Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gereja Di Indonesia: Hubungan Dan Kerjasama Dalam Pelayanan Dan Kesaksian

Keberadaan gereja di Indonesia masa kini dan nasa datang tidak dapat dipisahakan dari sejarah kelahiran dan kelahiranya di kepulauan ini. Misi umat Tuhan dari (dari berbagai bagian dunia lainya), dalam segalah kelemahan dan kekurangan (bnd. “bejana tanah liat”) 2 Kor. 4:7)”. Dalam sejarah telah secara instrumental membidani persalinan gerejadan mengembangkan keberadaan gereja-gereja berikutnya di berbagai bagian tanah air. Proses dalam sejarah itu, dalam kesaksian Alkitab, dimuali karena Allah Pencipta itdak meninggalkan manusia ciptan-Nya sekalipun mereka sudah ajtuh kedalam dosa. Dan berada dibawah murka Allah (Kej. 3;17; Yoh. 3:17). Anugrah meneylamatkan manusia di perlihatkan dalam kesetiaan-Nya yang diperbaruhi terus menerus melalui Nuh, Abraham, Ishak, Yakub (Israel) mencapai kulminasinya. Dalam karya Allah dengan pemberian Anak–Nya yang tunggal (Maz.100:5; Yoh. 3:16). Melalui kematian dan kebangkitan Anak ini, Allah menyempurnakan pekerjaan penebisan-Nya. Karya Allah didalam Kristus melahirkan Injil sebagai suatu mandate apostolat. Melalui DUNAMIS Injil (Rom. 1:16), Allah terus berkarya rencana-Nya dalam misi penylamatan dan pendamaian bagi dunia. Injil terus diberitakan melalui orang-orang percaya yang dipanggildan diutusnya, (Kis. 1:8; 13:1dst), dari tempat ke tempat dan dari zaman ke zaman sampai ke nusantara ini. Gereja di Indonesia berada dalam sejarah bagian dari mandate apostolate ini. Gereja lahir karena misi dan hidup didalam melalui karya misi Allah sampai pada pemenuhan penggeapan-Nya dalam Yerusalem baru. (Wah.21:1dst.). Dalam melalui lintasan waktu dan dal;am pergumulan pluralitas kontek, misi juga tidak dapat menghindarkan dirinya dari kejamakan perssepsi pemahaman. Kabar baik dalam sebagian persepsi sunguh bermakna bagi pengampunan dosa dan hidup kekal.

Masalah-masalah dasar: àDi Indonesia, misi (paling sedikit didalam konfesi formal), mempunyai tempat tersendiri dalam tugas dan panggilan gereja. Tiap gereja adalah unggapan dari gereja yang kudus dan am yaitu persekutuan orang-orang percaya, pria, wanita,tua-muda, disegalah tempat dan di sepanjang masa. Memberitakan Injil kepada segalah makhluk (Mark.16:15), menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegaskan keadilan (Mark. 10:45; Luk 4:18; 10). Didalam pesekutuan Injili Indonesia. Sekalipun tempat misi jelas dalam panggilan gereja (seperti ai atas), sejumlah masalah terlihat menjadi kendala hubungan dan kerjasama itu. Dua masal krusial PII bertjuan menggalang persekutuan gereja sebagai pewujudan organisme yang hidup sebagai Tubuh Kristus yang Kudus dan yang am serta mendorong usaha-usaha pekabaran Injil yang dilakukan oleh gereja- gereja lembaga-lembaga gerejawi dan badan-badan misi Injili. Masalah dasar pertama adalah yang dtemui lewat pertanyaan ”apakah Injil yang kita beritakan?” masalah ini lebih muda di tangkap (seperti yang sudah disiratkan sebelum ini) dalam suatu penglihatan kontinum, berangkat dari kutub pemahaman yang melihat Injil sebagai untuk keselamatan jiwa belaka, sampai kutub lainya yang memahamiInjil hanya dalam kesaksian social saja. Kemudian tentunya (seperti yang diimplikasikan melalui arti “kontinum”) ada bebagai varian pemahaman diantar kedua kutub itu. Kendala-kendala untuk hubungan kerja sama biasanya lebih potensial antara satu kutub dengan kutub yang lainya (kecurikaan karena kelainan persepsi dasar). Sedangakan kerja sama tentunya lebih wajar antara mereka yang berada pada salah satu kutub saja (vertikalis atau horizontalis).

Masalah dasar kedua yang dinyatakan melalui pertanyaan “apakah gereja itu?” punya kaitan gereja-gereja dengan lembaga/ yayasan Pekabaran Injil. Dalam kenyataan pelaksanaan PI atau misi, bukan hanya gereja, tetapi juga lembaga / yayasan/ persorangan melakukan usaha PI atau misi. Memang tidak dapat diragukan lagi bahwa umat Tuhan dapat dipanggil untuk memberiakan Injil. (Mat. 28:18-20; Kis. 1:8 dst). Tetapi dalam pelayanan-pelayanan penginjilan dan lading yang sama, masalanya sering menjadi rumit. Ketegangan hubungan dapat timbul dan juga kebutuhan merefleksikan pertanyaan dasar seperti apakah gereja itu? pertanyaan seperti itu tentu tidak dapat menjawab secara sederhana ini misalnya diperlihatkan dalam Pertemuan Dosen Alkitrab IV (Teolog Katolik dan Protestan di Indonesia) tgl 13 s/d 16 Desember 1987 yang lalu. Tema pembahasan dalam pertemuan itu adalah “pahan gereja menurut Paulus, Lukas, Matius dan Yohanes”. Kesukaran itu misalnya diungkapkan Dr. Cletus Groenem, OFM dalam bahasan sujudul: “Perjanjian Baru, pangkal Eklesiolog Plurifom”, sebagai berikut: Perjanjian Baru tidak mebyajikan sebuah Eklesiologi, melainka berbagai eklesiologi implisit. Semua pendekatan frakmentaris dan bebeda itu tidak dapat begitu saja diharmonisasikan untuk membangun suatu eklesiologi spekulasif, yang serba teratur, lngkap dan utuh.

Hubungan dan kerja sama dalam pelayanan dan kesaksian menyangkut bukan hanya melihat dan menggumuli masalah-masalah dasar, tetapi terutama juga arus dilihat sebagai suatu kepentingan bersama. Kepentingan bersama ini dapat diamati lagi dari dua sisi. Pertama dari sudut tinjauanteologis dan kedua dari persfektif tuntuta kehudupan (zaman). Dari sudut teologis, iman kristiani tidaklah dimaksudkan untuk untuk dihidupkan dalam independensi yang individualistic. Dalam Perjanjian Lama, sejak mula pertama, kebersaman dan saling ketergantungan itu sudah di kemukakan. Allah menciptakan individu Adam yang disertai indiviu Hawa, istrinya (Kej. 1:276-28). Tuhan terikat dengan umat-Nya (buakn pribadi-pribadi belaka); ini nyat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Tuhan dengan individu perseorangan sekalipun. Seperti pada Daud disampaikan dalam konteks keluarga dan keturunanya (2 Sam. 7:1-17; 1Taw. 17:1-15). Hubungan antara Domba=-domba itu jelas: satu kawanan, satu kandang; satu pokok (terikat pada kesatuan ppohon) dalam hubungan satu ranting dan ranting laimya; demikian juga satu tubuh dengan anggota-anggota tubuh; satu bangunan dalam hubungan dalam satu batudengan batu-batu lainya. Konsekuesi kalau tidak dilaksanakan adalah: Domba dapat tercerai-berai dan dimakan binatang buas; ranting-ranting dapat jadi kering dan mati anggota-anggotantubuh sakit dan mati; dan bangunan yang batu-batunya tidak nyatu, hanyalah puing-puing reruntuhan.

Karena Gereja atau umat Tuhan dimengerti bukan hanya jemaat lokal dengan anggota-anggotanya, tetapi juiga jemaat-jemaat lokal dari suatu sinode dari berbagai zaman dan tempat, maka jemaat-jemaat (antar sinode dst.) itu juga bagian dari tubuh Kristus yang am. Doa bagi kesatuan Oikumenis Kristus bagi umat-Nya. (Yoh. 17: 21, 23), perintah untuk saling mengasihi, ( Yoh. 17: 34,35), dan pengertian kata Koinonoia di antar dan didalam anggota-anggoat tubuh Kristus, merupakan bagian-bagian Alkitab yang menghubung huibungan interdepedensi dari  “berbagai kelompok”umat Tuhan. Hubungan dan kerja sama antara kelompok-kelompok umat Tuhan dengan ini diungkapkan sebagai mutlak perlu, karena “nature”. Kedua kepentingan besama ini harus dilihat juga dari interdepedensi dari globalisasi dunia. Apa yang terjadi di Eropa Timur, Lithuania, dan Indicina bukan hanya punya dampak politik, tapi juga punya pengaruh dalam bidang-bidang sisoal-ekonomi dan ideology dari berbagai bagian dunia. Dari berbagai kajian “ternd” kedepan pecepatan [erubahan-perubahan dan tantangan-tantangan yang yang makin kompleks, menjelang memasuki pada abad ke-XXI ini, juga dilihat dan melanda Indonesia. Ini tentunya bersangkut paut dengan semua gereja dan lembaga/pelayanan gerejawi di Indonesia. Dari konteks Nasional, tiga kerukunan seperti yang diranjangkan pemerintah itu memeng sungguh di butuhkan kalau kita mau melihat diri kita dalam Indonesia bersatu yang terus membangun. Tiga kerukunan adalah 1. Didalam masyarakat agama itu sendiri, 2. Antar agama dan, 3. Antar agama-agama (dan masing-masing agama) dengan pemerintah, penting terus dipupuk, di mulai dari pribadi-pribadi dan jemaat-jemaat Kristen yang mengamini pengakuan iman: Yesus Adalah Tuhan (1. Kor. 12:3). Kebinekaan yang dinyatakan dalam alam dan pengalaman manusia membuktikan bahwa pluriform iotu tidak harus negative dan mematikan kerja sama dan hubungan baik. Dalam suatu masyarakat modern, perkembangan kemajemukan tidak dapat dihindarkan. Pluralitas bahkan akan makin bertambah dank arena itu sebaiknya diterima dan dimanfaatkan (bukanya di tentang) dalam jarungan pelayanan dan kesaksian.

Tentu saja untuk hubungan kerja sama ini sampai membuahkan kenyataan yang berhasil, masih harus dipikirkan banyak hal yang menyangkut bermacam-macam factor. Harus dipelajari misalnya, kebutuhan–kebutuhan macam apakah yang yang sekarang berkembang alam dunia pelayanan.kemudian siapa sajakah yang dibutuhkan dan palin efektif dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Apakah peran kita maisng-masing dalam hal ini. Dan tentunya juga bagaiman juga hubungan atau kerja sama sebaiknya dilakukan (disain kemungkinan-kemungkinan dan batas-batas dst.). dalam perencanaan-perencanaan hubungan dan kerja sama pelayanan, penting tentunya dilihat factor-faktor karakteritik dan potensi gereja, ataupun spesialisai wadah, lembaga yang ada kesempatan-kesempatan yang dapat dimanfaatkan dst. Bukan berarti bahwa dengan ini kita harus menunggu sampai proyek-proyek studi selesai dahulu, baru hubungan dan kerja sama dapat dimulai. Jaringan informasi komunikasi dapat terus dipupuk dan di pelihara. Majalah-majalah dan berita-berita pelayanan dapat dipertukarkan, kontak-kontak pribadi antar pemimpin terus dikembangkan dan dipelihara. Saling mendoakan dalam kebutuhan pelayanan masing-masing dan kebutuhan nasional perluh ditingkatkan terus dalam jaribgan-jaringan doa. Hanya catatan alkitab saja yang memberi informasi yang akurat tentang asal usul manusia. Ciri tertentu dari karya ini menonjol dalam ayat-ayat Alkitab.

Posting Komentar untuk "Gereja Di Indonesia: Hubungan Dan Kerjasama Dalam Pelayanan Dan Kesaksian"