Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asal-Usul Dan Perkembangan Sejarah, Budaya, Bahasa Dan Iklim Bangsa Mesir

Asal-Usul Bangsa Mesir

Manusia datang ke daerah yang sekarang dikenal sebagai Mesir lebih dari 9.000 tahun yang lalu. Mereka adalah orang-orang nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari makanan. Mereka biasa berburu binatang dan mengumpulkan makanan lain di padang rumput yang subur. Seiring waktu, iklim daerah itu menjadi panas dan kering. Seluruh wilayah secara bertahap berubah menjadi padang pasir, kecuali Lembah Nil. Orang-orang terpaksa pindah ke jalur subur sepanjang sungai. Di sini, sekitar 9.000 tahun yang lalu, mereka membangun pemukiman pertamanya dan belajar bercocok tanam. Permukiman awal di Mesir kuno berkembang menjadi desa dan kota. Beberapa komunitas masyarakat terbentuk di daerah yang berbeda. Saat kelompok-kelompok ini menjadi semakin besar, mereka bergabung bersama-sama atau saling menaklukkan satu sama lain. Sekitar 3100 SM, Mesir kuno terdiri atas dua kerajaan. Di utara, orang-orang di sekitar Delta Nil membentuk kerajaan Mesir Hilir. Sementara di selatan, Mesir Hulu membentang hingga arung jeram (katarak) pertama Sungai Nil. Menurut legenda, raja Mesir Hulu saat itu disebut Menes. Beberapa sejarawan berpikir bahwa Menes mungkin adalah orang yang sama dengan raja yang disebut Narmer. Narmer berhasil menguasai Mesir Hilir dan menyatukan dua daerah itu menjadi satu kerajaan. Dengan penyatuan ini, peradaban Mesir kuno dimulai.

Periode besar pertama dari sejarah Mesir kuno disebut Kerajaan Lama. Periode ini berlangsung dari sekitar 2650 SM sampai sekitar 2150 SM. Selama periode itu, Mesir membentuk pemerintahan pusat yang kuat dan dipimpin oleh seorang raja. Para penguasa awal mendirikan kota Memphis yang terletak di perbatasan antara Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Sebagian besar piramida besar Mesir kuno dibangun selama periode Kerajaan Lama. Struktur besar itu dibangun sebagai makam kerajaan. Mereka juga memiliki kuil sebagai pengkultusan raja dan ratu, yang diyakini sebagai dewa. Piramida pertama yang tercatat dalam sejarah adalah piramida bertangga di Saqqara, dibangun sekitar 2650 SM. Kerajaan Lama berakhir karena perang saudara dan kekerasan. Ada periode kekeringan yang panjang, yakni saat air Sungai Nil tak bisa naik cukup tinggi untuk membanjiri tanah. Tanaman tidak bisa tumbuh dan banyak orang kelaparan. Keluarga kerajaan mulai kehilangan kontrol, dan banyak nomarch, atau gubernur setempat, yang memberontak melawan mereka. Massapun mulai menyerang makam dan istana. Segera setelah itu, penjajah dari Nubia, selatan Mesir, mulai bergerak memasuki Mesir. Republik Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir, (bahasa Arab: مصر, Maṣr, bahasa Inggris: The Arab Republic of Egypt) adalah sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Dengan luas wilayah sekitar 997.739 km² Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza (Palestina) dan Israel di utara-timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur. Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil (sekitar 40.000 km²). Sebagian besar daratan merupakan bagian dari gurun Sahara yang jarang dihuni. Mesir terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno termegah di dunia, misalnya Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil Ramses. Di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan, terdapat kira-kira artefak kuno yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini, Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah.

Lokasi, Geografis Dan Iklim Bangsa

1.   Letak Astronomis: Secara astronomis Mesir terletak di antara 25o BT- 36o BT dan antara 22oLU- 32o LU.

2.    Letak Geografis: Secara geografis Mesir terletak di tepi Laut Merah dan Laut Mediterania.Mesir terletak di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Sinai di Asia. Mesir berada paling timur dari negara Afrika Utara lainnya dan paling dekat dengan Asia. Di sebelah utara Mesir adalah laut Tengah, di sebelah barat berbatasan dengan Libya, di selatan berbatasan dengan Sudan dan di sebelah timur adalah laut Merah.

3.      Batas: 

a.       Sebelah Utara: Berbatasan dengan Laut Tengah.
b.      Sebelah Timur: Berbatasan dengan Jalur Gaza, Israel, dan Laut Tengah.
c.       Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Sudan
d.      Sebelah Barat: Berbatasan dengan Libya

4.      Luas: Luas negara Mesir adalah 997.739 km2 dibandingkan dengan luas negara Indonesia yang luasnya 1.906.240 km2. Berarti luas negara Mesir lebih sempit dibandingkan dengan luas negara Indonesia.

Berdasarkan letak lintangnya, sebagian besar wilayah Mesir berada pada daerah     subtropis. Dengan demikian, tipe iklim yang ada di Mesir adalah iklim subtropis arid atau kering. Perbedaan antara musim panas dengan musim dingin sangat besar. Musim panas di Negara Mesir terjadi pada bulan Mei – Oktober dengan suhu rata-rata 31o C pada siang hari dan 15o C pada malam hari. Musim dingin terjadi pada bulan November – April dengan suhu berkisar antara 11o C – 18o C. Hujan biasanya terjadi pada musim ini, dengan curah hujannya hanya berkisar antara 100 – 200 mm dalam satu tahun.

Di Mesir sering terjadi juga angin badai. Angin badai tersebut kering dan berdebu. Angin itu bertiup dari Gurun Sahara menuju ke Delta Sungai Nil. Angin ini disebut khamsin. Peristiwa angin badai terjadi antara April – Mei. Angin ini berpengaruh buruk terhadap tanaman di Delta Sungai Nil.

Bahasa Dan Ibu Kota Bangsa

Bahasa Mesir Adalah Bahasa Afro-Asia Yang Sangat Erat Hubungannya Dengan Bangsa Barber, Bahasa Semit Dan Bahasa Beja. Bahasa Ini Bertahan Sampai Abad Ke 5 Masehi Dalam Bentuk Bahasa Demotik Dan Sampai Abad Ke 17 Masehi Dalam Bentuk Bahasa Koptik. Catatan Tertulis Dengan Bahasan Mesir Dari Tahun 3200 Sm, Membuatnya Menjadi Bahasa Tertulis. Bahasa Nasional Mesir Saat Ini Adalah Bahasa Arab Yang Menggantikan Bahasa Koptik Secara Bertahap Sebagai Bahasa Sehari – Hari, Selama Berabad-Abad Setelah Penaklukan Islam Atas Mesir. Koptik Masih Digunakan Sebagai Bahasa Liturgi Oleh Gereja Ortodoks Koptik Dan Gereja Katolik Koptik. Serta Menjadi Bahasa Ibu Untuk Beberapa Orang. “Ibu kota Mesir adalah Al Quds (Yerusalem).”

Sistem Pemerintahan Dan Pemimpin Yang Paling Terkenal

Sistem pemerintahan dan hukum di Mesir Kuno secara resmi dikepalai oleh firaun yang bertanggung jawab membuat peraturan, menciptakan keadilan, serta menjaga hukum dan ketentraman, sebuah konsep yang disebut masyarakat Mesir Kuno sebagai Ma'at. Meskipun belum ada undang-undang hukum yang ditemukan, dokumen pengadilan menunjukkan bahwa hukum di Mesir Kuno dibuat berdasarkan pandangan umum tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta menekankan cara untuk membuat kesepakatan dan menyelesaikan konflik. Dewan sesepuh lokal, yang dikenal dengan nama Kenbet di Kerajaan Baru, bertanggung jawab mengurus persidangan yang hanya berkaitan dengan permasalahan-permasalahan kecil. Kasus yang lebih besar termasuk di antaranya pembunuhan, transaksi tanah dalam jumlah besar, dan pencurian makam diserahkan kepada Kenbet Besar yang dipimpin oleh wazir atau firaun. Penggugat dan tergugat diharapkan mewakili diri mereka sendiri dan diminta untuk bersumpah bahwa mereka mengatakan yang sebenarnya. Dalam beberapa kasus, negara berperan baik sebagai jaksa dan hakim, serta berhak menyiksa terdakwa dengan pemukulan untuk mendapatkan pengakuan dan nama-nama lain yang bersalah. Tidak peduli apakah tuduhan itu sepele atau serius, juru tulis pengadilan mendokumentasikan keluhan, kesaksian, dan putusan kasus untuk referensi pada masa mendatang. Hukuman untuk kejahatan ringan di antaranya pengenaan denda, pemukulan, mutilasi di bagian wajah, atau pengasingan, tergantung kepada beratnya pelanggaran. Kejahatan serius seperti pembunuhan dan perampokan makam dikenakan hukuman mati seperti pemenggalan leher, penenggelaman, atau penusukan. Hukuman juga bisa dikenakan kepada keluarga penjahat. Sejak pemerintahan Kerajaan Baru, oracle memiliki peran penting dalam sistem hukum, baik pidana maupun perdata. Prosedurnya adalah dengan memberikan pertanyaan "ya" atau "tidak" kepada dewa terkait sebuah isu. Sang dewa, diwakili oleh sejumlah imam, memberi keputusan dengan memilih salah satu jawaban, melakukan gerakan maju atau mundur, atau menunjuk pada selembar papirus atau ostracon.

Sebagai kawasan yang berbasis pertanian besar, Mesir Kuno dipimpin oleh seorang Firaun. Di daerah-daerah terdapat 20 provinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur. Firaun Mesir Kuno berperan sebagai Raja Dewa (God Kings). Baru pada tahun 2133 SM, Firaun hanya diakui sebagai "keturunan dewa" saja. Pada mulanya, Mesir terbagi menjadi dua, yaitu Mesir Bawah (Hilir/Utara) dengan ibu kota di Memphis dan Mesir Atas (Hulu/Selatan) dengan ibu kota di Thebe. Sejak Firaun Menes dari Wangsa I (3100-2890 SM) berkuasa, kedua Mesir dapat disatukan. Penyatuan ini ditandai dengan mahkota yang dikenakan Menes berupa mahkota bersusun dua. Pehyatuan Menes ini oleh penerusnya dikembangkan dengan ekspansi ke Sudan, Nubia dan Libya. Pada masa kekuasaan Wangsa lll (2686-2613 SM), pemerintahan dipegang oleh Firaun Joser. Saat itu, Mesir berhasil menguasai daerah Nubia Hilir. Pada masa pemerintahan Wangsa IV (2613-2494 SM), ada beberapa Firaun yang menonjol di antaranya Khufu, Khafre, dan Menkaure. Pada waktu itu, Mesir berperang dengan Nubia dan Libya. Pada tahun 1674-1567 SM, Mesir diserang dan dikuasai oleh bangsa Hyksos. Selanjutnya Ahmosis I dari Wangsa XVIII (1567-1320 SM) berhasil mengusir bangsa Hyksos dan mengembalikan kemerdekaan dan kejayaan Mesir. Firaun Thutmosis lll memperluas kekuasaan Mesir sampai dengan tepi Sungai Eufrat. Pada masa pemerintahan Wangsa XX (1200 SM), kejayaan Mesir perlahan-lahan mulai pudar. Beberapa jajahan Asia melepaskan diri, bahkan tahun 524~04 SM, Mesir dikuasai oleh Persia. Pada masa pemerintahan Wangsa XXVII (404-398 SM) bangsa Persia dapat diusir dari Mesir dengan bantuan Yunani. Pada tahun 332 SM, Alexander Macedonia menyerbu ke Asia dan Mesir. Sejak itu Mesir dikuasai Yunani sampai dengan pemerintahan Wangsa Ptolomaeus (dengan rajanya yang terkenal, Cleopatra). Mesir jatuh ke tangan Romawi pada tahun 30 SM.

Sistem Kebudayaan

Mesir kuno terkenal dengan kehidupan social dan budayanya. Peradaban Mesir kuno adalah salah satu peradaban yang pertama kali menggunakan bahasa tulis. Mereka menulis pada makam, tembikar, dan kertas papyrus yang terbuat dari alang-alang yang ditenun. Bahasa pertama Mesir kuno adalah Hieroglif. Sebuah hieroglif terdiri dari gambar. Sistem penulisan hieroglif sangat kompleks dan padat karya. Hieroglif pertama digunakan pada bangunan dan makam. Hal ini diyakini bahwa masyarakat Mesir pertama kali mengembangkan sistem penulisan pada sekitar 3000 SM. Hieroglif dibagi menjadi empat kategori, yaitu tanda abjad, tanda suku kata, tanda kata, dan gambar suatu objek yang mengarahkan pembaca. Masyarakat Mesir kuno percaya kepada banyak dewa-dewi. Kira-kira terdapat 700 dewa-dewi yang berbeda. Berikut adalah beberapa contoh dari dewa-dewi Mesir kuno yang paling terkenal: Anubis dewa kematian, Ra dewa matahari, dewa yang paling penting dalam Mesir kuno, Horus dewa langit, dan Osiris dewa kematian dan penguasa dunia kematian. Masyakat Mesir menganggap Firaun lebih dari seorang raja. Mereka menghormati Firaun sebagai dewa. Firaun bertanggungjawab atas semua aspek kehidupan Mesir. Seperti menjaga irigasi agar teratur, mengarahkan pasukan, mempertahankan perdamaian, membuat hukum, dan lain sebagainya. Salah satu dari aspek kepercayaan Mesir yang paling terkenal adalah pemikiran tentang kehidupan setelah kematian. Mereka percaya bahwa tubuh fisik harus dipertahankan untuk mempersiapkan tempat bagi jiwa mereka untuk menetap setelah kematian. Karena itu, mumifikasi dilakukan untuk mempertahankan tubuh. Mumi adalah tubuh seseorang atau binatang yang telah dipertahankan setelah kematian. Orang-orang Mesir percaya bahwa ketika mereka mati, mereka akan melakukan perjalanan ke dunia lain di mana mereka akan memulai kehidupan yang baru, Mereka akan memerlukan semua benda yang mereka gunakan ketika masih hidup, sehingga keluarga mereka akan menaruh semua benda-benda tersebut di dalam makam mereka. Orang-orang Mesir yang miskin dikuburkan di dalam pasir sedangkan orang-orang Mesir yang kaya dikuburkan di dalam makam.

Orang-orang Mesir dikubur bersama-sama dengan harta benda mereka dan dinding makam dilukis tentang kehidupan orang yang telah meninggal. Dalam Kerajaan Mesir Tua dan Menengah, raja-raja Mesir dimakamkan dalam piramida. Orang-orang Mesir kuno awal menguburkan orang-orang mati di dalam lubang kecil di padang pasir. Panas dan kekeringan dari pasir mengeringkan tubuh dengan cepat, menciptakan mumi yang natural. Kemudian, orang-orang Mesir kuno mulai mengubur orang mati dalam peti mati untuk menjaga jenazahnya dari binatang-binatang liar di padang pasir. Namun, mereka menyadari bahwa tubuh yang ditaruh dalam peti mati membusuk ketika tidak terkena pasir gurun yang panas dan kering. Lalu, orang-orang Mesir kuno mengembangkan sebuah metode pengawetan tubuh sehingga jenazah dapat lebih bertahan lama. Proses ini meliputi pembalseman mayat, kemudian pembungkusan dan penguburan jenazah. Organ-organ dalam tubuh orang mati dikeluarkan dalam prosesnya. Hal ini disebabkan organ-organ dalam adalah yang paling cepat terurai. Hati tidak dikeluarkan dari dalam tubuh karena hati adalah pusat dari intelegensia dan perasaan, dan orang tersebut akan membutuhkannya dalam kehidupan yang akan dating. Dahulu, organ-organ dalam yang dikeluarkan dimasukkan ke dalam guci. Sekarang kita menyebut proses ini mumifikasi. Kehidupan sehari-hari pada Mesir kuno berlangsung sekitar Sungai Nil dan tanahnya yang subur di sekitar aliran sungai. Sebagian besar masyarakat Mesir kuno bekerja sebagai buruh sawah, petani, dan pengrajin. Orang-orang Mesir kuno memiliki cara yang unik dalam menggambar orang, Mereka memiliki norma sendiri dan telah ditetapkan sejak zaman Kerajaan Tua. Seniman-seniman       Mesir menggunakan grid untuk membantu mereka menggambar orang. Mereka menggambar kepala, mata, dan kaki dalam posisi seperti dilihat dari samping. Mereka menggambar pundak dan dada seperti dilihat dari depan. Lukisan Mesir pada dasarnya didedikasikan untuk orang yang telah mati. Banyak gambar yang menunjukkan perjalanan panjang sebelum kematian. Aspek lain yang penting dari lukisan Mesir adalah penggambaran binatang. Warna primer yang digunakan dalam lukisan adalah merah, hijau, biru, emas, dan hitam. Salah satu dari pekerjaan seni dan arsitektur terbesar di Mesir kuno adalah piramida.

Sistem Perekonomian

a.      Pertanian

Sektor pertanian Negara Mesir berkembang dengan pesat. Agar produksi pertanian meningkat, di bangunlah beberapa bendungan, yaitu bendungan Aswan, Khartum, Asviut, dan Kairo, tujuannya yaitu untuk irigasi lahan pertanian dan juga untuk mencegah bahaya banjir. Produk pertanian Mesir adalah kapas, tebu, padi, jagung, gandum, gula, kurma dan minyak zaitun. Kapas pernah tercatat sebagai komoditas ekspor terbesar negara Mesir, namun akhir-akhir ini produksi kapas memperoleh saingan berat dari negara-negara penghasil serat sintetis untuk tekstil, seperti Amerika Serikat. Penanaman kapas diusahakan di daerah sekitar lembah Sungai Nil. Padi ditanam di Lembah Sungai Nil bagian utara, sedangkan tebu ditanam di lembah Sungai Nil bagian selatan. Padi juga termasuk komoditas ekspor. Petani-petani Mesir disebut Fellah atau Fellahin.

b.      Peternakan

Sektor peternakan banyak diusahakan oleh penduduk nomaden yang berdiam di daerah gurun. Ternak yang dipelihara adalah jenis hewan ternak besar yaitu, domba, biri-biri, dan unta.

c.       Pertambangan

Sektor pertambangan juga mendukung perekonomian Mesir. Pertambangan di Mesir yang telah berkembang antara lain, adalah minyak bumi, fosfat, biji besi, dan mangan. Daerah Gurun Barat yang kering ternyata banyak mengandung minyak bumi. Selain di Gurun Barat, minyak bumi terdapat pula di sekitar Terusan Suez dan lepas Pantai Sinai. Mangan terdapat di Semenanjung Sinai. Pertambangan bijih besi terdapat di sekitar Bendungan Aswan. Hasil tambang lainnya antara lain, gips, wolfram, dan asbes dalam jumlah kecil.

d.      Perindustrian

Industri utama Negara Mesir adalah tekstil. Saat ini Mesir sedang mengembangkan industri tekstil dengan bahan-bahan katun, wol, dan rayon. Industri lainnya adalah pupuk, semen, industri besi, baja, bahan kimia, dan mobil. Daerah perindustrian Negara Mesir terdapat di Iskandariyah, Kairo, Delta Sungai Nil, dan lepas Pantai Sinai.

e.       Pedagangan

Perekonomian Negara Mesir juga sangat tergantung pada aktivitas perdagangan. Mesir berusaha meningkatkan volume perdagangannya, sehingga devisit perdagangannya dapat diperkecil. Ekspor utama Mesir adalah minyak bumi, kapas, benang tenun, tekstil, fosfat, dan buah-buahan seperti kurma. Negara tujuan utama ekspornya adalah Perancis, Italia, Amerika Serikat, Belanda, dan Rusia. Sedangkan impor ke mesir antara lain mesin-mesin, alat transportasi, bahan-bahan kimia, batu bara, kayu lapis, dan bahan minuman.

f.       Pariwisata Atau Transportasi

Pada sektor ini, sangat besar pula peranannya pada perekonomian Mesir. Sektor transportasi misalnya berupa pendapatan dari yang diperoleh dari Terusan Suez, yang sangat membantu perekonomian Mesir.

Sistem Keagamaan

Menurut catatan sejarah, bangsa Mesir Kuno menyembah banyak Dewa-dewi. Kira-kira 700 yang berbeda dan belum menemukan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. Berikut adalah beberapa contoh dari dewa-dewi Mesir kuno yang paling terkenal: Anubis dewa kematian, Ra dewa matahari, dewa yang paling penting dalam Mesir kuno, Horus dewa langit, dan Osiris dewa kematian dan penguasa dunia kematian. Masyakat Mesir menganggap Firaun lebih dari seorang raja. Mereka menghormati Firaun sebagai dewa. Firaun bertanggungjawab atas semua aspek kehidupan Mesir. Seperti menjaga irigasi agar teratur, mengarahkan pasukan, mempertahankan perdamaian, membuat hukum, dan lain sebagainya. Salah satu dari aspek kepercayaan Mesir yang paling terkenal adalah pemikiran tentang kehidupan setelah kematian. Mereka percaya bahwa tubuh fisik harus dipertahankan untuk mempersiapkan tempat bagi jiwa mereka untuk menetap setelah kematian. Karena itu, mumifikasi dilakukan untuk mempertahankan tubuh. Menurut kepercayaan Mesir Kuno, para Dewa merupakan makhluk-makhluk yang lebih berkuasa daripada umat manusia dan mengatur aspek-aspek kehidupan umat manusia. Mereka memberkati manusia, melindungi manusia, menghukum manusia, dan mencabut ajal manusia. Masyarakat Mesir mengenal pemujaan terhadap dewa-dewa. Ada dewa yang bersifat nasional yaitu Ra (Dewa Matahari), Amon (Dewa Bulan) kemudian menjadi Amon Ra. Sebagai lambang pemujaan kepada Ra didirikan obelisk yaitu tiang batu yang ujungnya runcing. Obelisk juga dipakai sebagai tempat mencatat kejadian-kejadian. Untuk pemujaan terhadap dewa Amon Ra dibangunlah Kuil Karnak yang sangat indah pada masa Raja Thutmosis III. Selain dewa nasional maka ada dewa-dewa lokal yang dipuja pada daerah-daerah tertentu seperti Dewa Osiris yaitu hakim alam baka, Dewi Isis yaitu dewi kecantikan isteri Osiris, Dewa Aris sebagai dewa kesuburan dan Dewa Anubis yaitu dewa kematian.

Wujud kepercayaan yang berkembang di Mesir berdasarkan pemahaman sebagai berikut:

1.  Penyembahan terhadap dewa berangkat dari ide/gagasan bahwa manusia tidak berdaya dalam menaklukkan alam.

2.   Yang disembah adalah dewa/dewi yang menakutkan seperti dewa Anubis atau yang memberi sumber kehidupan.

 

Jadi dengan taat menyembah pada dewa, masyarakat lembah sungai Nil berharap tidak menjadi sasaran maut. Kepercayaan yang kedua berkaitan dengan pengawetan jenazah yang disebut mummi. Dasarnya membuat mummi adalah bahwa manusia tidak dapat menghindari dari kehendak dewa maut. Manusia ingin tetap hidup abadi. Agar roh tetap hidup maka jasad sebagai lambang roh harus tetap utuh.

 

Masa Puncak Kejayaan Dan Kejatuhan

a.      Masa Puncak Kejayaan

Firaun-firaun Kerajaan Baru berhasil membawa kesejahteraan yang tak tertandingi sebelumnya. Perbatasan diamankan dan hubungan diplomatik dengan tetangga-tetangga diperkuat. Kampanye militer yang dikobarkan oleh Tuthmosis I dan cucunya Tuthmosis III memperluas pengaruh firaun ke Suriah dan Nubia, memperkuat kesetiaan, dan membuka jalur impor komoditas yang penting seperti perunggu dan kayu. Firaun-firaun Kerajaan juga memulai pembangunan besar untuk mengangkat dewa Amun, yang kultusnya berbasis di Karnak. Para firaun juga membangun monumen untuk memuliakan pencapaian mereka sendiri, baik nyata maupun imajiner. Firaun perempuan Hatshepsut menggunakan propaganda semacam itu untuk mengesahkan kekuasaannya. Masa kekuasaannya yang berhasil dibuktikan oleh ekspedisi perdagangan ke Puntkuil kamar mayat yang elegan, pasangan obelisk kolosal, dan kapel di Karnak. Sekitar tahun 1350 SM, stabilitas Kerajaan Baru terancam ketika Amenhotep IV naik tahta dan melakukan reformasi yang radikal dan kacau. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten. Akhenaten memuja dewa matahari Aten sebagai dewa tertinggi. Ia lalu menekan pemujaan dewa-dewa lain. Akhenaten juga memindahkan ibukota ke kota baru yang bernama Akhetaten (kini Amarna). Ia tidak memperdulikan masalah luar negeri dan terlalu asyik dengan gaya religius dan artistiknya yang baru. Setelah kematiannya, kultus Aten segera ditinggalkan, dan firaun-firaun selanjutnya, yaitu TutankhamunAy, dan Horemheb, menghapus semua penyebutan mengenai bidaah Akhenaten. Ramses II naik tahta pada tahun 1279 SM. Ia membangun lebih banyak kuil, mendirikan patung-patung dan obelisk, serta dikaruniai anak yang lebih banyak daripada firaun-firaun lain dalam sejarah. Sebagai seorang pemimpin militer yang berani, Ramses II memimpin tentaranya melawan bangsa Het dalam pertempuran Kadesh. Setelah bertempur hingga mencapai kebuntuan (stalemate), ia menyetujui traktat perdamaian pertama yang tercatat sekitar 1258 SM. Kekayaan menjadikan Mesir sebagai target serangan, terutama oleh orang-orang Laut dan Libya. Tentara Mesir mampu mengusir serangan-serangan itu, namun Mesir akan kehilangan kekuasaan atas Suriah dan Palestina. Pengaruh dari ancaman luar diperburuk dengan masalah internal seperti korupsi, penjarahan makam, dan kerusuhan. Pendeta-pendeta agung di kuil Amun, Thebes, mengumpulkan tanah dan kekayaan yang besar, dan kekuatan mereka memecahkan negara pada masa Periode Menengah Ketiga.

b.      Masa Kejatuhan

Kejatuhan Kerajaan mesir kuno diperkirakan berdiri mulai tahun 3400 sebelum masehi, rajanya yang terkenal adalah Fir’aun, yang memiliki kekuasaan mutlak baik dalam hal pemerintahan maupun urusan agama. Disamping sebagai kepala negara, Fir’aun juga di puja sebagai dewa ang berkuasa. Sehingga semua masyarakat mesir kuno patuh dan tunduk terhadap segala perintahnya. para pendeta menguatkan perintah-perintah raja sebagai perintah dewa dan para hakim menjaga dan memelihara agar semua perintah raja berjalan lancar. Keruntuhan kerajaan mesir kuno disebabkan oleh beberapa hal, antara lain terjadinya perebutan kekuasaan antara pimpinan agama yang makin menguasai kehidupan masyarakat dengan raja. Fir’aun Akhanton mencoba membebaskan diri dari pengaruh kaum agama dan megubah ajaran agama mesir kuno. Kepercayaan kepada dewa-dewa dihapus dan digantikan dengan kepercayaan pada satu kekuasaan yang lebih tinggi, yakni maha dewa yang berwujud matahari. Perubahan ini menyebabkan terjadinya perang saudara. Dalam keadaan lemah, mesir diserbu oleh bangsa pengembara dari daerah asia kecil yaitu bangsa hitit. Setelah itu penguasaan terhadap mesir saling bergantian antara bangsa pengembara. Dan pada abad VI sebelum masehi bangsa parsi menguasai mesir. Pada abad ke IV sebelum masehi, mesir dikuasai oleh raja makedonia, yaitu iskandar zulkarnain dan dilanjutkan oleh raja-raja berikutnya, yang menurunkan dinasti Ptolomaios sampai abad pertama masehi. Kemudian mesir dikuasai oleh kerajaan romawi sampai abad ke VII masehi, setelah itu mesir dikuasai oleh kerajaan islam dari dinasti ummayyah.

Hubungannya Dengan Umat Tuhan Atau Israel

Mengapa bangsa Israel mengklaim bahwa bangsanya adalah bangsa pilihan dan senantiasa disertai oleh Allah? Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan mengetahui bahwa dalam melaksanakan rencana keselamatan manusia, memang Allah melakukannya secara bertahap. Mulai dari Adam dan Hawa, lalu dengan keturunan mereka, Nabi Nuh, dan sampai kepada Bapa Abraham yang kepadanya Allah Bapa berjanji akan menjadikan keturunannya berjumlah sebanyak bintang di langit (lih. Kej 15:5) dan oleh keturunannya maka segala bangsa akan diberkati (lih. Kej 22:18). Janji ini ditepati Allah, dan Allah memberikati keturunan Bapa Abraham dari Ishak, Yakub yang disebut Israel dengan keturunannya yang membentuk kedua belas suku Israel. Peristiwa Keluar dari Mesir (atau Keluaran; bahasa InggrisThe Exodus; dari bahasa Yunaniἔξοδοςexodos, artinya "pergi ke luar") adalah suatu kejadian penting dalam sejarah bangsa Israel, di mana mereka menjadi bebas dari perbudakan selama lebih dari 400 tahun di tanah Mesir. Bangsa Israel mula-mula menetap di Mesir pada zaman Yusuf bin Yakub menjadi perdana menteri. Yakub, ayah Yusuf, dan saudara-saudara Yusuf beserta keluarga mereka, sejumlah 75 orang, pindah dari tanah Kanaan untuk tinggal di tanah Gosyen, di delta sungai Nil, untuk menghindari bencana kelaparan yang berlangsung selama 7 tahun. Setelah Yusuf meninggal, munculnya raja-raja Mesir, yang disebut para Firaun, yang tidak ingat akan jasa Yusuf. Sebaliknya mereka takut kepada orang Israel yang terus berlipat ganda jumlahnya dengan pesat. Akibatnya mereka memutuskan untuk menekan dan menjadikan orang-orang itu menjadi budak untuk mendirikan kota-kota perbekalan. Di bawah pimpinan Musa, yang diutus oleh Allah untuk membebaskan umat Israel, bangsa itu keluar dari tanah Mesir dan mengembara untuk masuk ke "Tanah Perjanjian" yaitu Tanah Kanaan.

Bagian-bagian penting dari kisah perjalanan ini dicatat dalam kitab-kitab Taurat, terutama Kitab KeluaranKitab Imamat dan Kitab Bilangan. Asalnya catatan ini bukanlah dimaksudkan sebagai catatan sejarah (historiografi), tetapi maksud keseluruhan memang untuk mengingat sejarah menurut pengertian para penyusunnya: guna mengenang perbuatan-perbuatan besar Allah dalam sejarah bangsa tersebut, mengingat kembali masa perbudakan dan pembebasan, serta pemenuhan perjanjian Allah dengan umat Israel. Sangat sedikit terdapat bukti arkeologis yang berhubungan langsung dengan Kitab Keluaran, sehingga banyak arkeolog yang meninggalkan penelitian tentang Musa dan peristiwa Keluaran ini sebagai "upaya yang tidak berbuah". Konsensus sebagian besar pakar Alkitab saat ini adalah dengan memandang kisah ini sebagai teologi, cerita yang menggambarkan bagaimana Allah Israel bekerja menyelamatkan dan menguatkan umat pilihannya, dan tidak sebagai sejarah. Peristiwa Keluaran ini sentral bagi Yudaisme: berfungsi untuk mengarahkan orang Yahudi terhadap peringatan perbuatan Allah dalam sejarah, yang berlawanan dengan penyembahan politeistik dewa-dewa di alam, dan sampai sekarang terus diucapkan dalam bentuk doa harian oleh orang Yahudi dan dirayakan sebagai Hari Raya Paskah Yahudi. Sejarah sekuler telah menjadi sumber ilham dan teladan bagi banyak kelompok, dari para pengembara Kristen yang melarikan diri dari penganiayaan di Eropa sampai dengan orang Amerika Afrika (kaum berkulit hitam) yang berjuang untuk kebebasan dari perbudakan dan persamaan hak-hak asasi.

Kitab Keluaran mencatat bagaimana asal mulanya terjadi perbudakan terhadap bangsa Israel di tanah Mesir, sampai mereka berteriak kepada Allah untuk meminta kebebasan, dan kemudian berfokus kepada kelahiran, masa muda sampai waktu dipanggilnya Musa untuk menjadi pemimpin bangsanya. Firaun Mesir tidak mau begitu saja membiarkan orang Israel pergi, sehingga Allah menghukum Firaun dan orang Mesir dengan sepuluh Tulah Mesir. Di akhir tulah kesepuluh, yaitu kematian anak-anak sulung, orang Israel diijinkan pergi dan di bawah pimpinan Musa sekitar 2 juta umat berjalan keluar, meninggalkan tanah Mesir dan melewati padang gurun menuju ke gunung Sinai. Di gunung tersebut Allah menyatakan diri-Nya kepada bangsa Israel serta mengikat perjanjian dengan mereka: Orang Israel harus melaksanakan torah (yaitu bermakna "hukum", "instruksi") Allah dan sebagai balasannya, Ia akan menjadi Allah mereka serta memberikan kepada mereka tanah Kanaan sebagai milik pusaka. Kitab Imamat mencatat hukum-hukum Allah, sedangkan Kitab Bilangan memuat kisah perjalanan umat itu, sekarang dipimpin oleh Allah mereka, menuju ke tanah Kanaan. Namun, bangsa Israel tidak berteguh hati percaya kepada Allah. Ketika mata-mata yang mereka kirim untuk mengintai tanah Kanaan melaporkan bahwa tanah itu dikuasai oleh "raksasa-raksasa", mereka menolak untuk pergi ke sana dan memberontak terhadap pimpinan Allah. Akibatnya Allah menjadi murka dan menghukum mereka untuk tetap mengembara di padang gurun selama 40 tahun, sampai semua orang dari generasi pertama yang meninggalkan Mesir, yang berusia 20 tahun ke atas, mati di padang gurun. Setelah 40 tahun itu maka generasi baru itu sampai di perbatasan Kanaan. Kitab Ulangan memuat kisah bagaimana, sambil memandang Tanah Perjanjian, Musa mengulangi cerita perjalanan dan hukum-hukum Allah kepada generasi baru ini. Kematian Musa (yang ditulis di bagian paling akhir dari Kitab Taurat) mengakhiri perjalanan keluar dari Mesir tersebut.

Posting Komentar untuk "Asal-Usul Dan Perkembangan Sejarah, Budaya, Bahasa Dan Iklim Bangsa Mesir "