Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Gereja: Sejarah, Pelayanan Dan Motivasi

 

Hakikat Gereja

Dalam PL (qahal) maupun PB (ekklesia), secara etimologi istilah untuk gereja dipakai untuk menjelaskan suatu perkumpulan secara umum. Lebih jauh lagi, secara teologis perkumpulan itu adalah perkumpulan dari orang-orang percaya. Pemahaman akan gereja terbagi menjadi dua bagian, pertama gereja universal yaitu semua orang di seluruh dunia yang percaya kepada Kristus. Kedua, gereja lokal yaitu kumpulan orang-orang percaya dalam suatu gereja lokal. Alkitab menjelaskan keberadaan gereja dalam berbagai lukisan seperti gereja sebagai tubuh Kristus (Ef. 1:22-23; Kol. 1:18), sebagai Mempelai wanita Kristus (Ef. 5:31-31; Why. 19:7), gereja sebagai bangunan Allah (1Kor. 3:9), dsb.

Pelayanan Dalam Konsepsi Kekristenan

Kekristenan paling tidak mengadopsi dua konsepsi mengenai pelayanan, yakni konsep Kristus dan konsepsi para murid. Konsepsi pelayanan yang diajarkan Kristus adalah bahwa pelayanan yang kita lakukan bukanlah suatu kegiatan yang membawa kita ke surga apabila kita melakukannya. Sebaliknya kita melayani karena kita telah memiliki surga itu. Didalam pelayanan ada hal-hal yang krusial yang perlu kita perhatikan, yaitu bahwa dalam pelayanan kita harus bergumul dalam doa mohon agar kuasa ilahi mengcover pelayanan kita. Pelayanan bukan sarana berbisnis mencari keuntungan pribadi, sebaliknya kita yang sebagai pelayan yang harus berkurban. “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16)”, itulah yang Yesus pesankan kepada murid-murid-Nya. Kita adalah hamba, tak ada yang perlu dibanggakan tetapi dalam pengabdian kita melayani Yesus. Konsepsi pelayanan yang diajarkan oleh para Rasul bukan berarti berbeda dengan apa yang Yesus ajarkan. Apa yang diajarkan para rasul adalah bukti perkembangan pelayanan sesuai dengan kondisi pada waktu Yesus telah naik ke surga. Rasul mengajarkan bahwa dalam menentukan pelayan-pelayan harus dengan teliti dan dalam pimpinan Roh Kudus (KPR. 1:21-26). Pelayanan dewasa ini banyak yang tidak seimbang, ada yang menekankan hanya pengajaran Firman, ada yang menekakan sosial atau kurban-kurban, dll. Tetapi rasul-rasul memberi teladan bahwa pelayan haruslah seimbang, baik pengajaran Firman, persekutuan maupun pelayanan meja (KPR. 6:2-4). Pelayanan yang bersandar pada Roh Kudus adalah pelayanan yang tekun melayani (Rm. 12:11), tegas terhadap orang-orang yang berusaha mengacau (KPR. 13:9-12). Untuk perkembangan pelayanan, perlu adanya pengutusan jemaat-jemaat yang dianggap telah dewasa imanya untuk pelayanan keluar (KPR. 13:1-3).

Kaum Awam yang Melayani

Secara singkat dan umum, istilah ‘kaum awam’ dalam gereja adalah sebutan bagi mereka yang tidak ditahbiskan secara khusus untuk pelayanan. Pada dasarnya dalam sejarah gereja sering timbul ketidakserasian pendapat tentang “kewenangan kaum awam” dalam pelayanan. Ada gereja-gereja yang memberikan keleluasan kesempatan pada kaum awam untuk melayani dalam persekutuan orang percaya, namun ada juga yang tidak memberikan kesempatan sama sekali pada mereka.

Pelayanan Kaum Awam Dalam Sejarah Gereja

Peranan kaum awam dalam menentukan strategi pelayanan gereja tidak diabaikan oleh para rasul. Hal itu diwujudkan melalui hak mereka untuk memilih para pemimpin mereka dari lingkungan mereka sendiri. Sejak terjadi penganiayaan terhadap jemaat, mereka tersebar sampai keluar daerah dan dalam pelarian mereka memberitakan Injil Yesus Kristus sekalipun mereka tidak berjabat rasul (KPR. 8:1, 4). Dalam perkembangannya ternyata pelayanan kaum awam banyak memberi pengaruh yang cukup besar. Mereka memiliki potensi dalam bidang Alkitab, mereka adalah Cyprianus, Tertullianus, Augustinus, Ulrich Zwingli, Yohanes Calvin, Bunyan, Milton, Leibnitz, Hugo Grotius, Jhon Locke, William Carey, dll.

Permasalahan Dalam Kebebasan Kaum Awam Melayani

Dalam 1Pet. 2:9 dijelaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus adalah imam Kerajaan Surga, sekalipun tidak termasuk kaum rohaniawan yang ditahbiskan secara khusus untuk jabatan klerus. Sekalipun kaum awam, mereka tetap diperkenankan berkomunikasi secara leluasa dengan Allah dan diperkenankan menginjil sekalipun tak berjabatan khusus. Kenyataan ini membuat setiap orang menjadi sombong dan menganggap bahwa tak perlu adanya pejabat gereja, tak perlu ada ART gereja. Akibatnya sekarang ini bermunculan yayasan penginjilan yang tidak mendukung gereja melainkan menjadi musuh gereja. Berbicara mengenai pelayanan kaum awam perlu ada sinkronisasi dan keserasian antara pejabat gereja yang resmi dan kaum awam yang rindu melayani. Antara peraturan gereja dan pemanfaatan karunia yang ada dalam jemaat. Sebab itu kaum awam harus dimotivasi oleh para pemimpin gereja untuk mendukung dan mensukseskan program gereja.

Memotivasi Jemaat Melayani

Para ahli menyelidiki masalah motivasi dan menghasilkan pemandangan yang berbeda-beda. Pendekatan yang digunakan juga berbeda-beda seperti pendekatan psikologis, sosiologis, religius, organisatoris. Pandangan-pandangan mereka sebenarnya merupakan andil yang besar bagi para pemimpin gereja untuk dapat memotivasi jemaatnya dalam melayani Kristus.

Pemahaman Istilah

Motif merupakan sesuatu hal yang mendiring atau menggerakkan manusia untuk berperilaku dengan cara tertentu. Sedangkan motivasi adalah perilaku yang dibuat guna memenuhi kebutuhan tertentu yang dirasakan. Memotivasi jemaat untuk melayani berbicara bagaimana seni yang harus dipahami dan dipelajari oleh setiap pemimpin gereja manapun. Memotivasi jemaat melayani berarti memberikan persuasi kepada jemaat dengan pemahaman teologis yang benar agar mereka akhirnya mau berbuat sesuatu bagi Kristus sesuai dengan jalur yang telah disediakan oleh gereja. Ada banyak jemaat yang termotivasi oleh dirinya sendiri atau oleh orang lain atau oleh keadaan namun motivasinya dilakukan demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Asal-usul Motivasi Dalam Diri Manusia

Untuk memotivasi jemaat Tuhan dengan pengertian yang benar berkaitan dengan karunia atau bakat kepemimpinan, pengetahuan teologis, dan pengetahuan umum serta pengalaman. Dalam konteks pelayanan Kristen, para pemimpin gereja harus menyadari bahwa keinginan jemaat untuk melayani Tuhan hanya benar dan tepat secara teologis kalau didasarkan pada motif teogenetis. Motif teogenetis adalah motif yang berasal dari interaksi antara manusia dan Tuhan seperti yang nyata dalam ibadatnya dan kehidupannya sehari-hari. Dalam konteks pelayanan Kristen, para pemimpin gereja harus menyadari bahwa keinginan jemaat untuk melayani Tuhan hanya benar dan tepat secara teologis kalau didasarkan atas motif teogenetis. Dalam pengalaman ada orang yang termotivasi melayani Tuhan karena ingin menggenapi nazar yang pernah diucapkan pada Tuhan, karena Tuhan telah  menyembuhkan dia dari sakit, karena Tuhan telah menyelamatkan dia dari maut atau karena keberhasilannya dalam usaha.

Kaitan Antara Motivasi dan Kebutuhan

Motivasi memiliki kaitan yang erat dengna kebutuhan karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi, mkaa hal itu akan memotivasi seorang untuk berbuat sesuatu. Para ahli mencoba melakukan penelitian tentang kebutuhan manusia. Mereka memandang kebutuhan manusia dari berbagai sudut pandang, ada yang memandang dari macam kebutuhan, tahapan kebutuhan, pengelompokan, dll. Dari hasil yang mereka dapatkan kita dapat menyimpulkan bahwa kebutuhan manusia meruakan salah satu unsur yang penting yang perlu diperhatikan dalam memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Dan dalam kaitannya dengan memotivasi jemaat untuk melayani Tuhan maka:

1.      Adalah lebih efektif memotivasi jemaat yang kebutuhan dasar hidupnya telah terpenuhi

2.   Jika ada persekutuan yang akrab, penuh pengertian, cinta kasih dan damai sejahtera dalam kekristenan akan mempermudah para pemimpin gereja untuk memotivasi jemaatnnya melayani Tuhan.

3.      Memberikan penghargaan yang sejujurnya bagi mereka yang berprestasi baik dalam pelayanan di ladang Tuhan merupakan penggerak bagi mereka yang lain untuk berprestasi dalam pelayanan.

4.      Untuk dapat memotivasi jemaat secara efektif maka para pemimpin gereja harus mempersiapkan kondisi dalam jemaat yang mampu menjawab kebutuhan manusia tersebut.

Jenis-jenis Motivasi

Paul Meyer mengklasifikasikan motivasi dalam tiga jenis. Pertama, motivasi ketakutan yaitu mendorong orang melakukan sesuatu karena takut akibat yang akan ditanggung kalau tidak melakukannya. Kedua, motivasi insentif yaitu menyebabkan orang melakukan sesuatu sebab ada ganjaran atau keuntungan yang nyata jika orang tersebut melakukannya. Ketiga, motivasi sikap, yaitu motivasi yang berhubungan erat dengna seperangkat tujuan yang bersifat pribadi.

Perubahan-perubahan Kekuatan Motivasi

Kebutuhan dan dorongan yang ada dalam diri seseorang sangat kompleks dan sangat bervariasi, sebab itu sangat mungkin terjadi perubahan kekuatan motivasi dalam diri seseroang. Perubahan itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti, yakni telah tercapainya pemuasan kebutuhan sehingga kebutuhan tidak berdaya lagi mendorong seseroang untuk berperilaku. Juga karena kebutuhan terhalang, dimana seseorang akan mengalami degradasi semangat untuk memuaskan kebutuhannya yang sulit untuk digapai. Perubahan itu juga dapat terjadi karena perbedaan kognisi, artinya adanya ketidaserasian yang terjadi tatkala dua hal yang tidak dapat muncul bersamaan namun tiba-tiba muncul bersamaan. Pemimpin Kristen harus tanggap terhadap gejala-gejala menurunnya kekuatan motivasi seseorang dalam pelayanan di ladang Tuhan.

Cara Memotivasi Seseorang

Ada banyak cara kita memotivasi seseorang untuk dapat berperilaku. Semua cara itu dirangkum dalam empat kategori yaitu, memotivasi melalui indera tubuh yang dapat dilakukan dengan menciptakan kebutuhan, memuaskan kebutuhan fisik atau dengan menjatuhi hukuman. Kelompok kedua ialah motivasi melalui indera rohani yang dilakukan dengan cara merangsang rohani seseroang. Ketiga ialah melalui proses pribadi dan kejiwaan, yaitu usaha motivasi melalui proses perenungan, berpikir atau persuasi dari dalam diri. Dan terakhir melalui kesuksesan atau kemenangan, karena kita tahu bahwa sejak seseorang mengalami kesuksesan dalam usahanya dalam sesuatu yang dibuatnya maka dia akan terdorong untuk mencapai sesuatu lainnya yang lebih baik lagi.

Pemberian Motivasi Pelayanan Dalam Praktek

Setiap pemimpin harus memberikan motivasi pelayanan kepada jemaat. Sebab dalam pelayanan, seorang pemimpin tidak dapat melakukan “one man show”, dia membutuhkan dukungan dari jemaatnya. Oleh sebab itu, pemimpin jemaat harus menentukan dan mengangkat orang-orang yang dianggap layak untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Pemilihan itu tentu tidak dilakukan dengan sembarangan, melainkan dengan ketentuan-ketentuan yang Alkitabiah. Menentukan seseorang untuk terlibat dalam pelayanan banyak terdapat dalam Alkitab. Contoh, ketika Musa memilih tua-tua Israel yang membantunya, ia melakukannya dalam tuntunan Allah sendiri (Kel. 3:15-18). Ketika Harun diangkat menjadi juru bicara Musa (Kel. 4:10-16), pengangkatan hakim-hakim yang membantu Musa dalam mengadili umat Israel (Kel. 18:17-23), atau dalam PB ketika para rasul mengangkat tujuh diaken yang menangani pelayanan meja (KPR. 6:1-5). Dalam kisah-kisah ini kita dapat memperoleh informasi-informasi mengenai kaidah-kaidah dalam pemilihan seorang pelayan. Sebelum mengangkat dan menetapkan seorang pelayan, mereka perlu dipersiapkan dengan memberinya perlengkapan. Perlengkapan ini mencakup perlengkapan rohani, yaitu pembimbingan sikap hidup yang baik dan benar dan perlengkapan jasmani berkenaan dengan pengetahuan, mental, dll. Ketika telah diterjunkan dalam pelayanan, para pelayan baru diberi arahan tentang apa-apa yang harus mereka kerjakan. Itu sebabnya perlunya diadakan pertemuan pemimpin dengan pelayan-pelayan dimana di sana pemimpin jemaat akan memotivasi pelayan untuk tetap berkarya dan jangan kendor dalam pelayanan. Juga dalam kesempatan itu para pelayan diminta pertanggungjawaban perihal pelayanan yang mereka kerjakan. Kita tahu bahwa seseorang tidak dapat melayani terus-menerus, sebab akan ada regenerasi dalam pelayanan demi terjaganya kualitas pelayanan. Oleh sebab itu ada hal penting yang harus kita perhatikan yaitu bagaimana seorang pemimpin jemaat mengusahakan agar pelayan-pelayan dapat menjadi pemimpim-pemimpin rohani yang baru. Ada banyak cara yang kita pakai untuk mendorong orang agar seseorang dapat termotivasi melayani. Misalnya, mendorong para jemaat mengajarkan anak-anaknya tentang pelayanan, memberi tanggung jawab kepada para pemuda tentang pelayanan sekolah minggu. Semua cara yang kita gunakan adalah usaha yang harus sesuai denga kitab suci, dimana bertujuan hanya untuk memuliakan Tuhan.

Posting Komentar untuk "Hakikat Gereja: Sejarah, Pelayanan Dan Motivasi"