Delapan Metode Hermeneutika Alkitab
Metode Sintesis
Ada dua perbedaan yang diterapkan dalam metode sintesis yaitu: sebagaian mengikuti pendekatan agama yang mempelajari sumber-sumber utama dan perubahan situasi teologi (teologi Perjanjian Lama), sementara yang lain sekedar menggambarkan teologi yang berbeda dengan sedikit upaya untuk melacak alur kontinuitas aytau perkembangan (teologi Perjanjian Baru). Metode sintesis juga bisa keliru dan subjektif Karena kategorinya yang dapat dipaksakan dari luar teologi ketimbang muncul secara alami dari dalam teks.
Metode Analitis
Metode ini mempelajari penekanan teologis yang berbeda dari masing-msing Kitab dan perkembangan tradisi agar dapat memahami berita yang unik dari tiap-tiap Kitab yang ada dalam Alkitab. Dalam metode ini ada beberapa bahaya yang harus dihindari yaitu: kecenderunngan untuk menerapkan sejenis tirani atas pendekatan-pendekatan yang lainnya dan suatu kecenderungan romantis untuk mengkanonkan pola-pola pemikiran Alkitab dan dapat menghasilkan suatu kumpulan dari masing-masing teologi yang berbeda tanpa adanya kohesi.
Metode Sejarah Agama
Metode ini menjelaskan ide-ide raligius didalam kehidupan Israel dan gereja mula-mula. Dalam bentuk yang lebih konserfatif metode ini melacak progres dari pewahyuan yaitu sejarah pewahyuan Allah dalam kanonis. Metode ini berpusat pada sejarah dan metode analitis berpusat pada teologis.
Metode Diakronis Dan
Kritik Tradisi
Teologi biblika harus dibangun dalam dasar yang kuat, dan teori yang spekulatif tentang perkembangan tradisi dan komunitas yang menyediakan landasan kerja yang diperlukan. Dalam teks alkitab bukan hanya teks rekontruksi dan historis tapi yang paling baik dalam menetukan metodenya. Suatu pendekatan deskriptif Kitab demi Kitab dapat diatur dengan atas dasar progres dari pewahyuan, dan secara metodologis.
Metode Kristologi
Metode ini memiliki kelebihan yaitu untuk melindungi kecenderungan dalam mensejarahkan yang berlebihan diantara banyak teologi Alkitab dan mengakui sentralitas dari iman Kristen. Pendekatan analitis sering kali menghasilkan teologi yang hampir tidak menyadari tentyang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama sebagai catatan tentang urusan yang bersifat penyelamat dari Allah untuk bangsa Israel menjadi hilang. Spekulasi subjektif dan suatu reduksionisme mengecilkan menjadi serangkaian tindakan nubuat. Perjanjian Lama memiliki prioritas dan Perjanjian Baru memiliki otoritas kristologi dan keduanya didasarka pada keAllahan Bapa-Anak dan Roh Kudus.
Metode Konfesional
Kelebihan dari metode ini adalah pengakuannya atas sentralitas dari kredo dan penyembahan didalam Alkitab. Para praktis dari metode konfesional menganggap Alkitab merupukan serangkaian iman yang menuntut ketaatan dan dengan demikian melebihi kenyataan. Seperti metode kristologi pendekatan ini memaksakan makna lebih banyak kedalam Perjanjian Lama ketimbang apa adanya dan cenderung memaksakan kategori teologis pada penyataan Alkitab pada kedua Perjanjian itu.
Metode Narasi
Banyak pendekatan mutakhir terhadap teologi dari berbagai Kitab yang memakai pendekatan narasi, yang melacak perkembangan ide teologi didalam Kitab ketimbang menata tema-temanya secara topical didalam karya tersebut. Metode ini sangat memuaskan para pembelaja historis dan teologi biblika, tetapi adakalanya metode ini tidak adil kepada komponen teologis. Kuncinya adalah tetap memandangdan mengarhkan mata pada tujuan secara jelas dan pada teologi Kitab itu sendiri dan jangan mengijinkan masalah-masalah historis masuk didalamnya yang tidak menentu dibalik isi dan pembahasannya.
Metode Multipleks
Untuk membangun teologi
biblika yang sah, ada terdapat lima kriteria:
Ø Data harus mencerminkan teologis,
Ø Harus memanfaatkan bentuk final kanonis dari
dokumen-dokumen,
Ø Teologi yang beragam dan karya biblika yang
individual,
Ø Untuk melacak perkembangan dari tema-tema dan
harus menyingkapkan kesatuan yang dinamis harus mengintegrasikan kedua
Perjanjian dengan menyebutkan keberadaan dan kesamaannya.
Eksegesis
menyediakan isi, teologi mempersiapkan perspektif untuk studi yang baik dan
benar dan mengikuti alur perkembangan historis. Dengan cara ini tema-tema dapat
muncul secara (induktif) bukan dari luar (deduktif), akan tetapi bukan berarti
hasilnya adalah eksegesis yang tanpa presuposisi.
Posting Komentar untuk "Delapan Metode Hermeneutika Alkitab"