 25:11) untuk menyapa mempelai laki-laki. 
            Sungguhpun demikian penulis Injil Matius menggunakan istilah ini paling sedikit dalam dua level. Pertama, sebagai suatu sapaan. Misalnya dalam Mat 27:63, kata kurios (tuan) dikenakan kepada Pilatus sebagai suatu sapaan. Seorang Rabbi Yahudi juga disapa sebagai kurios karena kewibawaannya sebagai seorang guru. Juga kata kurios dalam Mat. 24:42 yang digunakan dalam konteks perumpamaan itu menunjuk kepada Yesus sebagai tuan, pada waktu Ia melayani di Palestina.
            Pasal lain yang juga terdapat istilah kurios (Tuhan) adalah Mat. 10:24,25). Dalam teks ini istilah kurios dipakai untuk memberikan gambaran kepada pembaca agar memahami Yesus sebagai Tuhan, namun istilah ini tidak bisa dipakai sebagai gelar sebab tidak ada keagungan atau kekuasaan Ilahi yang terkandung didalamnya (bd. Juga Mat. 13:27; 21:30; 25:20, 22, 24; 27:63). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa istilah kurios dalam ayat-ayat ini hanya menggambarkan seorang figure yang memiliki wibawa yang lebih besar. Boleh jadi, istilah ini hanya sebagai suatu sapaan sopan santun dari seseorang kepada orang lain yang dianggap memiliki wibawa yang lebih tinggi, karena tidak ada makna gelar didalamnya. Memang suatu kekecualian  di dalam Mat. 21:3, bahwa istilah “Tuhan” digunakan oleh Yesus sendiri. “Dan jikalau ada orang menegur kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera megembalikannya”. Tetapi penggunaan disini hanya sebagai suatu sapaan sopan santun yang memiliki kesamaan dengan sapaan “tuan”.
            Perlu dicatat bahwa penulisan Injil Matius menggunakan istilah kurios  yang secara konsisten diucapkan oleh murid-murid, dan orang-orang yang meminta pertolongan kepada-Nya, sementara murid-murid, dalam Injil Markus dan Lukas kadang-kadang menyapa Yesus sebagai rabbi (guru) atau epistata (tuan). Dalam Injil Matius sapaan rabbi atau rabbuni hanya diucapkan oleh musuh-musuh Yesus. Bertentangan dengan itu murid-murid dalam Injil Matius hanya memakai istilah kurios untuk menunjuk kepada Yesus.
            Namun harus diakui bahwa Matius menggunakan istilah kurios tidak hanya sebagai suatu sapaan sopan santun tetapi juga sebagai suatu gelar, walaupun hanya dalam standar Septuaginta yang menggunakannya sebagai nama Allah, karena istilah ‘Tuhan’ dipakai dengan keyakinan bahwa Yesus memiliki kuasa Ilahi yang menuntut ketertundukan dan ketaatan kepada-Nya. Sebagai contoh ketika murid-murid bersama Yesus diterpa oleh angina rebut di Danau Tiberias murid-murid datang kepada Yesus dan menyapa Dia sebagai “Tuhan” (Mat. 8:25) dengan suatu keyakinan bahwa Yesus memiliki kuasa Ilahi yang dapat meneduhkan angina rebut itu (bd juga Mat. 14:30; 17:4). Pasal-pasal ini memberikan suatu gambaran bahwa Yesus memiliki kuasa yang unik.
            Gelar  “Tuhan” atau “tuan” sangat menonjol dalam Injil Lukas. (Lukas sebanyak 103 kali. Kisah Para Rasul 107 kali). Namun demikian penggunaannya dalam Injil Lukas agak kompleks. Karena kata ‘Tuhan’ atau ‘tuan’ memiliki arti yang sangat luas. Kata itu bisa digunakan dalam bentuk sapaan yang berkaitan dengan sopan santun, misalnya seorang hamba menyapa tuannya (Luk. 13:8,14:22; 19:16, 18, 20). Sapaan yang sama juga ditunjukkan kepada seseorang sebagai pemilik sesuatu. Misalnya sapaan terhadap tuan kebun anggur  (Luk. 20:13). Jadi sapaan ini bisa dikenakan kepada orang yang memilki kedudukan yang lebih tinggi, atau sebagai pemilik dari sesuatu.
            Di kalangan orang-orang Yunani, kata “tuhan” digunakan juga untuk menyapa ilah-ilah mereka. Demikian juga dikalangan orang Yahudi Hellenis , dan orang-orang Kristen, kata “Tuhan” digunakan untuk menyapa Yahweh sendiri. Dalam Luk. 1:6, dikatakan bahwa Zakharia dan Elisabet “hidup menurut perintah dan ketetapan Tuhan”. Dan sebagai seorang imam, “Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan” (Luk. 1:9). Kata yang sama Lukas gunakan dalam Kisah Para Rasul, khususnya ketika ia menunjuk kepada malaikat Tuhan (Kis. 5:19; 8:26).
            Maka dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan, penulis Injil Lukas menetapkan Yesus pada level yang sama dengan Yahweh. Itulah sebabnya agak sulit untuk mengidentifikasi apakah gelar “Tuhan” yang digunakan oleh oerang Kristen itu dikenakan kepada Yesus ata kepada Yahweh sebagai Allah Israel. Misalnya, ketika Petrus menasehati Simon Magus agar bertobat dan ‘berdoa kepada Tuhan” (Kis. 8:22), demikian juga kata: “firman Tuhan” dalam Kis. 8:25 dan Kis. 19:10 (lihat juga Kis. 21:14).
            Walau demikian karus dikatakan bahwa didalam Injil Lukas kata “Tuhan” sering dialamatkan kepada Yesus. Ketika murid-murid memohon supaya Yesus mengar mereka berdoa, mereka berkata “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk. 11:1; bd 12:41). Demikian juga pada peristiwa penyembuhan orang buta dekat Yerikho, Yesus bertanya, apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawan orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat sembuh” Luk. 18:41).
            Pertanyaan yang timbul adalah pada level manakah Lukas menggunakan kata Tuhan dalam menyapa Yesus? Apakah sekedar suatu sapaan sopan santun ataukah sebagai suatu pengakuan akan superioritas Yesus? Memang pertanyaan ini sulit dijawab. Tetapi ditempat lain, Lukas mengenakan gelar ini kepada Yesus dalam kesadaran bahwa Yesus melaksanakan fungsi-fungsi keilahian-Nya sebagai Allah. Sebagai contoh, dalam Luk. 24:49, Yesus menyatakan: “Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku”.
             Janji yang dimaksudkan disini adalah pemberian Roh Kudus. Roh Kudus yang adalah pemberian Allah (Kis. 2:17), dikatakan pemberian Yesus. Selanjutnya pada mujizat penangkapan ikan, Petrus tersungkur dihadapdan Yesus dan berkata “Tuhan, pergilah, dari pada ku, karena aku sini seorang berdosa” (Luk. 5:8). Sapaan yang sama keluar dari mulut seorang murid yang hendak mengikut Yesus. Ia berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan…” (Luk. 9:61). Dan ditempat lain, Lukas menggunakan sapaan ini dalam bentuk pertanyaan . “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan……..” (Luk. 7:13).
            Penggunaan yang sangat mengesankan dari sapaan ini adalah sesudah perisiwa Paskah. Lukas melaporkan bahwa ketika para perempuan yang pergi ke kubur itu melihat bahwa batu penutup kubur telag terguling “tetapi mereka tidak menemukan mayat Yesus” (Luk. 24:3). Kemudian ketika kedua murid yang pergi Emaus itu mengalami penampakanYesus, mereka kembali ke Yerusalem  dan disana kedua murid itu diberitahukan: “sesungunya Tuhan telah bangkit” (Luk. 24:33-34). Berdasarkan pengalaman Paskah itu, maka “dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberikan kesaksian tentang kebangkita Tuhan Yesus” (Kis. 4:33), Pada hdan menari Pentakosta, Petrus dalam khotbahnya di Kis. 2, mengutip Mzm. 110:1, dan menyatakan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus merupakan bukti digenapinya teks itu, karena Ia (Yesus) skearang duduk di sebelah tangan Allah. Allah telah menjadikan Dia Tuhan, maka tepatlah dikatan bahwa Ia disapa dan disembah sebagai Tuhan. Dalam formula baptisa, gelar Tuhan digunakan (Kis. 8:16; 19:5). Formula itu mencerminkan iman Paskah di kalangan jemaat perdana.
            Iman paskah itu dibuat berlaku surut oleh Lukas sehingga ia sering mengenakan gelar itu kepada Yesus sebelum peristiwa kebangkitan. Misalnya, Elizabet berbicara kepada Maria sebagai “ ibu Tuhanku” (Luk. 1:43) dan malaikat meproklamasikan Yesus sebagai “Kristus Tuhan” (Luk. 2:11), sehingga menurut Lukas, sejak kelahiran, Yesus adalah Tuhan. Selain itu, Lukas sebagai narator sering meyapa Yesus sebagai Tuhan didalam Injlnya selama masa pelayanan-Nya. Kemungkinan besar bahwa Lukas mengenakan gelar itu kepada Yesus dari sudut pangdang dirinya sebagai seoerang pengikut Yesus sesudah paskah.        

Posting Komentar untuk "Penjelasan Teologis Yesus Kristus sebagai Tuhan"