Problematika Pembangunan Peribadatan Pada Masa Kekaisaran Romawi
Terdapat beberapa masalah-masalah yang terjadi dalam Gereja pada masa kekaisaran Romawi yaitu:
1.
Agama Negara
Kaisar Agustus mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Salah satu peraturan yang muncul pada masa pemerintahannya adalah menyembah kepada Kaisar sebagai dewa mereka, walaupun mereka masih diijinkan melakukan penyembahan kepada dewa-dewa/kepercayaan asal mereka sendiri. Namun demikian ada kekecualian untuk orang-orang Yahudi yang mempunyai agama Yudaisme yang menjunjung tinggi monotheisme, mereka tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Hal ini terjadi karena mereka takut kalau orang Yahudi memberontak. Kehadiran agama Kristen saat itu, pada mulanya dianggap sebagai salah satu sekte agama Yudaisme, itu sebabnya orang-orang Kristen pertama tidak diharuskan untuk menyembah kepada Kaisar. Tetapi setelah orang- orang Yahudi secara terbuka memusuhi orang Kristen (puncak peristiwa penyalipan Kristus) barulah pemerintah Romawi melihat kekristenan tidak lagi sebagai sekte Yudaisme tetapi agama baru. Sejak saat itu keharusan menyembah kepada Kaisar pun akhirnya diberlakukan untuk orang-orang Kristen. Kepada mereka yang tidak patuh pada peraturan ini mendapat hukuman dan penganiayaan yang sangat berat.
2.
Penganiayaan terhadap
orang Kristen
Salah satu bukti kesetiaan orang Kristen kepada
Kristus ditunjukkan dengan secara setia menjalankan pengajaran Alkitab dan
menolak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Karena sebab
itulah orang-orang Kristen sering harus membayar harga yang mahal demi
kepercayaan mereka kepada Kristus, antara lain adalah dengan penganiayaan.
Beberapa penyebab penganiayaan:
a. Karena orang Kristen menolak untuk menyembah Kaisar.
b. Karena orang Kristen dituduh melakukan hal-hal yang menentang kemanusiaan, mis. menolak menjadi tentara, mengajarkan tentang kehancuran dunia, membiarkan perpecahan keluarga, dll.
c. Karena orang Kristen dituduh mempraktekkan immoralitas dan kanibalisme, misalnya melakukan cium kudus, bermabuk-mabukan, dosa inses, makan darah dan daging manusia.
3.
Hasil dari penganiayaan.
Memang ada banyak orang Kristen yang mati dalam
penganiayaan dan pembunuhan, namun demikian jumlah orang Kristen tidak
semakin berkurang malah semakin bertambah banyak.
a) Orang Kristen semakin berani. Sekalipun dianiaya mereka tetap mempertahankan iman mereka (mis. Surat Petrus).
b) Kekristenan semakin menyebar keluar dari Yerusalem, yaitu ke daerah-daerah sekitarnya, dan ke seluruh dunia.
c) Orang-orang Kristen semakin memberi pengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga mereka betu-betul menjadi saksi yang hidup.
Apa bila terjadi beberapa bencana atau masalah yang khususnya terjadi di keluarga kelompok yang bukan Kristen seperti kebakaran, banjir dan masih banyak lagi, mereka menuduh orang-orang Kristen dan mereka berteriak “orang-orang Kristen yang bersalah!!”, biarlah mereka dilemparkan kebinatang buas saja!!. Lalu mereka mendatangi rumah-rumah Kristen dan menyeret mereka ke Gubernur, dan jika mereka bersikeras dan menolak menyembah kaisar maka mereka duhukum mati. Cara mereka membunuh mereka seperti dibakar, disalibkan dan berkelahi dengan binatang buas. Orang-orang Kristen sangat dilarang atau tidak diberi kesempatan untuk membela diri didepan hakim. Pada tahun 303, dibawah pemerintahan Kaisar Deocletianus, mulaiolah penghambatan yang lebih besar dar sebelumnya. Orang Kristen dipecat dari jabatan pemerintahannya, gedun-gedung gereja dirusak, dan kitab suci dibakar, tindakan ini hendak memusnahkan gereja.

Posting Komentar untuk "Problematika Pembangunan Peribadatan Pada Masa Kekaisaran Romawi"