Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengantar Lengkap Dalam Penafsiran Alkitab

RELASI DENGAN DISIPLIN-DISIPLIN ILMU YANG LAIN

Theologi Biblika Dan Eksegesis

Artinya theology biblika dalah pengatru eksegesis, karena kerangka kerja historis dari proses pewahyuan itu sendiri, ada ketegangan yang berlanjut dalam gerakan teologi biblika yaitu antara keberagaman dan kesatuan, antara perhatian kritik historis dan eksegesis sejarah tata bahasa. Namun, ada dua hubungan antara teologi biblika dan eksegesis yaitu teologi biblika menyediakan kategori dan kesatuan kitab yang menyeluruh dibalik penafsiran seseorang atas perikop individual, sementar eksegesis menyediakan  data yang kemudian dibentuk menjadi suatu teologi biblika, artinya keduanya saling berhubungan. Eksegesis mempelajari tentang ungkapan-ungkapan tertentu dari pewahyauan Allah dalam pengertian: Latar budayanya, Penataan semantiknya, Pesan filisofisnya, Teologi biblika memperhatikan perkembangan dari ide-ide ini didaqlam perkembangan pewahyauan Allah dan mempertimbangkan kebenaran-kebenaran dasar yang lebih besar dari balik ungkapan-ungkapan individual itu. Sedangkan teologi sistematik melakukan sintesis terhada berbagai aspek dari kebenaran-kebenaran ini kedalam keseluruhan yang lebih besar dari dogma.

Theologi Biblika Dan Theologi Historis

Artinya sasaran dari teologi historis adalah menetukan apa yang telah gereja katakan dalam formulasi-formulasi dogmatisnya melalui perkembangan organik mereka, artinya perkembangan dari dogma-dogma gereja dalam kaitan dengan lingkunagan mereka. Meskipun teologi biblika berkenan dengan pemikiran yang ada dalam periode Alkitab, namun hal itu merupakan suatu yang idealistis, karena prapemahaman kita berkembang didalam perdebatan pada zaman ini, dan dapat mengaburkan usaha kita untuk menentukan suatu teologi yang sebenarnya dari Alkitab. Theologi historis secara teknis berada didalam teologi biblika dan teologi sistematik. Teologi historis mempelajari paradigma komunitas-komunitas dan doktirn-doktrin Alkitab.

Theologi Biblika Dan Theologi Sestematik

Ada empat perbatasan dari teologi biblika yaitu: yang pertama keberagaman cara tempat peristiwa-peristiwa penyelamatan dari Alkitab ditafsirkan kedalam Kitab Suci yang kedua keberagaman keragma Alkitab, baik dalam pengertian bentuki dan fungsi yang ketiga natur historis dari bahasa Alkitab yang membentuk penghalang antara teologi biblika dan manusia modern dan yang keempat subjektivitas dari eksegesis yang menyebabkan mereka mengalihkan makna yang asli kedalam arah yang tidak disadari. Theologi biblika merupakan suatu metode dasar bagi teologi sistematik dalam pengertian teologi biblika dari studi eksegesis yang yang dilakukan suatu hubungan yang tepat kepada konteks asli dan perkembangan dari pewahyuan ilahi. Teologi biblika bersifat deskriptif, melacak penekanan-penekanan individual dari para penulis Kitab Suci dan kemudia mereka mengumpulkan penekanan itu kedalam tema-tema besar dan yang utama yang menyatukan kedua perjanjian didalam Alkitab.

Theologi Biblika Dan Theologi Homiletik

Theology biblika menuntun adanya seorang pengkhotbah karena tujuan dari disiplin ini adalah untuk menjelaskan apa yang Allah sudah katakan dan disetarafkan untuk menyapa mansia selanjutnya Allah telah menyebabkan dan kebenaran-kebenaran yang telah disingkapkan ini ditulis atau telah memanggil umat-Nya untuk memberitakan kebenaran-kebenaran teologi ini kepada gereja dan dunia.

WILAYAH-WILAYAH MASALAH KHUSUS

Kesatuan Dan Keberagaman

Ada keberagaman yang besar antara Kitab-Kitab yang ada dalam Alkitab, seperti genre dan tujuan yang berbeda berasal dari sejumlah besar situasi dan masalah yang dihadapi oelh bangsa Israel dahn gereja mula-mula. Pluralitas dari teologi-teologi ini dalam Perjanjian Lama menuntun penafsiran berdasarkan hubungan atau kesepadanan mereka masing-masing.

Sejarah Tradisi

Kesadaran kanon dari kumunitas adalah bergantung pada tiap tahap perkembangan tradisi bagi pemahaman diri mereka, ada dua cara memandang proses pentradisian yaitu: melalui suatu rekontruksi yang radikal atas sejarah dari teks, dan tergantung pada teks yang diapahami secara kanoni tanpa revisi yang spekulatif atas sejarah. Tradisi bukanlah suatu koleksi yang dibuat secara sengaja dari tradisi yang berserakan adakalanya bertentangan, melainkan suatu proses panjang dari perkembangan-perkembangannya untuk memenuhi kebutuhan yang tidak diketahui sebelumnya.

Theologi Dan Kanon

Sasaran utama dari kanon adalah penyatuan dari teologi yang beragam tersebut kedalam suatu konsep menyeluruh, kanonis tidak menghalamngi integritas akademis. Kanon didalam kanon tidak dapat menangani totalitas dari Kitab Suci secara tepat karena didasarka prinsip koleksi yang sewenang-wenangyang mengarah pada subjektifitas yang tak terkendali. Kanon harus dapat dilihat suatu keseluruhan dan menuntun adanya perspektif tentang kesatuan Kitab Suci yang tidak mengijinka komunitas atau pakar Alkitab menjadi berkuasa melebihi teks kanon itu sendiri.

Analogika Fidei Dan Pewahyuan Progresif

Analogi tentang iman atau prinsip tentang Kitab Suci menjelaskan Kitab Suci merupakan suatu konsep kunci dalam menjelaskan tentang makna teologis. Hal ini juga dapat mengarah pada suatu penekanan yang berlebihan atas kesatuan dari teks-teks Alkitab, dapat mengakibatkan adanya kesesuaian palsu yang mengabaikan keberagaman dan penekanan dan penyataan-penyataan yang berbeda dalam Alkitab.

Otoritas

Para ahli kritis menganggap remeh tentang otoritas karena asalannya bahwa teologi biblika karena hanya berkenaan dengan apa makna aslinya yang bersifat deskriptif yang teologi sistematika memberikan apa maknanya pada masa kini. Pewahyuan Alkitab tidaklah begitu relatif atau dikondisikan secara budaya sehingga dapat diakses oleh masyarakat modern.

Sejarah Dan Theologi

Hubungan antara sejarah dan teologi selalu menjadi isu utama, karena pencerahan memiliki tujuan utamamembebaskan studi histori yang ada dalam Alkitab dan Kekristenan mula-mula dan pertimbangan dogmatis gereja. Ada empat aspek amasalah dalam usaha mendasarkan pewahyuan Allah yaitu:

Ø  Ambiguitas berkenaan dengan natur dan perisriwa-peristiwa pewahyuan dan penyebab historis,

Ø  Ambiguitas mengenai makna sejarah dalam pengertian aksesibilitas dari pewahyaun dari para sejarahwan yang kritis,

Ø  Ambiguitas berkenaan dengan hubungan pewahgyuan dan sejarah,

Ø  Kesulitan-kesulitan dalam hubunagan pewahyuan antara pewahyuan dan teks Alkitab.

Bahasa, Teks dan Makna

Bahasa mengandung metafora-metafora “mati” (statis) ”hidup” (dinamis) maka Alkitab dapat menjadi kebenaran preposisi (statis) dan bahasa peristiwa (dinamis). Dengan demikian teologi biblika merupakan suatu elemen penting didalam interaksi yang terus berlangsung antara Allah dan dunia.

Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru

Hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah merupakan isu sentral bagi teologi Alkitab yang sangat baik. Akan tetapi maslah dasarnya adalah kesatuan dan keragaman artinya tiap-tiap perjanjian harus memiliki tempat yang otonom didalam suatu kesatuan yang lebih besar dari Kitab Suci. Perjanjian Lama merupakan presuposisi dari Perjanjian Baru dan kegagalam dari kovenan Israel mengarah pada suatu agama yang baru dan berpusat pada harapan yang berdasarkan janji tentang kebenaran.

Menuju Suatu Metodologi

Ada lima kriteria untuk menilai teologi Aliktab dengan baik yaitu:

Ø  Harus berhubungan dengan aspek historis dan aspek gerejawian dari Kitab Suci,

Ø  Harus ada koherensi dan dogmatis dalam menjelaskan antar hubungan kedua Perjanjian dalam Alkitab,

Ø  Harus menyatukan unsur-unsur teologi dari berbagai beragam kitab dan tradisi,

Ø  Harus memperlihatkan kaitan antara pesan dan keselamatan Alkitab dan pengakuan geraja sesuai dengan pengakuan kanonis,

Ø  Harus mempertahankan mutu akademis dalam disipilin eksegesis dan hermeneutic.

METODE HERMENEUTIK ALKITAB

Metode Sintesis

Ada dua perbedaan yang diterapkan dalam metode sintesis yaitu: sebagaian mengikuti pendekatan agama yang mempelajari sumber-sumber utama dan perubahan situasi teologi (teologi Perjanjian Lama), sementara yang lain sekedar menggambarkan teologi yang berbeda dengan sedikit upaya untuk melacak alur kontinuitas aytau perkembangan (teologi Perjanjian Baru). Metode sintesis juga bisa keliru dan subjektif Karena kategorinya yang dapat dipaksakan dari luar teologi ketimbang muncul secara alami dari dalam teks.

Metode Analitis

Metode ini mempelajari penekanan teologis yang berbeda dari masing-msing Kitab dan perkembangan tradisi agar dapat memahami berita yang unik dari tiap-tiap Kitab yang ada dalam Alkitab. Dalam metode ini ada beberapa bahaya yang harus dihindari yaitu:  kecenderunngan untuk menerapkan sejenis tirani atas pendekatan-pendekatan yang lainnya dan suatu kecenderungan romantis untuk mengkanonkan pola-pola pemikiran Alkitab dan dapat menghasilkan suatu kumpulan dari masing-masing teologi yang berbeda tanpa adanya kohesi.  

Metode Sejarah Agama

Metode ini menjelaskan ide-ide raligius didalam kehidupan Israel dan gereja mula-mula. Dalam bentuk yang lebih konserfatif metode ini melacak progres dari pewahyuan yaitu sejarah pewahyuan Allah dalam kanonis. Metode ini berpusat pada sejarah dan metode analitis berpusat pada teologis.

Metode Diakronis Dan Kritik Tradisi

Teologi biblika harus dibangun dalam dasar yang kuat, dan teori yang spekulatif tentang perkembangan tradisi dan komunitas yang menyediakan landasan kerja yang diperlukan. Dalam teks alkitab bukan hanya teks rekontruksi dan historis tapi yang paling baik dalam menetukan metodenya. Suatu pendekatan deskriptif Kitab demi Kitab dapat diatur dengan atas dasar progres dari pewahyuan, dan secara metodologis.

Metode Kristologi

Metode ini memiliki kelebihan yaitu untuk melindungi kecenderungan dalam mensejarahkan yang berlebihan diantara banyak teologi Alkitab dan mengakui sentralitas dari iman Kristen. Pendekatan analitis sering kali menghasilkan teologi yang hampir tidak menyadari tentyang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama sebagai catatan tentang urusan yang bersifat penyelamat dari Allah untuk bangsa Israel menjadi hilang. Spekulasi subjektif dan suatu reduksionisme mengecilkan menjadi serangkaian tindakan nubuat. Perjanjian Lama memiliki prioritas dan Perjanjian Baru memiliki otoritas kristologi dan keduanya didasarka pada keAllahan Bapa-Anak dan Roh Kudus.

Metode Konfesional

Kelebihan dari metode ini adalah pengakuannya atas sentralitas dari kredo dan penyembahan didalam Alkitab. Para praktis dari metode konfesional menganggap Alkitab merupukan serangkaian iman yang menuntut ketaatan dan dengan demikian melebihi kenyataan. Seperti metode kristologi pendekatan ini memaksakan makna lebih banyak kedalam Perjanjian Lama ketimbang apa adanya dan cenderung memaksakan kategori teologis pada penyataan Alkitab pada kedua Perjanjian itu.

Metode Narasi

Banyak pendekatan mutakhir terhadap teologi dari berbagai Kitab yang memakai pendekatan narasi, yang melacak perkembangan ide teologi didalam Kitab ketimbang menata tema-temanya secara topical didalam karya tersebut. Metode ini sangat memuaskan para pembelaja historis dan teologi biblika, tetapi adakalanya metode ini tidak adil kepada komponen teologis. Kuncinya adalah tetap memandangdan mengarhkan mata pada tujuan secara jelas dan pada teologi Kitab itu sendiri dan jangan mengijinkan masalah-masalah historis masuk didalamnya yang tidak menentu dibalik isi dan pembahasannya.

Metode Multipleks

Untuk membangun teologi biblika yang sah, ada terdapat lima kriteria:

Ø  Data harus mencerminkan teologis,

Ø  Harus memanfaatkan bentuk final kanonis dari dokumen-dokumen,

Ø  Teologi yang beragam dan karya biblika yang individual,

Ø  Untuk melacak perkembangan dari tema-tema dan harus menyingkapkan kesatuan yang dinamis harus mengintegrasikan kedua Perjanjian dengan menyebutkan keberadaan dan kesamaannya.

Eksegesis menyediakan isi, teologi mempersiapkan perspektif untuk studi yang baik dan benar dan mengikuti alur perkembangan historis. Dengan cara ini tema-tema dapat muncul secara (induktif) bukan dari luar (deduktif), akan tetapi bukan berarti hasilnya adalah eksegesis yang tanpa presuposisi.

Masalah Pusat Yang Menyatukan

Tahap terakhir pada perkembangan teologi biblika adalah identifikasi atas konsep asli atau tema yang menyatukan berbagai dokumen yang beragam. Banyakl yang meyakini bahwa ketiadaan konsesus sama sekali memperlihatkan bahwa serangkaian ide, ketimbang satu tema tunggal menyatukan semua yang lainnya. Ada enam kriteria yang harus dipenuhi dalam pencarian tema-tema sentral dan mengikat tema yang lainya yaitu:

Ø  Temanya harus menyatakan natur atau krakter keAllahan Allah,

Ø  Temanya harus memberikan penjelasan tentang umat Allah,

Ø  Konsepnya harus mencakup dunia atau umat manusia sebagai objek dari kasih penebusan Allah,

Ø  Temanya harus menjelaskan hubungan dialestis antara kedua Perjanjian,

Ø  Temanya harus berisi rangkuman penekanan individual,

Ø  Temanya harus memberikan penjelasan tentang cara menyatukan dengan tema yang lainnya.

Posting Komentar untuk "Pengantar Lengkap Dalam Penafsiran Alkitab "