Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peraturan Pembangunan Peribadatan Pada Masa Kekaisaran Romawi

Peraturan Pembangunan Peribadatan Pada Masa Kekaisaran Romawi

Gereja dimulai 50 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-34 Masehi). Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4), Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai. Tiga ribu orang yang menerima khotbah Simon Petrus pada hari itu dan memilih untuk mengikuti Kristus dengan cara dibaptiskan. Peraturan ibadah tersebut yaitu:

1.  Kebaktian secara garis besar berlangsung seperti sekarang ini (bernyanyi, pembacaan Alkitab, khotbah dan doa)

2.      Bahasa yang digunakan ialah bahasa Latin

3.      Bangku-bangku tidak ada dalam gereja, kecuali hanya beberapa buah saja untuk orang yang tua dan yang lemah

4.      Jemaat yang lain berdiri dengan muka menghadap ke altar (mezbah)

5.      Ada pembacaan firman dari surat-surat rasuli dulu setelah itu dari Perjanjian Lama

6.      Alat musik tidak ada yang ada adalah “cantor” (pemimpin  biduan)

7.      Nyanyian dilakukan secara bersahut-sahutan

8.      Uskup berkhotbah dalam posisi duduk

9.      Semua jemaat aktif dan memberi sumbangan dalam kebaktian

10.  Jika berdoa berdiri

11.  Pada akhir kebaktian diadakan kolekte

12.  Baptisan diadakan secara tersendiri (diluar kebaktian umum)

13.  Pembaptisan pada umumnya yaitu baptisan selam (seluruh atau sebagian tubu) jika tidak penyraman boleh

14.  Baptisan anak-anak ada (tidak sering)

15.  Jika selasai dibaptis jika jemaat berbuat dosa maka ia dikucilkan (dikeluarkan) dari jemaat

16.  Baptisan dianggap menghapuskan dosa turunan

17.  Dosa diucapkan dihadapan imam

 

Aturan sesudah reformasi, reformasi dicetuskan oleh “Martin Luther”, Aturan-aturan tersebut sebagai berikut:

a.       Tidak boleh memakai bahasa Latin (sulit dipahami jemaat)

b.      Bahasa Latin diganti dengan bahasa Jerman

c.     Pengertian mengenai makna ibadah berubah secara asasi (ibadah tanpa khobah merupakan ibadah yang lengkap)

Berbicara mengenai kekristenan mula-mula tidak akan terlepas dari konteks kehidupan berkembang sebelumnya. Pengajaran-pengajaran Yesus terlebih khusus memengaruhi kehidupan pertumbuhan kekristenan pada masanya karena pengajaran-pengajaran Yesus secara umum menjadi tonggak yang melandasi pertumbuhan kekristenan. Dalam memahami pertumbuhan kekristenan, sudah barang tentu kita juga harus memahami konteks kehidupan berkembang pada masa pertumbuhan kekristenan itu. Pertumbuhan kekristenan tidak terlepas dari lahirnya gereja-gereja. Lahirnya gereja-gereja dan perkembangannya ada dalam konteks tertentu ketika kekristenan mulai berkembang. Gereja pada masa itu ibaratkan sebuah pohon. Dimulai dari sebuah biji atau tunas yang kecil lalu kemudian bertumbuh. Tumbuhlah dahan, ranting, dan cabang-cabang yang keluar dari batang pohon yang tumbuh itu. Demikian juga gereja jemaat pertama di Yerusalem. Gereja-gereja pada masa itu berkembang dalam bentuk yang berbeda-beda: dalam hal tata gereja, tata kebaktian, dan ajaran. Namun keberbedaan tersebut tetap hidup dalam satu akar yang sama. Disini penulis mencoba untuk memfokuskan tulisan ini dalam lingkup tumbuh kembang kekristenan, teks-teks sejarah yang menjadi bukti pemikiran orang-orang Kristen pada abad satu hingga abad dua. Dalam pertumbuhan itu bahkan terjadi berbagai macam perbedaan dalam gereja-gereja. Sehingga ada hal-hal yang dapat dipelajari bagi kita pada masa kini.

Gereja Kristus mulai timbul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama-tama ditujukan kepada orang Yahudi dalam perserakan. Di jaman Perjanjian Baru, orang-orang Yahudi tersebar luas di seluruh kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi menyikapi hidup beragama orang Yahudi adalah dengan membebaskan mereka untuk beribadah sesuai hukum-hukum tauratnya. Sedangkan orang-orang Yahudi beribadah di bait Allah di Yerusalem. Namun tidak hanya di bait Allah, di wilayah ada orang Yahudi disitu juga didirikan sebuah Sinagoge, sebuah ruangan untuk beribadah. Mereka beribadah setiap hari Sabat, di dalamnya diisi dengan pembacaan taurat beserta dengan penjelasannya. Kekaisaran saat itu dipimpin oleh Julius Caesar. Julius Caesar memberi pengecualian terhadap orang-orang Yahudi dari dinas kemiliteran. Orang-orang Yahudi pada masa itu sangat menekankan taurat sebagai dasar hidup mereka agar mereka beroleh bagian dalam kerajaan Mesias. Mereka yang melakukan taurat dengan cermat adalah mereka yang masuk dalam golongan Farisi, semisal berpuasa, berdoa, meberi sedekah, menguduskan hari Sabat, dsb. Namun sayangnya, mereka berpikir bahwa kebajikan yang mereka lakukan itu akan mendapatkan balasan yang setimpal oleh Tuhan. Sehingga apa yang mereka lakukan itu seolah-olah hanya perbuatannya saja namun tidak sesungguhnya dalam hati mereka. Di luar Palestina, orang-orang Yahudi diijinkan untuk ada sebagai komunitas yang tidak terikat dari keterasingan penduduk di kota-kota besar. Mereka juga tunduk terhadap struktur politik mereka sendiri sama seperti mereka tunduk terhadap kekaisaran Romawi. Diperkirakan pada jaman itu, lima hingga tujuh juta orang tinggal di dalam ke kaisaran Romawi, sekitar satu juta orang tinggal di Mesir, satu juta orang yang lainnya tinggal di Syria, dan lainnya sejumlah satu juta tinggal di Palestina. Kurang lebih sepuluh ribu orang tinggal di Roma.

Yudaisme dipandang baik oleh orang-orang kafir karena dianggap bahwa orang-orang Yahudi adalah keturunan filsuf. Yudaisme sangat menghormati para kafir, seprti dikatakan dalam ayat-ayat berikut: Kisah 13:16, 26; 16:14; 17:4, 17; 18:7. Mereka yang disebut para kafir, oleh kitab Kisah Para Rasul menyebut mereka orang-orang yang “takut akan Allah”. Dalam hal kebebasan beribadah, tidak berarti bahwa tidak lagi ada ketegangan antara orang-orang Yahudi dan Roma. Orang-orang Yahudi yang tinggal sebagai orang asing di kota-kota dalam lingkup kekaisaran itu juga menginginkan toleransi dan kesetaraan dengan sesamanya. Mereka masih memperjuangkan hak otonomi mereka seperti hak penuh kependudukan mereka. Namun beberapa kota menolak permintaan itu dan terjadi kekacauan di Aleksandria, Antiokhia, dan beberapa wilayah di Asia pada abad pertama. Dalam perkembangan Kekristenan, orang-orang Romawi menganggap agama Kristen merupakan sekte baru dari agama Yahudi, namun lebih bersifat politis. Demikian halnya dengan agama-agama dan aliran-aliran filsafat helenistis yang juga memiliki latar belakang yang sama. Namun agama-agama dan aliran filsafat helenistis justru tidak dapat memengaruhi perkembangan kekristenan itu sendiri. Perkembangan kekristenan pada masa itu bertumbuh kembang sangat pesat daripada agama-agama yang lain itu.

Alasan kekristenan menjadi agama yang berkembang pesat adalah karena kesakitan hatinya. Secara rohani orang-orang Kristen merasa diri mereka tertindas. Hatinya sakit, sebab mereka yang sesungguhnya dipilih Tuhan untuk memerintah dunia, sekarang malah dikuasai oleh bangsa kafir. Sehingga ada orang-orang yang memberontak akan kondisi itu. Namun dalam hati mereka tetap mengharapkan kesudahan akan semuanya itu. Kekristenan terus berkembang dari masa ke masa meskipun dalam hal pemberitaan kabar baik tersebut terjadi penolakan di banyak daerah hingga menjadi suatu tekanan. Namun demikian, semangat untuk mempertahankan iman mereka tetap terjaga. Orang-orang Kristen pada awalnya adalah terdiri dari orang-orang Yahudi. Mereka sebagai orang-orang Yahudi-Kristen masih tetap mengunjungi Bait Allah dan sinagoge dan dengan setia pula menaati hukum Taurat. Persoalan semakin kompleks seiring masuknya Injil ke dalam dunia orang-orang kafir. Persoalan mengenai pewajiban hukum Taurat itu terhadap orang-orang Kristen bukan Yahudi. Di sini Paulus memberi pemahaman bahwa orang-orang Kristen tidak perlu lagi mengikuti Taurat karena orang-orang percaya sudah dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya. Hingga pada abad 2, kekristenan sudah banyak tersebar mulai dari Eropa Barat hingga Asia Tengah. Dalam perkembangannya itu, kekristenan telah banyak masuk ke dalam berbagai lingkup kebudayaan dan bahasa. Dalam masing-masing lingkup tersebut juga memengaruhi kehidupan kekristenan dari masing-masing asalnya. Sehingga, banyak bermunculan cara dan ekspresi mereka dalam menyatakan keselamatan yang Allah berikan kepada Yesus Kristus.

Terakhir, hidup dan oraganisasi gereja. Lukas menawarkan sebuah gambaran tentang kehidupan dan ibadah gereja yang tidak ragu sebagai sebuah pola untuk menyediakan petunjuk bagi gereja sekitarnya. Kita mendapatkan gambaran tentang persekutuan kelompok-kelompok kecil dalam pengajaran, pemuridan, ibadah, dan perjamuan. Selain itu, ada juga jalan masuk untuk ke gereja dengan dibaptis dengan air. Hal-hal ini terdapat di dalam ringkasan singkat pada pasal-pasal awal Kisah Para Rasul ini (2:42-47;4:32-37). Hal ini juga seperti yang digambarkan oleh Injil Lukas. Lukas juga mencatat bahwa pentingnya peranan Roh Kudus di dalam kehidupan gereja. Roh Kudus merupakan milik dari setiap orang Kristen. Selain itu, Roh Kudus menjadi sumber sukacita dan kekuatan. Pemimpin-pemimpin Kristen sendiri merupakan orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk menunjukkan fungsi-fungsinya yang bermacam-macam. Pertemuan kebaktian orang-orang Kristen mula-mula diadakan di tempat-tempat rahasia, seperti rumah-rumah penduduk dan di lorong-lorong bawah tanah. Karya seni, lukisan dan mosaik gaya ini berasal dan abad pertama (V dan VI), hanyak ditemukan di lorong-lorong bawah tanah atau yang biasa disebut catacomb, yang pada awal masa Kristen merupakan tempat pemakaman. Catacomb dan bangunanbangunan lainnya kebanyakan dibangun di luar perbatasan kota karena faktor keamanan dan harga tanah. Akibat perkembangan umat Kristiani yang terus bertambah maka kebutuhan ruang ibadah semakin besar. Sejak itu dibangun tempat  peribadatan di seluruh wilayah kekaisaran Romawi berupa gereja-gereja kuno. Pada pertengahan (abad ke-3) sudah ada lebih dari 40 buah rurnah ibadah di Roma. 

Pada awalnya gereja mempunyai aturan yang berbeda dibandingkan dengan kuil hedonisme zaman Romawi. Gereja merupakan tempat pertemuan para pengikut Kristen. Bagian dalam bangunan yang diletakkan secara terpisah, terdapat ruang yang disucikan dan dipercaya sebagai tempat bersemayam Tuhan yang tidak kelihatan. Umat memuja dan berdoa melalui perantara pendeta atau imam. Karenanya letak altar dan pendeta harus berhadapan dengan umat,  maka bentuk gereja membutuhkan denah memanjang, seperti bangunan Basilika zaman Romawi. Pendapat mengenai pengaruh masa kuno terhadap Basilika Kristen masih beragam. Salah satu hipotesis yang mengungkapkan bahwa bangunan Basilika Kristen dibuat berdasarkan Basilika Romawi yang juga berfungsi sebagai tempat pertemuan. Namun ada juga yang mengatakan, bahwa prinsip dasar Basilika Kristen adalah rumah tinggal gaya Romawi yang memiliki atrium di bagian tengahnya dan dikombinasikan dengan gaya susunan gedung pertemuan. 

Posting Komentar untuk "Peraturan Pembangunan Peribadatan Pada Masa Kekaisaran Romawi"