Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandangan Perjanjian Baru Mengenai Najis Dan Tahir

Dalam ajaran-Nya, Kristus lebih menekankan kemurnian moral daripada seremonial (Markus 7:1-23). Tuduhan-Nya yang terkeras ditujukan terhadap mereka yang menganggap hal-hal yang ritual dan yang lahiriah lebih tinggi daripada hal-hal yang moral dan etis. Yang penting bukanlah seremonial, melainkan moral, pencemaran. Kita sungguh-sungguh membaca ayat-ayat tertentu Perjanjian Baru, kita diberitahu tentang kebiasaan orang Yahudi mengenai pembersihan dan pencemaran. Markus 7:3-4 menyajikan pernyataan ringkas tentang peraturan pembasuhan tangan, pencemaran yang terjadi di pasar, dan penyucian perkakas-perkakas. Yohanes 2:6 menyinggung cara membasuh diri jika hendak memasuki sebuah rumah, dan Yohanes 3:25 menunjukkan bahwa hal penyucian menimbulkan perdebatan. Peraturan-peraturan yang ketat menguasai penyucian bagi hari raya Paskah; ini semua disinggung pada Yohanes 11:55 dan 18:28. Penderita kusta yang ditahirkan harus melaksanakan korban tahirannya, yang dituntut oleh Taurat Musa (Markus 1:44). Untuk meniadakan penentangan dan untuk memperoleh penerimaan yang lebih baik terhadap berita yang dibawanya, Paulus melakukan upacara penyucian di Bait Suci Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:26). Tindakan yang menimbulkan teka-teki itu harus dinilai dalam terang gagasannya "bagi semua orang menjadi segala-galanya" -- artinya hidup sebagai Yahudi di antara orang Yahudi -- "karena Injil" (1 Korintus 9:22). Peristiwa ini tidak mengubah kebenaran bahwa Kristus telah mencabut segala peraturan imamat mengenai makanan dan praktek-praktek yang najis (Matius 15:1-20 dan Markus 7:6-23), dalam terang mana Petrus diperintahkan supaya berbuat (Kisah Para Rasul 10:13 dan ayat berikutnya), dan Paulus mengumumkan dengan resmi peraturan tentang tingkah laku kristiani (Roma 14:14, 20; 1 Korintus 6:13; Kolose 2:16, 20-22; Titus 1:15). Ibrani 3:19 dan seterusnya menitikberatkan bahwa satu-satunya kenajisan yang berarti penting secara agamawi ialah kenajisan hati nurani. Obatnya adalah korban Kristus, yang dipersembahkan dalam dunia kerohanian.

Seperti diharapkan, Injil-injil paling banyak berbicara tentang pembedaan antara yang tahir dan yang najis. Pentahiran dalam Injil-injil dibicarakan di bawah bermacam-macam kategori. Pentahiran itu dilihat dalam hubungannya dengan penyakit kusta (Matius 8:2; Markus 1:44; Lukas 5:14; 17:11-19). Kata yang dipakai dalam hubungan ini ialah 'katharizein', tapi Lukas 17:15 (yaitu kejadian mengenai 10 penderita kusta) memakai kata iasqai-iasthai (menyembuhkan). Pentahiran penderita kusta itu terdiri dari dua bagian: (a) upacara dengan dua ekor burung (Imamat 14) dan (b) upacara yang dilakukan delapan hari kemudian. Mengenai makanan ada upacara pembasuhan tangan (Matius 15:1-20; Markus 7:1-23; Yohanes 2:6; 3:25). Seperti yang ditunjukkan di atas, ada pentahiran sehubungan dengan Paskah (Yohanes 11:55; 18:28). Semua ragi harus benar-benar disingkirkan dari rumah (Keluaran 12:15; 19-20; 13:7). Akhirnya, setelah bayi lahir satu korban harus dipersembahkan pada akhir masa kenajisan, yaitu 40 hari bagi anak laki-laki dan 80 hari bagi anak perempuan (Lukas 2:22).

Posting Komentar untuk "Pandangan Perjanjian Baru Mengenai Najis Dan Tahir"