Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsep Alkitab Mengenai Tahir Atau Kudus Dan Halal

Tahir adalah bersih, suci, murni dan halal. Hal inilah yang layak dihadapan Allah. Penahiran artinya pembersihan dan penyucian. Ketahiran artinya kebersihan, kesucian, dan kemurnian. Menahirkan adalah membersihkan, menyucikan, memurnikan. Tahir menurut bahasa adalah meng-Esakan. Sedangkan menurut syariat adalah meyakini ke-Esaan Allah. Adapun yang disebut ilmu tahir adalah ilmu yang membicarakan tentang akidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya. Dalilnya dari firman-firman Allah:

“Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Menurut Herbet Wolf, tahir dan najis berhubungan dengan konsep kudus dan duniawi (Imamat 10:10), semua kata ini digunakan dalam pengertian keagamaan maupun moral. Dalam Yosua 22:19; Amos 7:17, dimana dikatakan tanah yang najis adalah suatu negeri penuh dosa atau negeri penyembah berhala. Tetapi dalam Bilangan 6:7 kita melihat orang juga bisa menjadi najis hanya karena menghadiri upacara penguburan”.

Banyak orang Kristen yang mengartikan kekudusan itu bersih tanpa dosa. Jika demikian berarti hanya satu yang tidak berdosa yaitu Tuhan Yesus. Kudus adalah segala sesuatu yang dikhususkan dari kebiasaan atau hal-hal yang di duniawi. Dengan demikian kudus juga merupakan salah satu sifat dasar manusia. Jika demikian kekudusan tentunya bisa dikejar oleh setiap orang. Begitu juga dengan gereja yang dikuduskan oleh Roh Kudus, dikuatkan oleh kesaksian anggota-anggotanya yang setia. Makna dasar dari akar kata Ibrani qdsy antara lain: (i) ’menyendirikan’, (ii) ’cemerlang, Arti pertama mungkin menekankan kekudusan atau pengudusan dalam arti posisi atau status, dan penggunannya berkaitan dengan keadaan. Pengertian yang demikian tampak kurang memadai sehingga haruslah dijelaskan lebih lanjut. Secara hakiki, kekudusan menempatkan Allah pada tempat yang kudus. Imamat mempunyai pengertian yang bagus tentang kekudusan, ”Kamu hendaknya kudus, karena Aku Tuhan Allahmu adalah kudus”Imamat 19:2. Perintah ini menekankan tentang kelakuan sehari-hati yang terdapat ayat ini bukan dialamatkan untuk kelompok khusus tetapi untuk semua.

Barang kali cara terbaik untuk memahami kekudusan yang alkitabiah ialah mengakui bahwa hanya Tuhan yang memilki sifat penuh misteri. Imamat menekankan bahwa kekudusan yang diperoleh dari segala yang lain tetap merupakan pengertian yang mendasar bagi orang Kristen. Orang Kristen sendiri secara status dikuduskan oleh Allah10. Kekudusan dimulai dengan mengenalnya sebagai sifat Allah. Inilah permulaan dari konsep kekudusan. Ada dua pertanyaan yan muncul dari tema kekudusan. Pertama bagaimana dosa bisa disingkirkan? Kedua, bagaimana orang dapat memelihara kekudusan untuk bisa bersekutu dengan Allah yang kudus? Kekudusan dalam kitab Imamat ditulis dari pasal 17: sampai 26:46. Allah Israel adalah Allah yang kudus, oleh sebab itu umat yang dengan-Nya masuk dalam satu hubungan yang khusus dan harus hidup sebagai umat yang kudus. Kekudusan sangat erat sekali dengan peraturan atau hukum-hukum yang menjaga kekudusan umat. Kadang-kadang dikatakan bahwa Kitab Imamat mengemukakan hukuk-hukum upacara keagamaan Israel. Pernyataan semacam ini haruslah didampingi dengan penelitian terhadap Kitab Imamat sebagai kumpulan hukum saja. Pengertian Kitab Imamat tentang kekudusan tidak terbatas pada pengkhususan. ”Aku adalah kudus” penggunaan seperti ini menyatakan sebagaimana yang telah diterangkan. Allah bersifat rohani dan manusia bersifat jasmani, Allah tidak kelihatan dan manusia kelihatan. Allah berada ditempat yang kudus sedangkan manusia berada diluarnya karena dosa manusia. Jikalau demikian kesempurnaan Allah secara moral menjadi bagian dari konsep kekudusan-Nya dan Ia menuntut supaya umat perjanjian-Nya menjadi kudus.

Ada lima macam kudus dalam Kitab Imamat yaitu:

1.      Kudusnya Perkawinan

Perkawinan adalah inisiatif dari Allah, oleh karena itu perkawinan tidak boleh ternoda. Pasal 18: 9 menjelaskan ada dua macam larangan dalam perkawinan yaitu perkawinan antara saudara sekandung dan saudara tiri. Hal menunjukkan adanya suatu perintah untuk menjaga kekudusan dalam perkawinan. Dalam Iman Kristen menyatakan bahwa manusia hanya boleh mempunyai satu isteri/ suami. Setiap suami isteri Israel menikah dengan pikiran akan mempunyai anak, terutama anak laki-laki. Biasanya perkawinan dilambangkan dengan burung merpati yang dimana ’merpati’ mempunyai arti yaitu tulus dan setia sampai selamanya. Ada empat macam kasih, salah satunya adalah kasih eros. Kasih Eros biasanya mengungkapkan kasih antara lawan jenis. Sayang sekali kasih yang semacam ini terkadang disalahgunakan oleh beberapa orang, sehingga merendahkan nilai seks. Kasih ini merupakan pemberian Allah bagi manusia supaya manusia dapat mengungkapkan kasihnya. Dalam hubungan perkawinan yang kudus hruslah melibatkan Roh Kudus supaya perkawinan berfungsi sesuai pada tempatnya.

2.      Kudusnya Hidup

Korban adalah sarana bagi orang Israel untuk mendekati Allah. Karena Allah yang kudus itu menghedaki kita untuk hidup dalam kekudusan juga. Kekudusan Allah harus nyata dalam tata hidup segenap umat-Nya, baik para imam maupun rakyat pada umumnya. Kecederungan manusia berbuat dosa dan salah satu halangan utama untuk hidup kudus ialah tingkat moral dan rohani, ini akan menghalangi manusia untuk hidup kudus. Imamat 19:18, hidup kudus dalam Kitab Imamat tidak hanya semboyan biasa, tetapi hidup kudus memerlukan satu tindakan yang nyata dalam kehidupan. Roh Kudus akan terus-menerus membantu kiita untuk hidup kudus. Hidup kudus ialah menaruh seluruh hidup kita dibvawah kuasa Roh Kudus yang hendak mengkuduskan kita seluruhnya”(1 Tesalonika 5:23). Ini adalah suatu penyerahan diri agar semua segi kehidupan kita dipimpin oleh Roh Kudus supaya dapat menjadi dewasa rohani dab berdayaguna dlam pelayanan.

3.      Kudusnya umat TUHAN

Ada hal lain yang sangat berhubungan dengan konsep ”kekudusan” yaitu ”tahir” dan ”najis”, kedua kata ini digunakan baik dalam pengertian keagamaan atau moral. Tahir mempunyai kata dasar murni yang artinya belum tercampur. Dalam konteks Imamat tahir yang dimaksud adalah diampuni dengan sarana kurban. Jikalau kita melihat keseluruhan Kitab Imamat terdapat banyak sekali korban. Walaupun banyak korban yang dijelaskan Kitab Imamat, bagaimanapun juga, korban Kristus sudah menyebabkan kurban-kurban di Kitab Imamat sudah tidak terpakai lagi. Hal ini menjelaskan bahwa Kristus menjadi kurban sekali untuk selamanya. Yohanes 2:2 memberitahukan bahwa Kristus adalah ”pendamaian untuk segala dosa-dosa kita”, Kitab Ibrani 9:22 menyatakan bahwa ”tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan”. Kurban dan persembahan banyak dituliskan sepanjang perjanjian Lama .

Posting Komentar untuk "Konsep Alkitab Mengenai Tahir Atau Kudus Dan Halal"