Kehidupan Bergereja: Pemberitaan Injil Kerajaan Allah Di Indonesia
Gereja-gereja di Indonesia, khususnya gereja-gereja anggota PGI menyadari bahwa sekalipunmasing-masing mempunyai latar belakang sejarah dan tradisi rohani atau teologi yang berbeda-beda sert mempunyai lapangan kerja sendiri, namun semua gereja melihat Indonesia ini sebagai satu lapangan kesaksian dan pelayanan bersama. Pemahaman akan tugas bersama semakin mendapat tempat dalam struktur PGI dan disepakati menjadi suatu dokumen yang disebut Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB). PTPB ini berisi pemahaman-pemahaman dan strategi bersama dalam melaksanakan tugas bersama itu. Bidang-bidang tugas yang tercakup dalam PTPB ini ialah:
a. Membarui, membangun dan mempersatukan gereja
b. Bersaksi dan memberitkan Injil kepada segala
makhluk
c. Berartisipasi dan melayani dalam pembangunan
sosial
d. Mengembangkan hubungan dan kerjasama dengan
pemerinth dan dengan golongan-golongan lain.
e. Mengembangkan hubungan dan kerjasama dengan gereja-gereja di luar PGI.
Selain dokumen PTPB ini,
masih ada 4 dokumen lainnya yang berisi pernyataan dasar teologis dan penataan
organisatoris bagi pelaksanaan tugas bersama itu. Keempat dokumen itu ialah:
a. Pernyataan tentang Pemahaman Bersama Iman
Kristen di Indonesia (PBIK).
b. Piagam saling Mengakui dan Saling Menerima di
antara gereja-gereja anggota PGI (PSMSM).
c. Tata Dasar PGI (TD-PGI)
d. Menuju Kemandirian Teologi, Daya dan Dana (KTDD).
Keempat dokumen ini dan
dokumen PTPB ini bersama-sama disebut Lima Dokumen Keesaan Gereja di Indonesia
(LDKG). Uraian-uraian di abwah ini adalah usaha pemahaman atas apa yang
dikatakan dalam PTPB mengenai pemberitaan Injil di Indonesia. Gereja memiliki
tugas yang satu, yang tidak pernah berubah di segala waktu dan tempat. Tugas
itu ialah memberitakan Injil. Kerajaan Allah pertama-tama berarti pemerintahan
Allah, dimana Allah memerintah, dimana kuasa dan kehendak-Nya diberlakukan.
Jadi, kerajaan Allah itu bukanlah lokasi, tetapi situasi dimana kehendak Allah
diberlakukan. Injil adalah berita baik, bahwa sekarang Allah mulai menyatakan
kuasa dan pemerintahan-Nya yang menyeluruh atas dunia ini. Yesus memberitakan
bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Berita itu disampaikan tidak hanya dengan
perkataan, tetapi juga dengan tanda[tanda yang membuktikan kehadiran Kerajaan
Allah itu (Mat. 13:31-35). Kehadiran Kerajaan Allah itu tidak kelihatan tetapi
tanda-tanda kehadiran-Nya dapat dilihat dengna adanya kebebasan, keadilan,
kebenaran dan kesejahteraan. Berdasarkan pemahaman itulah gereja-gereja di
Indonesia dalam Sidang Raya VII 1971 di Pematang Siantar menyatakan bahwa: “Injil
adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan (Mrk. 1:15)”.
Rumusan ini ditegaskan ulang dalam Sidang Raya X 1984 di Ambon. Malahan Sidang
Raya X itu menambahkan kalimat baru, “Injil itu adalah kekuatan Allah yang
menyelamatkan manusia (Rm. 1:16)”. Hal ini perlu ditegaskan untuk menyatakan
bahwa dalam pemahaman gereja-gereja anggota PGI, Injil itu hanya satu, Injil
Kerajaan Allah. tetapi Injil Kerajaan Allah itu diberitakan dalam dua sisinya:
pertobatan dan pembaruan hidup (vertikal) dan pelayanan sosial diakonia
(horizontal). Menurut kesaksian Alkitab, Injil itu harus diberitakan kepada
segala bangsa sampai akhir zaman (Mat. 28:18-20), disegala tempat (Kis. 1:8),
dan diarahkan kepada segala makhluk (Mrk. 16:15). Membicarakan metode dan strategi
bersama untuk memberitakan Injil di Indonesia, PTPB mencatat hal-hal sebagai
berikut:
1. Dalam memberitakan Injil itu harus diperhatikan
relasi positif antara kebebasan beragama dan kerukunan hidup antara umat
beragama di Indonesia.
2. Dalam memberitakan Injil itu keesaan gereja
harus didukung. Pemberitaan Injil justru hanya berdaya guna kalau ia lahir dari
keesaan.
3. Dalam memberitakan Injil, kesaksian hidup orang
Kristen itu baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, merupakan bentuk
pemberitaan Injil yang paling dasar.
4. Pemberitaan Injil itu mempunyai hubungan yang
erat dengan pelayanan diakonia-sosial.
5. Seluruh warga gereja harus menjadi misioner,
oleh karena itu sangat diperlukan adanya pembinaan warga jemaat yang berdampak
misioner dan oikumenis.
6. Untuk dapat memberitakan Injil itu dengan cara yang paling sesuai dan tepat- guna pada setiap waktu, setiap tempat dan setiap orang, maka diperlukan adanya studi dan penelitian tentang permasalahan-permasalahan serta faktor yang berpengaruh di masing-masing tempat dan waktu dan pada setiap orang.
Dalam pemberitaan Injil
kadang terjadi ketegangan antara gereja dengan kelompok P.I yang independen.
Hal ini disebabkan oleh:
a. Pemahaman gereja yang nampaknya hendak menempakan
kelompok-kelompok ini di dalam struktur gereja atau paling sedikit memiliki
hubungan dengna struktur gereja.
b. Sebaliknya pemahaman kelompok-kelompok ini yang ingin terlepas dari struktur gereja, bukan hanya karena tidak menyukai kekakuan dan kekangan struktur, tetapi juga karena menganggap diri “interdenominasi”, dimana tidak mungkin ditempatkan dalam sesuatu struktur dari denominasi tersebut.
Dalam PTPB, kita
mencatat bahwa ketegangan seperti itu harus dapat diatasi. Gereja-gereja harus
melihat kelompok-kelompok itu dan kelompok-kelompok itu harus melihat
gereja-gereja dan melihat dirinya sendiri sebagai ungkapan dari ketaatan
bersama pada Tuhan yang memberi tugas itu.
Panggilan
Pengusaha Kristen
Banyak pengusaha Kristen ikut terlibat mengeduk kekayaan Negara atau rakyat.tetapi pengusaha Kristen harus dianjurkan dan dibantu untuk memiliki keterampilan manajemen dan bisnis yang canggih,turut bersaing dipasar secara bersih,menumbuhkan perusahaannya secara efisien,memahami dan menjalankan etika bisnis secara bijaksana. Gereja dan pengusaha-pengusaha Kristen berkepentingan agar kekuasaan bisnis tidak terkonsentrasi,tetapi dapat tersebar antar kelompok,antar-daerah,antar-lapisan masyarakat. Sekaligus juga kita perlu membedakan antara perusahaan besar yang bertumbuh murni secara bisnis, dan perusahaan besar dari fasilitas, proteksi dan perampasan modal milik Negara. Para pengusaha Kristen perlu turut berbicara agar konsentrasi dihindarkan dari kepentingan bersama.tiap bisnis harus berusaha agar permainan bisnis dipelihara fair, dan saling menghimbau dan bahkan menjadi garam dunia bagi keadilan dan kesejahteraan bangsa.bagi perusahaan sendiri,tiap perusahaan Kristen harus perlu menyadari bahwa penggunaan kekuasaan bisnis harus bertamggungjawabkan tidak hanya pada pemegang usaha saham, tetapi juga kepada Tuhan dan sesamanya manusia. Gerja dan pengusaha Kristen harus turut pula mengamati dan mengamankan ( sekalipun secara tidak langsung ) terhadap kekayaan Negara atau kelompok tertentu,sehinga pengunaan asset Negara benar-benar ditunjukkan untuk kepentingan umum terutama kelompok miskin.tiap bantuan pemerintah atau injeksi dana pemerintah kepada masyarakat, paling sedikit kepada lembaga yang mewakili rakyat.
Tanggung
Jawab Sosial Bisnis
Bisnis terpanggil untuk
turut menciptakan hubungan yang benar dan baik dengan masyarakat pada umumnya.
Untuk itu dunia usaha harus berusaha mengembangkan landasan kegiatan dunia
usaha diantara koleganya dan karyawannya sebagai berikut:
1. Mengembangkan dan mengakarkan ideology bisnis
dan etika bisnis yang mengangkut pemerataan,kebersamaan dengan pengusaha kecil,
peningkatan efisiensi manajemen,dan persaingan yang sehat.
2. Meningkatkan kepercayaan masyarakat dan control
sosial, antara lain dengan menganjurkan lembaga konsumen atau lembaga lain yang
seirama untuk menguji secara terbuka kualitas barang atau jasa,dan praktek
manajemen dari semua bidang usaha,termasuk BUMN.
3. Menganjurkan atau meminta sesame bisnis untuk
mengumumkan semua fasilitas atau proteksi yang diberikan oleh pemerintah kepada
bisnis-bisnis siapapun.
4. Meningkatkan moralitas para menejer dan karyawan lainnya pada tiap perusahaan, baik dalam bidang kejujuran, fairness, maupun menjunjung tinggi kepentingan umum.
Usaha-usaha diatas hanya merupakan kondisi umum yang harus diciptakan oleh pengusaha.usaha-usaha yang khusus harus dilakukan sebagai pengungkapan tangung jawab sosial yang kongkret, untuk menyatakan sikap bisnis yang positif terhadap masyarakat. Tanggung jawab sosial menyangkut kegiatan bisnis dalam segala dimensinya yang langsung berdampak pada masyarakat. bilah perusahaan tidak melakukan regulasi lagi untuk menghindarkan gejolak sosial. Landasan pengusaha Kristen adalah etika bisnis. Ada beberapa pilihan mengembangkan etika bisnis.etika bisnis bisa dapat dilembangkan dengan titik tolak dogmatic, menyusun prinsip-prinsip mutlak yang tak dapat ditawar, diajarkan kepada pengusaha Kristen untuk dipraktekkan sendiri secara murni sebagai kesaksiaannya kepada Tuhan.sementara itu pemimpin gereja bisa tidur nyenyak, kecuali kalau pengusaha Kristen tersebut meninggalkan gereja, karena frustasi dari tugasnya yang berat. Titik tolak yang kedua adalah secara kontekstual.para teolog mempelajari kebiasaan dalam strategi bisnis. Titik tolak yang ketiga adalah secara situasional. Para teolog mengembangkan prinsip etika bisnis, menganjurkan para pengusaha Kristen memakainya sepanjang memungkinkan.kalau pengusaha lain tidak melakukannya,maka para pengusaha Kristen juga tidak melakukannya dan mengikuti praktek bisnis yang sedang berlaku.ini namanya etika bisnis yang tidak mengenal ekita. Pengembangan etika bisnis juga bisa dilakukan berdasarkan tolak ukur manajemen,yang mempunyai dua pilihan sebagai ukuran. pertama adalah tolak ukur hasil atau aoutput.jika bisnis berhasil, maka hal itu cukup sebagai idekator memenuhi ketentuan etika.maka cara pendekatan etika adalah situsional. Tolak ukur kedua adalah proses,kalau proses yang ditempuh sesuai atau mendekati dengan prinsip etika bisnis, maka pengusaha tersebut sudah menjalankan tugasnya sebagai pengikut kristus. Tetapi jikalau gereja dan para teolog terlibat pada pengembalaan para pengusaha Kristen secara dogmatic dan kontekstual,maka manajemen gereja harus bersih dari korupsi dan praktek manipulasi artinya, manajemen gerja harus juga mengikuti etika bisnis, malah sebagai contoh atau panutan, gereja harus menempuh jalan secara dogmatic terhadap dirinya sendiri. Tanggung jawab sosial dapat dilakukan pada tiga tingkat. Perusahaan dapat memilih bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang lebih sesuai dengan misi perusahaan, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki karyawan. Sudah saatnya para pengusaha Kristen mencari wawasan yang jelas tentang panggilan Tuhan pada perusahaan yang diberkati dan dipercayai dengan pelbagai kekuasaan bisnis. Kita perlu mengembangkan dialog dan studi diantara teolog, gembala jemaat, pakar ekonomi dan bisnis serta dunia usaha Kristen untuk memperjelas peran pengusaha Kristen dalam perekonomian di Indonesia.
Posting Komentar untuk "Kehidupan Bergereja: Pemberitaan Injil Kerajaan Allah Di Indonesia"