Pengantar Komprehensif Terhadap Penafsiran Alkitab
Nubuat
Nubuat sangat menonjol bukan hanya dalam bagian terakhir dari Perjanjian Lama namun juga Perjanjian Baru. Zaman Perjanjian Baru juga dapat dengan tepat disebut zaman “nubuat”. Berkeley Mickelsen mengetahui kesulitan dari tugas hermeneutika berkenaan dengan nubuat, yang mengusulkan suatu pendekatan yang tidak akan memaksakan makna apapun ke dalam nubuat yang tidak ada di sana, yang akan menjernihkan semua yang dikatakan atau dituliskan nabi bagi umatNya, dan akan membuat pesan yang disampaikan nabi dapat ditafsir dengan tepat secara relevan untuk zaman sekarang. Secara historis, aktivitas bernubuat sudah mulai cukup awal. Elemen yang unik tentang nabi (dibandingkan dengan aktivitas bernubuat diseluruh tempat di Timur Dekat kuno dan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya) dalam tulisannya adalah penghakiman yang mutlak. Allah akan menghancurkan bangsa yang lama itu dan membangkitkan suatu umat yang baru sebagai ganti mereka. Sangatlah mungkin bahwa hal ini sebagian menjelaskan adanya koleksi dari nubuat-nubuat tersebut itu dan kemudian kitab-kitab profetik. Musa merupakan “sumber dari tradisi para nabi” dengan hubungan khususnya sebagai juru bicara bagi Allah dan penengah antara Allah dan Israel. Pengalamannya di Sinai melampaui pengalaman profetik yang normal dan Musa menjadi nabi yang eskalogis. Elia merupakan seorang yang membentuk arah dari para nabi klasik, meskipun Elia tidak pernah memilki satu pun kitab nubuat, ia telah membangun suatu pola bagi nubuat malapetaka terhadap umat yang menyembah berhala dan merupakan nabi pertama dari “para penuntun kovenan” terhadap bangsa itu.
Sifat
Dari Peran Para Nabi
Tiap
pesan profetik muncul dari panggilan dan peran dari nabi itu di dalam
masyarakat dari zamannya. Seperti yang diketahui sekarang, nabi merupakan
seorang “penelaah/ penafsir” sebelum ia menjadi seorang peramal dan tujuan yang
sesungguhnya dari yang terakhir ialah untuk menolong dan menguatkan yang
pertama.
1. Panggilan atas para nabi. Panggilan atas para
nabi dapat datang melalui suatu pengalaman pewahyuan yang supranatural, seperti
dalam kasus Yesaya (6: 1-13); panggilan dapat juga terjadi melalui sarana
natural, seperti ketika Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa (1 Raj.19:
19-21), menunjukkan pengalihan otoritas dan kuasa, dan dapat mencakup
pengurapan (1Raj. 19:16). Dua genre Perjanjian Lama bergantung pada suatu
kesadaran tentang pewahyuan ilahi yang langsung dari Allah; Taurat dan Kitab
para nabi. Kedua genre ini merupakan satu-satunya genre dalam Perjanjian Lama
yang memiliki pengertian otoritas yang langsung. Isu mengenai otoritas
merupakan hal penting dalam hermenuetika dan para nabi memberikan penafsiran
yang sangat penting.
2. Peran yang kompleks dari para nabi. Peran nabi
rumit dan memiliki berbagai segi. Peran yang utama adalah sebagai pembawa pesan
dari Allah yang diutus untuk memanggil umat itu kembali kepada hubungan kovenan
mereka dengan Yahwe. Mereka tidak memiliki kendali atas peran mereka melainkan
hanya sekedar mengikuti arahan-arahan dari Allah. Pertimbangan yang menunjukkan
bahwa tokoh-tokoh dianggap nabi dan menganggap diri mereka sendiri adalah nabi.
a.
Menerima dan
mengkomunikasikan pewahyuan dari Allah merupakan tujuan utama dari para nabi.
Disini dapat dibedakan nabi-nabi yang lisan dan yang menulis. Para nabi yang
lisan lebih dikenal dari perbuatan mereka ketimbang berita aktual mereka.
Beberapa nabi yang menulis (seperti Daniel dan Yunus) juga dikenal atas
perbuatan dan juga kata-kata mereka. Akan tetapi, banyak dari nabi-nabi yang
menulis (seperti Obaja) mengurutkan khotbah mereka ketimbang menempatkan berita
mereka kedalam suatu latar sejarah.
b.
Reformasi ketimbang
inovasi menjelaskan tujuan dasar dari para nabi. Pelayanan mereka lebih berupa
konfrontasi ketimbang menciptakan. Mereka bukanlah para theolog yang inovatif
melainkan orang-orang yang membawa kebangunan rohani, yang berusaha membawa
umat itu kembali kepada Yahwe dan kebenaran tradisional dari iman Yahudi.
c.
Pemeliharaan atas
tradisi dengan demikian merupakan suatu tindakan sejalan yang penting di dalam
pelayanan para nabi. Para nabi berfungsi didalam agama yang sudah mapan namun
berusaha melenyapkan orang-orang yang tidak beragama dan praktik-praktik yang
tidak etis yang menonjol agar segenap umat dan para imam kembali kepada
kebenaran. Singkatnya mereka memiliki pengetahuan yang dalam tentang isu-isu
kepercayaan dan mengimbau umat itu kembali kepada kehidupan yang percaya, namun
membuat mereka menjadi pejabat.
d. Kita juga harus memperhatikan sentralitas dari kovenan dan taurat. Para nabi sebagai para perantara pelaksanaan kovenan, yang menunjukkan pada kehadiran nubuatan tentang berkat-berkat dan kutuk-kutukan atau penghakiman.
Sifat Dari Pesan Para Nabi
Nabi memiliki sisi aktif dan pasif: secara aktif, seorang nabi
menafsir atau membritakan pesan Allah kepada orang-orang lain. Sisi pasif boleh
jadi menonjol namun keduanya ada; seorang nabi adalah seseorang yang
terinspirasi oleh Yahweh untuk mengkhotbahkan pesannya kepada umatNya.
1. Masa kini dan masa depan saling berkaitan. Nabi
terutama merupakan seorang penalaah/penafsir yang beritanya ditujukan kepada
orang-orang dan situasi pada zamannya, dan peramalan dalam realitasnya
merupakan bagian dari tujuan yang lebih besar. Dalam hal ini beberapa situasi
harus dibahas.
a.
Jarak sejarah
menyulitkan penafsiran kerena kitab-kitab nubuat itu menggunakan
analogi-analogi dan bahasa yang berakar dari periode-periode sezamannya.
Pemahaman atas situasi sejarah sangat membantu pembaca modern ketika mendekati
teks tersebut. Dalam contoh-contoh individual, salah satu aspek dari latar
belakang sejarah ini akan menjadi sangat penting, dan pembaca perlu mempelajari
perikop itu dengan teliti untuk menentukan aspek mana yang menonjol.
b.
Masalah penggenapan juga
menjadi cukup sulit. Membahas dua isu yang berhubungan. Pertama, nubuat bukan
hanya sejarah yang ditulis entah setelah atau sebelum peristiwanya. Isu yang
kedua adalah sifat progresif dari nubuat. Nubuat-nubuat yang lebih kemudian
sering menambah detail-detail pada nubuat-nubuat sebelumnya dan penggenapan
lebih besar daripada jumlah total dari janji-janji sebelumnya.
c.
Suatu aspek bersyarat
sering kali telihat, dan beberapa nubuat bergantung pada penggenapan syarat
itu.
2. Perbedaan keadaan ketika wahyu diberikan. Cara
suatu pesan dikomunikasikan kepada nabi sangat berbeda bergantung pada
keadaannya.
a.
Penglihatan-penglihatan
dan mimpi-mimpi sering kali merupakan perantara suatu pesan disampaikan. Leon
Wood memeriksa perikop-perikop utama (Bil. 11:25-29; 1 Sam. 10:1-13; 18:10;
1Raj. 18:29; 22:10-12). Perbedaanya adalah penglihatan merupakan suatu
perwujudan supernatural yang terkait dengan realitas sementara halusinasi, atau
“keadaan trans atau kerasukan”, bersifat subjektif dan irasional. Mimpi-mimpi
berbeda dari penglihatan-penglihatan dalam hal sang nabi tidak sadar.
Mimpi-mimpi mirip dengan penglihatan dalam hal mereka juga dikirim dari Allah.
b.
Pewahyuan langsung
merupakan pengalaman profetik yang paling lazim. Seperti ketika Natan
menghadapkan Daud dengan dosanya atas batsyeba dan Uria (2 Sam. 12:7-12) dan
ketika Yeremia meramalkan bencana kepada Zedekia tatkala Nebukadnezar mendekat
(2 Sam. 21:3-14).
3. Keragaman bentuk dari pemberitaan profetik. Ini
sangat penting bagi studi hermeneutika, karena seperti bentuk-bentuk sastra
hikmat, setiap bentuk pembritaan harus ditafsir secara berbeda.
a.
Ucapan penghakiman
merupakan bentuk dasar dari berita profetik. Nubuat penghukuman biasanya
dimulai dengan bagian pendahuluan yang mengutus sang nabi (‘pergilah,
bernubuatlah” (amsal 7:15) diikuti oleh suatu bagian yang merinci dakwaan atau
melukiskan situasi yang mengarah kepada penghakiman.
b.
Nubuat mengenai berkat
atau pelepasan, juga dikenal sebagai ucapan-ucapan penyelamatan (Yes. 41: 8-20;
Yer. 33:1-9) memiliki bentuk yang mirip dengan tipe yang pertama, dengan
situasi yang dirinci, diikuti dengan berkat itu sendiri.
c.
Ucapan kutuk (Yes. 5:
8-24; Amos 5: 18-20; Mikha 2:1-4; Habakuk 2:6-8) merupakan tipe khusus dari
nubuat penghakiman yang berisi hoy diikuti serangkaian
partisipel yang merinci subjeknya, pelanggarannya dan hukumannya.
d.
Tindakan-tindakan
simbolis juga kerap terlihat didalam periode para nabi. Tindakan-tindakan
seperti ini merupakan ilustrasi yang sangat kuat mengenai murka Allah terhadap
umatNya yang tidak patuh.
e.
Ucapan-ucapan legal yang
berkenaan dengan hukum atau pengadilan (Yes. 3:13-26; Hos. 4:1-19)
berisi suatu perintah menuju pengadilan ilahi, suatu latar pengadilan tempat
para saksi dipanggil, mengarah kepada suatu penekanan pada kesalahan Israel
atau bangsa itu dan penghakiman atau vonis yang berlaku.
f.
Ucapan pembantahan (Yes.
28:14-19; Yer. 33: 23-26; Yeh. 18: 1-20). Bentuk ini terutama digunakan untuk
mengutip kata-kata umat itu sendiri melawan mereka dan menggunakan
pernyataan-pernyataan mereka sendiri untuk menunjukkan kesalahan mereka.
g.
Ratapan profetik muncul
ketika sang nabi memberikan suatu “ratapan pemakaman” bagi Israel (bnk. Yes.
14:3-21; Yeh. 19: 1-14, 26:17-18, 27:32), seolah-olah bangsa itu sudah
merupakan suatu mayat yang disiapkan untuk pemakaman.
h.
Puisi digunakan di
sepanjang kitab para nabi. Timujr Dekat kuno sangat tajam dalam ungkapan
puitis. Puisi selalu memiliki suatu suara yang lebih kuat karena puisi lebih
mudah diingat dan diucapkan dengan lebih berkesan terhadap isunya.
i.
Pemikiran hikmat telah lama
dikaitkan dengan gerakan profetik. Latar belakang sastra hikmat dapat dilihat
dalam Yesaya 14: 24: 27 dan Yeremia 19: 7-15. Faktanya, sebagian besar nabi
boleh jadi telah terlatih dengan cerita-cerita. Perbedaannya adalah para nabi
menyampaikan firman Allah, kata-kata bijak yang telah mereka terima dari para
pendahulu mereka.
j.
Apokaliptik dijumpai
dalam karya-karya yang kemudian seperti Yehezkiel, Daniel dan Zakharia.
Bentuknya sendiri terbatas pada karya-karya profetik di masa pembuangan dan pasca-pembuangan
dalam Perjanjian Lama.
Prinsip-Prinsip Hermeneutika
Walker
Kaiser memberikan suatu pembahasan yang menarik tentang empat khotbah yang
keliru tentang nubuat: 1) Dalam tipologi nubuat, situasi kontemporernya
mengontrol teks dan bukan sebaliknya. 2) Khotbah tindakan profetik memakai
individu dan episode dari suatu kisah dan membuat mereka sebagai simbol untuk
berbicara kepada peristiwa-peristiwa modern. 3) Khotbah moto profetik memilih
satu atau dua pernyataan lepas dari konteks yang lebih besar seperti 1 Raj. 21
dan membentuk suatu pesan menggunakan pernyataan-pernyataan itu sebagai moto.
4) Khotbah perumpamaan profetik membentuk suatu perumpamaan modern atas dasar
analogi dari alur cerita. Kita memerlukan prinsip-prinsip eksegesis yang
benar-benar dapat menjelaskan teks itu dan memampukan orang Kristen modern
mendengar Firman Allah dari para nabi secara baru. Tujuh langkah berikut sangat
berguna.
1. Tentukan ucapan. Kita harus belajar untuk
“memikirkan orakel”, karena banyak bagian di dalam kitab-kitab para nabi
mencakup suatu koleksi ucapan, masing-masing ditujukan kepada situasi yang
berbeda namun tanpa adanya pemilahan-pemilahan diantara mereka.
2. Tentukan tipe orakel yang digunakan.
Memperhatikan suatu ucapan sebagai orakel mengenai hukum atau hikmat bukan
hanya menambah nilai perhatian tetapi juga memampukan pembaca untuk mencari
suatu pola khusus atau sorotan-sorotan tertentu tergantung pada tipe dari
ucapan yang digunakan.
3. Pelajari orakel individual di dalam terang
keseluruhan nubuat, menggunakan teknik-teknik eksegesis makro dan mikro. Steck
melihat empat aspek mengenai hal ini: 1) Pelajari penyajian pribadi, kronologi
dan prosedur-prosedur linguistik. 2) Periksa karakter dan maksud dari
penggambaran kitab tersebut. 3) Pelajari susunan dan karya redaksi dari kitab
tersebut. Tempatkan diri anda pada tingkat pembentukan final dari teks dan
lihatlah kitab itu sebagai satu kesatuan dan selanjutnya lihatlah bagaimana
paragraf-paragraf secara individu masuk atau cocok ke dalam kesatuan itu.
4. Pelajari keseimbangan antara historis dan yang
prediktif.
5. Pastikan adanya makna harafiah atau simbol. Ada
perdebatan yang masih terus berlangsung antara para pendukung dari pendekatan
harafiah pada nubuat dan mereka yang mengambil posisi simbolis, berpusat
kira-kira pada aliran-aliran penafsiran dispensasional dan amilenial.
6. Jelaskan penekanan-penekanan kristologis dengan
hati-hati. Meskipun kita harus menyadari arah kristologis dari Kitab Suci
sebagai suatu keseluruhan, kita harus menafsir perikop-perikop individual
dengan cara demikian hanya jika teks-teks itu mengharuskannya
7. Jangan memaksa sistem theologis anda pada teks.
Oleh sebab itu secara serius dapat menghalangi pencarian atas kebenaran.
8. Carilah situai-situasi yang analogis di dalam
gereja modern. Kerena nubuat Perjanjian Lama diberikan kepada budaya yang sudah
lama berselang dari pandangan, banyak yang menganggap nubuat tidak lagi
berbicara kepada zaman kita ini.
Apokalipsis
Sastra apokalipsis mewakili satu dari banyak bagian yang paling memesona namun paling membingungkan dari Kitab Suci. Sastra apokalipsis ada dalam kedua Perjanjian, di dalam Perjanjian Lama kita dapat mencatat Daniel dan Zakharia serta penglihatan-penglihatan dari Yehezkiel 37-39 dan mungkin Yesaya 24-27 atau tulah belalang dalam Yoel. Apokalipsis Perjanjian Baru dapat mencakup Wacana Bukit Zaitun (Mrk. 13 dan paragraf berikutnya), 1 Korintus 15, 2 Petrus 2-3, Yudas dan Wahyu. Secara umum telah disadari bahwa apokalipsis berasal dari pengaruh-pengaruh sastra nubuat dan hikmat, sastra nubuat menyediakan wawasan dunia dan sastra hikmat menyediakan orientasi praktis dan juga hikmat nujum yang berurusan dengan penafsir mimpi/ penglihatan.
Bentuk
Dan Karakteristik-Karakteristik Formal
Sastra
apokalipsis memiliki dua aspek: merupakan genre atau tipe sastra dan rangkaian
konsep yang dijumpai dalam teks yang termasuk genre ini. Oleh sebab itu, akan
dipisahkan bentuk-bentuk formal khusus yang berhubungan dengan gaya da nisi
dari teks dan karakteristik-karakteristik yang lebih umum yang menggambarkan
kerangka pemikiran yang mengarah kepada produksi dari teks-teks tersebut.
1. Bentuk-bentuk formal. Perbedaan-perbedaan yang
paling penting adalah antara bentuk dan genre. Sebagian besar kitab-kitab dalam
Alkitab, seperti Daniel atau Zakharia adalah kitab nubuat dan demikian juga
dengan sastra intertestamental seperti 1 Henokh dan Kitab Yoel.
a.
Komunikasi melalui wahyu
mungkin merupakan sifat yang paling lazim.
b.
Pengantara malaikat
merupakan bagian dari medium pewahyuan.
c.
Siklus wacana
menunjukkan bentuk gaya sastra apokalipsis.
d.
Wacana etika sering kali
menjelaskan tujuan dari penglihatan bagi para pembaca.
e.
Simbolisme asoterik
merupakan sifat yang paling tampak dari sastra apokalipsis. Sumber dari
simbol-simbol ini juga berbeda dari para nabi dan penulis Alkitab lainnya.
f.
Penampilan sejarah
ditonjolkan di dalam banyak karya apokalipsis, seperti kitab Yoel, menjalin
masa lalu dan masa depan.
g.
Psedonimitas (memakai
nama asli) merupakan karakteristik pertama yang disebut oleh banyak ahli, namun
tentu saja ini terlalu berlebihan, terutama karena asumsi bahwa Kitab Daniel
merupakan suatu karya abad kedua yang pseudominus.
2. Karakteristik-karakteristik. Beberapa aspek di
dalam mayoritas dari karya-karya tersebut.
a.
Pesimisme terhadap
zamannya mungkin menjadi karakteristik yang dominan.
b.
Janji mengenai
penyelamatan atau pemulihan merupakan sisi lain dari koin yang sama.
c.
Suatu pandangan mengenai
realitas transenden yang berpusat pada kehadiran dan kendali Allah merupakan
suatu tema utama lainnya.
d.
Adanya suatu
determinisme di mana Allah secara menyeluruh mengendalikan segala sesuatu
tentang sejarah.
e.
Suatu dualism yang telah
dimodifikasi terlihat didalam doktrin mengenai dua zaman, zaman ini dan zaman
yang akan datang.
f.
Penciptaan kembali atas
kosmos diharapkan dalam Yesaya 65:17; 66:22 dan sering dicerminkan dalam
karya-karya akopolipsis.
g.
Ada suatu perspektif
eskatologis yang utama atau bahkan suatu wawasan dunia yang dipakai.
Penafsiran
Atas Simbol-Simbol
Simbolis
Aliktab sebenarnya merupakan suatu tipe khusus dari metafora dan oleh sebab itu
simbolisme Aliktab adalah bagian dari ragam makna dalam suatu jangkauan makna.
Tugas dari penafsir adalah menentukan makna figuratif manakah yang dimiliki
oleh simbol itu dalam konteks yang lebih besar. Ini berarti bahwa makna yang
tepat tidaklah ditemukan dalam situasi masa kini melainkan di dalam penggunaan
simbol itu di dalam latarnya masa lalu. Pokok ini sangat penting melihat
penggunaan yang keliru atas simbol-simbol Alkitab di dalam banyak kalangan pada
masa kini. Ada enam tipe simbol: 1) simbol-simbol eksternal yang ajaib. 2)
penglihatan-penglihatan. 3) simbol-simbol materi. 4) bilangan-bilangan
simbolis. 5) tindakan-tindakan simbolis. 6) peraturan-peraturan simbolis.
Dalam pengalihan dari simbol menuju realitas yang diperlihatkannya, pembaca terlebih dahulu harus mencari latar belakang Alkitab dan sejarah di balik simbol tertentu dan kemudian menggunakan ini untuk menafsirkan alusi-alusi selanjutnya. Ada tiga sumber utama- Perjanjian Lama, sastra intertestamental dan dunia Grekoromawi.
Prinsip-Prinsip
Hermeneutika
1. Perhatikan tipe sastra. Ada banyak perbedaan
antara sastra apokalipsis dan nubuat. Faktanya adalah tidak satu pun dari
kitab-kitab dalam Alkitab dan hanya sedikit kitab di luar Alkitab yang murni
apokalipsis.
2. Perhatikan perspektif dari perikop itu.
3. Perhatikan struktur dari suatu perikop atau
kitab. Tidak ada penglihatan atau detail yang berfungsi dengan sendirinya.
4. Perhatikan fungsi dan makna dari simbol-simbol.
Setelah memperhatikan arah dasar dari keseluruhan, seseorang harus
mengeksegesis bagian-bagiannya.
5. Tekankan theologis dan perhatikan bagian yang prediktif dengan rendah hati.
Ekskursus:
Asas Mula Sastra Apokalipsis
Sastra apokalipsis dikembangkan terutama selama periode Makabe sebagai suatu protes Hasidik terhadap terhadap politik religus dan penganiayaan dari Seleucids dan secara khusus Antiokhus Epifanes. Gerakan apokalipsis bukan gerakan atau kelompok suatu sarana pewahyuan yang dipilih secara ilahi dan kemudian menjadi suatu pandangan terhadap kehidupan yang menerobos sekte-sekte Yahudi yang berbeda dan mewujudkan dirinya pada waktu-waktu yang berbeda di dalam semua sekte tersebut (dengan pengecualian orang Saduki). Hal yang paling penting, pemikiran apokalipsis menyediakan salah satu kaitan yang paling jelas antara Yudaisme dan Kekristenan, jauh lebih langsung daripada satu kelompok mana pun.
Perumpamaan
Perumpumaan
telah menjadi bahan yang paling banyak ditulis namun secara hermeneutic paling
banyak disalahgunakan. Potensi dari perumpamaan untuk sarana komunikasi sangat
besar, karena perumpamaan menciptakan suatu perbandingan atau cerita yang
didasarkan pada pengalaman-pengalaman setiap hari. Akan tetapi, cerita itu
sendiri mampu memiliki banyak makna, dan pembaca modern sangat sulit menafsirkannya
sama seperti pendengar asli kuno di masa lalu.
a. Makna dan guna dari perumpamaan
Pentingnya
perumpamaan terbukti ketika kita menyadari bahwa sepertiga dari seluruh
pengajaran Yesus di dalam Injil Sinoptik tertulis dalam bentuk perumpamaan. Istilah
bahasa Ibraninya adalah masal, yang juga dipakai untuk “amsal”
atau “teka-teki” dan memiliki “perbandingan”, sebagai makna dasarnya. Ada lebih
dari 325 perumpamaan rabinik yang dikenal, semuanya kecuali beberapa
perumpamaan berasal setelah tahun 70 M, dan berbeda dengan perumpamaan Yesus,
kerena perumpamaan-perumpamaan rabinik mengembangkan suatu pokok dari teks
Alkitab sementara hanya perumpamaan Orang Samaria yang Baik (Luk. 10: 25-37).
Latar belakang perumpamaan dalam sastra hikmat dan nubuat itu penting tatkala
memperhatikan pengembangan bentuk perumpamaan itu oleh Yesus. Sudah lama Yesus
merupakan merupakan guru yang mengajarkan hikmat eskatologis dan
perumpamaan-perumpamaanNya menunjukkan hal ini dengan baik.
b. Tujuan dari perumpamaan
Perumpamaan-perumpamaan
menantang, menafsir dan mengundang pendengar/ pembaca untuk berpartisipasi
dalam pandangan dunia baru Yesus mengenai kerajaan sorga.
Perumpamaan-perumpamaan merupakan suatu “peristiwa ucapan”, suatu
tantangan ilokusioner dan suatu serangan perlokuisioner yang
tidak akan membiarkan kita tetap netral, perumpamaan-perumpamaan menarik
perhatian kita dan memaksa kita untuk berinteraksi dengan kehadiran kerjaan
sorga di dalam Yesus, entah secara positif (Mrk. 4:10-12) atau negatif (Mat. 16:19).
c. Sifat dari perumpamaan
i. Membumi. Yesus melampaui
para tokoh sebenarnya yang ingin dikemukakan, adakalanya pesan etika namun
gambaran tersebut membentuk etika kerajaan sorga.
ii. Ringkas.
Perumpamaan-perumpamaan yang dicatat dalam Kitab-kitab Injil itu sederhana dan
tidak rumit. Jarang ada yang dua atau tiga tokoh dan alur plotnya bersisi
sedikit subplot.
iii. Pokok utama dan
sekunder. Meskipun pendapat tersebut kelihatan berlebihan, namun lebih
mendekati kebenaran daripada pendekatan satu pokok.
iv. Repetisi. (pengulangan)
kadang kala digunakan untuk menegaskan klimaks atau pokok utama dari suatu
perumpamaan, seperti dalam pengakuan ganda Anak yang Hilang (Lku. 15:21).
v. Kesimpulan pada bagian
akhir. Yesus sering menggunakan pernyataan yang mendadak untuk menyimpulkan
suatu perumpamaan.
vi. Keterhubungan dengan
pendengar. Keterhubungan dengan pendengar membawa kita kepada inti dari bentuk
perumpamaan. Yesus terutama bermaksud untuk menggugah respons dari pendengar, entah
positif atau negatif.
vii. Pembalikan harapan. Cara
utama Yesus gunakan untuk memaksa keputusan adalah memutuskan alur konvensional
dari perumpamaan-perumpamaanNya.
viii. Eskatologis yang
berpusat pada kerajaan sorga. Tema tunggal yang selalu berulang di semua
perumpamaan adalah kehadiran kerajaan sorga.
ix. Etika Kerajaan sorga.
Kehadiran sorga di dalam Yesus menuntun sikap etika yang lebih tinggi pada sisi
para pengikutNya.
x. Allah dan keselamatan di
dalam perumpamaan. Allah tampak dalam beberapa penampilan di dalam perumpamaan
sebagai raja, bapa, pemilik tanah, tuan dan hakim. Di seluruh perumpamaan,
gambaran yang ditunjukkan adalah seorang yang menawarkan pengampunan dengan
penuh kemurahan dan belas kasih namun pada waktu yang sama menuntut keputusan.
Prinsip-Prinsip
Hermeutika
1. Perhatikan latar di mana
letak perumpamaan itu ditempatkan. Blomberg menyatakan bahwa
“perumpamaan-perumpamaan otentik dalam bentuk-bentuk dan konteks-konteks tempat
mereka muncul” sebagai sesuatu yang sudah paten dan tidak perlu “membenturkan
makna asli dari Yesus dengan penggunaan perumpamaan-perumpamaan itu oleh para
penulis Injil di dalam beberapa latar yang baru.
2. Pelajarilah struktur
perumpamaan. Bentuk struktural dari metafora dan simile (ibarat) menyerupai
bentuk-bentuk dari sastra hikmat yang telah dibahas, maka harus memusatkan
perhatian pada perumpamaan-perumpamaan cerita.
3. Singkapkanlah latar
belakang dari detail-detail duniawi. Kita harus memahami konteks historis jika
perumpamaan itu diharap memiliki makna. Namun ini tidak boleh menjadi sekedar
penampilan detail-detail latar belakang. Sebaliknya, perumpamaan itu harus
disampaikan kembali di dalam terang informasi latar belakang ini.
4. Tentukanlah pokok utama
dari perumpamaan itu. Dapat memperhatikan penekanan maksud utama di dalam
masing-masing perumpamaan itu. Namun perlu satu hal; konteks tempat
masing-masing perumpamaan itu dijumpai, bukan kelompok dari
perumpamaan-perumpamaan yang mirip, yang menjadi penentu akhir atas makna.
5. Hubungkanlah pokok-pokok
itu dengan pengajaran Yesus tentang kerajaan sorga dan dengan pesan dasar dari
Kitab-kitab Injil secara individual.
6.
Janganlah mendasarkan
doktrin di atas perumpamaan tanpa penegasan dari detail-detail di bagian-bagian
lain.
7. Terapkanlah kebenaran
sentral kepada situasi yang serupa di dalam kehidupan modern.
8. Khotbahkanlah perumpamaan itu secara utuh. Kecenderungan untuk memecahkan perumpamaan dan mengontekstualisasikan masing-masing elemennya cenderung merusak perumpamaan itu sebagai satu cerita dan mematahkan kekuatannya untuk menarik pendengar ke dalam dunia narasinya.

Posting Komentar untuk "Pengantar Komprehensif Terhadap Penafsiran Alkitab"