Metode Deduktif Dan Metode Induktif Dalam Logika
Metode Logika Dasar
Pada umumnya para filsuf
sepakat mengenai dua bentuk panalaran dasar, yaitu logika deduktif dan logika
induktif. Louis O kattsoff menyebutkan “Logika dibagi dalam dua cabang pokok,
yakni logika deduktif dan logika induktif”. Arthur F. Holmes menjelaskan,
“Walaupun masih ada jenis penalaran lain dan yang kurang formal, tetapi dua ini
cukup untuk memenuhi tujuan kita. Jenis pertama: deduksi, merupakan metode yang
mendasar dalam logika formal dan mendapat contoh terbaiknya ada di dalam
matematika. Jenis kedua: induksi, metode yang mendasar dalam logika material,
yaitu penalaran tentang hal-hal faktual dan penggunaannya paling terkenal
ialah dalam sain empiris”.
Logika Deduktif
Logika deduktif adalah
cara-cara untuk mencapai kesimpulan–kesimpulan dengan lebih dahulu mengajukan
pernyataan-pernyataan yang umum ke yang lebih khusus. Pernyataan-pernyataan ini
disebut premis-premis. Bentuk penalaran yang paling sederhana dalam logika
deduktif adalah silogisme, yaitu suatu kesimpulan yang diambil dari
premis-premisnya. Logika silogisme ini juga dikenal sebagai logika
aristotalian. Sejak zaman aristoteles para ahli logika telah membedakan
silogisme yang absah dan yang tiak absah dengan memeriksa apakah kesimpulannya
mengikuti premis-premisnya secara deduktif atau tidak. Karena pemikiran atau
penalaran manusia bisa salah, maka pemikiran atau penalaran tersebut harus
diperiksa keabasahan dengan pembuktian-pembuktian. Perhatikanlah dua contoh
berikut: (1) “Semua manusia itu mahluk yang fana (premis 1); Sokrates adalah
manusia (premis 2); Karena itu Sokrates adalah mahluk yang fana (kesimpulan)”.
Silogisme ini absah karena premis-premisnya benar dan kesimpulannya juga benar.
(2) “Semua manusia berkaki dua (premis 1); Semua burung berkaki dua (premis 2);
Karena itu semua burung adalah manusia”. Walaupun premis-premis silogisme ini
benar, kesimpulannya ternyata salah karena penarikan kesimpulan premis-premis
itu tidak mengikuti logika yang absah. Argumen itu gagal melihat manusia dan
burung sebagai dua jenis mahluk hidup yang berbeda. Karena itu, penalaran
deduktif akan absah jika terdapat validitas logikanya dan premis-premis yang
benar. Pada dasarnya ada dua jenis silogisme, yaitu silogisme kategoris dan silogisme
hipotesis. Secara sederhana, yang dimaksud dengan silogisme kategoris, yaitu
silogisme yang premis-premisnya berupa pernyataan kategoris.
Logika Induktif
Logika induktif
merupakan penarikan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang khusus untuk
mendapatkan penyimpulan yang lebih umum. Jadi suatu penalaran atau pemikiran
disebut induktif jika penarikan kesimpulan yang umum atau berlaku untuk semua,
atas dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus atau sedikit. Untuk mencapai
kesimpulan yang benar dan pasti dalam metode induktif, maka alur pemikiran
harus memenuhi persyaratan-persyaran tertentu, walaupun persyaratan-persyaratan
tersebut menurut Loius O. Kattsoff bersifat sangat umum, seperti: (1) Pastikan
bahwa kesimpulan-kesimpulan umum tersebut mendapat cukup bukti dari
peristiwa-peristiwa yang khusus; (2) Pastikan bahwa kesimpulan-kesimpulan itu
tidak berdasarkan peristiwa-peristiwa yang istimewa. Pernyataan “cukup” dan
“istimewa” itu sendiri dijelaskan jumlah dan ukurannya, dengan demikian dapat
dijadikan suatu aturan sebagai acuan dalam penarikan kesimpulan
induktif. Kita mungkin terpengaruh untuk menyimpulkan bahwa semua orang
yang pergi ke gereja memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Dalam hal ini
sesungguhnya jumlah peristiwa yang kita dapat sulit untuk menjamin kebenaran
penyamarataan (genetalisasi) yang kita lakukan. Tetapi bagaimanapun, itulah
contoh yang kita dapat dalam induksi. Jadi pada dasarnya kesimpulan induktif
bersifat probabilitas atau kemungkinan, berdasarkan atas pernyataan-pernyataan
yang telah diajukan. Kelemahan utama metode induktif adalah bahwa
seseorang dapat terjebak dengan terlalu cepat mengambil suatu kesimpulan umum,
tanpa memperhatikan apakah cukup memiliki dasar untuk itu, atau menganggap sudah
pasti sesuatu yang sama sekali belum pasti. Contoh generalisasi yang
tergesa-gesa seperti dalam pernyataan-pernyataan berikut ini adalah belum
pasti: rambut gondrong sama dengan kurang ngajar; orang desa itu kolot; pegawai
negeri itu malas; orang timur itu halus; dan sebagainya. Pernyataan-pernyataan
itu disampaikan seakan-akan berlaku secara universal (untuk semua), padahal
sama sekali belum tentu. Kalau ada beberapa pemuda yang berambut gondrong yang
bertingkah laku kurang ajar, belumlah cukup menjadi dasar bahwa semua pemuda
berambut gondrong itu kurang ajar. Adanya penjahat yang berambut gondrong itu
sama sekali tidak berarti bahwa semua yang berambut
gondrong itu pasti penjahat. Kesalahan seperti itu disebut generalisasi
tergesa-gesa, karena menyatakan sesuatu berlaku umum, untuk semua, padahal
sebenarnya tidak berlaku umum. Terdapat dua jenis generalisasi, yaitu empiris
dan yang diterangkan. Generalisasi empiris adalah suatu penyimpulan universal
yang didasarkan pada pengetahuan empiris atau pengalaman. Pada saat pengetahuan
empiris dipelajari secara kausalitas (menyelidiki sebab akibat) maka
pengetahuan empiris menjadi generalisasi yang diterangkan. kausalitas atau
secara kausal adalah upaya untuk menemukan sebab-sebab dari hal-hal yang
terjadi, dengan mengajukan seperangkat pertanyaan tentang “apakah yang
menyababkan peristiwa-peristiwa itu terjadi?” Misalnya terjadi suatu epidemik,
flu burung, maka dapat diajukan pertanyaan apakah sebab-sebab epidemik flu
brung tersebut. Sedangkan statistik adalah data dalam bentuk tabel, grafik,
angka-angka, daftar informasi sangat berguna didalam menlakukan analisis,
klasifikas, dan komparasi, sebagai dasar bagi penyimpulan induktif yang benar
dan absah.

Posting Komentar untuk "Metode Deduktif Dan Metode Induktif Dalam Logika"