Analogik Dan Komparatif, Verifikasi Logika Dan Kesalahan Logika
Analogik Dan
Komparatif, Dan Verifikasi Logika
Analogik dan komparatif
merupakan dua bentuk penyimpulan yang pada umumnya digunakan dalam logika.
Penalaran analogi berusaha untuk mencapai kesimpulan dengan menggatikan sesuatu
yang ingin dibuktikan dengan sesuatu yang serupa, namun yang lebih dikenal.
Sebagai contoh, kita ingin membuktikan adanya Tuhan dengan argumentasi
kosmologikal-teleologikal, berdasarkan susunan dunia tempat kita berada. Dalam
hal ini kita dapat kita dapat menggunakan sebuah jam sebagai analogi.
Perhatikanlah sebuah jam! Seperti halnya dunia, jam tersebut juga merupakan
mekanisme yang terdiri dari bagian-bagian yang sangat erat hubungannya yang
satu dengan yang lain. Tidak seorangpun beranggapan bahwa sebuah jam dapat
membuat dirinya sendiri atau terjadi secara kebetulan. Susunannya yang sangat
rumit menunjukkan bahwa ada yang membuatnya, dan yang membuatnya ini pastilah
seorang yang cerdas. Dengan demikian, secara analogi adanya dunia juga
menunjukkan adanya Pembuat; Karena dunia kita juga sangat rumit susunannya dan bagian-bagiannya
berhubungan sangat erat satu dengan yang lain secara baik menunjukkan
kecerdasan dari Sang Pembuatnya. Perhatikan bahwa penalaran analogi ini terdiri
dari memperbandingkan (komparatif) jam dengan dunia, dan dari
persamaan-persamaan itu tertentu tersebut, menyimpulkan persamaan-persamaan
yang lain.
Selanjutnya, agar
penalaran dapat membawa pada kesimpulan yang dapat diterima maka penalaran itu
harus diverifikasi. Apalagi penalaran yang berkaitan dengan epistemonologis,
maka tidak hanya harus absah melainkan kebenaran bahan yang mengawali penalaran
itu harus ditetapkan. Penalaran yang didasarkan atas fakta-fakta yang
diperkirakan benar dapat membawa seseorang pada kesimpulan yang benar. Namun
mungkin kita tidak mengetahui cara membedakan manakah yang sesat dan manakah
yang benar. Karena itu disini diperlukan alat verifikatif. Ada dua macam cara
melakukan verifikasi yaitu melalui observasi (berdasarkan pengamatan) dan
penalaran non kontradiktif (berdasarkan penalaran yang dipertentangkan). Verifikasi
dengan cara observasi adalah suatu pernyataan yang maknanya dapat diuji dengan
pengalaman yang dapat diulangi baik oleh orang yang mempergunakan pernyataan
tersebut maupun orang lain, pada prinsipnya dapat dilakukan verifikasi
terhadapnya.
Kesalahan-Kesalahan
Logika
Kesalahan logika
(logical fallacy) bukanlah kesalahan dalam fakta seperti misalnya “Pangeran
Diponegoro wafat tahun 1950”, tetapi merupakan bentuk kesimpulan yang dicapai
atas dasar logika atau penalaran yang tidak sehat, misalnya “Dadang lahir di
bawah bintang Scorpio, maka hidupnya akan penuh penderitaan”. Kesalahan logis
dapat terjadi pada siapapun juga betapa tinggi intelegensi seseorang ataupun
betapa lengkapnya informasi yang dimilikinya, meskipun semakin orang tahu
bagaimana berpenalaran tertib, semakin kuranglah kemungkinannya terjerumus ke
dalam kesalahan logis. Berikut ini beberapa kesalahan logika, yang diadopsi dan
diadaptasi dari W. Poespoprodjo dan EK. T. Gilarso dalam buku Logika Ilmu
Menalar, dengan beberapa penyesuaian untuk melengkapi.
Yang menjadi
kesalahan-kesalahan dalam logika adalah:
1. Generalisasi Tergesa-Gesa. Kesalahan logika ini
merpakan akibat dari induksi yang salah karena berdasar pada sampling hal-hal
khusus yang tidak cukup, atau karena tidak memakai batasan (seperti: banyak,
sering, kadang-kadang, jarang, hampir selalu, di dalam keadaan tertentu,
beberapa, kebanyakan, sebagian besar, sejumlah kecil, dan lain
sebagainya).
2. Non Sequitur (“Belum Tentu”). Kesalahan logika
non sequitur adalah istilah bahasa Latin yang berarti “ia tidak mengikut (it
does not follow)” yang diartikan dengan “belum tentu”, merupakan kesalahan yang
terjadi karena premis yang salah dipakai.
3. Analogi Palsu. Analogi palsu adalah suatu bentuk
perbandingan yang mencoba membuat idea atau gagasan terlihat benar dengan cara
membandingkan dengan idea atau gagasan lain yang sesungguhnya tidak mempunyai
hubungan dengan idea atau gagasan yang pertama diatas.
4. Penalaran Melingkar. Penalaran melingkar
(circular logical) adalah kesalahan logika karena si penalar menempatkan
kesimpulannya ke dalam premisnya, dan kemudian memakai premis tersebut untuk
membuktikan kesimpulannya.
5. Deduksi Cacat
6. Pikiran Simplisitis. Pikiran simplisitis disebut
juga penalaran polarisasi adalah kesalahan logika karena si penalar terlalu
menyederhanakan masalah.
7. Argumen Ad Hominem. Kesalahan logika ini terjadi
karena tidak memperhatikan masalah yang sesungguhnya dan menyerang orangnya
atau pribadinya.
8. Argumen Ad Populum. Sasaran kesalahan logika
argumen ad populum adalah kelompok, bukan masalahnya. Argumen ada populum
sering terdapat pada ceramah atau pidato yang diarahkan pada orang atau
kelompok yang kurang maju daya kritiknya, karena orang atau kelompok seperti
itu tidak cukup informasi sehingga lebih mudah diarahkan untuk membeci kelompok
lainnya.
9. Otoritas Palsu. kesalahan logika dari otoritas
palsu adalah karena dipakainya otoritas orang-orang ternama untuk suatu hal
yang bukan bidangnya. Misalnya, Enstein dipakai otoritasnya dalam menulis
tentang nutrisi anak balita.
10. Kasalahan Logika Kausalitas. Kesalahan logika
ini adalah penyimpulan yang salah karena salah interpretasi terhadap hubungan
sebab akibat (kausalitas). Kesalahan logika ini sering ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari. Penyebabnya adalah karena kesalahan dalam
mengindetifikasi yang benar-benar menjadi sebab sesuatu.

Posting Komentar untuk "Analogik Dan Komparatif, Verifikasi Logika Dan Kesalahan Logika"